Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Havenload.
Kabut ungu meledak di udara seperti awan racun.
BOOM—FSSSHHH!!
Jamur ungu yang dilempar Vivi pecah di tanah, menyemburkan asap pekat yang berbau pahit dan menyengat hidung. Chika refleks menutup wajah dengan perisainya, sementara Princes menjerit kecil dan bersembunyi di belakang punggungnya.
Namun sebelum kabut itu benar-benar menelan mereka—
FWOOOOSH!!
Darah merah gelap berputar di udara, membentuk lingkaran seperti kelopak bunga mawar yang berlapis-lapis. Sebuah barrier darah berdiri kokoh di depan mereka bertiga, memantulkan kabut ungu ke samping seperti asap yang tertiup angin.
Selena berdiri di depan, satu lutut sedikit ditekuk, tangan kanannya terangkat, darah berkilau seperti kristal merah di sekelilingnya. Wajahnya tidak lagi santai—matanya menyipit tajam, bibirnya menegang.
“…Aku sudah menduga,” katanya pelan, suaranya dingin.
“Sejak awal kau terlalu… tahu banyak, Vivi.”
Kabut perlahan menghilang.
Vivi masih berdiri di sana, keranjang jamurnya tergantung di lengan. Senyumnya… masih sama. Lebar. Tenang. Mata tertutup seperti biasa.
“Hoho…” Vivi terkekeh kecil.
“Hebat juga insting vampirmu, Selena.”
Selena menurunkan sedikit barrier, tapi tombak darah mulai terbentuk di tangannya, ujungnya runcing dan berdenyut seperti jantung.
“Kau bukan penjaga penginapan biasa,” lanjut Selena.
“Siapa kau sebenarnya?”
Vivi melangkah pelan ke depan, langkahnya ringan, hampir tak berbunyi di atas tanah labirin.
“Aku?”
Ia memiringkan kepala, seolah berpikir.
“Aku hanya… penjaga lama Havenload.”
Chika melotot.
“Havenload? Pulau terbang itu?!”
Vivi mengangguk perlahan, lalu menoleh ke langit. Di antara celah pepohonan labirin, bayangan pulau melayang Havenload terlihat samar—hitam, kusam, seperti mati.
“Setelah pahlawan masa lalu… Kaden… menghilang,” kata Vivi pelan,
“Hero Sword ikut lenyap. Dan Havenload… kehilangan jantungnya.”
Ia mengepalkan tangan.
“Pedang itu tertancap di hutan ini… selama ratusan tahun.”
Chika menggertakkan gigi.
“Kalau begitu… kenapa kau menyerang kami?!”
Ia maju setengah langkah, perisai Lumina berkilau.
“Dasar pengkhianat!”
Vivi tertawa kecil.
“Pengkhianat?”
Ia menoleh ke Chika, senyumnya tak berubah.
“Lucu… Padahal justru aku tidak percaya pada takdir yang diciptakan para dewa, Dewi, dan leluhur Gurial Tempest.”
Selena terkejut.
“Kau… menentang para dewa?”
“Aku memilih jalanku sendiri,” jawab Vivi.
“Aku ingin mengambil Hero Sword… menghidupkan kembali Havenload… dan menemukan penciptaku.”
“Pencipta…?” Selena bergumam.
“…Kaden.”
Udara seakan membeku.
Selena membelalak.
“Kaden… berarti… kau sudah hidup lebih dari seribu tahun?!”
Vivi mengangguk ringan.
“Dan aku… tidak menua.”
Chika berkedip.
“Jadi… kamu itu nenek-nenek jamur immortal?”
“Kurang ajar,” jawab Vivi santai.
Princes maju setengah langkah, tangan kecilnya mengepal.
“Tidak akan!” serunya.
“Aku dan kesatria—maksudku Chika—akan mencari enam belas Hero yang ditakdirkan Hero Sword!”
Angin berembus pelan di labirin.
Vivi menoleh ke arah Princes, senyumnya sedikit… menyempit.
“Nak kecil,” katanya lembut tapi dingin,
“kau tidak tahu apa sebenarnya tujuan dunia ini.”
