SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: BERAT DI ANTARA CINTA DAN DENDAM
Perjalanan pulang dari stasiun kereta api terasa jauh lebih menegangkan daripada perjalanan pergi. Putri duduk di dalam taksi, memeluk tas ransel hitam berisi bukti-bukti berharga itu di pangkuannya seolah itu adalah nyawanya sendiri. Setiap kali mobil berhenti di lampu merah atau melambat karena kemacetan, Putri merasa cemas, curiga bahwa mobil di sebelahnya atau orang yang berjalan di trotoar adalah mata-mata Pak Darmawan atau bahkan orang-orang Pak Hidayat.
Peringatan Pak Soleh di surat itu terus bergema di kepalanya: "Hidayat punya mata dan telinga di mana-mana. Dan waspadalah terhadap Darmawan... dia bukan orang yang bisa dipercaya." Dan ditambah lagi pesan singkat yang dikirim Pak Darmawan—"Aku tahu kamu sudah mengambil tas itu"—membuat bulu kuduk Putri meremang. Bagaimana dia tahu? Apakah ada kamera di area loker? Apakah ada orang yang mengawasinya? Atau mungkin Pak Darmawan hanya menebak dan mencoba mengintimidasi? Putri tidak tahu, dan ketidaktahuan itu adalah hal yang paling menakutkan.
Sesampainya di rumah Adinata, Putri buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Dia meletakkan tas itu di atas tempat tidur, lalu berjalan cepat ke jendela untuk memastikan tirai tertutup sempurna. Dia merasa seolah ada mata yang mengintip dari celah-celah jendela atau dari balik cermin.
Dia harus menyembunyikan tas ini. Menyimpannya di lemari atau di bawah kasur terlalu berisiko. Siapa tahu suatu hari Pak Hidayat atau orang-orangnya menggeledah kamarnya saat dia tidak ada. Atau lebih buruk lagi, Rizky yang tidak sengaja menemukannya saat sedang membereskan kamar.
Putri mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan cepat untuk Nina.
[Nina, bisakah kamu datang ke kamarku sekarang? Penting sekali. Jangan biarkan siapa pun tahu kamu ke sini. - P]
Hanya butuh waktu sepuluh menit sebelum ada ketukan pelan di pintu kamarnya. Putri segera membuka pintu dan menarik Nina masuk dengan cepat, lalu mengunci kembali pintu itu.
"Kenapa? Ada apa, Putri? Wajahmu pucat sekali," tanya Nina dengan cemas, meletakkan tas kerjanya di atas meja.
Putri tidak menjawab segera. Dia menunjuk tas ransel hitam di atas tempat tidur. "Lihat itu, Nin. Itu isinya. Aku baru saja mengambilnya dari loker stasiun sesuai instruksi Pak Darmawan. Tapi ini... ini lebih dari yang aku bayangkan."
Nina mendekat dan membuka tas itu dengan hati-hati. Matanya membelalak saat melihat tumpukan dokumen, foto-foto, dan buku catatan di dalamnya. "Wah... ini bukti yang sangat lengkap, Putri. Dengan ini, kita bisa menyeret Pak Hidayat ke pengadilan berkali-kali lipat. Tapi... kenapa wajahmu terlihat begitu ketakutan? Seharusnya kamu senang kan?"
Putri menceritakan semuanya pada Nina—tentang isi surat Pak Soleh yang memperingatkan tentang Pak Darmawan, dan tentang pesan singkat yang dia terima sesaat setelah mengambil tas itu. "Dia tahu, Nina. Dia tahu aku ada di sana. Itu artinya dia mengawasiku. Aku tidak merasa aman lagi. Bahkan di rumah ini pun aku merasa diawasi."
Nina menghela napas panjang, duduk di tepi tempat tidur sambil memikirkan situasi ini. "Ini memang berbahaya, Putri. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin itu hanya taktik psikologis dia. Dia ingin kamu merasa takut dan terus bergantung padanya. Dia ingin kamu tahu bahwa dia punya kendali penuh atasmu. Tapi kamu benar, kita tidak boleh lengah."
