Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan ke Utara
Tiga hari setelah quest Shadow Stalker, aku akhirnya sudah cukup pulih untuk berjalan tanpa setiap langkah terasa seperti bahuku akan robek terbuka.
Mira berkeras agar aku tinggal lebih lama—"setidaknya seminggu untuk pemulihan yang proper"—tapi aku sudah terlalu lama tertunda. Ujian masuk Arcanum Academy akan dimulai dalam dua minggu, dan perjalanan dari Millhaven masih membutuhkan minimal sepuluh hari dengan kereta.
Tidak bisa melewatkan ujian itu. Tidak setelah semua yang sudah terjadi.
Pagi itu aku berdiri di alun-alun utama Millhaven, ransel di bahu dengan perbekalan yang sudah diisi ulang, pedang di punggung, dan kantong koin yang jauh lebih berat dari saat pertama kali tiba—gabungan hadiah quest dan sedikit tambahan yang Thorin keras kepala berikan sebagai "investasi untuk hunter berbakat di masa depan."
Kereta menuju utara menunggu di alun-alun—kafilah pedagang yang akan melewati beberapa kota sebelum akhirnya mencapai Ironspire, kota besar di tepian wilayah Kerajaan Tengah. Dari Ironspire, masih ada perjalanan lima hari ke Academy, tapi setidaknya itu rute yang beradab dengan infrastruktur yang layak.
"Yakin soal ini?" tanya Gareth, berdiri di sampingku dengan tangan bersilang. Di sebelahnya, Seraph dan Thorin—keduanya datang untuk mengantarku, mengejutkan.
"Harus," aku menjawab, merapikan tali ransel yang mengganggu bahuku yang masih nyeri. "Ujian masuk Academy tidak akan menunggu."
Thorin mengangguk dengan setuju. "Tekad yang bagus. Tapi jangan lupa—Academy bukan hanya tentang kemampuan tempur. Politik, hierarki sosial, faksi-faksi... semuanya sama berbahayanya dengan monster, mungkin lebih."
"Lebih berbahaya," Seraph mengoreksi dengan nada keringnya. "Monster setidaknya jujur tentang keinginan mereka untuk membunuhmu. Kaum bangsawan di Academy akan tersenyum sambil merencanakan kejatuhanmu."
Pikiran yang menyenangkan.
"Aku akan ingat itu," kataku. "Terima kasih untuk segalanya. Saran pelatihan, perlengkapan, bahkan sekadar kepedulian. Itu berarti banyak."
Gareth tersenyum—tulus dan hangat. "Kamu mengingatkanku mengapa aku menjadi hunter. Bukan untuk kemuliaan atau emas, tapi untuk membantu orang dan melindungi mereka yang tidak bisa melindungi diri sendiri." Ia mengulurkan tangan. "Tetap hidup, Kael. Dan kalau kamu pernah butuh bantuan atau rekomendasi untuk kemajuan di Guild, kirim kabar. Guild Millhaven akan selalu punya tempat untukmu."
Aku menjabat tangannya—genggaman yang kuat, rasa hormat yang saling mengalir. "Pasti."
Seraph melangkah maju, menyodorkan bungkusan kecil yang dibungkus kain. "Mata panah. Sudah di-enchant untuk menembus penghalang magis. Mungkin berguna di Academy—kudengar ujian tempur menggunakan ward anti-senjata yang memblokir bilah biasa."
Aku menerimanya dengan terkejut. "Ini mahal. Aku tidak bisa—"
"Anggap saja investasi," ia memotong. "Kalau kamu suatu hari menjadi penyihir terkenal atau pejuang legendaris, sebutkan bahwa Seraph Windwhisper yang memberikanmu perlengkapan enchanted pertama yang layak."
Aku tertawa—tawa tulus pertamaku dalam beberapa hari. "Sepakat."
Thorin melangkah maju terakhir, meletakkan tangannya yang besar di bahuku yang sehat. "Ingat, anak muda—kekuatan bukan hanya dari otot atau sihir. Kekuatan datang dari sini." Ia menepuk dadanya, di tempat jantung berada. "Keberanian, keyakinan, belas kasih. Tiga K yang membentuk pejuang sejati."
"Tiga K," aku mengulang, mengukir itu dalam ingatan. "Aku akan ingat."
Kusir kereta berteriak dari alun-alun. "PANGGILAN TERAKHIR UNTUK RUTE UTARA! KEBERANGKATAN LIMA MENIT LAGI!"
Aku berbalik menuju kereta, tapi suara Gareth menghentikanku.
"Kael—satu hal lagi."
Aku menoleh. Ia menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran kekhawatiran dan sesuatu yang lain. Pengetahuan?
"Apa pun yang kamu bawa—apa pun yang membuatmu istimewa—lindungi itu. Ada orang-orang yang akan mencoba memanfaatkan, memanipulasi, atau bahkan mencurinya. Percayai nalurimu tentang siapa yang tulus dan siapa yang hanya menggunakanmu."
Azure Codex berdenyut di dadaku—satu denyutan tunggal, seperti pengakuan.
