Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — Hari Ketika Pintu Itu Terbuka
“Aku sudah berusaha sejauh ini… tapi bagaimana kalau tetap gagal?”
Kim Ae Ra menatap amplop cokelat di tangannya seolah benda tipis itu mampu menimbang seluruh masa depannya. Sudutnya sedikit kusut karena terlalu sering ia rapikan sejak semalam. Ia bahkan sempat bangun dua kali hanya untuk memastikan semua dokumen masih ada di dalamnya.
Cahaya pagi masuk perlahan melalui jendela kecil kamar sempitnya. Debu-debu halus terlihat melayang di udara. Tidak ada yang istimewa di ruangan itu—meja belajar tua dengan cat mengelupas, lemari kecil yang pintunya tak pernah bisa tertutup sempurna, dan sebuah foto keluarga yang warnanya mulai pudar dimakan waktu.
Di dalam foto itu, seorang pria tersenyum hangat.
Ayahnya.
Ae Ra menatapnya sedikit lebih lama dari biasanya. Ia mencoba mengingat suara pria itu, tapi yang tersisa hanya perasaan samar—hangat, jauh, dan sulit diraih. Sejak hari itu, dunia terasa menyusut menjadi hanya dua orang: dirinya dan ibunya.
“Ae Ra, kau sudah bangun? Cepat keluar sebelum makanannya dingin.” Suara Mi Ran terdengar dari luar kamar.
“Iya, Bu. Sebentar!”
Ae Ra segera memasukkan dokumen ke dalam map plastik transparan. Tangannya sempat berhenti sesaat di gagang pintu.
Hari ini berbeda.
Hari ini ia tidak pergi bekerja paruh waktu. Hari ini ia mencoba melangkah ke kehidupan yang mungkin… lebih stabil.
Aegis Corp.
Nama itu terasa terlalu besar untuk seseorang seperti dirinya.
...----------------...
Meja makan kecil di ruang tamu sudah tertata rapi. Sup hangat mengepul pelan, telur dadar sederhana dipotong rapi, dan semangkuk kecil kimchi diletakkan di tengah meja.
Ae Ra berhenti di ambang pintu dan pura-pura terkejut.
“Wah… apa kita kedatangan tamu penting hari ini?”
Mi Ran mendengus pelan tanpa menoleh. “Cepat duduk. Bukankah kau harus berangkat pagi?”
Ae Ra duduk sambil tersenyum lebar, senyum yang sedikit terlalu cerah.
“Aku kelaparan karena terlalu banyak gugup. Ibuku hampir membiarkan anaknya pingsan sebelum wawancara kerja.”
“Kau ini,” Mi Ran menggeleng, tapi matanya lembut. “Sudah dewasa tapi masih banyak bicara.”
Ae Ra tertawa kecil. Candaan selalu menjadi tameng terbaiknya.
Mereka makan dalam diam beberapa saat. Sendok beradu pelan dengan mangkuk. Tidak ada yang membicarakan kemungkinan gagal, meski keduanya jelas memikirkannya.
Mi Ran akhirnya berkata pelan, “Tidak apa-apa kalau tidak berhasil. Kau sudah bekerja keras.”
Ae Ra berhenti mengunyah. Ia segera tersenyum. “Aku pasti berhasil.”
Kalimat itu terdengar lebih seperti janji pada dirinya sendiri.
Perjalanan bus memakan waktu dua puluh menit, namun bagi Ae Ra terasa jauh lebih panjang. Ia beberapa kali mengecek jam tangan murah di pergelangannya, lalu merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi.
Ketika bus berhenti, gedung Aegis Corp langsung terlihat menjulang tinggi di hadapannya.
Kaca-kaca besar memantulkan langit pagi. Orang-orang keluar masuk dengan langkah cepat dan percaya diri. Sepatu hak tinggi berderap di lantai, suara percakapan formal terdengar samar.
Ae Ra menelan ludah. Ia merasa seperti orang yang salah tempat. “Tenang… cuma tanya arah.”
Namun setiap orang yang ia hampiri berjalan tanpa berhenti.
“Permisi—”
Tidak ada jawaban. Orang lain hanya melirik singkat sebelum berlalu.
Ae Ra mulai panik. Ia berputar kecil, mencoba membaca papan petunjuk yang terasa membingungkan.
“Kenapa semua orang terlihat sibuk sekali…?”
“Hey. Dasar gadis bodoh.”
Ia berbalik cepat.
Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya. Jas hitamnya rapi, posturnya tegap, dan wajahnya… terlalu tampan untuk seseorang yang baru saja mengucapkan kalimat menyebalkan.
“Kalau mau melamar kerja,” katanya santai, “kenapa bertanya pada orang yang jelas tidak peduli?”
Darah Ae Ra langsung naik. “HEY! Siapa yang kau panggil bodoh? Kau bahkan baru melihatku satu menit!”
Pria itu mengangkat alis, tampak sedikit terhibur. “Masuk saja. Tanya resepsionis. Tidak sulit.” Nada bicaranya tenang, tapi terasa meremehkan.
Ae Ra mengepalkan tangan, menahan keinginan membalas lebih panjang.
Pria itu sudah berbalik sebelum ia sempat berkata apa pun.
“Oh ya,” tambahnya tanpa menoleh, “sebut saja kau direkomendasikan oleh Hyun Jae Hyuk.” Ia berjalan pergi begitu saja.
Ae Ra hanya bisa menatap punggungnya dengan kesal. “Orang aneh…”
Namun anehnya, ia tetap mengikuti sarannya.
Begitu nama itu disebutkan di meja informasi, suasana berubah. Dua resepsionis yang awalnya dingin langsung bersikap formal. Senyum profesional muncul, formulir diberikan tanpa pertanyaan panjang.
Beberapa karyawan yang lewat bahkan menoleh sekilas. Ae Ra merasakan sesuatu yang berat pada nama itu. Seolah ia baru saja menyebut seseorang yang sangat penting tanpa menyadarinya. Ia keluar gedung dengan kepala penuh tanda tanya.
Di lantai tertinggi gedung yang sama, Hyun Jae Hyuk berdiri di depan jendela kantornya. Seoul terbentang luas di bawahnya, tapi pikirannya tidak berada di sana.
Seorang gadis berkemeja biru dan sepatu kets terus muncul di kepalanya. Ia mengerutkan kening. Kenapa wajah itu terasa begitu familiar?
Ketukan pintu memecah lamunannya. Kepala personalia masuk dan menyerahkan sebuah amplop.
“CEO, mengenai kandidat yang Anda rekomendasikan…”
Jae Hyuk membuka berkas itu. Dan berhenti. Foto kecil di sudut formulir membuat dadanya terasa aneh.
Kim Ae Ra.
Nama itu seperti membuka pintu ingatan yang hampir terbuka, namun kembali tertutup. Tanpa berpikir lama, ia berkata tegas,
“Tempatkan dia sebagai sekretaris pribadi CEO.”
Han Sin Woo tampak terkejut. “Tuan… posisi itu—”
“Dan berikan fasilitas terbaik.” Nada suaranya tidak memberi ruang bantahan.
“Baik, Tuan.”
Pintu tertutup kembali.
Jae Hyuk menatap foto itu lama. “…Aku akhirnya menemukanmu.” Bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti kenapa kalimat itu keluar.
Sore hari, Ae Ra kembali ke toserba kecil tempat ia bekerja. Lampu neon putih, suara bel pintu, dan candaan sahabatnya terasa jauh lebih nyata dibanding gedung mewah pagi tadi.
Ia tertawa bersama Bo Ram, namun pikirannya terus kembali pada pria arogan itu. Dan nama yang ia sebutkan.
Hyun Jae Hyuk.
Kenapa rasanya asing sekaligus… tidak?
Saat toko mulai sepi, waktu terasa berjalan lambat. Ae Ra merapikan rak minuman hanya untuk mengalihkan pikirannya. Ponselnya tiba-tiba berdering.
Nomor asing.
“Halo?”
“Halo, apakah ini Nona Kim Ae Ra?”
“Iya, benar.”
“Saya Han Sin Woo dari Aegis Corp. Kami ingin menginformasikan bahwa mulai besok Anda diterima bekerja sebagai sekretaris pribadi CEO Hyun Jae Hyuk.”
Ae Ra membeku. Rak minuman di depannya terasa menjauh. Suara kendaraan di luar menghilang. Jantungnya berdetak keras.
“…Maaf?” Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan. Dan tanpa ia sadari, hidupnya baru saja berubah arah.