Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 8 - Tawaran Menakutkan
Alexa mengganti pakaiannya selepas menutup kafe. Ketika kesibukannya berakhir, pikirannya kembali penuh dengan tekanan.
Sesaat, memandang koper miliknya yang berisi baju - baju setelah memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Tidak selamanya—tapi Alexa ingin menjual rumah itu saja dari pada harus mengenang apa saja yang sudah terjadi di sana.
"Alexa, jangan lupa kunci pintu belakang, ya!" Terdengar teriakan dari ruang loker.
"Iya," balas Alexa yang langsung membereskan barang - barangnya karena takut sendirian di kafe, apalagi sudah malam.
Dia berlari keluar melalui pintu belakang dengan menarik kopernya dan segera mengunci pintu sesuai dengan perintah. Beberapa detik dia mencoba mengingat sudah mematikan semua lampu di dalam atau belum.
"Oke. Cari kontrakan," gumamnya pelan.
"AAHH!"
Namun ketika berbalik, dia dikejutkan dengan seseorang yang memakai pakaian serba hitam dengan topeng wajah yang mengerikan membuatnya langsung melompat dan jatuh tersungkur ke tanah.
"Hahaha..."
Orang itu membuka maskernya dan itu adalah Steven yang terbahak - bahak karena berhasil menjaili Alexa lagi.
Itu bukan hal lucu bagi Alexa. Alih - alih kesal dan membalas, wajah Alexa justru pucat pasi dengan tatapan kosong dan nafas menderu. Dia memegang dadanya cukup kuat.
"Alexa, kenapa?" Steven menjulurkan tangannya berniat membantu Alexa bangkit.
"JANGAN MENDEKAT!" teriak Alexa—merangkak mundur menjauh dengan wajah ketakutan.
Steven semakin kebingungan dengan sikap Alexa. Dia berjongkok tapi Alexa tetap mundur, terus menggelengkan kepalanya memberi isyarat pada Steven untuk tidak mendekatinya.
"Aku cuman bercanda, Al. Maaf deh..." Steven menyentuh kaki dingin Alexa yang berujung mendapat tandangan.
"JANGAN SENTUH AKU! AKU NGGAK MAU!" Alexa semakin histeris sembari menutup wajahnya dengan tangannya.
Tak ada yang bisa Alexa kendalikan tentang dirinya yang mengingat kejadian di mana dia hampir di l3c3hkan. Aroma rokok, aroma a1kohol, semuanya kembali dirasakannya membuatnya sesak.
Matanya sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Steven, tapi otaknya memanipulasi tubuhnya sehingga bereaksi seakan kejadian malam itu kembali terulang, bahkan bisa menjadi lebih berbahaya.
"Aku minta maaf," ungkap Steven, "ini aku, Steven. Aku nggak akan ngapa - ngapain kamu," lanjutnya meyakinkan.
Dia ingat dengan respons pertama Alexa ketika mereka bertemu. Hampir sama, kali ini hanya lebih terlihat ketakutan saja.
"Jangan... jangan sentuh aku..." rintih Alexa memeluk lututnya masih ketakutan.
Steven kebingungan tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Alexa begitu saja. Meski ragu, dia menyentuh kepala Alexa dan membelainya pelan, berpikir kalau itu sedikit membuat Alexa merasa aman.
Benar saja, Alexa menunjukkan wajahnya dan menoleh pada Steven yang langsung melepas tangannya dengan canggung.
"Ng - nggak sengaja," katanya gengsi tanpa menatap mata Alexa.
Tak ada tanggapan dari Alexa yang masih menatap Steven tanpa ekspresi. Matanya masih menunjukkan sedikit kewaspadaan dan ketakutan, tapi respons tubuhnya sedikit lebih tenang.
"Mau minum dulu?" tawar Steven memecah kecanggungan.
Alexa hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Dia berusaha bangkit karena Steven tidak menawarkan bantuan. Mungkin karena Alexa sudah histeris melarangnya untuk menyentuhnya.
Mereka bertemu pandang beberapa saat. Seperti sedang berkomunikasi melalui telepati.
"Aku jalan dulu." Steven langsung berjalan di depan Alexa karena tahu Alexa masih berpikir Steven bisa melakukan apa pun jika dia berjalan lebih dulu.
Mereka hening sepanjang jalan. Tak ada yang membuka topik pembicaraan apa pun.
Meski belum memiliki tujuan, Alexa hanya mengikuti langkah Steven pergi. Bukan untuk meminta pertolongan. Paling tidak, dia sedikit merasa aman karena bersama orang yang dikenalnya malam itu.
"Duduk sini," kata Steven tiba - tiba berhenti.
Alexa menubruk punggung Steven karena dia berjalan terus menatap ke bawah. Untungnya, Steven langsung refleks menarik tangan Alexa sebelum jatuh lagi.
"Liat jalan bagus, tapi bukan berarti nggak liat depannya?" omel Steven.
Masih tak ada tanggapan dari Alexa yang membuat situasi mereka kembali canggung.
"Kamu duduk sini dulu." Steven menarik pelan Alexa agar duduk di bangku yang ada di trotoar jalan tepat di samping penjual minuman dan camilan ringan.