Ia tahu. Atau setidaknya menduga.
Tapi ia tidak bertanya, tidak menuntut penjelasan. Hanya memberikan peringatannya.
"Aku akan berhati-hati," aku menjawab. "Janji."
Ia mengangguk, puas. "Semoga beruntung, anak muda."
Bagian dalam kereta itu mengejutkan nyamannya—bangku yang dilapisi bantalan, atap yang melindungi dari matahari dan hujan, bahkan jendela-jendela kecil dengan penutup untuk ventilasi. Ada empat penumpang lain: sepasang pedagang tua yang langsung tertidur begitu kereta mulai bergerak, seorang perempuan muda berjubah yang menandainya sebagai penyihir atau cendekiawan, dan seorang pria di penghujung dua puluhan dengan baju zirah yang mengidentifikasinya sebagai tentara profesional atau pengawal.
Aku mengambil tempat duduk di sudut, dekat jendela tapi dengan punggung menghadap dinding—kebiasaan dari pelatihan Kakek, selalu posisikan diri dengan pandangan yang baik dan jalur pelarian.
Perempuan muda itu mempelajariku dengan mata yang penasaran—berwarna amber, tajam dan cerdas. "Kamu juga menuju Arcanum Academy?"
Aku ragu sebentar sebelum menjawab. "Ya. Ujian masuk."
Senyumnya melebar. "Sama! Aku mendaftar untuk jalur Teori Arkan. Kamu?"
"Belum memutuskan. Mungkin Tempur atau Umum."
"Ah, tipe pejuang." Ia mengulurkan tangan. "Elara Moonwhisper. Magang penyihir dari Crystalbrook Tower."
Aku menjabat tangannya—genggaman yang kuat untuk tangan sekecil itu. "Kael."
"Hanya Kael?"
"Hanya Kael."
Ia tidak memaksa lebih lanjut, yang kusyukuri. Pasangan pedagang itu tetap tertidur, dan si tentara menatap keluar jendela dengan ekspresi bosan.
Elara bersandar di kursinya, mempelajariku dengan pandangan yang membuatku tidak nyaman. "Kamu punya aura yang menarik. Apakah kamu pernah mempelajari sihir sebelumnya?"
Lonceng peringatan berbunyi. Tidak tahu seberapa perseptif ia terhadap benda-benda magis, tapi Azure Codex tersembunyi di balik baju zirah dan kain. Seharusnya tidak bisa dideteksi kecuali oleh penyihir yang sangat terampil.
"Sedikit," aku menjawab dengan samar. "Kebanyakan otodidak. Kakekku memberikanku teori dasar."
"Hmm." Ia tidak terlihat yakin tapi tidak mengejar. "Kalau butuh bantuan dengan teori sihir untuk ujian masuk, jangan sungkan bertanya. Ujian tempur Academy kabarnya brutal, tapi bagian teori sihir juga menyisihkan banyak kandidat."
"Terima kasih. Aku akan ingat itu."
Percakapan mengalir ke keheningan yang nyaman. Kereta melanjutkan lajunya yang stabil, roda berderit di atas jalan berbatu, kusir sesekali berteriak memberi perintah kepada kuda-kuda.
Aku memejamkan mata, membiarkan guncangan kereta menidurkanku ke dalam kondisi meditatif. Tidak benar-benar tidur, tapi juga tidak sepenuhnya terjaga.
Dalam kondisi ini, aku bisa merasakan Azure Codex dengan lebih jelas—denyutannya, kehangatannya, dan sesuatu yang lain. Bisikan? Bayangan? Sulit untuk didefinisikan. Seperti batu itu berusaha berkomunikasi tapi aku belum sepenuhnya memahami bahasanya.
Kenangan dari Perang Besar, teknik tempur dari prajurit-prajurit yang sudah lama mati, pengetahuan taktis yang terakumulasi selama berabad-abad.
Semua tersimpan dalam batu ini, menunggu aku untuk membukanya.
Tapi pada saat yang sama, aku mengingat peringatan Kakek tentang risiko korupsi. Penggunaan berlebihan bisa membuat pemakainya hilang dalam kenangan orang lain, pada akhirnya melupakan siapa diri mereka sebenarnya.
Keseimbangan. Aku harus menjaga keseimbangan antara menggunakan Azure Codex dan mengandalkan kekuatanku sendiri.
Mudah dikatakan. Lebih sulit dipraktikkan.
Hari pertama perjalanan berlalu tanpa insiden. Kereta berhenti di penginapan pinggir jalan untuk bermalam—bangunan dua lantai dengan kandang untuk kuda dan kamar untuk musafir. Tidak mewah, tapi bersih dan aman.
Aku berbagi kamar dengan si tentara—ia memperkenalkan diri sebagai Roland, seorang tentara bayaran yang dikontrak untuk mengawal pengiriman barang pedagang ke Ironspire. Ia tidak banyak bicara, yang cocok buatku.
Makan malam di ruang umum sederhana—semur, roti, bir encer bagi yang mau. Aku duduk di meja sudut bersama Elara, yang ternyata sangat cerewet begitu mulai membahas teori sihir.
