NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Marko Bumi Ferdinand

Pagi itu, sinar matahari masuk lembut melalui celah jendela kamar Aluna. Namun bukannya memberi kehangatan, cahaya itu justru terasa menyakitkan di mata. Tubuhnya masih lemas, matanya sembab akibat tangisan panjang malam sebelumnya. Ingatan tentang insiden bersama Alif masih membekas jelas, tangan-tangan kasar, suara pintu terkunci, tatapan liar penuh nafsu. Meski ia berhasil selamat, bayangan itu menghantui setiap kali ia memejamkan mata.

Ia memutuskan tidak masuk kerja. Meski manajer klub sudah menelepon, meyakinkan bahwa Alif benar-benar sudah di-blacklist permanen, Aluna tetap belum sanggup kembali. Rasa takut terlalu besar, seolah ruangan VIP itu masih mengurungnya. Ia memilih berdiam di rumah, menenangkan diri bersama ibunya.

**

Siang itu rumah mereka berbeda dari biasanya. Suasana yang biasanya sepi kini ramai. Keponakan Aluna yang ganteng, Bryan sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Di sebelahnya, Azzahra yang cantik tengah sibuk menggambar di buku sketsa. Ipar Aluna, Annisa datang membawa beberapa kotak makanan.

“Kebetulan tadi aku masak banyak, jadi sekalian kubawakan ke sini.” ucap Annisa sambil tersenyum tipis.

Ibu Aluna menyambut dengan wajah sumringah.  “Alhamdulillah, terima kasih banyak, Nisa. Kebetulan sekali, Aluna lagi nggak enak badan.”

Annisa menatap Aluna yang duduk diam di pojok sofa. “Kamu kenapa, Lun? Jangan terlalu capek kerja, ya. Sebenarnya,  Aku dari dulu kurang setuju kamu kerja di restoran mahal itu. Apalagi sebagai Waitres, kamu kan sarjana, harusnya bisa dapat pekerjaan lebih bagus. Minimal ikut tes PNS, biar bisa kayak Mas Sultan atau Ayah dulu.”

Aluna tersenyum hambar, menunduk. Ia tidak punya tenaga untuk menjawab panjang. Selama ini, keluarganya percaya ia bekerja sebagai pelayan di restoran elit kawasan kota. Rahasia tentang klub malam ia simpan rapat-rapat.

“Iya, Nis. Cuma sekarang jadi PNS susah, banyak tahapan. Lagian, kita harus bersyukur masih bisa kerja.” timpal ibu, berusaha menengahi.

Annisa menghela napas. “Ya, aku ngerti, Bu. Tapi tetap saja, sayang kalau lulusan S1 cuma kerja kayak gitu.”

Aluna menunduk lebih dalam, menyembunyikan wajahnya. Hatinya semakin sesak. Andai mereka tahu kebenaran, mungkin akan lebih hancur lagi.

**

Sore harinya, Friska datang. Ia menyapa ibu Aluna dengan ramah, lalu masuk ke kamar Aluna. Melihat sahabatnya masih pucat, Friska mendesah.

“Kamu masih kepikiran kejadian semalam, ya?” tanyanya sambil duduk di tepi ranjang.

Aluna mengangguk pelan. “Aku masih takut, Fris. Kalau saja… kalau saja orang itu tidak datang tepat waktu, aku mungkin sudah…..” suaranya tercekat.

Friska meraih tangannya. “Jangan diterusin. Kamu selamat, itu yang penting.”

Mereka terdiam sejenak, sampai akhirnya Friska membuka suara lagi. “Lun, kamu tahu nggak siapa orang yang nolong kamu semalam?”

Aluna menggeleng. Ia hanya mengingat samar wajah tampan dengan tatapan tajam, lalu suara tegas yang memerintahkan agar Alif diblacklist.

“Namanya Marko Bumi Ferdinand.” ujar Friska lirih. “Dia bukan sembarang orang. Dia pemilik klub tempat kita kerja. Dan bukan cuma itu, dia juga CEO PT. CORP BUMI RAYA, perusahaan nomor satu di Indonesia.”

Mata Aluna melebar, tak percaya.

Friska melanjutkan panjang lebar, seolah ingin memastikan sahabatnya mengerti. “ Pak Marko itu usianya baru 30 tahun, tapi dia sudah punya kerajaan bisnis. Perusahaannya ada cabang di seluruh pulau, mulai dari properti, F&B, ekspor-impor, fashion, sampai distributor besar. Dia dikenal disiplin, tegas, galak, bahkan kasar. Banyak orang nyebut dia mafia bisnis. Nggak segan menghajar siapa pun yang melawan. Tapi semua orang hormat sama dia.”

