NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mentraktir orang dengan uangku

"Udah Mbak aja yang bayar," Ucap Kakak sepupu Wisma ketika melihat Indira mengeluarkan dompetnya.

"Ah jadi nggak enak, Mbak. Biar aku saja yang bayar," Ucap Indira karena sebelumnya ia mendapatkan kode dari Wisma untuk membayar makanan itu lebih dulu.

"Halah nggak papa, lagian kalian juga jarang kemari, biar Mbak aja yang bayar," Jawab Utami, Kakak sepupu dari Wisma.

"Jadi merepotkan,"

Indira merasa merepotkan apabila sepupu dari Wisma yang membayar makanannya, sementara Wisma sendiri pun terus membujuk Utami untuk mau dibayarkan oleh Indira. Namun Utami juga merasa tidak enak apabila Indira yang harus membayarnya, karena mereka makannya bersama sama apalagi pihak dari Utami yang makan begitu banyak.

"Yaudah lain kali kita yang akan traktir," Ucap Wisma.

"Iya."

Indira hanya bisa diam sambil mendengarkan obrolan dari keduanya, Wisma bertindak seolah olah uang milik Indira adalah uangnya juga dan tanpa rasa bersalah sedikitpun ia menggunakan uang itu dengan semaunya, tanpa pernah memikirkan bagaimana dengan perasaan Indira dan bagaimana rasa lelahnya Indira untuk bisa mendapatkan uang tersebut.

Ketika perjalanan pulang, anak dari Utami ingin minum sebuah es kelapa muda yang dingin dipinggir jalan, dan hal itu membuat seluruh rombongan ikut berhenti termasuk juga Wisma dan Indira. Mereka berhenti disebuah warung dekat dengan jalan raya, dan langsung memesan minuman es kelapa muda tersebut.

"Jalan ini bisa nggak ya sampai ke kota?" Tanya Wisma melihat jalan setapak disebelah warung es kelapa muda itu.

"Kayaknya bisa, tapi nggak tau beloknya kemana nanti, soalnya nggak pernah lewat sana," Jawab Suami Utami.

"Biar nggak muter jauh jauh gitu, kali aja ada trobosan,"

"Nggak tau lagi."

Mereka pun mengobrol dengan santai sambil menunggu menghabiskan minuman yang mereka pesan satu satu itu, setelah hampir habis Wisma langsung mengambil dompet milik Indira dan membayarkan uang milik Indira. Wisma membayar seluruh pesanan mereka dengan menggunakan uang milik Indira, dan Indira hanya bisa menghela nafasnya dengan kesal namun tidak berbuat apa apa.

"Udah biar kami aja yang bayar," Jawab Utami.

"Tadi sudah Mbak bayarkan makan, biar kami aja yang bayar. Nggak enak dong jika Mbak lagi yang bayar," Ucap Wisma.

"Tapi..."

"Udah nggak papa, biar kami saja yang bayar,"

"Yaudahlah kalo begitu,"

Uang yang ada didalam dompet Indira tinggal sedikit, dan bahkan entah cukup atau tidak buat hari harinya sebelum gajian selanjutnya tiba. Indira tidak tau lagi harus bertahan hidup seperti apa kedepannya nanti, ia hanya bisa pasrah kepada Sang Penciptanya agar dengan cara seperti ini ia bisa mendapatkan kemudahan didalam setiap urusannya.

Indira sendiri juga ingin keluar dari zona tersebut, namun dirinya belum bisa menerima jika ia harus kehilangan Wisma, dan belum bisa hidup sendirian lagi tanpa ada seseorang yang mengajaknya untuk mengobrol. Entah bagaimana dirinya bisa menjalani hari harinya tanpa Wisma? Karena baginya hanya Wisma yang selalu peduli dengannya dan selalu menanyakan kabarnya.

"Nggak papa, nanti kalo aku punya pekerjaan terus gajian uangnya aku ganti," Ucap Wisma berbisik ketika sudah naik motor berdua.

"Beneran ya?" Tanya Indira ragu.

"Iya bener, kamu kayak nggak tau aku aja dulu,"

"Iya iya,"

******

Adik satu organisasi dengan Indira akhirnya bisa mengantongi beberapa mendali karena prestasinya, Indira merasa sangat bangga dengan usaha mereka yang dimana Indira pernah gagal untuk bisa mendapatkannya. Sepulang dari lomba, mereka pun mengajak Indira untuk makan makan karena masih ada uang sisa hasil lomba, dan Indira agak ragu karena ia tidak berangkat sendirian melainkan bersama dengan Wisma.

"Nggak papa ajak aja sekalian, Mbak Dira. Kapan lagi kita bisa makan bersama seperti ini," Ucap salah satu Adik seperguruan Indira.

"Jadi nggak enak sama kalian deh," Jawab Indira.

"Halah, Mbak Dira kan biasanya juga ajak kami makan makan, bahkan kami nggak dibolehin bayar. Sekarang giliran kami yang traktir Mbak Dira,"

"Yaudah terima kasih ya,"

"Sama sama Mbak."

