NovelToon NovelToon
Bukan Istri Cadangan

Bukan Istri Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.

​Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.

​Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.

​Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?

Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Gema ketukan palu hakim mediator seolah masih terngiang di telinga Arlan saat ia dipaksa keluar dari ruang sidang. Perdebatan di dalam sana berlangsung jauh lebih panas dari yang ia duga.

Hana, dengan dukungan tim hukum Adrian Gavriel yang tak celah, membedah setiap inci pengkhianatan Arlan ke hadapan majelis hakim. Namun, ego Arlan setebal tembok benteng.

Ia tetap bersikukuh menolak perceraian, menggunakan dalih kesejahteraan psikologis keluarga dan janji untuk berubah.

Karena buntu, hakim memutuskan menunda persidangan hingga minggu depan untuk memberikan waktu bagi keduanya merenung.

Namun bagi Arlan, penundaan itu bukanlah waktu untuk merenung, melainkan waktu untuk menyerang, bukan dengan amarah, tapi dengan manipulasi yang paling halus.

Dua hari berlalu dalam kesunyian yang mencekam bagi Arlan. Di rumah mewah Mahendra, suasana terasa mati.

Maura terus mengeluh tentang mual dan kelelahan, sementara Ibu Mira hanya bisa diam dengan wajah murung. Arlan tidak tahan. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik - Apartemen Hana.

Sore itu, Arlan tiba di depan gedung apartemen Hana. Namun, harapannya untuk langsung melabrak pintu Hana pupus seketika. Di depan lorong unit nomor 1205, dua pria berbadan tegap dengan setelan hitam menghalangi jalannya. Mereka adalah pengawal kiriman Adrian.

"Minggir! Aku suaminya!" bentak Arlan, wajahnya merah padam.

"Maaf, Pak Arlan. Nona Hana tidak menerima tamu tanpa janji temu. Silakan meninggalkan area ini," jawab salah satu penjaga dengan suara mekanis yang dingin.

Arlan mengepalkan tinju, hampir melayangkan pukulan jika ia tidak sadar bahwa keributan hanya akan memperburuk citranya di mata hukum.

Dengan napas memburu, ia merogoh ponselnya. Ia menekan nomor Hana berkali-kali hingga pada dering kelima, suara dingin itu menjawab.

"Mau apa lagi, Mas?"

"Hana, tolong... aku ada di depan pintumu. Aku tidak bisa bicara dengan patung-patung ini," Arlan merendahkan suaranya, memasang nada paling merana yang ia miliki. "Aku cuma mau bicara sepuluh menit. Tanpa pengacara, tanpa Adrian. Hanya kita. Jika setelah ini kamu tetap ingin cerai, aku tidak akan mengganggumu lagi minggu depan. Tolong, Han... demi lima tahun yang pernah kita jalani."

Hening cukup lama di seberang telepon. Arlan bisa mendengar embusan napas berat Hana.

"Beri dia jalan," ucap Hana pada akhirnya, yang sepertinya ditujukan kepada para penjaga lewat interkom.

Pintu terbuka. Arlan melangkah masuk ke dalam apartemen yang kini terasa begitu harum aromaterapi jeruk nipis dan tertata sangat rapi. Hana berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Arlan.

"Bicara cepat, Mas. Aku punya banyak pekerjaan," ujar Hana tanpa menoleh.

Arlan melangkah mendekat, namun ia menjaga jarak agar tidak terlihat mengancam. "Apartemen ini bagus, tapi ini bukan rumahmu, Han. Rumahmu adalah tempat di mana ada aku dan Mama."

Hana berbalik, menatapnya dengan senyum sinis. "Rumah itu sudah menjadi neraka sejak kau membawa setan masuk ke dalamnya."