Ia mengangkat satu tangan, jamur-jamur ungu mulai berdenyut pelan.
“Aku tak akan berlama-lama.”
“Serahkan pedang itu padaku… atau aku akan merebahkan Hero Sword kembali ke batu pusakanya.”
Chika melangkah maju, berdiri di depan Princes.
Pedang Lumina terangkat, kilat biru muda merayap di bilahnya.
Perisainya berdengung pelan, seolah menjawab tantangan.
Selena berdiri di sampingnya, tombak darahnya kini padat, berkilau seperti kristal merah.
Mereka berkata bersamaan:
“Kami tidak akan menyerahkannya kepada pengkhianat!”
Vivi tersenyum lebar.
“…Bagus.”
Jamur di keranjangnya mulai bercahaya ungu, mengeluarkan bunyi berderak seperti api kecil.
“Kalau begitu,” katanya,
“biar sejarah yang menentukan siapa yang benar.”
Angin labirin berputar.
Daun-daun kering terangkat.
Cahaya biru dari Hero Sword di punggung Chika beradu dengan cahaya ungu jamur Vivi dan merah darah Selena.
Princes mundur satu langkah, menggenggam ujung baju Chika.
“Kesatria…” bisiknya.
Chika menelan ludah, lalu tersenyum tipis.
“Tenang… kali ini kita lawan bareng-bareng.”
Selena menyeringai.
“Dan kali ini… aku tidak akan menahan diri.”
Di tengah labirin hantu dan takdir para dewa,
tiga cahaya—biru, merah, dan ungu—saling berhadapan.
Pertarungan pengkhianatan… baru saja dimulai.
Benturan pertama terjadi tanpa aba-aba.
Jamur ungu Vivi meledak di tanah dengan suara PFFSSH—BOOM!, menyemburkan kabut beracun yang menyapu labirin seperti ombak. Selena refleks menghentakkan tombak darahnya ke tanah.
KRAAANG!!
Dinding darah menjulang, melengkung seperti perisai raksasa, menahan kabut ungu agar tidak menyentuh Chika dan Princes.
“Chika, kanan!” teriak Selena.
Chika melompat, tubuhnya berputar setengah lingkaran di udara. Pedang Lumina menyapu ke depan—
ZRAAASH!!
Tebasan cahaya biru memotong jamur terbang yang melayang ke arahnya. Sisa-sisanya jatuh seperti bara api ungu ke tanah.
Vivi tidak berhenti tersenyum.
Ia melempar tiga jamur sekaligus. Jamur-jamur itu berubah bentuk di udara, membesar, lalu meledak berantai.
BOOM! BOOM! BOOM!
Chika terpelanting ke belakang, menggesek tanah labirin. Princes menjerit.
“Kesatria!”
Princes memungut batu kecil di kakinya dan melempar sekuat tenaga.
“MENJAUH DARI KESATRIA!!”
TOK!
Batu itu mengenai dahi Vivi.
Vivi terdiam satu detik… lalu menoleh perlahan.
“…Kau berani melempariku batu?”
Selena tersenyum tipis.
“Jangan remehkan serangan level anak-anak.”
Vivi mengayunkan keranjangnya ke depan. Dari dalamnya, jamur-jamur ungu memanjang seperti tombak dan melesat.
Selena maju setengah langkah.
“Teknik Darah: Mawar Terbelah!”
Tombak darahnya berputar dan membelah proyektil jamur itu satu per satu. Potongannya jatuh ke tanah sambil mendesis.
Chika bangkit, napasnya berat.
“Dia cepat… dan area serangannya luas…”
Vivi melangkah ke depan.
“Menyerahlah. Serahkan Hero Sword.”
Chika menggeram.
“Tidak akan!”
Ia menerjang.
DOR!!
Perisai Lumina menghantam dada Vivi. Vivi terpental, tapi berputar di udara dan mendarat ringan.
“Gerakanmu kaku,” katanya. “Kau belum pantas memegang pedang itu.”
Vivi melesat seperti bayangan, muncul tepat di depan Chika.
