Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Umpan Beracun
Di dalam kegelapan Paviliun Kitab Suci, ketegangan terasa begitu pekat hingga seolah-olah udara bisa retak kapan saja.
Song Lian berdiri dengan senyum kemenangan, merasa telah menggenggam nasib Fang Yuan di telapak tangannya.
Namun, ia tidak menyadari bahwa ia sedang menari di atas jaring laba-laba yang mematikan.
Fang Yuan menatap Song Lian tanpa berkedip. Tangannya perlahan masuk ke dalam lipatan jubahnya, seolah-olah sedang mengambil sesuatu dengan berat hati.
"Kau menang, Song Lian," ucap Fang Yuan, suaranya terdengar datar namun mengandung kepasrahan yang dibuat-buat. "Bunga itu terlalu berharga untuk ditukarkan dengan nyawaku."
Fang Yuan mengeluarkan sebuah objek yang terbungkus kain sutra. Saat dibuka, cahaya biru pucat yang sangat mirip dengan Bunga Nadir Langit memancar keluar. Aroma harum yang menenangkan segera memenuhi ruangan.
Mata Song Lian berbinar penuh keserakahan. "Indah sekali ... Jadi ini benar-benar ada padamu!"
Fang Yuan melemparkan bunga itu ke arah Song Lian.
Dengan sigap, Song Lian menangkapnya dan langsung memeriksa energinya. Ia merasakan getaran Qi yang kuat dari tanaman tersebut.
Apa yang tidak diketahui Song Lian adalah bahwa itu bukanlah Bunga Nadir Langit yang asli.
Menggunakan pengetahuan alkimia yang ia peras dari Bai Lie, Fang Yuan telah meracik "Bunga Halusinasi Embun"—sebuah tanaman tingkat rendah yang ia modifikasi dengan sisa-sisa energi bunga asli dan dicampur dengan racun "Peluruh Qi".
Racun ini tidak membunuh seketika, namun perlahan-lahan akan merusak meridian korbannya setiap kali mereka mencoba berkultivasi.
"Ambil itu. Sekarang, berikan permata perekamnya padaku," tuntut Fang Yuan.
Song Lian tertawa sinis, ia melemparkan permata itu ke lantai dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. "Aku tidak butuh itu lagi selama aku memegang bunga ini. Pergilah, pencuri kecil. Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi malam ini."
Fang Yuan tidak membalas. Ia segera menyelipkan buku Pernapasan Awan: Sembilan Langit ke dalam dadanya, berbalik, dan menghilang ke dalam kegelapan ventilasi secepat bayangan.
Begitu kaki Fang Yuan menyentuh tanah di luar paviliun, ia tidak langsung kembali ke asramanya. Ia menemui Bai Lie yang masih berjaga di balik semak-semak.
"Tuan? Anda berhasil?" bisik Bai Lie.
"Kita tidak punya banyak waktu," ucap Fang Yuan, matanya berkilat dingin di bawah sinar bulan. "Cepat atau lambat, Tetua Dong Fei akan melakukan inspeksi rutin dan menyadari buku itu hilang. Dan saat Song Lian menyadari bunga itu palsu, dia akan mencoba menyeretku jatuh bersamanya."
Fang Yuan berjalan dengan cepat menuju sungai tempat ia mandi sore tadi.
Tanpa ragu, ia membakar kain sutra bekas pembungkus bunga palsu dan membuang abunya ke aliran air yang deras untuk menghilangkan jejak residu racun.
Kembali ke kamarnya, Fang Yuan duduk bersila. Ia mengeluarkan buku teknik curiannya. Ia tahu risiko yang ia ambil sangat besar.
Jika tertangkap, tidak akan ada tempat baginya di seluruh wilayah ini. Namun, baginya, risiko adalah biaya yang harus dibayar untuk kekuatan.
"Kerja keras tanpa berpikir adalah omong kosong," gumamnya, mengulang prinsip hidupnya. "Aku telah memberikan Song Lian sebuah hadiah yang akan menghancurkan masa depannya. Saat dia menggunakan bunga itu untuk menembus ranah baru, racun itu akan meledakkan meridiannya dari dalam."
Fang Yuan tidak pernah merasa bersalah. Baginya, Song Lian hanyalah salah satu dari sekian banyak orang serakah yang mencoba memanfaatkan penderitaan orang lain.
Ia kemudian mengaktifkan Mutiara Petir dan kembali masuk ke dimensi ruang-waktu yang melambat.
Ia hanya punya waktu beberapa "jam" di dunia nyata sebelum fajar menyingsing dan kegemparan dimulai.
Di dalam dimensi bintang, ia memiliki waktu berminggu-minggu untuk mempelajari setiap baris kalimat dalam buku Pernapasan Awan: Sembilan Langit.
"Tetua Dong Fei ... Song Lian ... kalian semua hanya batu loncatan," ucap Fang Yuan sambil membuka halaman pertama buku tersebut. Wajahnya tetap beku, tidak ada senyum kemenangan, hanya ambisi yang murni dan gelap yang membara di matanya.
Fang Yuan telah memulai perlombaan melawan waktu sebelum kejahatannya terungkap.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.