Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Halo, semuanya pembaca setia Noveltoon/Mangatoon.
Terima kasih sudah meluangkan waktu buat buka bab pertama cerita ini. Semoga setiap babnya bisa buat kalian suka dan betah buat bacanya. Jangan lupa untuk terus mengikuti perjalanan para tokoh sampai akhir, ya. Jangan lupa juga kasih tanda ❤️ dan juga jadikan favoritmu supaya bisa terus mengikuti setiap update-annya. (Kalian bisa juga add IG aku. @andarashan_)
Terima kasih..
**
Hening. Hanya denting halus sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar di ruang makan mewah keluarga Adyatama di kawasan elit Surabaya Barat. Langit-langit tinggi, lampu kristal, dan aroma truffle oil yang baru saja disajikan menciptakan suasana formal, bahkan cenderung dingin.
Di ujung meja, Haris Adyatama, sang kepala keluarga, tampak tenang menikmati steak mahalnya. Di sampingnya, Reva Adyatama, sang istri, atau yang akrab dipanggil Mama Reva, tampak anggun dengan perhiasan berliannya.
Di sisi lain, ada dua putri yang sangat berbeda, Bianca Adyatama, mahasiswi cantik dengan gaun mini dari merek desainer ternama, sibuk memotret hidangannya untuk unggahan di media sosial. Auranya tampak ceria, tetapi sedikit angkuh.
Di seberangnya, Kirana Adyatama (27), yang oleh keluarganya hanya dikenal sebagai barista kafe, tampak paling santai. Rambut panjangnya ia cepol seadanya, dan ia mengenakan blus sederhana. Ia menikmati makan malamnya dengan tenang, seolah percakapan di meja ini tak ada hubungannya dengan dirinya.
Setelah menelan potongan terakhirnya, Ayah Haris meletakkan pisau dan garpu dengan bunyi tegas. Suara itu cukup untuk membungkam ponsel Bianca.
"Ada yang ingin Ayah sampaikan pada kalian semua," ujar Ayah Haris, suaranya berat dan berwibawa.
Mama Reva langsung mencondongkan tubuh dengan antusias. "Mengenai bisnis baru, Yah? Atau perluasan vila di Bali?"
Ayah Haris menggeleng kecil. "Ini lebih penting. Ini menyangkut masa depan. Ayah dan Pak Rivaldo telah sepakat untuk menjodohkan salah satu putri kita dengan putra tunggalnya, Raditya."
Mendengar kata "dijodohkan", Bianca spontan meletakkan garpu hingga menimbulkan bunyi klik keras. Wajahnya langsung cemberut.
"Dijodohkan? Siapa, Yah? Bianca atau Kirana?" tanya Mama Reva, nadanya terdengar seperti sedang menimbang barang dagangan.
Bianca langsung menyahut, nadanya penuh penolakan. "Aku menolak, Aku masih muda, Ma. Aku baru dua puluh! Aku masih mau clubbing, aku masih mau main-main. Aku enggak mau dijodohkan dengan cowok tua bangka yang pasti membosankan."
Ia melirik tajam ke arah Kirana di seberangnya. "Mending Mbak Kirana saja, Yah. Usianya sudah 27. Sudah cocok untuk cepat menikah. Biar Mbak Kirana saja yang mengambil jatah ini, ya, Mbak?" tanyanya, diselingi senyum meremehkan.
Kirana mendongak pelan. Matanya yang cokelat gelap menatap santai. Ia hanya mengambil sepotong udang lagi ke piringnya.
"Kalau Ayah bilang itu urusan kalian, aku ikut saja. Aku lebih suka menghabiskan malamku di Kafe daripada membahas pernikahan." Ia kembali fokus pada makanannya, seolah topik perjodohan ini sama membosankannya dengan menu makan malam setiap hari.
"Tuh, Yah! Mbak Kirana saja yang dijodohkan. Dia kan sukanya tempat sepi, biar dia cepat dapat suami," desak Bianca.