BAM!!
Ia menendang perut Chika, membuatnya terhempas ke samping Princes.
“Kesatria!” Princes berlari kecil, lalu melempar batu lagi.
“Pergi!”
Vivi hendak mengayunkan jamur, tapi Selena menahan dengan tombak darahnya.
CLANG!!
Mata mereka saling bertemu.
“Kalau mau ambil pedang itu,” kata Selena dingin,
“lewati aku dulu.”
Pertarungan berlangsung lama.
Jamur meledak, darah membentuk perisai, cahaya biru menyambar tanah labirin.
Malam turun tanpa terasa.
Kabut, pecahan batu, dan cahaya bercampur jadi satu.
Chika tersungkur dengan satu lutut di tanah. Nafasnya tersengal.
Vivi melihat celah.
Ia melompat tinggi dan mengayunkan jamur raksasanya ke arah Chika.
BAMMM!!
Chika terhempas. Hero Sword tergeser dari punggungnya.
Vivi mendarat tepat di depannya.
“…Akhirnya.”
Ia meraih gagang Hero Sword.
Saat jari-jarinya menyentuhnya—
Cahaya biru menyala sesaat… lalu padam.
Pedang itu menjadi kusam.
Vivi membeku.
“…Apa?”
Ia mengangkat pedang itu, mencoba mengalirkan energi.
Tidak ada reaksi.
Chika bangkit perlahan.
Selena berdiri di sampingnya.
Princes menggenggam ujung baju Chika.
Hero Sword berbunyi pelan di udara, seperti suara gema jauh.
“Pedang ini… hanya menjawab panggilan yang terpilih.”
Vivi menatap pedang itu lama, lalu tertawa kecil.
“…Jadi begitu.”
Ia melemparkan pedang itu kembali ke Chika.
CLINK.
“Sejarah benar-benar kejam,” katanya pelan.
“Bahkan aku tidak bisa menggunakannya.”
Chika menangkap pedang itu dengan gugup.
“…Kau… menyerah?”
Vivi menghela napas.
“Untuk soal pedang… iya.”
Namun sebelum ada yang berkata lagi—
BOOOOM!!
Tanah labirin bergetar.
Dari balik pepohonan, muncul sosok-sosok berbaju baja merah-hitam. Topeng mereka licin dan tanpa ekspresi.
Invader.
Jumlahnya belasan.
“Target terdeteksi.”
“Ambil Hero Sword.”
“Musnahkan sisanya.”
Princes bersembunyi di belakang Chika.
Selena menggertakkan gigi.
“Mereka datang juga…”
Vivi menoleh ke arah hutan.
“…Penginapanku.”
Ia mengepalkan tangan.
“Kalau mereka lewat sini, penginapan akan hancur. Dan jalur ke Havenload akan tertutup.”
Chika terkejut.
“Jalur ke Havenload?”
Vivi menoleh ke mereka.
“Penginapan hutan Gurial Tempest adalah salah satu gerbang menuju Havenload.”
Ia menatap Chika.
“Dan kalian butuh Havenload… untuk mencari lima belas Hero lainnya.”
Invader mengangkat senjata mereka.
Api merah mulai berkumpul di moncong baja mereka.
Vivi melangkah ke samping Chika.
“Untuk sementara… kita satu pihak.”
Selena menyeringai.
“Baru kali ini aku bertarung dengan mantan musuh.”
Princes mengangkat batu lagi.
“Kalau begitu… aku juga ikut!”
Chika menggenggam Hero Sword.
“Baik.”
Ia menatap barisan Invader.
“Kita lindungi penginapan.”
Cahaya biru, merah, dan ungu kembali menyala di labirin.
Dan tanpa aba-aba—
Mereka berlari menuju malam,
menuju penginapan hutan Gurial Tempest,
menuju jalur menuju Havenload,
menuju awal pencarian lima belas Hero yang tersisa.
...----------------...
Langkah mereka berubah menjadi lari.
Di balik pepohonan yang hangus dan batang-batang patah, pasukan Invader terus bermunculan seperti semut dari sarangnya. Baja merah-hitam mereka berkilat tertimpa cahaya bulan, topeng tanpa ekspresi memantulkan nyala api dari senjata mereka.
