NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sore harinya, matahari mulai terbenam di balik deretan pohon mahoni di halaman rumah.

Rizal turun dari mobilnya dengan langkah yang tetap tegak, namun bahunya tampak sedikit merosot.

Guratan keletihan yang amat sangat terpancar dari wajahnya yang kaku.

Kejadian di kantor tadi benar-benar menguras emosi dan energinya lebih dari sekadar urusan bisnis biasa.

Aisyah yang sedang menata toples-toples Aisyah Cookies di ruang tamu segera bangkit saat melihat suaminya masuk.

Ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres hanya dari cara Rizal menghela napas.

"Mas sudah pulang? Sebentar, ya," ucap Aisyah lembut.

Tanpa diminta, Aisyah membawakan air minum putih hangat dan segelas teh melati kesukaan suaminya.

Ia meletakkannya di meja samping sofa tempat Rizal menyandarkan kepalanya.

"Ada apa, Mas? Wajahmu kelihatan sangat lelah sekali hari ini. Apa kakinya terasa sakit lagi setelah seharian di kantor?" tanya Aisyah sambil duduk di sampingnya, mengusap punggung tangan Rizal dengan sayang.

Rizal meminum air putihnya hingga tandas, lalu menyandarkan punggungnya dalam-dalam.

Ia bercerita tentang selisih harga yang sangat besar, pengadaan barang fiktif, hingga bukti-bukti ancaman yang dilakukan Bram kepada Siska agar rahasianya tetap terkunci rapat.

Rizal juga menceritakan bagaimana tadi ia harus berurusan dengan pihak kepolisian untuk menyerahkan Bram ke jalur hukum.

Mendengar itu, Aisyah menghela nafas panjang dan tidak menyangka jika Bram orang selicik itu. Wajahnya tampak kecewa dan sedih secara bersamaan.

"Astagfirullah. Aku benar-benar tidak habis pikir, Mas," bisik Aisyah pelan.

"Padahal Mendiang Mas Taufik sangat percaya pada Bram. Dulu Mas Taufik selalu bilang kalau Bram adalah tangan kanannya yang paling setia. Ternyata di balik punggung kita, dia tega menggerogoti perusahaan sendiri."

Aisyah teringat bagaimana Bram dulu sering datang ke rumah mereka saat kakaknya, Taufik, masih hidup.

Bram selalu bersikap sangat sopan dan tampak sangat mengabdi. Siapa sangka, di balik topeng kesetiaan itu, ia menyimpan kelicikan yang luar biasa.

"Kesetiaan itu mahal, Aisyah. Dan Bram tidak mampu membelinya," sahut Rizal dengan nada getir.

"Tapi tenanglah, semua sudah aku tangani. Aku tidak akan membiarkan warisan Mas Taufik hancur di tangan orang seperti dia

Rizal menatap Aisyah dengan tatapan yang jauh lebih lembut, mencoba mengusir sisa-asisa ketegangan dari kantor tadi.

Ia menggenggam jemari istrinya, menariknya sedikit lebih dekat hingga aroma sabun mawar yang menenangkan dari tubuh Aisyah merasuk ke indranya.

"Lupakan sejenak tentang Bram dan kerumitan kantor, Sayang. Malam ini aku ingin kita keluar," bisik Rizal dengan suara rendah yang menenangkan.

"Hanya berdua, Sayang. Kita butuh waktu untuk bernapas sejenak dari semua hiruk-pikuk ini."

Mendengar ajakan suaminya, wajah lelah Aisyah seketika berganti dengan binar bahagia.

Ia tahu Rizal jarang meminta waktu khusus seperti ini di tengah kesibukannya yang padat.

"Aisyah menganggukkan kepalanya dan segera bangkit. Segera ia mengganti pakaiannya dengan sebuah gamis berbahan sutra berwarna biru navy yang senada dengan warna mata Rizal jika terkena cahaya."

Namun sebelum ia benar-benar bersiap, Aisyah tidak melupakan kewajibannya sebagai istri yang perhatian.

Ia melangkah ke kamar mandi utama, menyalakan keran dan menyiapkan air hangat untuk suaminya agar Rizal bisa berendam sejenak untuk melemaskan otot-otot kakinya yang baru saja sembuh.

"Air hangatnya sudah siap, Mas. Mandilah dulu agar badanmu segar. Aku akan menunggu di bawah," ucap Aisyah sambil tersenyum manis dari ambang pintu kamar.

Rizal mengangguk, merasa sangat beruntung memiliki wanita setegar dan selembut Aisyah di sisinya.

Sementara Rizal membersihkan diri, Aisyah menyemprotkan sedikit parfum kesukaan Rizal di pergelangan tangannya.

Ia merasa malam ini adalah awal baru yang manis setelah badai pengkhianatan yang baru saja mereka lewati di perusahaan.

Mobil mewah Rizal membelah jalanan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu temaram.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di sebuah restoran mewah dengan konsep rooftop yang menyuguhkan pemandangan kerlip lampu kota dari ketinggian.

Pelayan dengan ramah mengantar mereka ke meja privat yang sudah dipesan khusus oleh Rizal.

Suasananya begitu tenang, hanya ada petikan gitar akustik yang lembut di latar belakang.

Setelah duduk dengan nyaman, Rizal segera memesan beberapa menu andalan restoran tersebut: wagyu steak dengan saus truffle dan dua gelas jus delima segar.

Setelah pelayan pergi, Rizal menatap Aisyah dengan tatapan yang sangat dalam.

Cahaya lilin di atas meja memantul di bola matanya, membuat suasana semakin intim.

"Sayang, tutup matamu sebentar," ucap Rizal pelan, suaranya terdengar penuh rahasia namun lembut.

Aisyah sedikit terkejut, namun senyum kecil tersungging di bibirnya yang dipoles lipstik berwarna salem.

"Ada apa, Mas? Kok pakai acara tutup mata segala? Kita kan cuma mau makan malam," tanya Aisyah sambil terkekeh pelan, namun ia tetap menuruti permintaan suaminya.

Aisyah perlahan memejamkan matanya. Ia bisa mendengar suara gesekan halus kain jas Rizal dan bunyi kotak kecil yang diletakkan di atas meja marmer di depan mereka.

Jantung Aisyah berdegup sedikit lebih kencang, ia merasa seperti kembali ke masa-masa awal mereka menikah dulu.

"Jangan dibuka sebelum aku bilang, ya," bisik Rizal lagi, tangannya kini menggenggam jemari Aisyah yang lentik.

Suasana restoran yang temaram terasa semakin magis saat Rizal perlahan berdiri dari kursinya.

Ia melangkah mendekat ke belakang kursi Aisyah, tangannya dengan hati-hati mengeluarkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air yang berkilau indah tertimpa cahaya lilin.

"Sekarang, buka matamu, Sayang," bisik Rizal tepat di telinga Aisyah.

Aisyah perlahan membuka kelopak matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sentuhan dingin logam mulia yang menyentuh kulit lehernya, disusul dengan pemandangan pantulan dirinya di kaca jendela restoran yang memperlihatkan kilau berlian di dadanya.

Rizal memakaikan kalung berlian itu dengan sangat telaten, memastikan pengaitnya terpasang sempurna.

Aisyah menyentuh liontin itu dengan ujung jarinya, matanya seketika berkaca-kaca.

Ia menoleh ke arah suaminya yang kini sudah kembali duduk dan menatapnya dengan penuh pemujaan.

"Ini, terlalu indah," bisik Aisyah tertahan.

Rizal tersenyum tulus, menggenggam tangan Aisyah di atas meja.

"Hadiah pertama dari suamimu ini, Aisyah. Bukan hanya karena aku sudah kembali bekerja, tapi ini adalah simbol terima kasihku karena kamu tidak pernah melepaskan genggamanmu saat aku terpuruk, sakit, dan tak berdaya."

Rizal menghela napas panjang, seolah melepaskan beban masa lalu.

"Berlian ini kuat, sama seperti kesabaranmu menghadapi aku dan badai di rumah kita. Aku ingin kamu memakainya sebagai pengingat bahwa mulai sekarang, aku yang akan menjagamu dengan seluruh kekuatanku."

Aisyah tidak bisa lagi membendung air mata bahagianya.

Di tengah kemewahan restoran itu, ia merasa bukan berliannya yang berharga, melainkan ketulusan hati Rizal yang telah kembali pulih seutuhnya.

"Terima kasih, Mas. Aku tidak butuh perhiasan apa pun asalkan kamu tetap di sisiku." ucap Aisyah.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!