Ayah Haris menoleh ke Kirana, tetapi tatapannya langsung kembali ke Bianca dan Mama Reva.
"Mau Bianca atau Kirana, itu tidak masalah. Yang penting, salah satu dari putri keluarga ini. Ini adalah kesepakatan bisnis yang sangat menguntungkan. Kalian harus tahu, calon yang akan dijodohkan ini adalah Raditya Mahardika."
Mendengar nama belakang itu, senyum cemberut di wajah Bianca mendadak lenyap. Mata Bianca yang awalnya menyipit kesal kini langsung membulat sempurna. Ia menatap Ayahnya dengan tatapan tak percaya.
"Mahardika? Tunggu, Ayah serius? Maksud Ayah... Mahardika Group (MG)?" Suara Bianca tercekat, penuh gairah yang tiba-tiba membara.
Ayah Haris mengangguk tenang. "Tentu saja. Rivaldo Mahardika adalah sahabat Ayah sekaligus rekan bisnis terbesar kita di proyek Bali."
Seolah tombol reset telah ditekan, seluruh penolakan Bianca sebelumnya lenyap ditelan ambisi. Wajahnya berseri-seri, nyaris histeris.
"Aku mau! Aku mau, Yah! Aku yang akan dijodohkan!" teriak Bianca, mengabaikan etika di meja makan.
Mama Reva, yang awalnya setengah hati, kini mengerutkan kening. "Lho, Bian? Tadi kamu bilang tidak mau. Kamu kan masih muda, Sayang. Mama pikir yang lebih cocok itu Kirana. Dia kan sudah matang."
Bianca mendengus, menatap Mama Reva seolah ibunya baru saja datang dari zaman batu.
"Mama itu sama sekali enggak tahu! Mama enggak tahu siapa itu Mahardika! MG itu bukan sekadar properti dan vila! Mereka itu raja properti dan teknologi di Indonesia, Ma! Kalau aku bisa jadi nyonya muda Mahardika, aku enggak hanya hidup tenang, tapi aku bakalan hidup nyaman sampai tujuh turunan! Kemewahan yang kita punya sekarang ini enggak ada apa-apanya, Ma, dibandingkan dengan kekayaan mereka!" Ucapan Bianca begitu jujur, vulgar, dan penuh perhitungan, membuat Mama Reva terdiam. Sesaat, wajah Mama Reva tampak takjub.
"Benarkah itu, Yah? Mahardika sebegitu besarnya?" tanya Mama Reva, kini matanya memancarkan keserakahan yang sama dengan putrinya.
"Ya, jauh lebih besar dari yang bisa kalian bayangkan," jawab Ayah Haris, tersenyum bangga atas keberhasilan kesepakatan bisnisnya. "Jadi, bagaimana? Siapa yang akan kita jodohkan?"
Tanpa menunggu jawaban Ayah Haris, Bianca sudah membusungkan dada dan menyanggah.
"Aku, Yah! Bianca yang akan pergi. Aku yang paling cocok. Aku akan mengurusnya."
"Tentu, Sayang," ujar Mama Reva, kini sepenuhnya mendukung Bianca. "Bianca memang yang paling pantas."
Kirana, yang sedari tadi menjadi penonton bisu, akhirnya selesai makan. Ia meletakkan sendok dan garpu dengan rapi.
"Kalau begitu, aku permisi ke Kafe Teras Senja, Ayah. Aku ada janji dengan supplier biji kopi," ucap Kirana santai, bangkit dari kursi, tidak menunjukkan minat sedikit pun terhadap nama "Mahardika" yang baru saja membuat ibu tiri dan adik tirinya kalap.
"Tunggu, Kirana," potong Ayah Haris, membuat Kirana berhenti di ambang pintu. "Besok malam, kita diundang makan malam di kediaman Mahardika. Kau ikut juga."
Alis Kirana sedikit terangkat. "Aku? Bukannya Bianca yang akan dijodohkan?"
