NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Selasa, 21 Mei Pukul 21.35 WIB

Area Camp, Kilometer Tujuh

Yazid kembali ke tenda lebih cepat dari biasanya.

Bukan berlari, tapi cara ia membuka ritsleting tenda dengan tergesa sudah cukup membuat Rehan yang menunggu langsung tegak.

“Ada apa?”

Yazid tak langsung menjawab. Ia menutup ritsleting hingga ujung, memastikan semuanya tertutup rapat, baru berbalik menghadap yang lain.

Di dalam tenda utama yang lebih besar, lima orang telah berkumpul. Runa dan Salsabilla sudah pindah ke sini sejak tadi. Headlamp kecil menyala redup di langit-langit tenda, cukup untuk menerangi wajah masing-masing. Carrier ditumpuk di depan pintu bukan karena bisa menghalangi apa pun, tapi karena rasanya lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

Yazid mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, lalu menyerahkannya kepada Rehan.

Foto yang diambil dengan tergesa menggunakan flash. Tanah basah di tepi camp, cahaya headlamp yang membuat sebagian gambar keputihan, tapi cukup jelas menunjukkan apa yang ada di sana.

Jejak kaki.

Rehan melihat foto itu dalam diam, lalu menyerahkannya kepada Runa tanpa sepatah kata pun.

Runa menerima. Satu detik. Dua detik. Lalu menyerahkannya kepada Salsabilla.

Salsabilla menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia melihat arah jejak yang masuk ke area camp, bukan keluar, dan menelan ludah.

Zidan yang duduk di sudut tenda, masih setengah berbaring karena napasnya baru stabil, mengulurkan tangan. “Boleh gua lihat?”

Tak ada yang langsung menjawab.

“Guys,” suara Zidan lebih rendah, tanpa nada bercanda sama sekali. “Gua bukan anak kecil. Kasih lihat.”

Salsabilla menyerahkan ponsel itu.

Zidan melihat foto tersebut cukup lama. Kemudian mengembalikannya kepada Yazid dengan gerakan tenang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melihat apa yang ada di foto itu.

“Itu masuk ke camp,” kata Zidan. Bukan pertanyaan.

“Iya,” jawab Yazid.

“Dari hutan.”

“Iya.”

“Dan lo gak melihat siapa pun di luar?”

“gak ada yang terlihat. Tapi...” Yazid berhenti sejenak. “Ada sesuatu di sana. Yang gak bisa gua buktikan secara visual. Tapi ada.”

Runa mengangkat wajah dari foto. “Dari arah mana?”

“Barat.”

Runa dan Salsabilla saling pandang. Mereka berdua telah menyimpan variabel yang sama sejak rekaman kamera sore tadi, sejak suara ranting berpola di luar tenda, sejak pengumuman SAR di pos pendaftaran.

Semuanya dari barat.

Keheningan terasa berat.

Rehan akhirnya berbicara.

“Opsi kita ada dua,” suaranya terkontrol, meski ada ketegangan yang tersembunyi. “Turun sekarang atau bertahan hingga subuh.”

“Turun sekarang itu bunuh diri,” kata Salsabilla cepat. “Kabut masih tebal. Jalur licin. Jarak pandang tidak sampai sepuluh meter.”

“Gue tau.”

“Dan Zidan”

“Gue tahu, Sal.”

Salsabilla menutup mulutnya.

Rehan menatap Yazid. “Lo yang paling berpengalaman. Apa pendapat Lo?”

Yazid berpikir sejenak, sungguh-sungguh.

“Turun malam dalam kondisi seperti ini risikonya lebih tinggi daripada bertahan,” katanya. “Jalur turun di tengah kabut tebal dengan carrier penuh, satu orang jatuh di medan yang salah... situasinya bisa jauh lebih buruk.” Matanya sesaat melirik Zidan. “Tapi bertahan berarti satu malam lagi di sini. Dengan apa pun yang ada di luar.”

“Apa pun yang ada di luar itu belum masuk ke tenda semalam,” kata Runa datar. “Jejak kakinya berhenti di tepi camp. Gak ada tanda-tanda coba masuk.”

“Belum,” kata Salsabilla pelan.

“Belum,” akui Runa. “Tapi untuk mengambil keputusan yang masuk akal, kita harus bekerja dari data yang ada, bukan dari skenario terburuk yang belum terjadi.”

“Ru...” Salsabilla menatapnya. "Lo beneran oke membicarakan ini seolah sedang presentasi kelas?”