Nina menatap Putri dengan tatapan serius. "Dan soal menyembunyikan ini... kamu benar, menyimpannya di sini bunuh diri. Aku punya ide. Ada sebuah rumah kecil yang tidak terpakai milik kakekku di pinggiran kota. Rumah itu tua dan sepi, tidak ada yang pernah pergi ke sana kecuali aku sesekali untuk membersihkannya. Kita bisa menyembunyikan tas ini di sana. Tempat itu aman, jauh dari jangkauan keluarga Adinata dan juga Pak Darmawan."
Putri merasa lega mendengarnya. "Benarkah, Nina? Bisakah kita pergi ke sana sekarang?"
"Sebentar lagi sore, dan kalau kita pergi bersama-sama sekarang, mungkin akan dicurigai," jawab Nina bijak. "Bagaimana begini saja: malam nanti, setelah semua orang tidur, aku akan menyelinap ke sini dan mengambil tas ini. Aku akan membawanya ke sana dan menyembunyikannya di tempat yang sangat aman di dalam rumah itu. Nanti aku akan memberitahumu tempat persisnya. Dengan begitu, jika ada apa-apa, kamu tidak akan terlibat langsung."
"Terima kasih, Nina. Kamu benar-benar sahabat terbaik," ucap Putri dengan tulus, memeluk sahabatnya itu. "Tanpamu, aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Sudah tugasku membantu sahabatku," balas Nina tersenyum, meski senyumnya sedikit cemas. "Tapi ingat, Putri. Sekarang kamu punya bukti yang sangat kuat. Tapi itu juga berarti kamu menjadi target yang sangat besar. Hati-hati, ya. Jangan lakukan hal nekat sendirian."
Nina pun pamit pergi dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang melihatnya keluar dari kamar Putri. Putri duduk kembali di tepi tempat tidur, menatap tas hitam itu. Satu masalah terpecahkan, tapi banyak masalah lain yang masih menggantung. Dia memikirkan Pak Soleh yang entah di mana, Pak Darmawan yang licik, dan Pak Hidayat yang kejam.
Dan di tengah semua itu, ada Rizky. Pria yang tulus mencintainya, yang baru saja memaafkannya karena kebohongannya, namun masih disembunyikan dari kebenaran yang sesungguhnya. Putri memegang dadanya, merasakan sakit yang menusuk setiap kali dia memikirkan betapa besar kebohongan yang dia bawa.
Malam itu, seperti yang direncanakan, Nina datang menyelinap dan membawa tas itu pergi. Putri merasa sedikit lebih tenang setelah tas itu tidak lagi ada di kamarnya, tapi beban di hatinya tidak benar-benar hilang.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Putri berusaha sekuat tenaga untuk bersikap normal. Dia mengurus rumah, menemani Rara bermain, dan melayani Rizky serta Pak Hidayat sebaik mungkin. Namun, dia selalu waspada. Dia memeriksa ponselnya setiap saat, waspada terhadap pesan dari nomor tidak dikenal, dan selalu memperhatikan sekelilingnya saat keluar rumah.
Rizky terlihat lebih tenang setelah pembicaraan mereka beberapa hari yang lalu. Dia tidak lagi menuduh Putri berbohong, tapi Putri bisa merasakan bahwa Rizky masih mengamatinya dari jauh. Tidak dengan curiga, tapi dengan perhatian yang mendalam. Rizky seolah ingin memastikan istrinya baik-baik saja, seolah dia tahu ada beban berat yang dipikul Putri.
Suatu sore, saat Putri sedang duduk di taman belakang rumah sambil membaca buku (meski pikirannya melayang jauh), ponselnya berdering. Nomor yang tertera adalah nomor rumah sakit tempat Rara menjalani pemeriksaan rutin. Jantung Putri seketika berdegup kencang. Biasanya rumah sakit tidak menelepon kecuali ada sesuatu yang mendesak.
