Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 15 LANGKAH YANG TIDAK DITAHAN
Malam itu rumah besar terasa terlalu sunyi.
Bukan sunyi yang tenang.
Tapi sunyi yang menunggu sesuatu runtuh.
Di kamar, gadis itu berdiri di depan lemari.
Tidak banyak barang.
Bajunya rapi, sederhana.
Tidak ada perhiasan.
Tidak ada yang perlu ditinggalkan.
Tangannya berhenti di satu foto kecil.
Foto lama.
Ia bersama ibunya, di depan rumah sempit dengan dinding retak.
Ia menatap lama.
Lalu memasukkannya ke tas.
Tidak ada tangis.
Air mata sudah habis sejak lama.
Pintu kamar terbuka pelan.
Pemuda itu berdiri di sana.
Wajahnya letih.
Matanya gelap.
“Kamu mau ke mana?”
Suaranya rendah.
Gadis itu tidak langsung menjawab.
Ia menutup tas.
Menarik resleting perlahan.
“Pulang,” katanya akhirnya.
Pemuda itu mengernyit.
“Ini rumahmu.”
Gadis itu menggeleng kecil.
“Bukan.”
Satu kata.
Pendek.
Tapi tegas.
Pemuda itu melangkah masuk.
“Karena omongan mereka?”
Gadis itu tersenyum tipis.
“Bukan cuma itu.”
Ia menatap pemuda itu.
“Karena aku.”
Pemuda itu terdiam.
“Aku capek,” lanjut gadis itu pelan.
“Capek menjelaskan hal yang tidak pernah ditanya.”
Ia menunduk.
“Capek diam supaya tidak salah.”
Ia mengangkat kepala.
“Capek berharap kamu bicara.”
Kalimat terakhir itu jatuh paling berat.
Pemuda itu membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Di luar kamar, suara langkah cepat mendekat.
Hak sepatu berdetak tajam.
Ibu pemuda masuk tanpa mengetuk.
“Oh,” katanya sambil melirik tas di tangan gadis itu.
“Mau pergi?”
Nada suaranya tenang.
Terlalu tenang.
“Bagus,” lanjutnya.
“Aku memang mau bicara.”
Ia berjalan masuk, duduk di kursi dengan anggun.
Seolah ini ruang sidang.
“Kamu jangan salah paham,” katanya panjang.
“Kami tidak pernah mengusirmu.”
Ia menghela napas.
“Kalau kamu merasa tidak kuat, itu pilihanmu.”
Gadis itu diam.
Ibu itu tersenyum tipis.
“Dari awal aku sudah bilang.”
Ia menatap lurus.
“Kamu itu bukan dipilih karena kamu istimewa.”
Ia menunjuk lantai.
“Tapi karena kamu tidak ribet.”
Ia menyilangkan kaki.
“Perempuan yang tidak banyak menuntut.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan ternyata… kamu menuntut juga.”
Pemuda itu melangkah maju.
“Ibu.”
Ibu itu mengangkat tangan.
“Diam dulu.”
Ia menatap gadis itu lagi.
“Kamu pikir pergi begitu saja itu dewasa?”
Ia tertawa kecil.
“Itu kekanak-kanakan.”
Ia mendekat.
“Perempuan dewasa itu bertahan.”
Ia mencondongkan badan.
“Bukan lari.”
Gadis itu akhirnya bicara.
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
“Saya bertahan terlalu lama.”
Ibu itu terdiam sepersekian detik.
Lalu tersenyum lagi.
“Kamu memang pintar bermain peran,” katanya.
“Kelihatan korban.”
Ia berdiri.
“Padahal kalau kamu mau jujur—”
Ia menatap tajam.
“Kamu datang ke sini karena ingin hidup lebih baik.”
Kalimat itu ditembakkan lurus.
“Dan sekarang,” lanjutnya,
“karena tidak kuat dibentuk, kamu pergi.”
Ia mengangguk kecil.
“Ya sudah.”
Ia menoleh ke pemuda itu.
“Biarkan.”
Pemuda itu menatap ibunya lama.
Lalu menatap gadis itu.
“Kamu yakin?”
Nada suaranya rendah.
Ada sesuatu di sana.
Penyesalan.
Takut.
Gadis itu mengangguk.
“Iya.”
Ia mengangkat tas.
“Terima kasih.”
Dua kata.
Bukan sindiran.
Bukan marah.
Terima kasih karena akhirnya ia tahu—
tempatnya bukan di sini.
Pemuda itu mengepal tangan.
Rahangnya mengeras.
Ia menoleh ke ibunya.
“Kalau dia pergi—”
Ia berhenti.
Menarik napas.
“Aku ikut.”
Sunyi.
Ibu itu membeku.
“Apa?”
Pemuda itu menatap lurus.
“Kalau rumah ini hanya punya ruang untuk mulut panjang—”
Ia melirik gadis itu.
“Tanpa tempat aman.”
Ia kembali ke ibunya.
“Aku tidak tinggal.”
Ibu itu berdiri cepat.
“Kamu gila?”
Ia tertawa pendek.
“Kamu mau meninggalkan keluarga demi perempuan itu?”
Pemuda itu menjawab pelan.
“Aku meninggalkan kekerasan.”
Kalimat itu menghantam.
Ibu itu menatap gadis itu dengan mata penuh kebencian.
“Kamu puas sekarang?”
Gadis itu menggeleng.
“Saya hanya ingin pulang.”
Pemuda itu mengambil jaket.
“Kita pergi.”
Ia membuka pintu.
Ibu itu berdiri kaku di tengah kamar.
Mulutnya terbuka.
Untuk pertama kalinya…
tidak ada omelan.
Langkah mereka menjauh.
Bersama.
Di lorong panjang rumah itu,
gadis itu berjalan tanpa menoleh.
Untuk pertama kalinya,
ia pergi tanpa pamit.
Dan di belakangnya,
rumah besar itu akhirnya tahu—
ada harga dari setiap kata yang terlalu panjang.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid