NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Mereka Lebih Takut Kehilangan

Fajar belum sepenuhnya tiba ketika Sawitri sudah melangkah keluar dari pesanggrahan.

Cakrawirya menyusul dari belakang. Jatmiko masih di pendopo, meregangkan tubuh malas.

“Kau tidak tidur?” tanya Cakrawirya.

“Tidur adalah aktivitas tidak efisien ketika ada data yang harus diolah.” Sawitri menyerahkan setumpuk lontar.

“Ini analisis awalku. Tapi aku butuh angka pastimu.”

Cakrawirya membaca cepat. Matanya melebar sedikit.

“Kau menghitung perkiraan panen Demak berdasarkan curah hujan tahun lalu?”

“Dan pola tanam mereka. Data yang kudapat dari pedagang di pasar.” Sawitri berjalan menuju kandang kuda.

“Ayo. Kita temui Adipati sebelum para saudagar memenuhi halaman Kadipaten.”

---

Kadipaten Mataram sudah ramai meski matahari baru terbit.

Para saudagar berkumpul di pelataran, wajah mereka tegang. Beberapa berbisik, beberapa lain berdebat dengan suara keras.

Sawitri melangkah melewati mereka tanpa menoleh. Cakrawirya dan Jatmiko mengikuti seperti bayangan.

Di pendopo, Adipati Sasongko duduk dengan wajah pucat. Di hadapannya, beberapa penasihat ekonomi tengah memaparkan angka-angka dengan suara cemas.

“Adipati, stok beras kita hanya cukup untuk dua minggu. Jika Demak benar-benar memutus—”

“Cukup.”

Sawitri memotong. Suaranya tidak keras, tapi semua orang di ruangan itu menoleh.

Adipati mengangkat wajah. Lega bercampur heran. “Ndara Tabib? Jenengan sudah datang.”

“Kulo membawa solusi.” Sawitri melangkah maju, meletakkan tumpukan lontar di meja Adipati.

“Ini data lengkap tentang ketergantungan Demak pada Mataram.”

Para penasihat ekonomi saling pandang. Salah satu dari mereka, pria paruh baya dengan kumis tebal, mendengus.

“Data? Dari mana gadis ini mendapatkan data ekonomi? Ini urusan rumit, bukan urusan tabib mayat.”

Sawitri menatapnya datar. “Nama?”

Pria itu tersentak. “K-kulo Ki Sardjito, penasihat ekonomi Kadipaten.”

“Ki Sardjito, dalam tiga menit kau akan melihat bahwa pemahamanmu tentang ekonomi sama dangkalnya dengan sumur di musim kemarau.”

Ki Sardjito memerah. “Berani sekali kau—”

“Diam dan dengarkan.” Cakrawirya angkat bicara. Suaranya rendah tapi menggetarkan.

“Ini perintah.”

Ki Sardjito langsung membungkam. Matanya membelalak mengenali siapa yang berbicara.

Sawitri membuka lontar pertama.

“Adipati, ini data ekspor Demak ke Mataram selama lima tahun terakhir. Tujuh puluh persen rempah mereka, delapan puluh persen beras, dan sembilan puluh persen hasil laut dikirim ke sini.”

Ia meletakkan lontar kedua.

“Ini data kapal dagang Demak. Mereka hanya memiliki tiga jalur perdagangan utama: Mataram, Bali, dan Malaka. Tapi Malaka dikuasai Portugis yang memberlakukan pajak tinggi. Dan Bali sedang dilanda perang saudara.”

Adipati Sasongko mengerutkan kening. “Jadi...”

“Jadi Mataram adalah satu-satunya pasar mereka yang stabil.” Sawitri membuka lontar ketiga.

“Dan ini data panen raya Demak tahun ini. Produksi mereka meningkat tiga puluh persen karena curah hujan ideal. Lumbung mereka penuh. Beras akan busuk dalam dua bulan jika tidak dijual.”

Keheningan menyergap ruangan.

Ki Sardjito menelan ludah. “T-tapi mereka bisa menjual ke wilayah lain...”

“Ke mana?” Sawitri menatapnya. “Ke timur? Wilayah timur dikuasai kerajaan-kerajaan kecil yang bermusuhan dengan Demak. Ke utara? Laut China Selatan dikuasai bajak laut. Ke selatan? Mataram.”

Ia mencondongkan tubuh ke depan.

“Demak tidak punya pilihan. Mereka lebih butuh kita daripada kita butuh mereka.”

Cakrawirya menambahkan, “Dan dari sisi militer, Demak sedang dalam kondisi lemah. Dua bulan lalu mereka kehilangan seribu prajurit dalam pertempuran melawan Blambangan. Mereka tidak mampu berperang di dua front.”

Jatmiko bersiul pelan dari belakang. “Kakang, kau menyimpan data intelijen perang? Aku makin iri.”

Cakrawirya mengabaikannya.

Adipati Sasongko terdiam lama. Matanya berpindah dari satu lontar ke lontar lain. Tangannya sedikit gemetar.

“Ndara Tabib... kau yakin dengan data ini?”

“Kulo tidak pernah bicara tanpa bukti, Adipati.”

“Tapi ancaman Dhaniswara...”

“Ancaman.” Sawitri memotong.

“Hanya itu. Tanpa aksi nyata. Karena dia tahu, jika benar-benar memutus perdagangan, para saudagar Demak akan memberontak. Mereka akan kehilangan pendapatan. Mereka akan menekan Dhaniswara untuk mundur.”

Adipati menghela napas panjang. Lega, tak percaya, dan kagum bercampur jadi satu.

“Ndara Tabib... kalo bukan karena melihat langsung, kulo tidak akan percaya bahwa seorang gadis seusiamu bisa memiliki pemikiran setajam ini.”

Sawitri tidak bereaksi terhadap pujian. “Langkah selanjutnya, Adipati. Kumpulkan para saudagar. Beri mereka keyakinan bahwa Mataram aman. Jangan biarkan kepanikan menyebar.”

“Tapi bagaimana dengan tujuh hari batas waktu?”

“Biarkan Dhaniswara menunggu. Dalam tujuh hari, tekanan justru akan berbalik ke dia.” Sawitri melipat lontar-lontarnya.

“Dan jika dia nekad menyerang, kita sudah siap.”

Cakrawirya mengangguk. “Prajurit Mataram di perbatasan sudah siaga. Dua ribu tombak, lima ratus pemanah. Lebih dari cukup untuk menghadapi sisa pasukan Demak.”

Adipati Sasongko bangkit dari kursinya. Ia menatap Sawitri dengan rasa hormat yang tak terhingga.

“Ndara Tabib... kulo tidak tahu bagaimana berterima kasih. Jenengan menyelamatkan Mataram dari kepanikan yang tidak perlu.”

“Kulo melakukan ini untuk keadilan, Adipati. Bukan untuk Mataram.”

Ia berbalik, melangkah keluar.

Di pelataran, para saudagar masih berkumpul. Wajah mereka cemas. Beberapa berbisik, melihat Sawitri keluar dari pendopo.

Sawitri berhenti. Menatap mereka.

“Pulanglah,” ucapnya. Suaranya terdengar jelas meski tidak keras. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Demak tidak akan memutus perdagangan. Mereka lebih takut kehilangan kalian daripada kalian takut kehilangan mereka.”

Para saudagar saling pandang. Seorang di antaranya, pria tua dengan sorban putih, melangkah maju.

“Ndara Tabib... apa jenengan yakin?”

“Kulo tidak pernah berkata tanpa kepastian.”

Pria tua itu menatapnya lama. Lalu tersenyum.

“Kulo percaya pada Ndara. Kulo akan sampaikan pada rekan-rekan.”

Para saudagar mulai membubarkan diri. Wajah mereka sedikit lebih tenang.

Sawitri berjalan menuju kudanya. Cakrawirya di samping, Jatmiko di belakang.

“Lancar,” gumam Jatmiko.

“Kau benar-benar membuat Adipati terkesima.”

“Data tidak pernah berbohong.” Sawitri menaiki kudanya. “Sekarang kita punya musuh lain.”

“Sukmawati?”

“Dia tidak akan diam setelah mendengar keberhasilanku.” Sawitri menatap ke arah kediaman Danurejo.

“Dia akan bergerak. Cepat atau lambat.”

Cakrawirya mengangguk. “Aku akan perkuat penjagaan.”

“Dan aku?” Jatmiko tersenyum. “Apa peranku dalam drama ini?”

Sawitri menatapnya. “Kau bisa kembali ke istana. Atau kau bisa tetap di sini dan jadi saksi.”

Jatmiko tertawa. “Aku pilih jadi saksi. Drama ini terlalu seru untuk dilewatkan.”

Mereka memacu kuda meninggalkan Kadipaten.

Di belakang mereka, di balik jendela paviliun timur kediaman Danurejo, Nyai Selir Sukmawati menatap kepergian mereka.

Tangannya mengepal. Wajahnya gelap.

“Anak setan itu...” desisnya. “Dia terlalu pintar. Terlalu berani.”

Dari balik tirai, suara berat bergumam. “Nyai ingin kami menyingkirkannya?”

Sukmawati diam sejenak. Lalu tersenyum tipis. Senyum beracun.

“Tidak. Tidak sekarang. Biarkan dia menang dulu.” Ia berbalik.

“Kemenangan kecil membuat orang lengah. Dan saat lengah... di situlah kita menyerang.”

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!