“Jumlahnya… nambah terus!” Selena menoleh ke belakang sambil menusuk satu Invader dengan tombak darahnya. Tubuh makhluk itu terangkat, lalu meledak jadi kabut hitam.
Vivi melempar dua jamur ungu ke tanah.
PFFSSHH—BOOM!
Ledakan beracun menyapu barisan depan Invader, membuat mereka terhuyung dan roboh satu per satu.
“Penginapan tinggal sedikit lagi,” katanya, nadanya lebih tegang dari biasanya. Senyum khasnya masih ada… tapi sekarang terasa dipaksakan.
Chika berlari di depan sambil menggendong Princes di satu tangan dan memegang Hero Sword di tangan lain. Pedang itu berpendar biru muda, seperti napas yang hidup.
Princes menunjuk gemetar.
“Kesatria… mereka banyak sekali…”
“Aku tahu,” jawab Chika terengah, “tapi… kita tidak boleh berhenti.”
Invader dari sisi kanan melompat turun dari pohon.
Selena melesat ke depan.
“Teknik Darah: Jembatan Mawar!”
Darahnya membentuk lengkungan tajam di udara, menebas tiga Invader sekaligus.
Vivi memutar keranjangnya.
“Jamur Racun: Hujan Spora!”
Butiran ungu jatuh seperti hujan, mendesis saat menyentuh baja musuh.
Namun semakin mereka maju, semakin padat barisan Invader.
Dan akhirnya—
mereka tiba di tepi lapangan kecil di depan penginapan hutan Gurial Tempest.
Bangunan kayu itu masih berdiri… tapi kini dikepung.
Puluhan Invader membentuk setengah lingkaran. Api senjata mereka menyala serempak, mengarah ke Chika dan yang lain.
Hutan di sekitar penginapan sudah hangus separuhnya. Daun-daun terbakar beterbangan seperti salju hitam.
Chika berhenti.
Napasnya berat. Kakinya gemetar.
Selena berdiri di sampingnya, tombak darah terangkat.
Vivi melangkah ke depan setengah langkah, menatap penginapannya dengan sorot mata yang berbeda—bukan lagi senyum tipis, tapi kemarahan yang tertahan.
Princes memeluk punggung Chika.
“K… Kesatria…”
Chika menatap lautan musuh di depannya.
“…Kalau kita maju biasa… kita tidak akan cukup.”
Hero Sword berdenyut di tangannya, seolah menjawab pikirannya.
Chika menelan ludah.
Lalu… ia mengangkat pedang itu tinggi-tinggi ke langit.
Angin berhenti.
Cahaya biru muda mengalir dari tanah, dari pepohonan, dari dadanya sendiri, berkumpul di bilah pedang.
Semua orang terdiam.
Chika berbicara, suaranya bergetar… tapi tegas.
“Meski kegelapan harus aku lewati…”
“…meski seluruh dunia berdiri melawanku…”
“…aku tidak akan kalah.”
Hero Sword bergetar.
“Karena… aku tidak sendirian.”
Ia menatap ke belakang.
Selena.
Vivi.
Princes.
Lalu Chika menghentakkan pedang itu ke tanah.
DRAAANG—!!!
Ledakan cahaya biru muda meledak keluar seperti matahari kecil.
Tanah retak.
Udara terbelah.
Gelombang energi menyapu hutan.
BOOOOOMMMMM!!!
Barisan Invader hancur seketika, terlempar seperti daun kering. Baja merah-hitam mereka meleleh lalu pecah menjadi debu gelap.
Pepohonan di sekitar penginapan tumbang. Separuh hutan Gurial Tempest roboh, tersapu cahaya.
Saat cahaya memudar…
Lapangan di depan penginapan kosong.
Tidak ada Invader.
Tidak ada suara tembakan.
Hanya angin malam dan bau tanah hangus.
Chika jatuh berlutut, Hero Sword tertancap di tanah.
“…Aku… hidup?”
Princes memeluk punggungnya.
“Kesatria… kamu keren…”
Selena terdiam, menatap bekas kehancuran itu.
“…Itu… kekuatan Hero Sword…”
Vivi berdiri memandang penginapannya yang masih berdiri, meski sekelilingnya rata.
“…Kau menyelamatkannya,” katanya pelan.
“Dan mungkin… kau memang pahlawan yang dipilih.”
Chika tersenyum lemah.
“…Aku cuma knight pemula.”
Namun di dalam hutan yang telah setengah hancur itu,
sebuah cahaya biru masih berpendar di Hero Sword.
Pertanda bahwa perjalanan mereka…
baru saja benar-benar dimulai.
...----------------...
Beberapa jam kemudian.
Penginapan kayu itu… terbang.
Bukan kiasan. Bukan metafora.
Benar-benar mengambang di udara, ditopang lingkaran sihir ungu di bawah lantainya seperti balon raksasa yang lupa dirinya bangunan.
Di dalamnya—
“Berhenti… berhenti… jangan belok lagi… aku mau muntah…”
Chika tergeletak telentang di lantai kayu, wajahnya pucat seperti kain lap bekas diperas. Hero Sword tergeletak di sampingnya, masih berpendar lembut.
Vivi berdiri di depan jendela besar, kedua tangannya memegang tuas kayu yang penuh rune.
Ia menoleh sambil tersenyum santai.
“Tadi kau menghancurkan setengah hutan dengan satu tebasan… sekarang kalah oleh angin.”
Chika mengangkat jempol dengan tangan gemetar.
“Ini… ini beda… itu perang… ini… pariwisata neraka…”
Di sudut ruangan, sebuah tong besar bergoyang pelan. Di atasnya, sebuah payung merah menutupi seluruh badan tong.
Dari dalam tong terdengar suara Selena.
“Dia memang knight bodoh kami…”
“…tapi dia makhluk yang ditakdirkan menghentikan penjajah dunia.”
Tong itu sedikit miring, lalu kembali tegak.
“Dan juga… dia satu-satunya manusia yang bisa membuatku ikut masuk ke Lift Orbital tanpa terbakar.”
Chika mengerang.
“Aku dengar itu sebagai pujian… atau hinaan?”
Sementara itu, di meja kecil dekat jendela—
Princes duduk di kursi tinggi, kedua kakinya menggantung, memegang paha ayam panggang sebesar lengannya sendiri.
Gigitan demi gigitan, matanya berbinar.
“Vivi! Masakan kamu lebih enak dari dapur kerajaan Gurial Tempest!”
Vivi tertawa kecil.
“Wajar. Aku hidup ribuan tahun. Kalau masakanku masih kalah sama koki istana, itu baru memalukan.”
Chika mendadak duduk, lalu langsung menutup mulut.
“UDAH JANGAN BANYAK BICARA… CEPAT ANTAR KAN KITA KE HAVENLOAD… AKU GA TAHAN KETINGGIAN…”
Selena menggeser tongnya sedikit, lalu membuka celah payung.
Ia sedang meminum cairan merah gelap dari botol kristal.
“Knight… kau teriak seperti sedang dibakar.”
Chika menunjuk botol itu.
“Itu… darah…?”
Selena mengangguk santai.
“Darah Invader. Rasanya pahit… tapi energi mereka murni. Tubuhku terasa lebih ringan.”
Ia berhenti sebentar, lalu menatap cairan itu.
“…dan kekuatanku meningkat.”
Vivi melirik ke arahnya.
“Tak heran.”
Selena menoleh.
“Kenapa?”
Vivi menyetir sambil bicara.
“Karena kau keturunan Bellial.”
Tong itu bergetar.
“…Apa?”
Vivi melanjutkan dengan nada datar.
“Kau berasal dari garis darah yang sama dengan Putri Priscilla, anak Count Claude, dari Demonshire.”
Selena mencengkeram sisi tong.
“…Aku tahu.”
Giginya beradu.
“…dan aku membencinya.”
Ia menunduk.
“Aku ingin membunuh Bellial… karena dia yang membunuh kedua orang tuaku di dunia iblis.”