Ada sekitar 6 orang yang berangkat untuk makan makan karena sebagian dari mereka lebih memilih untuk pulang karena lelah, sehingga enam orang itu pergi bersama sama mencari sebuah restoran terdekat dan searah pulang mereka. Hingga tibalah mereka disebuah bangunan yang cukup besar, dan mereka pun masuk kedalamnya.

"Aku dengar disini makanannya enak enak kok, terus harganya juga terjangkau dengan kita," Ucap Dilah, sosok seorang lelaki yang tingkatannya dibawah Indira pas.

"Benarkah? Kamu pernah kesini?" Tanya Indira.

"Pernah dulu sama keluargaku, dan kata mereka harganya terjangkau,"

"Terjangkau oleh mereka belum tentu terjangkau oleh kita juga kali, kalo mahal mahal gimana?" Tanya Asya, sosok wanita yang mendapatkan juara 3 lomba seni.

"Sudahlah, kalian percaya saja sama aku,"

"Baiklah," Jawab mereka serempak.

Mereka pun masuk kedalam restoran tersebut dan melihat isi di dalam menu itu, dan ternyata memang harganya terjangkau oleh mereka. Mereka pun memesan beberapa hidangan, dan mendapatkan sebuah meja paling belakang didalam restoran itu, karena hanya di meja itu saja yang mendapatkan kursi untuk 6 orang selebihnya hanya 4 kursi saja.

"Udah lama nggak makan bareng Mbak Dira," Ucap Asya.

"Iya ya udah lama banget, apalagi selama beberapa minggu ini kalian sibuk berlatih," Jawab Indira.

Biasanya setiap bulan sekali mereka akan mengadakan makan makan ditempat dimana Indira tinggal, dan Indira sendiri pun dengan senang hati mengajak mereka untuk makan makan disana. Indira selalu royal dengan siapa saja yang mengenalnya tanpa membeda bedakan dengan yang lainnya, sehingga banyak orang yang merasa senang dengannya.

Banyak yang mengenalnya karena sifatnya, namun banyak dari mereka yang hanya memanfaatkan kebaikan Indira saja, namun Indira sama sekali tidak menghilangkan sifatnya itu meskipun ia tau bahwa dirinya hanya dimanfaatkan saja. Indira memang seperti itu orangnya, namun apabila bertemu dengan orang baru sifatnya akan menjadi pendiam dan tidak banyak bicara.

Tapi ketika orang baru itu seperti se frekuensi dengannya maka sifat jail dan cerianya langsung terlihat saat itu juga, namun ketika bertemu dengan seseorang yang tidak se frekuensi maka ia hanya akan diam tanpa ada sepatah katapun. Bahkan Indira sama sekali tidak akan memulai percakapan terlebih dahulu, justru dirinya hanya akan diam meskipun ia disuruh untuk berbicara oleh lawan jenisnya.

"Besok kita harus traktir mereka balik," Bisik Wisma kepada Indira.

"Lah kenapa?" Jawab Indira.

"Aku ngerasa nggak enak kalo di traktir sama mereka seperti ini, udah nggak papa lain kali aku ganti kok uangnya,"

"Bukan masalah itunya, udah nggak papa nggak usah traktir balik besok, sudah sering kita seperti ini mah. Udah santai saja kali,"

"Nggak, pokoknya besok harus ajak mereka makan,"

"Hemm..."

Entah bagaimana pikiran Wisma, ia bahkan sama sekali tidak mempedulikan Indira dan bagaimana kesusahan Indira saat ini. Justru dengan ambisinya itu, ia ingin terlihat begitu baik didepan semua orang tapi tidak mempedulikan bagaimana kesusahan yang dialami oleh Indira, dan tidak mengetahui hal apa saja yang telah dialami oleh Indira.

Dengan mudahnya Wisma mengatakan bahwa jika ia memiliki gaji dia akan mengganti semuanya, Indira juga disuruh untuk mencatat hutangnya setiap kali ia memintanya. Karena Indira disuruh mencatat, sehingga Indira berani untuk percaya dengan lelaki itu, namun kepercayaannya itu entah sampai kapan ada buktinya.

"Besok kalian ada waktu nggak?" Tanya Wisma kepada Adik seperguruan Indira.

"Aku besok sudah balik kuliah," Ucap Dilah.

"Aku besok free," Jawab Asya.

"Aku juga free,"

"Aku besok nggak bisa, ada acara juga,"

"Baiklah besok yang bisa ayo kita makan lagi, nanti aku yang traktir kalian besok," Ucap Wisma.

"Beneran?" Tanya Asya sambil melihat kearah Indira karena Indira hanya diam saja.

"Iya," Jawab Indira.

"Asyikkk...." Teriak mereka senang.