Aluna hanya terdiam, membayangkan kembali tatapan tajam pria itu.

“Dia punya asisten setia, namanya Renaldi Sihombing. Pria yang berada disampingnya semalam. Karakternya mirip, cuma lebih ramah sedikit. Tapi jangan salah, dia juga bisa kejam kalau disuruh bosnya.” tambah Friska.

Aluna menelan ludah. “Kenapa orang sebesar itu sampai turun tangan sendiri nolong aku?”

Friska mengangkat bahu. “Nggak tahu. Mungkin karena kebetulan dia ada di sana. Yang jelas, kamu beruntung.”

Aluna hanya mengangguk-angguk. Baginya, nama Marko terasa terlalu jauh dari kehidupannya.

**

Beberapa hari kemudian, Aluna kembali bekerja. Jantungnya masih berdegup cepat setiap melangkah masuk ke klub, tapi ia berusaha menata diri. Friska terus mendampingi, memastikan ia tidak sendirian.

Malam itu, dari lantai atas, Marko berdiri tegak sambil mengamati keramaian klub. Di sampingnya, Renaldi ikut memperhatikan. Namun tatapan bosnya jelas hanya tertuju pada satu orang, Aluna.

“Bos, ada apa? Sepertinya Anda terlalu fokus sama cewek itu.” tanya Renaldi dengan nada ragu.

Marko hanya mendengus, tidak menjawab. Renaldi pun memilih diam, meski hatinya penuh tanda tanya.

Selama tiga malam berturut-turut, Marko datang ke klub. Ia selalu mengambil posisi yang sama, duduk di lantai atas, mengamati Aluna dari kejauhan. Tatapannya dingin, tajam, seolah sedang menilai sesuatu. Renaldi makin heran, tapi tidak berani bertanya.

**

Sementara itu, Aluna berusaha menjalankan pekerjaannya. Ia menuangkan minuman, tersenyum pada tamu, bahkan terkadang dipeluk atau dicium pipi. Namun ada satu hal yang selalu ia jaga, ia tidak pernah membiarkan bagian bawah tubuhnya disentuh. Friska pun selalu sigap melindunginya.

Dari kejauhan, Marko menyadari hal itu. Ia bisa melihat pola Aluna, bagaimana gadis itu menjaga dirinya berbeda dari perempuan lain di klub. Rasa penasaran tumbuh di dalam dirinya.

Suatu malam, ia memanggil manajer klub. “Siapa sebenarnya perempuan itu?” tanyanya datar.

Manajer menjelaskan dengan hati-hati, “Namanya Aluna, Pak. Sudah beberapa bulan bekerja di sini. Memang beda dari yang lain, masih menjaga batasan. Tidak seperti beberapa karyawan lain yang… menjajakan diri sepenuhnya.”

Marko hanya mengangguk tipis.

**

Malam ketiga, keputusan akhirnya keluar. “Renaldi,” ucapnya dingin.

Renaldi segera mendekat. “Ya, Bos?”

“Suruh manajer panggil Aluna. Malam ini, dia yang melayani saya di ruang VIP.”

Renaldi sempat terkejut, tapi segera menunduk. “Baik, Bos.”

Manajer panik menerima perintah itu, tapi ia tahu tidak ada yang bisa menolak Marko.

Dengan wajah pucat, Aluna melangkah menuju ruang VIP. Tangannya dingin, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia tahu siapa yang menunggunya di dalam.

Pintu dibuka pelan. Di dalam, Marko sudah duduk dengan santai, jas hitam membalut tubuh tegapnya. Tatapannya tajam, menusuk, membuat udara seolah membeku.

Aluna berdiri kaku di ambang pintu, merasa tubuhnya bisa ditembus hanya oleh tatapan itu. Perlahan ia menelan ludah, lalu melangkah masuk.

Langkahnya terdengar jelas di antara keheningan ruangan. Musik keras dari luar seakan menghilang, menyisakan hanya detak jantungnya sendiri.

Marko tidak berkata apa-apa. Ia hanya terus menatap, seolah sedang membaca seluruh isi hati Aluna.

Aluna menegakkan tubuh, berusaha menutupi rasa takut sekaligus penasaran. Ia tahu, malam itu akan membuka babak baru dalam hidupnya  entah seperti apa.

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!