Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah lampu sorot padam dan kru film membubarkan diri, New York kembali menjadi kota yang asing bagi mereka. Namun, kesunyian itu tidak berlangsung lama. Tanpa ada naskah yang mengatur pertemuan mereka, Andreas dan Seraphina justru menemukan cara baru untuk saling terikat, kode keamanan apartemen.
Apartemen Andreas di Upper East Side adalah sebuah benteng minimalis yang didominasi oleh kaca dan logam. Selama ini, tempat itu hanyalah sebuah ruang pameran kekayaan yang dingin. Namun, segalanya berubah sejak Seraphina sering muncul di sana dengan sepatu kets dan baju oversized, jauh dari citra gaun silk Vanderbilt yang biasa dilihat publik.
Sore itu, Andreas baru saja selesai melakukan sesi pemotretan yang melelahkan. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa kulit Italianya yang mahal. Tak lama kemudian, bunyi tit-tit-tit dari kunci digital terdengar.
Sera masuk tanpa mengetuk, membawa satu kantong besar makanan cepat saji yang jelas-jelas dilarang oleh manajemen mereka.
"Kau tahu, St. Clair? Apartemenmu ini terlalu rapi. Rasanya seperti aku sedang bertamu ke museum," kritik Sera sambil melempar tasnya ke atas meja marmer.
Andreas membuka matanya, tersenyum tipis. "Dan kau datang ke sini untuk merusaknya dengan aroma minyak kentang goreng?"
"Tepat sekali." Sera duduk di lantai, bersandar pada sofa di dekat kaki Andreas.
Sejak proyek film mereka selesai, mereka lebih sering menghabiskan waktu di apartemen masing-masing daripada di acara-acara sosial elit. Di sini, di balik dinding kedap suara ini, Andreas tidak perlu menjadi aktor papan atas yang tegar, dan Sera tidak perlu menjadi gadis manis yang anggun.
Andreas melihat Sera yang mulai sibuk membuka bungkus makanan. Dia teringat bagaimana Veris dulu selalu menuntutnya makan di restoran berbintang Michelin hanya untuk difoto.
Bersama Sera, dia merasa bisa bernapas. Dia meraih kentang goreng dari tangan Sera, membuat gadis itu memekik protes.
"Tadi pagi Ayah menelpon," ucap Andreas tiba-tiba, suaranya merendah. "Dia bertanya kapan filmnya rilis. Dia tidak bertanya bagaimana kabarku, tentu saja. Dia hanya peduli apakah saham perusahaan akan naik karena kesuksesan film itu."
Sera berhenti mengunyah. Dia menoleh ke belakang, menatap mata Andreas. Dia tahu rasa sakit itu. "Ayahku juga sama. Dia sudah menjadwalkan tiga wawancara eksklusif untukku minggu depan tanpa bertanya apakah aku lelah. Kita ini bagi mereka hanyalah aset, Andreas."
Andreas mengulurkan tangannya, mengacak-acak rambut Sera yang biasanya tertata sempurna. "Setidaknya di sini, kita bukan aset siapa pun."
Dua hari kemudian, giliran Andreas yang menginvasi wilayah Sera. Apartemen Sera di kawasan Tribeca sangat berbeda dengan milik Andreas. Tempat itu penuh dengan buku, tumpukan naskah yang dicoret-coret, dan yang paling mengejutkan bagi Andreas, sebuah sudut khusus untuk melukis yang berantakan.
Andreas datang saat malam mulai larut, membawa sebotol wine yang harganya bisa membeli sebuah mobil kecil. Dia menemukan Sera sedang tertidur di karpet bulunya dengan naskah menutupi wajahnya.
Andreas tidak membangunkan gadis itu. Dia justru duduk di kursi dekat jendela, memandangi Sera. Dia teringat saat mereka pertama kali bertemu di lokasi syuting, bagaimana dia membenci kekakuan Sera. Kini, melihat Sera yang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka, Andreas merasa konyol pernah menganggapnya virus.
Sera menggeliat, naskah di wajahnya terjatuh. Dia mengerjapkan mata dan melihat Andreas sedang menyesap wine sambil menatapnya.
"Sejak kapan kau di sana, Penguntit?" gumam Sera dengan suara serak khas bangun tidur.
"Cukup lama untuk menyadari bahwa kau mendengkur saat tidur, Vanderbilt," goda Andreas.
Sera langsung melempar bantal sofa ke arah wajah Andreas. "Bohong! Aku tidak mendengkur."
Mereka tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak pernah terekam oleh kamera film mana pun. Andreas berpindah duduk ke karpet, di samping Sera. Mereka mulai membicarakan hal-hal yang tidak penting, mulai dari betapa menyebalkannya Caroline di lokasi syuting kemarin, hingga rencana mereka untuk benar-benar menghilang sejenak dari New York setelah film rilis.
"Andreas," panggil Sera lirih. Dia menatap gelas wine di tangan Andreas. "Kau... kau sudah tidak memikirkan Veris lagi?"
Andreas terdiam sejenak. Dia meletakkan gelasnya. "Veris adalah bagian dari masa laluku yang membutuhkanku untuk menjadi seseorang yang sempurna. Tapi saat aku bersamamu... aku merasa tidak masalah jika aku sedang berantakan. Jadi, tidak. Dia bukan lagi rumah yang kucari."
Sera tersenyum, kali ini tanpa sarkasme. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Andreas. "Baguslah. Karena aku tidak mau berbagi ruang apartemenku dengan hantu mantan kekasihmu."
Namun, hidup di antara dua apartemen mewah tidak selamanya bisa menyembunyikan mereka dari dunia. Suatu malam, saat mereka sedang berada di apartemen Andreas, Nayya masuk dengan terburu-buru.
"Sir, Nona Sera... kalian harus lihat ini," ucap Nayya sambil menyodorkan tablet.
Ada sebuah artikel dari situs gosip ternama dengan foto mereka berdua. Foto itu diambil dari jarak jauh, menunjukkan Andreas yang sedang memegang payung untuk Sera di depan lobi apartemen Tribeca. Judulnya provokatif: "Cinlok atau Kontrak? Pewaris St. Clair dan Putri Vanderbilt Terlihat Mesra di Luar Set."
Sera menghela napas panjang. "Gengsi kita akan hancur jika mereka tahu kita hanya menghabiskan waktu dengan makan kentang goreng dan menonton film kartun di apartemen."
Andreas mengambil tablet itu dan melemparkannya ke sofa. Dia kemudian menangkup wajah Sera dengan kedua tangannya. Matanya menatap Sera dengan intensitas yang sama dengan saat Take ke-7 yang legendaris itu, tapi kali ini tanpa amarah.
"Biarkan mereka bicara, Sera. Mereka ingin drama, kita berikan drama. Tapi apa yang terjadi di dalam ruangan ini, di antara kita... itu tidak ada dalam naskah mereka. Itu hanya milik kita."
Sera merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia teringat bagaimana dia dulu menghapus bibirnya dengan tisu setelah mencium pria ini. Sekarang, yang dia inginkan hanyalah agar waktu berhenti.
"Kau tahu, Andreas?" bisik Sera, tangannya perlahan melingkar di leher Andreas. "Aku masih menganggap mu menyebalkan."
"Aku tahu," jawab Andreas sambil tersenyum lebar. "Dan kau masih aktris paling bar-bar yang pernah kukenal."
Malam itu, di bawah langit Manhattan yang tidak pernah tidur, dua orang elit yang paling sering dibicarakan di kota itu memilih untuk tetap bersembunyi.
Mereka tidak butuh pengakuan dari Page Six atau validasi dari keluarga mereka. Di apartemen yang sunyi itu, mereka menemukan bahwa kadang-kadang, cerita terbaik adalah cerita yang tidak pernah dibacakan untuk umum.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