Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24-Pertanyaan yang Ditahan
Jalanan Jakarta malam ini kering kerontang. Tidak ada rintik hujan yang bisa dijadikan pelarian bagi kecanggungan di dalam mobil sedan hitam milik Aksa. Hanya ada suara deru mesin yang sangat halus, tanda teknologi Jerman yang bekerja sempurna dan hembusan AC yang menyapu wajah Alea dengan udara dingin yang kering.
Alea menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap deretan gedung perkantoran di daerah Sudirman yang bergerak mundur. Lampu-lampu kota tampak seperti garis-garis cahaya yang buram di matanya yang masih terasa panas. Ia meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih, sebuah pertahanan kecil saat ia merasa dunianya sedang tidak berada di bawah kendalinya.
Aksa melirik melalui sudut matanya. Sebagai pria yang terbiasa membaca raut wajah lawan bicaranya di meja negosiasi, ia tahu ada badai di balik diamnya Alea.
“Alea,” panggil Aksa rendah.
“Ya?” sahut Alea tanpa menoleh sedikit pun.
“Kamu mau minum? Ada minimarket di depan kalau kamu butuh sesuatu yang dingin. Wajahmu sangat pucat.”
“Enggak, Aksa. Makasih. Aku cuma pengen cepat sampai dan tidur,” jawab Alea datar. Suaranya terdengar seperti baterai yang sudah habis daya.
Aksa menghela napas, jemarinya mengetuk setir dengan ritme yang tidak beraturan. “Kamu salah hitung kembalian berkali-kali hari ini. Tadi pagi kamu juga hampir jatuh karena melamun. Kita nggak bisa terus-menerus diam hanya karena kita takut memulai pembicaraan, kan?”
Alea akhirnya menarik kepalanya dari kaca jendela dan menoleh perlahan. Matanya merah, namun ia mencoba memaksakan senyum yang terlihat sangat kaku. “Hanya hari yang panjang, Aksa. Pikiran manusia terkadang bisa jadi tempat yang paling melelahkan untuk dikunjungi.”
“lni soal pembicaraan kita semalam, kan? Soal siapa aku sebenarnya?” desak Aksa, matanya tetap fokus pada jalanan namun suaranya menuntut kejujuran.
Alea terdiam. Ia kembali membuang muka ke arah luar. “Kenapa kamu harus punya kendali sebesar itu atas pekerjaan orang lain, Aksa? Kenapa dunia ini rasanya kecil banget buat aku sembunyi?”
“Dunia ini nggak kecil, Alea. Aku yang membuatnya terasa kecil supaya orang seperti dia nggak punya ruang lagi buat mengusikmu. Apa itu salah?”
“Tapi itu menakutkan buat aku!” seru Alea tiba-tiba, suaranya pecah. “Aku baru sadar kalau pelindungku ternyata punya sisi yang sama mengerikannya dengan orang yang dia lawan. Karena kamu punya kuasa buat hancurin hidup orang, aku jadi berpikir kalau suatu saat aku bikin salah sama kamu, apa kamu bakal pakai rencana yang sama buat ngatur hidupku?”
Aksa mendadak menginjak rem saat lampu merah menyala. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya ke arah Alea. Tatapannya yang biasanya sedingin es kini tampak bergejolak.
“Kamu beneran mikir aku bakal melakukan itu padamu?”
Alea tidak menjawab. Ia justru menunduk, menatap pangkuannya sendiri. Setetes air mata jatuh ke atas tasnya.
“Alea, jawab aku. Apa aku terlihat semenakutkan itu di matamu sekarang?” suara Aksa merendah, nyaris berbisik.
“Aku nggak tahu, aku cuma takut sama siapa pun yang punya kontrol berlebih. Hanif dulu juga begitu. Dia mengontrol segalanya sampai aku merasa nggak punya diri sendiri. Dan sekarang, melihat kamu, kamu bahkan bisa memecat dia hanya dengan satu memo. Itu kekuatan yang terlalu besar buat aku pahami, Aksa.”
Pandangan Aksa seketika menajam oleh rasa frustrasi yang asing. Ia mencengkeram kemudi mobil begitu kuat hingga telapak tangannya terasa panas. Mendengar Alea membandingkannya dengan Hanif adalah sebuah penghinaan terhadap logikanya. Aksa memang pria yang dingin dan penuh perhitungan, tapi ia tidak pernah menganggap Alea sebagai bidak catur yang bisa ia gerakkan sesuka hati.
Aksa menatap jalanan di depannya kembali saat lampu berganti hijau. Pikirannya kini terbelah antara rasa bersalah dan kebingungan. “Bodoh,” maki Aksa dalam hati.