Arlan memejamkan mata sejenak, menelan harga dirinya. "Aku tahu. Aku tahu aku brengsek. Aku tahu aku sudah menghancurkan hatimu berkeping-keping. Tapi lihat aku, Hana..." ia melangkah maju, menatap mata Hana dengan tatapan yang seolah penuh kejujuran. "Aku kehilangan arah. Bisnisku mulai kacau karena pikiranku hanya padamu. Dan aku... aku tidak bisa tidur di kamar itu karena setiap sudutnya meneriakkan namamu."

Arlan meraih tangan Hana. Kali ini Hana tidak langsung menepisnya, ia nampak goyah. "Aku punya tawaran, Han. Tolong, beri aku satu kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa adil. Jangan cerai sekarang. Kita jalani ini perlahan. Kamu tetap tinggal di sini jika kamu merasa lebih tenang, aku tidak akan memaksamu pulang ke rumah utama sekarang. Tapi tetaplah menjadi istriku secara hukum."

"Lalu bagaimana dengan Maura?" suara Hana melemah, ada sisa-sisa kerapuhan yang coba ia sembunyikan.

"Dia akan tetap di rumah utama. Aku akan bertanggung jawab atas bayi itu karena itu darah dagingku, tapi kamu... kamu adalah separuh jiwaku, Hana. Aku akan membagi waktuku dengan sangat adil. Aku akan mencukupi segala kebutuhanmu, aku akan melindungimu dari siapapun, termasuk dari pengaruh Adrian yang menurutku hanya memanfaatkan kerapuhanmu."

Arlan berlutut di hadapan Hana, menatapnya dengan penuh permohonan. "Satu kesempatan, Hana. Jika dalam waktu tiga bulan aku gagal membuktikan keadilanku, aku sendiri yang akan menandatangani surat cerai itu tanpa tuntutan apapun. Aku janji."

Hana menatap pria di bawahnya. Pria yang dulu ia puja, pria yang telah memberinya luka paling dalam, namun juga pria yang pernah menjadi dunianya.

Di satu sisi, ia teringat perlindungan Adrian yang tenang, namun di sisi lain, bayang-bayang lima tahun pengabdian dan rasa iba pada Ibu Mira mulai menggerogoti ketegasannya.

"Kau benar-benar akan berbuat adil?" tanya Hana pelan, suaranya nyaris berbisik.

Arlan mengangguk mantap, binar kemenangan mulai muncul di matanya namun ia sembunyikan di balik wajah sedih. "Demi Tuhan, Hana. Aku akan membuktikannya padamu."

Hana menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Baiklah. Satu kesempatan. Tapi jangan harap aku akan kembali ke rumah itu untuk melayani kalian semua seperti dulu. Aku tetap di sini, dan kau harus mengikuti aturanku."

Arlan berdiri dengan antusias, ia nyaris memeluk Hana namun Hana segera menjaga jarak. "Terima kasih, Hana! Terima kasih. Aku akan segera mengurus semuanya dengan tim legal agar sidang minggu depan bisa ditunda untuk proses perdamaian."

Kabar kesempatan kedua itu sampai ke kediaman Mahendra malam itu juga. Arlan pulang dengan wajah yang jauh lebih cerah, namun bagi Maura, itu adalah lonceng kematian bagi ketenangannya.

"Apa?! Kamu membiarkan dia tetap di apartemen itu dan kamu akan membagi waktu?" teriak Maura di ruang tengah. "Mas, aku ini sedang hamil! Aku butuh kamu setiap saat!"

"Diam, Maura! Ini adalah cara terbaik supaya Hana tidak menceraikanku. Kamu harus mengerti, posisi Hana sangat kuat karena didukung oleh Gavriel. Jika aku tidak mengambil hati Hana, Mahendra Group bisa hancur, dan kamu tidak akan punya kemewahan apapun untuk anak itu!" bentak Arlan.

Maura terduduk lemas di sofa. Ia menyadari bahwa posisinya kini benar-benar hanya sebagai wadah pewaris. Arlan tidak mencintainya seperti ia mencintai kontrolnya atas Hana.

Namun, Maura bukan wanita yang mudah menyerah. Ia mengusap perutnya dengan tatapan tajam.

"Keadilan yang kamu janjikan akan menjadi bumerang, Mas Arlan," bisik Maura setelah Arlan naik ke lantai atas. "Aku akan pastikan Hana sendiri yang akan membuangmu ke tempat sampah."

~~

Sementara itu, di apartemennya, Hana duduk sendirian di kegelapan. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Adrian.

"*Hana, aku dengar kau memberikan Arlan kesempatan lagi. Apapun keputusanmu, aku akan menghargainya. Tapi ingatlah, serigala tidak pernah berubah menjadi domba hanya karena dia memohon saat kelaparan. Hati-hati*."

Hana meremas ponselnya. Ia tahu ia sedang bermain dengan api. Ia memberikan kesempatan ini bukan sepenuhnya karena cinta, melainkan karena ada bagian dari dirinya yang ingin melihat, apakah Arlan benar-benar bisa adil, ataukah ini hanya akan menjadi paku terakhir untuk peti mati pernikahan mereka?

Arlan merasa ia telah menang. Ia merasa telah berhasil menaklukkan samudera luas bernama Hana dan mengembalikannya menjadi air yang bisa ia bendung.

Namun ia lupa, air yang tenang bisa menghanyutkan, dan kesempatan yang Hana berikan bukanlah sebuah kepasrahan, melainkan sebuah ujian terakhir yang sangat mematikan.

...----------------...

**Next Episode** ....

1
mama
ujian preet han..jgn goblok 2x lah jd cwe🤣..mulut suami km licin kyk minyak goreng kok dipercaya🤭
Lee Mba Young
setelah koar koar cerai ada yg bantuin akhirnya di bujuk dikit lngsung luluh sebegitu bucin pa bgitu enak goyangan suami smp gk mau cerai.
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
Lee Mba Young
🤣🤣 ngapain kemarin koar koar cerai trus sekarang batal. hrse terima saja poligami nya kebiasaan wanita indo yg lemah. setelah koar koar cerai smp sidang di rayu dikit langsung luluh. iku ae belum di keloni nnti di keloni lngsung gk jd cerai. 🤣.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.
cinta semu
buat Hana tegar Thor ...
Miss Ra: 💪🤗
siaaaappp
total 1 replies
Mundri Astuti
sakit kamu mah Arlan, ntar anak yg dikandung Maura taunya bukan anaknya ni y, nangis" dah situ saat itu terkuak
Mundri Astuti
mudah"an Adrian bisa jadi tameng buat Hana, hancurin perusahaannya Arlan aja Adrian biar tau rasa dia
Sasikarin Sasikarin
kok di buka pernikahan sandiwara dah terhapus
Miss Ra: iya kak maaf yah...

mnurutku ceritanya kurang bagus dan menarik...
takutnya nanti seperti beberapa karya gagal retensi yg sudah aku buat tpi mengecewakan..

nanti aku buatkan cerita yg lebih menarik lainnya yaa...

🙏
total 1 replies
Mundri Astuti
ayo Hana kamu harus kuat, tunjukkan ke Arlan bahwa kamu bisa berdiri diatas kakimu sendiri dan bahagia tanpa nama besar Arlan dan keluarganya
Himna Mohamad
kereeen
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuuuut 💪
Lee Mbaa Young
lanjuttt
Miss Ra: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjutt thoor kereen ceritanya
Miss Ra: siaaappp 💪

/Heart//Kiss/
total 1 replies
Yantie Narnoe
semangat up nya...💪💪
Miss Ra: siaaaappp

💪
total 1 replies
Yantie Narnoe
lanjut..💪💪💪
Soraya
mampir thor
Miss Ra: siaaaapppp 💪
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Miss Ra: siaaapppp💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!