Indira hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya, meskipun dirinya tersenyum namun hatinya kini diselimuti oleh rasa kekhawatiran dan ketidakrelaan untuk hal itu. Ini sama sekali bukan ide dari Indira, hanya Indira sendiri yang tau bagaimana kapasitas dirinya bisa membelikan makanan orang lain, bukan Wisma sendiri.

Dulu Indira tidak pernah merasakan berada diposisi seperti ini sebelumnya, namun semenjak bertemu dengan Wisma dirinya selalu berada didalam posisi rumit ini, dan entah sampai kapan dirinya bisa keluar dari posisi tersebut. Indira ingin keluar namun dirinya sendiri juga tidak mampu berdebat dengan hati dan perasaannya, oleh karenanya sangat sulit bagi Indira untuk bisa keluar dari zona tersebut.

******

Keesokan harinya, mereka pun berkumpul ditempat yang dipilihkan oleh Wisma sendiri, tempat itu berada lumayan jauh dari rumah Indira dan membutuhkan puluhan menit untuk sampai. Disaat itu hujan tengah lebat, sehingga perjalanan mereka sedikit terganggu, apalagi masing masing dari mereka memakai sebuah motor sehingga hujan bisa langsung membasahi baju mereka.

Ketika sudah sampai disana, Wisma langsung memberikan daftar menu kepada anak anak yang hadir, dan langsung menyuruh mereka untuk memilih makanan sendiri. Terlihat bahwa Indira memiliki makanan paling murah diantaranya, sementara makanan pilihan adik adiknya lumayan mahal baginya namun ia sama sekali tidak protes sedikitpun.

"Kak Dira kok nggak sama kayak pesanan kita?" Tanya Angel.

"Nggak papa kok, lagi nggak pengen makan aja soalnya sudah kenyang tadi," Jawab Indira.

"Oh begitu,"

Pelayan restoran itu lalu memberikan sebuah nota kepada Indira, Indira pun terkejut melihatnya karena harga makanan disana lumayan mahal bagi Indira sendiri. Untung saja uang yang dibawa oleh Indira pas dengan pesanan mereka, bahkan sama sekali tidak ada lebihan sedikitpun, dan Indira lalu menunjukkan nota itu kepada Wisma.

"Nggak papa, kita bahas nanti aja dirumah," Ucap Wisma.

"Baiklah," Jawab Indira.

Indira dan Wisma pun langsung bergegas menuju ke arah meja yang sudah mereka pesan setelah membayar makanan itu, sementara yang lainnya sudah duduk di meja tersebut sejak tadi ketika Indira menyuruhnya untuk duduk. Keduanya datang langsung disambut dengan hangat oleh Adik junior Indira, dan beberapa kali mereka mengucapkan terima kasih kepada Wisma dan Indira.

"Tadi kalian nggak kehujanan apa?" Tanya Indira yang melihat pakaian keduanya tidak basah seperti pakaiannya dan pakaian Wisma.

"Disini tadi nggak hujan waktu kita datang, Mbak. Kan kita tadi nunggu kalian dipinggir jalan depan, waktu hujan tiba kita langsung di emperan restoran ini," Jawab Asya.

"Oalah gitu, soalnya tadi waktu kami berangkat hujannya sudah deras, jadi harus berhenti beberapa kali untuk berteduh di emperan toko,"

1
Lee Mba Young
syukurin indira jd wanita bloon banget di peras laki mau mau saja hnya dng modal mulut manis 🤣. tipe tipe wanita kl dah di nikahi walau laki selingkuh gk akn mau di ceraikan.
masih jd pacar ae di Peres mau saja 🤣. pa lagi dah di nikahi di jadi kan BABU gratisan pun mau di indira ini.
Lee Mba Young
kasih lah uang dira kamu gk kasian ma pacar tercintamu itu gk Ada rokok. 🤣😄🤣🤣🤣.
cewek kok bego mau di manfaat kan laki.
Aku ae orang kampung kurang kasih sayang Dr ortu pun gk sebego itu kok, gk bucin ma laki.
Riskejully: wkwkw...🤭🤭🤭
total 1 replies
Lee Mba Young
ceweknya tolol, bucin nya smp tulang 🤣
Riskejully: hustt... tulangnya masih proses remuk
total 1 replies
Ifah Al Azzam Jr.
maaf ya thor saya sampai dsinibaja baca nya soalnya gak suka sama karakter cwe nya🙏🙏🙏
Riskejully: Iya kak nggak papa, silahkan cari novel yang lain🙏
total 1 replies
Ifah Al Azzam Jr.
bisa gak Thor Indira nya di bikin pintar jgn bodoh banget bikin malu aja jd perempuan seakan² mudah dibodohin...
bikin indira nya jd perempuan yg kuat, tegas dan pintar jd gak mudah diperalat oleh laki2 sperti wisnu
Riskejully: Hallo kakak, terima kasih sudah mampir 🙏
Sebenarnya agak malu sih dalam nulis novelnya soalnya itu masa bodoh"nya... Alhamdulillah sekarang sudah nggak lagi seperti dulu 🤭
total 1 replies
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!