Putri segera mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar. "Halo? Ini Putri Aulia, kakaknya Rara. Ada apa?"
Suara di seberang telepon terdengar lembut namun serius. "Selamat sore, Bu Putri. Saya perawat dari bagian rawat jalan. Kami menelepon karena hasil pemeriksaan darah terbaru Rara menunjukkan penurunan kondisi ginjal yang cukup signifikan. Dokter menyarankan agar Rara segera dirawat inap untuk observasi lebih lanjut. Dan... kami perlu membicarakan rencana operasi cangkok ginjal secepat mungkin. Kondisinya tidak bisa menunggu terlalu lama lagi, Bu."
Darah Putri seketika turun ke kaki. Dunia seakan berhenti berputar. Rara... adik kecilnya yang ceria dan polos. Dia tahu kondisi Rara memang rapuh, tapi mendengar bahwa kondisinya memburuk begitu cepat dan operasi harus segera dilakukan membuatnya panik.
"Baik... baiklah. Kami akan segera ke sana," jawab Putri dengan suara parau. Dia menutup telepon dan langsung berdiri, kakinya terasa lemas. Dia harus memberitahu Rizky.
Putri berlari masuk ke dalam rumah dan mencari Rizky. Dia menemukannya sedang di ruang kerjanya, sedang melihat beberapa dokumen. Saat Rizky melihat wajah Putri yang pucat dan penuh ketakutan, dia langsung berdiri dan mendekat.
"Putri? Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu begitu pucat?" tanya Rizky cemas, memegang kedua bahu istrinya.
"Rara, Rizky... Rara," isak Putri, tidak bisa menahan air matanya lagi. "Rumah sakit menelepon. Kondisinya memburuk. Mereka bilang dia harus segera dirawat, dan operasinya... operasinya harus dilakukan secepat mungkin. Aku takut, Rizky. Aku takut kehilangan dia."
Rizky langsung memeluk Putri erat-erat, mencoba menenangkannya. "Sshhh... tenang, Sayang. Tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan ke rumah sakit sekarang. Kita bawa Rara sekarang juga. Jangan khawatir soal apa pun, ya? Aku di sini."
Rizky segera memerintahkan asistennya untuk menyiapkan mobil, lalu mereka berdua menjemput Rara dari kamar pengasuh dan langsung bergegas menuju rumah sakit terbaik di kota itu—rumah sakit yang biayanya sangat mahal, tempat Rizky sudah menyiapkan semua fasilitas terbaik untuk Rara sejak awal.
Di rumah sakit, setelah Rara ditempatkan di ruang perawatan yang nyaman dan dokter melakukan serangkaian pemeriksaan, Putri dan Rizky dipanggil ke ruang dokter.
Dokter yang menangani Rara, seorang wanita paruh baya yang ramah namun tegas, menjelaskan situasinya dengan jujur. "Kondisi Rara memang memburuk lebih cepat dari perkiraan kami, Bu Putri, Pak Rizky. Ginjalnya sudah tidak bekerja seefektif sebelumnya. Jika tidak segera dilakukan operasi cangkok, risikonya sangat besar. Kami sudah mencari pendonor yang cocok, dan untungnya, kami baru saja mendapatkan kabar bahwa ada pendonor yang cocok untuk Rara. Namun..."
Dokter itu terdiam sejenak, membuat Putri semakin cemas. "Namun apa, Dok? Katakanlah!" desak Putri.
"Namun, biaya untuk operasi ini, ditambah dengan perawatan pasca operasi dan obat-obatan seumur hidup, jumlahnya sangat besar," jelas dokter itu pelan. "Mengingat Rara masih kecil, prosedurnya lebih rumit dan membutuhkan peralatan khusus. Totalnya diperkirakan sekitar delapan ratus juta rupiah. Dan kami membutuhkan uang jaminan setengahnya segera untuk memproses jadwal operasi."
