Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Setiap kali pintu kamar jati yang berat itu tertutup dan terkunci, topeng "Singa Betina" yang Luna kenakan di kampus runtuh seketika. Di balik kemegahan kamar pribadinya, Luna hanyalah seorang gadis yang hancur berkeping-keping. Ia akan merosot di balik pintu, memeluk lututnya, dan membiarkan tangisannya pecah tanpa suara agar tidak terdengar oleh pelayan atau pengawal di luar.
Kata bosan itu terus terngiang, lebih tajam dari sembilu. Luna merasa tidak ada lagi harga diri yang tersisa. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Zayn yang begitu menjaga perasaan Zella kekasih London-nya yang terhormat membuat Luna merasa seperti sampah yang hanya digunakan untuk memuaskan nafsu sesaat di malam itu.
"Kenapa kau begitu menjaga perasaannya, Zayn? Kenapa kau tidak pernah menjagaku seperti itu?" bisiknya pada kegelapan.
Dulu, Luna selalu bergantung pada pil penenang untuk bisa memejamkan mata. Namun belakangan ini, ia tidak menyentuh botol obat itu lagi. Tubuhnya terlalu lelah, terkuras habis oleh tangisan berjam-jam dan energi negatif yang ia ledakkan seharian. Kelelahan yang luar biasa itu selalu menyeretnya ke alam bawah sadar sebelum ia sempat berpikir untuk menelan pil.
Soal kotak test pack yang diberikan Hera, Luna menyembunyikannya jauh di dasar laci meja riasnya. Ada alasan kuat kenapa ia begitu keras kepala menolak saran adiknya: ia sudah pernah mencobanya.
Saat pertama kali ia berbohong pada Zayn di depan kelas teknik dan mengalami mual-mual di hari-hari awal, Luna sempat melakukan tes secara diam-diam. Dengan harapan yang membumbung tinggi, berharap kebohongannya menjadi nyata agar Zayn kembali padanya, ia menunggu dengan jantung berdegup kencang. Namun, hasilnya saat itu adalah garis satu. Negatif.
Kekecewaan itu hampir membunuhnya. Sejak saat itu, Luna yakin bahwa mual dan muntah yang ia alami hanyalah manifestasi dari stres akut karena hatinya yang hancur. Ia tidak mau melakukan tes lagi hanya untuk melihat hasil negatif yang sama, yang seolah menegaskan bahwa tidak ada lagi ikatan apa pun antara dirinya dan Zayn.
Ia tidak ingin Hera tahu betapa menyedihkannya dia, seorang mahasiswi kedokteran yang seharusnya paham logika medis, tapi justru tenggelam dalam khayalan tentang malam-malam panas Zayn dan Zella di London. Luna merasa muak dengan dirinya sendiri.
Matahari pagi menembus celah gorden, dan seperti biasa, perut Luna langsung bergejolak. Ia berlari ke kamar mandi, memuntahkan sisa asam lambungnya hingga tenggorokannya terasa terbakar.
"Ini hanya karena aku membencimu, Zayn," gumamnya sambil membasuh wajah dengan air dingin. "Hanya karena aku benci membayangkan mu tidur dengan wanita itu."
Ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Hera sudah berdiri di sana dengan tatapan menyelidik.
"Sudah kau pakai?" tanya Hera sambil menunjuk ke arah laci.
"Sudah. Hasilnya negatif, sama seperti yang kubilang. Aku hanya butuh makan banyak agar lambungku tidak kosong," bohong Luna dengan wajah datar, mencoba menutupi fakta bahwa ia sebenarnya menggunakan tes yang ia lakukan berminggu-minggu yang lalu sebagai patokan.
Luna tidak sadar bahwa satu bulan adalah waktu yang sangat signifikan dalam siklus biologi. Ia tidak tahu bahwa tes yang ia lakukan dulu mungkin terlalu dini, dan apa yang ia rasakan sekarang nafsu makan yang meledak dan amarah yang tak terkendali, bukan sekadar efek psikologis.
Di meja makan, Luna kembali makan dengan porsi yang tidak masuk akal bagi seorang gadis sekecil dia. Ia menyantap daging asap dan telur dalam jumlah banyak, seolah-olah ada lubang hitam di perutnya yang perlu diisi. Ia tidak peduli lagi pada keanggunan. Jika Zayn sudah bosan padanya, untuk apa ia tetap menjadi cantik dan manis?
Namun, saat ia sedang mengunyah, ponselnya di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal, nomor yang seharusnya sudah ia blokir.
Zayn: " Berhenti bertingkah gila dan makanlah sesuatu yang benar. Jangan sampai pingsan di koridor, aku perhatikan kau semakin pucat, Luna."
Luna meremas garpunya hingga buku jarinya memutih. Zayn memperhatikannya lagi. Tapi bagi Luna, perhatian itu terasa seperti penghinaan, sebuah bentuk rasa kasihan dari pria yang sudah memiliki rumah di London.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