"Ini pertemuan keluarga informal, Kirana. Kau harus ikut untuk menunjukkan betapa solidnya keluarga kita. Dan, yah... berjaga-jaga saja," ujar Ayah Haris ambigu.
Bianca tampak sedikit kesal, tetapi ia menahan diri. "Ya, biar Mbak Kirana ikut saja, Ma. Biar dia tahu bagaimana rasanya masuk ke rumah yang sesungguhnya. Tapi, Mbak, besok jangan pakai baju barista, ya! Itu akan memalukan!"
Kirana hanya mengangguk kecil, senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang penuh rahasia.
"Tentu, Bianca. Sampai besok malam."
Ia melangkah pergi, meninggalkan ruang makan yang kini dipenuhi tawa dan bisikan rencana antara Bianca dan Mama Reva tentang gaun, tas, dan perhiasan apa yang akan mereka kenakan untuk memikat pewaris Mahardika.
Mereka tidak tahu, batin Kirana, saat ia berjalan menuju garasi untuk mengambil mobilnya sendiri, bahwa ia bisa membeli seluruh isi rumah keluarga Mahardika jika ia mau.
**
Sementara itu, di sebuah penthouse mewah dengan pemandangan kota Surabaya yang berkilauan, Raditya Mahardika (33) baru saja menyelesaikan panggilan video bisnisnya. Ia mengenakan hoodie abu-abu dan celana training—pakaian yang sangat jauh dari citra CEO properti dan teknologi.
Di hadapannya, Ayahnya, Rivaldo Mahardika, duduk di kursi berlengan kulit.
"Jadi, kau sudah memutuskan, Radit?" tanya Papi Rivaldo, dengan nada serius.
Raditya menyandarkan punggung ke sofa, menghela napas panjang. "Aku akan melihat mereka besok, Pi. Tapi aku tidak akan langsung memutuskan pertunangan. Aku tidak suka dijodohkan. Apalagi dengan gadis muda yang masih suka main-main dan hanya mengincar hartaku."
"Namanya Bianca Adyatama. Dia memang baru dua puluh tahun," kata Papi Rivaldo. "Tapi bisnis kita membutuhkannya, Nak."
"Bisnis yang solid tidak dibangun di atas pernikahan yang rapuh, Pi. Aku ingin seorang istri yang sepadan, bukan boneka manja." Raditya mengambil ponselnya, jarinya mulai mengetik cepat.
"Aku ingin tahu siapa gadis ini. Aku ingin tahu sifat aslinya."
Papi Rivaldo menatap putranya dengan tatapan skeptis. "Bagaimana caranya? Kau akan menguntitnya?"
Raditya tersenyum miring—senyum misterius yang membuat Papi Rivaldo tahu putranya sudah menyusun rencana gila.
"Tidak, Pi. Aku akan mendatanginya. Tapi bukan sebagai Raditya Mahardika. Aku akan menjadi Rio."
Rivaldo mengerutkan dahi. "Rio? Siapa itu?"
"Rio nama yang akan aku gunakan untuk menyamar dalam keluarga mereka. Aku sudah membuat CV palsu, dengan latar belakang yang sempurna sebagai mantan pengemudi profesional yang butuh pekerjaan baru."
Papi Rivaldo tertawa keras, tak percaya. "Kau gila, Raditya! Seorang CEO properti menyamar jadi supir? Jika Haris tahu, ia akan marah besar!"
"Tepat. Karena itu, Papi harus merahasiakannya. Besok malam, aku akan bertemu mereka sebagai Raditya, mengamati Bianca dari jauh, dan malam setelahnya... Rio sudah mulai bekerja di rumah Adyatama."
Raditya menatap pemandangan kota di luar jendela. Wajahnya kini tampak tekun dan penuh antisipasi.
Papi Rivaldo menggeleng. "Kau mempertaruhkan nama baikmu, Raditya."
"Aku mempertaruhkan hidupku, Pi. Dan aku harus memastikan aku tidak memilih kuda yang salah."
***