Suasana sunyi sejenak.
Hanya terdengar bunyi kayu penginapan berderit pelan di udara.
Princes menatap Selena dengan mulut penuh ayam.
“…Kamu sedih?”
Selena terdiam, lalu tersenyum kecil.
“…Sedikit.”
Chika bangkit perlahan sambil memegangi dinding.
“Kalau gitu… kita bunuh penjajah dulu… lalu… Bellial belakangan.”
Selena menatapnya lama.
“…Kau bodoh.”
“…tapi caramu bicara selalu membuatku susah marah.”
Tak lama kemudian—
Cahaya biru muncul di kejauhan.
Sebuah pulau melayang di udara, berlubang di tengah, dengan struktur bangunan rusak dan mati.
“Sudah sampai,” kata Vivi.
“Itu Havenload.”
Penginapan meluncur perlahan dan menempel di tepi pulau berlubang itu seperti kapal bersandar.
Mereka turun.
Angin dingin berhembus. Tanah Havenload retak-retak, bangunannya kusam, dan di tengah lubang besar… hanya ada dudukan pedang berbentuk lingkaran.
Vivi berjalan ke depan.
“Havenload diciptakan oleh pahlawan pertama… Kaden.”
Ia menatap kota mati itu.
“Selama Hero Sword hilang… sumber energi Havenload padam.”
Ia menoleh ke Chika dan Princes.
“Masukkan pedang itu.”
Chika dan Princes mendekat bersama.
Hero Sword bergetar di tangan Chika.
Saat ujungnya menyentuh lubang—
KRRRNNNGGG—
Cahaya biru meledak keluar dari tanah.
Tanah bergetar. Retakan menyala. Bangunan mulai memperbaiki diri seolah waktu diputar balik.
Langit Havenload berubah dari gelap menjadi biru cerah.
Dan dari tanah, muncul puluhan sosok kecil berbentuk gadis mekanik.
“Unit MK-01 aktif.”
“MK-07 aktif.”
“MK-19 aktif.”
Robot-robot penjaga dengan mata biru menyala berdiri berbaris.
Bangunan-bangunan kosong mulai terangkat, membentuk rumah, bengkel, dan menara kecil.
Princes bertepuk tangan.
“Waaaah… cantik!”
Chika berdiri terpaku.
“…Ini… sekarang milik kita?”
Vivi tersenyum.
“Hero Sword memilihmu. Jadi Havenload… mengakuimu sebagai pemilik baru.”
Chika menoleh ke Princes.
“Kalau begitu…”
Ia mengangkat tangan.
“Sambil kita cari lima belas Hero lain…”
Princes langsung mengangkat tangan juga.
“…kita hias Havenload!”
Selena tersenyum kecil.
“…Kota terbang untuk pahlawan bodoh dan princes kecil.”
Vivi menutup mata sambil tertawa pelan.
“…dan pengkhianat tua sepertiku.”
Di atas pulau yang kembali hidup itu,
di bawah langit biru buatan sihir—
Perjalanan mereka memasuki babak baru.
Bukan lagi sekadar melarikan diri…
Tapi membangun markas
untuk melawan dewa penjajah dunia.
...----------------...
Chapter 1 : Hutan Gurial Tempest Dan The Hero Sword
...Completed...
Di suatu tempat yang bukan langit, bukan bumi, dan bukan pula dunia para iblis—
Sebuah ruang kosong terbentang seperti lautan kaca. Di bawahnya mengalir cahaya biru seperti sungai kosmik. Tidak ada angin, tidak ada suara…
sampai tiga sosok bercahaya muncul di tengah ruang itu.
Tubuh mereka tidak sepenuhnya padat.
Seperti bayangan manusia yang dibentuk dari cahaya biru pekat.
Di hadapan mereka, perlahan muncul satu sosok lain.
Seorang wanita dengan rambut panjang seperti tirai cahaya, gaun putih yang berlapis simbol rune kuno, dan sepasang mata yang memantulkan bintang.
Dialah Dewi Fil.