“Gue baik-baik saja.” Kalimat itu keluar datar, tapi justru berat karena itu. “Tapi baik atau tidak, kita tetap harus memutuskan sesuatu. Jadi gue memilih untuk berpikir jernih.”

Tak ada yang bicara selama beberapa saat.

Dari sudut tenda, Zidan berbicara.

“Bertahan.”

Semua kepala menoleh ke arahnya.

Zidan sudah duduk tegak sekarang. Punggungnya bersandar ke dinding tenda, lutut dipeluk. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi berlebih, hanya keputusan yang sudah bulat.

“Gue yang menjadi alasan terbesar kenapa turun sekarang berbahaya,” katanya. “Dan gue yang bilang kita bertahan. Jadi kalau ada yang mau protes soal risiko ini, protesnya batal sekarang.” Matanya menyapu wajah satu per satu. “Kita bertahan sampai subuh. Tapi ga ada yang tidur.”

Runa mengangguk.

“Oke. Dengan syarat: dua orang jaga penuh setiap saat, tiga lainnya boleh istirahat tapi tidak benar-benar tidur. Rotasi satu jam sekali. Yazid dan Rehan shift pertama.”

“Gua ikut shift pertama,” kata Zidan.

“Lo istirahat”

“Runa.” Zidan menatapnya langsung. “Gue ga akan bisa istirahat. Lo tahu itu. Jadi biarin gue melakukan sesuatu daripada berbaring sambil overthinking.”

Runa menatapnya sejenak. “Baiklah. Yazid, Rehan, Zidan shift pertama. Aku dan Salsa shift kedua.”

Pukul 22.00 WIB

Di Dalam Tenda Shift Pertama

Tiga orang jaga, dua orang berusaha istirahat.

Salsabilla berbaring di sleeping bag dengan mata yang tak benar-benar terpejam. Runa duduk bersandar pada carrier, posturnya terlihat santai, tapi otaknya jelas masih berputar.

Yazid, Rehan, dan Zidan duduk membentuk segitiga di dalam tenda. Masing-masing menghadap arah berbeda. Headlamp dimatikan untuk menghemat baterai. Gelap, tapi mata mereka sudah beradaptasi dan masih bisa membedakan siluet satu sama lain.

Sepuluh menit pertama berlalu tanpa kata.

Suara luar: angin sesekali, daun bergerak, suara air jauh. Semua terdengar normal.

Seharusnya menenangkan.

Zidan yang pertama bicara, suaranya rendah.

“Yazid.”

“Hm.”

“Lo takut?”

Jeda panjang.

“Iya,” jawab Yazid jujur.

Zidan mengangguk pelan dalam kegelapan. “Gue juga.”

Rehan menggeser posisi duduknya. “Ini pertama kalinya gue ngerasain ketakutan yang... berbeda. Biasanya takut itu punya bentuk. Takut gagal kuliah, takut mengecewakan ayah, takut salah keputusan. Ini gak punya bentuk.”

“Yang gak berbentuk emang paling sulit dihadapi,” kata Zidan.

“Iya.”

Keheningan kembali, tapi kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar menunggu, melainkan menampung.

Zidan menarik napas dalam. “Bokap Gue...” katanya tiba-tiba, suaranya semakin pelan, seolah mengeluarkan sesuatu yang lama tersimpan. “Hari terakhir sebelum dia meninggal, gue gak tahu itu hari terakhir. Jadi gue gak bilang apa-apa yang istimewa. Kami cuman sarapan bersama, dia nanya apa PR-gue sudah selesai, gue bilang sudah, dia bilang bagus, lalu dia berangkat kerja.”

Tak ada yang menyela.

“Gue sering mikirin apa yang harus gua bilang jika tahu. Tapi semakin lama gue mikirin, semakin gue sadar bahwa justru hari biasa itu yang paling indah. Sarapan biasa. Obrolan biasa. Karena itu berarti saat itu, segalanya masih baik-baik saja.” Ia berhenti sejenak. “gue cuman mau segalanya baik-baik aja lagi.”

Di sudut tenda, Salsabilla yang tadinya berpura-pura istirahat, kini tak lagi berpura-pura. Ia mendengarkan dengan diam.

Rehan menelan ludah. “gue belum pernah bilang ini kepada siapa pun.” Suaranya lebih rendah. “gue gak yakin mau kuliah hukum.”

Keheningan yang baru turun.

“Han...” Zidan mulai.

“Bukan berarti gue tidak akan ngejalanin. gue akan ngejalanin. Bokap udah ngerencanain ini sejak gue kelas empat SD. Gue... gak pernah punya ruang untuk bilang ada hal lain yang gue mau.” Rehan menatap dinding tenda. “Gue suka desain. Arsitektur. Cara sebuah bangunan bisa menceritakan orang yang membuatnya. Dulu gua sering menggambar bangunan kecil di buku catatan SMP. Ibu nemuin. Dia gak bilang apa-apa, cuma naro buku itu kembali ke laci. Tapi besok harinya, dia beliin buku gambar baru.”

Yazid mendengarkan dengan saksama.

“Lo belum terlambat,” kata Zidan akhirnya. “lo baru delapan belas tahun, Han. Belum terlambat untuk apa pun.”

Rehan tak langsung menjawab. Tapi bahunya yang selama ini selalu tegang, sedikit merileks. Bukan ambruk, hanya menjadi lebih manusiawi.

Dari tenda sebelah, suara Salsabilla keluar pelan. “Video call terakhir dengan Mama, dia menangis. Tapi dia mematikan kamera sebelum air matanya terlihat. Dia pikir aku gak tahu.” Jeda. “Aku pura-pura gak tahu. Karena kalau aku bilang aku lihat, dia bakal malu dan obrolan jadi canggung. Padahal aku cuman mau bicara sama mereka. pengen bilang aku baik-baik saja ma. pengen dia percaya.”

Tak ada yang merespons dengan kata-kata.

Tapi Runa mengulurkan tangannya dalam gelap, menemukan tangan Salsabilla, lalu menggenggamnya erat.

Salsabilla membalas genggaman itu.

Yazid yang sejak tadi mendengarkan dengan diam, akhirnya berbicara. Satu kalimat saja, tapi penuh makna.

“gue senang kenal kalian semua.”

Tak ada yang menambahkan apa pun.

Karena memang tak perlu.

Di luar tenda, sesekali terdengar suara. Ranting patah. Sekali. Lalu hening. Dua menit kemudian, ranting lagi. Tapi tak ada yang mendekat. Tak ada gerakan di semak-semak. Tak ada bayangan yang melintas di depan tenda.

Sesuatu memang ada di luar sana.

Tapi sepertinya... sedang menunggu.

1
Kustri
lanjutkan!!!
Kustri
oalah zidan... zidan orang terbirit" kamu malah nyantai😂
Kustri
semangat buat lanjutin karyamu ini
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
Kustri
hlaa py to, saya jg sdh siap melanjutkan, koq malah mentok😩
Kustri
kamu salah 1 dr mrk, tubuhmu ada zat yg sama dgn mrk zidaaaan... 😁bener gk sih thor🤭
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
Kustri
mayan di swalayan stok makanan & minuman aman👌🤭
Kustri
☕tak sogok biar crazy up🤭😁
Kustri
weh zidan 🎷🎼ada apa dgnmu...
Kustri
ngeyel BGT👊👊👊wae
Kustri
qu msh capek, dok masa iya baru nyampe bawah, istirahat jg blm masak suruh naik lagi😫😫😫
Kustri
ky'a satria gk nyebut zidan, koq sakira tau yg terpapar itu zidan🤔ampe qu ulang baca'a🤭
NR: wkwk, terimakasih kak.
total 1 replies
Kustri
diminumin air kelapa ijo x yaa🤭
Kustri
memukul jgn hanya pukul
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
Kustri
wah zidan ky'a terpapar dr serbuk nih, melihat kondisi'a
Kustri
eumm... dr jamur yg fajar makan waktu kelaparan itu yaa
Kustri
kira" apa obat penyembuh'a ya🤔
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
t-rex
suka banget upnya langsung banyak gini. btw Thor, perkiraan end dibab berapa? wkwk. mau nabung bab😭😭🤭
NR: Up banyak kalo lagi ada ide aja kak wkwk, kalo up nya cuman 1 bab itu lagi stuck alur ceritanya mao dibawa kemana yak ini wkwk,
total 1 replies
Kustri
qu koq deg"an klu zidan terpapar😫
lanjut lagii
Kustri
lanjuuut 👉👉👉
Kustri
bisa gk thor kalimat"nya diperhalus, perasaan dipart" awal kalimat'a enak dibaca
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪
NR: oke kak, terimakasih saran nya, 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!