Putri terdiam kaku. Delapan ratus juta? Itu jumlah yang luar biasa besar. Bahkan jika dia menjual semua barang yang dia punya, dia tidak akan pernah bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Dia baru saja melunasi utang lima ratus juta berkat pernikahannya, tapi sekarang muncul kebutuhan mendesak yang bahkan lebih besar lagi. Putri merasa dunianya runtuh. Dia tidak punya apa-apa.
"Aku... aku tidak punya uang sebanyak itu, Dok," bisik Putri, air matanya jatuh lagi. "Maafkan aku, Rara... Maafkan kakak yang tidak berguna ini..."
Tiba-tiba, sebuah tangan hangat menggenggam tangan Putri yang dingin dan gemetar. Putri menoleh dan melihat Rizky menatapnya dengan tatapan tegas dan penuh ketulusan.
"Jangan khawatir soal uang, Dok," kata Rizky dengan suara tenang namun tegas, menoleh ke arah dokter. "Saya akan menanggung semua biayanya. Semuanya. Tidak perlu dikurangi, tidak perlu dicicil. Saya akan transfer jaminannya hari ini juga, dan sisanya akan diselesaikan sebelum operasi dilakukan. Yang terpenting adalah keselamatan adik istri saya. Tolong jadwalkan operasinya secepat mungkin. Lakukan yang terbaik."
Dokter itu tersenyum lega. "Baiklah, Pak Rizky. Terima kasih. Kami akan segera memproses semuanya. Insya Allah, operasi akan bisa dilakukan minggu depan."
Setelah dokter keluar dari ruangan, Putri menatap Rizky dengan mata terpejam oleh air mata. Hatinya terasa hancur, bercampur antara rasa syukur yang luar biasa dan rasa bersalah yang menyiksa. Pria di hadapannya ini, yang ayahnya dia coba jatuhkan, yang rahasianya dia bohongi, dengan senang hati mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk menyelamatkan nyawa adiknya tanpa ragu sedikit pun.
"Rizky..." isak Putri, tidak tahu harus berkata apa. "Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini? Itu uang yang sangat banyak. Kamu tidak berkewajiban melakukan ini..."
Rizky mengusap air mata di pipi Putri dengan ibu jarinya yang lembut. "Putri, dengar aku. Rara adalah adikmu. Dan itu artinya dia juga adikku. Dia bagian dari keluargaku sekarang. Tidak ada harga yang terlalu mahal untuk keselamatan dan kebahagiaan kalian. Aku sudah bilang, aku akan melindungi kalian. Dan ini adalah salah satu caranya."
Dia menarik Putri ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya menangis di bahunya. "Jangan pernah berpikir kamu membebaniku, ya? Aku melakukan ini karena aku sayang kamu dan Rara. Sungguh."
Putri memeluk Rizky erat-erat, merasakan kehangatan dan ketulusan pria itu. Namun, di dalam hatinya, rasa bersalah itu semakin besar, seolah menekan dadanya hingga sulit bernapas. Dia sedang memegang bukti yang bisa menghancurkan ayah pria ini, dan pria ini justru sedang menyelamatkan nyawa adiknya.
Permainan ini semakin rumit. Dendam yang dia pegang kini terasa semakin berat, bertentangan dengan cinta dan kebaikan yang dia terima dari Rizky. Putri tahu, dia harus berhati-hati melangkah. Satu kesalahan, dan dia bisa kehilangan segalanya—baik keadilan untuk orang tuanya, maupun cinta dan keluarga yang kini dia miliki bersama Rizky dan Rara.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja mengetahui bahwa Rara harus segera dioperasi dengan biaya yang sangat besar, dan Rizky tanpa ragu menanggung semua biayanya demi menyelamatkan adik Putri. Di saat yang sama, Putri memegang bukti yang bisa menghancurkan ayah Rizky. Hati Putri kini terbelah antara dendam untuk orang tuanya dan rasa terima kasih serta cinta kepada Rizky. Jika kamu jadi Putri, apa yang akan kamu rasakan? Apakah kamu akan tetap melanjutkan rencanamu menjatuhkan Pak Hidayat, atau ada keraguan besar yang mulai muncul di hatimu?