NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#11

Berbeda terbalik dengan Mansion Gonzales yang kaku dan sedingin es, kediaman keluarga Martinez di kawasan elit Beverly Hills justru memancarkan kehangatan yang kontras. Di sana, kekayaan tidak digunakan untuk menindas, melainkan untuk menciptakan kenyamanan.

Malam itu, di ruang keluarga yang beraroma kayu manis dan kopi, Isabella Martinez, ibu Edgar yang cantik dan awet muda, sedang bersandar di bahu suaminya, Julian Martinez. Mereka sedang menikmati malam yang tenang sambil membahas laporan perkembangan MTZ Group.

"Edgar pulang sangat malam belakangan ini, Julian," ucap Isabella lembut, matanya menatap ke arah tangga besar. "Dan kulihat wajahnya tidak seperti biasanya. Dia tampak... terganggu?"

Julian tertawa kecil, suara beratnya menenangkan. "Dia sedang mengerjakan proyek kolaborasi dengan fakultas desain. Katanya, dia dipasangkan dengan putri David Gonzales."

Isabella mengangkat alisnya. "Gonzales? Pria kaku yang hanya memedulikan angka itu? Kasihan sekali gadis itu harus bekerja dengan Edgar. Putra kita itu sangat sulit ditaklukkan jika sudah bicara soal standar kerja."

"Tapi kulihat tadi saat masuk, Edgar tidak langsung ke ruang kerja. Dia hanya diam, senyum-senyum sendiri, lalu mendengus kesal. Sepertinya gadis itu bukan tipe yang langsung tunduk pada pesona Martinez," tambah Julian sambil mengelus tangan istrinya.

Di keluarga ini, Edgar adalah putra yang sangat disayangi. Meski dididik keras untuk menjadi pemimpin, ia tumbuh dalam limpahan cinta. Itulah sebabnya, Edgar memiliki rasa percaya diri yang hampir meluap, karena baginya, dunia selalu berpihak padanya.

Sementara itu, di kamar pribadinya yang luas dan modern di lantai atas, sang "Raja" tidak sedang tidur. Edgar Castiel Martinez berdiri di balkon kamarnya, hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang sudah dilepas kancingnya.

Pikirannya sedang kacau, dan pelakunya adalah Leonor Kaia.

Ia menatap langit malam, namun yang terbayang adalah wajah Leonor dengan masker lumpur hitam dan mata tajam yang penuh kebencian. Kata-kata vulgar gadis itu tadi malam bukannya membuat Edgar merasa jijik, malah terus terngiang di kepalanya seperti melodi yang adiktif.

"Alay..." gumam Edgar pelan.

Ia mendengus kasar. Giginya beradu. Sepanjang hidupnya, ia disebut jenius, sempurna, tampan, dan luar biasa. Tapi "Alay"? Kata itu benar-benar menghancurkan martabatnya. Leonor menganggapnya sebagai pria norak yang hanya pamer kekayaan.

"Kau pikir kau bisa mengataiku seperti itu lalu pergi begitu saja, Kaia?" bisik Edgar pada kegelapan.

Edgar berjalan kembali ke dalam kamar, menghempaskan tubuhnya ke ranjang king size miliknya. Ia menatap langit-langit, membayangkan kamar Leonor yang sempit, bau catnya, dan ranjang kerasnya. Ada sesuatu tentang kesederhanaan dan kemandirian gadis itu yang membuat Edgar merasa tertantang.

"Dia ingin membuatku jatuh cinta lalu mencampakkan ku?" Edgar tertawa sinis sendirian di kamar yang sunyi. "Lucu sekali. Dia bahkan tidak tahu bahwa dialah yang sedang masuk ke dalam jaringku."

Edgar meraih ponselnya di nakas. Ia mulai membuka daftar kontak dan menghubungi seseorang—salah satu asisten pribadinya di MTZ Group.

"Siapkan unit apartemen di dekat kampus. Dan cari tahu semua pemasok kain terbaik di Eropa. Aku ingin daftar itu ada di mejaku besok pagi," perintah Edgar tegas.

Ia tidak akan membiarkan Leonor menang. Jika Leonor menganggapnya "Alay" karena kekayaannya, maka Edgar akan menggunakan kekayaan itu untuk menjebak Leonor dalam ketergantungan. Ia berencana membuat proyek desain Leonor menjadi begitu besar dan megah hingga Leonor tidak bisa lepas darinya.

"Kau ingin bermain gila denganku, Leonor? Baik. Mari kita lihat siapa yang akan kehilangan akal sehat lebih dulu," pikir Edgar.

Edgar membayangkan besok di kampus. Ia tidak akan lagi bersikap kasar secara terang-terangan. Ia akan mulai melakukan "balas dendam" dengan cara yang lebih halus. Ia ingin membuat Leonor merasa bahwa tanpa bantuan otak "Alay" milik Edgar, desain-desain hebatnya tidak akan pernah menyentuh runway internasional.

Ia ingin melihat Leonor memohon. Ia ingin melihat wajah angkuh itu luluh. Dan yang paling penting, ia ingin membuktikan pada gadis itu bahwa seorang Martinez tidak pernah bisa disebut "Alay".

Namun, ada satu hal yang Edgar tidak sadari malam itu. Saat ia terus-menerus memikirkan cara untuk membalas Leonor, saat ia mengingat setiap detail tatapan mata Leonor, dan saat ia merasa perlu "menjinakkan" gadis itu... sebenarnya dia sudah mulai terjatuh ke dalam lubang yang digali Leonor.

Obsesi adalah langkah pertama menuju jatuh cinta, dan Edgar Martinez sedang melangkah dengan sangat cepat menuju sana.

Di balik jendela kamarnya, bulan tampak bersinar terang, seolah-olah menjadi saksi dari awal kehancuran ego sang pewaris utama. Edgar akhirnya memejamkan mata, namun mimpinya malam itu tidak berisi tentang angka saham atau kesepakatan bisnis. Mimpinya berisi tentang seorang gadis dengan rambut panjang berantakan yang menatapnya penuh kebencian di sebuah kamar kecil yang dingin.

"Besok akan menjadi hari yang panjang, Leonor," batinnya sebelum akhirnya terlelap.

🌷🌷🌷🌷

1
Nasi Goreng
Luar biasa
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!