Cahaya di sekelilingnya berdenyut pelan, seakan dunia sendiri sedang bernapas bersamanya.
Salah satu makhluk misterius berbicara, suaranya bergema seperti datang dari dalam kepala.
“…Hero Sword telah aktif.”
Makhluk kedua melangkah maju, cahaya tubuhnya berkedip.
“Subjek eksperimen F-01 dan F-02 telah mengambilnya.”
Makhluk ketiga memiringkan kepalanya.
“…Chika dan Princes.”
Nama itu menggema di ruang kosong.
Dewi Fil tersenyum tipis.
“Jadi… mereka akhirnya sampai di Havenload.”
Ia mengangkat tangannya, dan di udara muncul gambaran Havenload yang kembali hidup:
bangunan terangkat, cahaya menyala, dan empat sosok kecil berdiri di tengahnya.
Makhluk pertama berkata,
“Eksperimenmu… berhasil melampaui prediksi.”
Makhluk kedua menambahkan,
“Mereka membangkitkan kota yang bahkan Kaden gagal lindungi.”
Makhluk ketiga menyipitkan cahaya matanya.
“…Namun mereka mulai membentuk kehendak sendiri.”
Dewi Fil terdiam sejenak.
Ekspresinya tidak jelas apakah bangga… atau khawatir.
“Bukankah itu yang kalian inginkan?” katanya lembut.
“Makhluk yang bisa memilih… bukan hanya mengikuti perintah.”
Makhluk pertama menjawab cepat,
“Makhluk yang memilih… juga bisa membelot.”
Makhluk kedua menatap gambaran Chika yang sedang berbicara dengan Princes di Havenload.
“Subjek F-01 menunjukkan simpati berlebih.”
“Subjek F-02 menunjukkan keterikatan emosional yang tidak stabil.”
Makhluk ketiga melangkah mendekat ke Dewi Fil.
“Apakah kau masih menganggap mereka alat… atau sudah mulai menganggap mereka anak?”
Dewi Fil menutup matanya sesaat.
“…Aku menciptakan mereka untuk melawan Dewa Invader.”
Ia membuka mata.
“Tapi… mereka hidup lebih dari sekadar senjata.”
Makhluk pertama berkata dingin,
“Jika mereka menyimpang dari takdir—”
Makhluk kedua menyambung,
“—maka mereka harus direset.”
Makhluk ketiga menambahkan,
“Seperti eksperimen sebelumnya.”
Dewi Fil menoleh tajam.
“Tidak.”
Cahaya di sekelilingnya berdenyut lebih kuat.
“Mereka telah memilih Hero Sword. Itu berarti dunia memilih mereka.”
Ia menatap jauh ke arah gambaran Havenload.
“Jika mereka gagal… dunia runtuh.”
“Jika mereka berhasil… para dewa akan kehilangan kendali.”
Makhluk pertama terdiam.
Makhluk kedua berkata pelan,
“Jadi… kita hanya akan mengawasi?”
Dewi Fil tersenyum samar.
“Mengawasi… dan menilai.”
Makhluk ketiga bertanya,
“Jika suatu hari Chika dan Princes menentang kita?”
Dewi Fil menjawab tanpa ragu:
“Maka… mereka akan membuktikan apakah mereka pahlawan dunia…
atau ancaman bagi para dewa.”
Cahaya Havenload di udara perlahan menghilang.
Ruang itu kembali kosong.
Tiga makhluk misterius berdiri diam.
“…Apakah Dewi Fil berada di pihak manusia?”
“…Atau hanya menciptakan pahlawan untuk mempertahankan tahtanya?”
“…Apakah eksperimen boleh memiliki kehendak bebas?”
Tidak ada jawaban.
Hanya satu hal yang pasti—
Di dunia bawah sana…
seorang knight mabuk ketinggian,
seorang princes yang suka ayam panggang,
seorang vampir berdarah dewa,
dan seorang penjaga abadi…
telah menghidupkan kembali kota terlarang.
Dan sejak saat itu—
Takdir para dewa
tidak lagi sepenuhnya berada di tangan mereka sendiri.
...----------------...