Dia merogoh sakunya mengambil masker—memakainya untuk melindungi diri dari pengenalan orang - orang terhadap dirinya. Sesaat, Steven memutar bola matanya terlihat muak dengan hal yang harus dia lakukan setiap kali ingin bebas berkeliaran.
"Bu, air mineral satu sama roti." Steven memesan.
"Rotinya rasa apa, Den?" tanya Sang Penjual.
"Coklat saja."
"Ini."
Steven menerima pesanannya dan memberikan sejumlah uang pada pembeli tanpa bertanya berapa total yang harus dibayarnya.
"Kembaliannya—"
"Oh, kembaliannya buat Ibu aja," potong Steven kembali menghampiri Alexa.
"Serius, Den? Terima kasih!" Sang Penjual berteriak.
Steven menoleh kembali dengan senyum kecil yang tertutup masker dan mengangguk.
Alexa hanya menonton setiap apa yang Steven lakukan. Benar - benar seperti bocah yang terlahir dari keluarga yang penuh kasih sayang sehingga dia juga bisa memberikan banyak kasih sayang pada orang lain.
"Kenapa liatin aku begitu? naksir?" timpal Steven asal.
"Ge-er!" balas Alexa sinis.
Mendapat tanggapan dari Alexa, Steven menjadi sedikit lebih santai. Kecanggungan di antara mereka sudah pecah perlahan sehingga Steven memberanikan diri duduk di samping Alexa.
"Minum dulu." Dia membuka botol air mineral dan memberikannya pada Alexa.
"Makasih," ungkap Alexa langsung meneguk minuman itu.
Meski sudah lebih tenang, tangan Alexa masih terlihat gemetar saat memegang botol itu. Kewaspadaannya masih dalam mode aktif demi melawan rasa takutnya.
"Mau roti atau mah cari makanan berat?" tawar Steven.
"Nggak usah." Alexa menolak tanpa pikir panjang.
"Emang udah makan?"
"Belum."
"Ya udah ayo makan."
Alexa menarik nafas panjang. "Aku udah nggak apa - apa. Kamu bisa pergi sekarang. Kalau orang - orang tahu di sini, kamu bisa dikejar - kejar lagi," oceh Alexa.
"Kan tadi kamu yang bikin aku ketahuan," balas Steven.
"Lagian kamu udah tahu terkenal masih aja suka keliaran."
Steven terdiam dan membuka bungkus roti itu setengah kasar karena kesal untuk dia makan sendiri. Toh, Alexa sudah menolak itu.
Sebelumnya tidak pernah. Steven sangat menaati aturan perusahaan tapi lama kelamaan dia jenuh sehingga kabur selepas konser. Dia juga tidak percaya harus bermalam di stasiun hanya untuk memastikan Alexa terbangun waktu itu.
Padahal dia bisa saja meninggalkan Alexa sendiri.
"Aku berkeliaran juga baru - baru ini," ucapnya pelan.
"Karena apa?" tanya Alexa.
Tak ada jawaban. Dia hanya mengunyah sambil melirik Alexa seolah memberitahu Alexa kalau dia keluar hanya untuk menemui Alexa.
Karena di salahkan, Steven jadi merasa memiliki tanggung jawab terhadap Alexa. Berkali - kali dia mencoba untuk menahan diri tapi selalu berakhir mencari tahu semua hal tentang Alexa.
"Oh ya! Kamu udah tahu aku idola terkenal, kan?" Steven mengubah topik pembicaraan.
"Kamu mau sombong?" celetuk Alexa.
"Nggak perlu sombong juga aku udah diakui banyak orang. Aku nemuin kamu karena mau kasih ini." Steven mengeluarkan secarik kertas rapi dari dompetnya dan memberikannya pada Alexa.
Itu tiket konser NOVA.
"Aku nggak butuh ini." Alexa langsung mengembalikan tiket itu.
"Aku ngasih bukan karena kamu butuh kok."
"Nggak ada waktu buat hal seperti itu."
Steven menghela nafas pelan berpikir bagaimana agar Alexa datang ke konsernya. Karena saat itu, Steven tidak bisa memantau Alexa.
"Sekaliiiiiii aja. Kalau kamu suka, aku kasih tiket setiap aku ada konser di Indonesia, gimana?" bujuk Steven.
Alexa meminum kembali air yang ada di botolnya kemudian bangkit menarik kopernya bersiap pergi tanpa memedulikan bujukan Alexa.
"Aku harus pergi," katanya melangkah pergi.
"Kamu udah nemu kontrakan?" Steven menyusul.
"Belum. Makanya aku harus pergi."
"Tinggal di apartemenku aja gimana?" tawar Steven enteng.
Langkah Alexa terhenti. Dia menatap Steven kali ini dengan wajah jijik dan terlihat berusaha untuk tidak dekat - dekat dengan Steven. Ucapan Steven jelas membuat Alexa berpikir hal buruk tentangnya.
Awalnya Steven bingung dengan tatapan itu. "Kenapa?" tanyanya.
Alexa bergidik ngeri kemudian kembali melangkah meninggalkan Steven dengan langkah cepat karena tidak mau dikejar lagi.
Steven masih berpikir sesaat sampai akhirnya dia sadar dengan apa yang dikatakannya.
"BUKAN ITU MAKSUDKUUUU!!!" teriaknya langsung mengejar Alexa untuk klarifikasi. Tapi Alexa malah berlari menjauh. [ ]