Ia yang biasanya begitu licin dalam bernegosiasi, sekarang merasa seperti amatir yang tidak tahu cara menghadapi seorang wanita yang sedang hancur. Ia ingin memberitahu Alea bahwa ia sudah menyiapkan tim legal untuk memastikan Hanif tidak akan pernah bisa mendekati Alea lagi. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuasaannya adalah jaminan keamanan. Tapi ia sadar, justru dominasi itulah yang membuat Alea menarik diri.
Bagi Aksa, Alea adalah anomali yang menarik. Wanita ini adalah satu-satunya orang yang tidak menatapnya dengan pandangan memuja atau takut karena uangnya sampai semalam. Dan melihat Alea sekarang ketakutan padanya, ada sesuatu yang terasa mengganjal di dada Aksa. Bukan cinta, tapi sebuah keinginan posesif untuk mengembalikan rasa percaya itu.
“Maaf,” ucap Aksa akhirnya. Suaranya terdengar parau.
“Maaf buat fakta bahwa caraku menjagamu justru bikin kamu merasa tercekik. Aku terbiasa menyelesaikan masalah dengan strategi korporasi. Aku lupa kalau luka nggak butuh strategi.”
Alea menghapus air mata dengan punggung tangannya, wajahnya sembab namun ia mulai bisa mengatur napasnya.
“Kenapa kamu nggak tanya kenapa aku nangis hari ini? Tadi di toko, kamu kayaknya pengen banget interogasi aku.”
Aksa memaksakan diri untuk tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak sangat jarang muncul. “Karena aku sadar, pertanyaan kenapa itu cuma bakal nambah beban di kepalamu. Kamu sudah cukup capek berurusan sama perasaanmu sendiri, buat apa aku paksa kamu mencari kata-kata untuk menjelaskannya ke aku?”
Alea tertegun. Ia menatap profil samping wajah Aksa yang diterangi lampu-lampu jalanan. “Kamu...sadar soal itu?”
“Tentu saja. Adakalanya diam itu lebih menyembuhkan daripada penjelasan yang dipaksakan. Aku cuma ingin ada di sini. Kalau kamu mau nangis sampai kost, nangis saja. Aku nggak bakal tanya apa-apa.”
Dalam diamnya, Alea mulai merasakan sesuatu yang berbeda dari Aksa. Bukan tekanan, melainkan sebuah ruang kosong yang luas untuknya bernapas. Ia menyadari satu hal; Aksa yang kaku ini ternyata memiliki sisi pengertian yang tidak ia duga sebelumnya.
“Aksa?” Suara Alea yang lembut membuyarkan lamunan Aksa.
“Ya?”
“Makasih ya. Untuk nggak jadi orang yang menuntut penjelasan malam ini. Dan makasih karena kamu jujur kalau kamu memang punya sisi yang menakutkan itu.l
Aksa mengangguk pelan. “Tidurlah nanti. Jangan pikirkan lampu gudang yang lupa kamu matiin, atau buku yang salah letak. Semuanya sudah kubereskan di kepalaku.”
Alea sedikit terkejut, ia menoleh sepenuhnya. “Kamu tahu aku lupa matiin lampu gudang?”
“Aku lihat pas kita keluar tadi. Tapi aku nggak bilang, karena aku tahu fokusmu lagi berantakan. Besok pagi biar aku yang datang lebih awal buat bantu kamu buka toko.”
Senyum tipis akhirnya benar-benar muncul di bibir Alea. “Kamu CEO paling aneh yang pernah aku kenal. Kamu ngurusin lampu gudang.”
“Dan kamu penjaga toko paling keras kepala yang pernah aku temui. Jadi kurasa kita seimbang,” balas Aksa dan kali ini Alea mendengar nada bercanda yang tulus di suaranya.
Saat mobil sampai di depan gerbang kost, Alea tidak langsung turun. Ia menatap Aksa sebentar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa pria ini mungkin memang berbeda.
“Aku turun ya. Sampai ketemu besok di toko?”
“Tentu. Jangan terlambat, atau aku bakal audit toko bukumu secara mendalam,” goda Aksa.
Alea tertawa kecil, melambaikan tangan, lalu turun dari mobil. Aksa memperhatikannya masuk ke gerbang sampai pintunya tertutup rapat. Pria itu masih duduk di sana untuk beberapa menit, menyandarkan punggungnya ke jok mobil, menarik napas panjang. Ia masih punya banyak pertanyaan tentang sejauh mana Hanif telah merusak wanita itu, tapi untuk malam ini, keheningan dan sedikit senyum Alea tadi sudah cukup untuk menenangkannya.