"—dan itulah mengapa tes afinitas elemental dalam ujian masuk sangat penting," ia menjelaskan dengan gestur yang animatif. "Spesialisasi jalur Academy didasarkan pada afinitas alami. Kalau kamu punya afinitas api yang kuat, kamu mungkin masuk jalur Evokasi. Afinitas air, Transmutasi atau Penyembuhan. Tanah, Abjurasi. Udara, Ilusi atau Divinasi."
"Dan kalau tidak punya afinitas yang kuat?" tanyaku, benar-benar penasaran.
"Jalur Studi Umum. Sebenarnya bukan pilihan yang buruk—lebih fleksibel, kamu belajar dasar-dasar dari semua aliran sebelum spesialisasi lebih lanjut." Ia minum birnya. "Tapi persaingannya lebih ketat karena itu jalur default untuk yang tidak luar biasa di area mana pun."
Bagus. Jalur yang mungkin kumilih, mengingat aku masih belum sepenuhnya memahami kemampuan magis sendiri.
"Apa yang kamu tahu tentang struktur ujian masuk?" tanyaku, beralih topik.
Mata Elara bersinar—jelas ia senang berbagi pengetahuan. "Tiga bagian. Pertama, ujian tertulis—teori sihir, sejarah, matematika dasar dan logika. Ini menyisihkan mungkin empat puluh persen pelamar seketika."
Brutal.
"Bagian kedua, demonstrasi sihir praktis. Merapalkan mantra yang ditugaskan, menunjukkan kendali, membuktikan bahwa kamu benar-benar bisa menggunakan sihir bukan hanya memahami teorinya. Tiga puluh persen lagi tersisih di sini."
Jadi hanya tiga puluh persen yang sampai ke bagian ketiga.
"Bagian ketiga—ujian tempur. Duel langsung, simulasi monster, kadang skenario tim. Ini menguji kemampuan tempur, pemikiran taktis, dan kemampuan tampil di bawah tekanan." Ia menatapku dengan serius. "Di sinilah kebanyakan pelamar yang berfokus pada tempur bersinar, tapi juga di mana kebanyakan cedera terjadi. Academy punya penyembuh yang siaga, tapi... kecelakaan tetap terjadi."
"Biasanya berapa banyak yang diterima dari seluruh pelamar?" tanyaku.
"Tergantung tahunnya, tapi rata-rata sekitar sepuluh persen dari total pelamar. Dari seribu kandidat, mungkin seratus yang diterima."
Aku bersandar, memproses. Tingkat penerimaan sepuluh persen. Dan aku bersaing dengan orang-orang yang mungkin sudah berlatih seumur hidup untuk ini, punya sumber daya keluarga, tutor pribadi, perlengkapan mahal.
Sementara aku? Otodidak dengan bimbingan Kakek dan bantuan dari batu magis yang hampir tidak kupahami.
Peluangnya tidak bagus.
Tapi aku sudah bertahan dari Razorclaw Harpy dan kawanan Shadow Stalker. Selamat dari percobaan pembunuhan di Ashfall. Selamat dari perjalanan sendirian menembus hutan yang dipenuhi monster.
Aku bisa selamat dari ujian masuk.
Harus selamat.
"Kamu gugup?" tanya Elara, mengamati ekspresiku.
"Sedikit," aku mengakui. "Tapi lebih banyak bertekad."
Ia tersenyum. "Sikap yang bagus. Gugup itu normal—aku pun gugup meski sudah mempersiapkan diri selama dua tahun. Tapi tekad, kepercayaan diri, ketangguhan—itu lebih penting dari bakat mentah di Academy."
"Kamu bicara seolah sudah pernah menghadirinya."
"Kakekku adalah alumnus. Ia memberiku banyak saran." Ekspresinya sedikit mengandung kesedihan. "Ia ingin melihatku diterima, tapi meninggal tahun lalu."
Dadaku terasa sesak—rasa sakit yang familiar dari kehilangan. "Turut berduka."
"Terima kasih." Ia tidak meneruskan, dan aku tidak memaksa. Beberapa luka terlalu segar untuk dibicarakan dengan orang asing.
Percakapan beralih ke topik yang lebih ringan—rumor tentang kehidupan Academy, profesor-profesor legendaris, alumni terkenal. Akhirnya, kelelahan mengejar dan kami mundur ke kamar masing-masing.
Aku berbaring di kasur sederhana, menatap langit-langit kayu dengan pikiran yang berpacu.
Tujuh hari lagi ke Ironspire. Lima hari dari Ironspire ke Academy. Total dua belas hari sebelum ujian masuk.
Dua belas hari untuk mempersiapkan diri, berlatih, menjadi sesiap mungkin.
Mulai besok, aku akan menggunakan waktu perjalanan untuk berlatih. Meditasi untuk koneksi yang lebih baik dengan Azure Codex. Tinjauan mental teori sihir yang Kakek ajarkan. Kondisi fisik untuk menjaga kesiapan tempur meski bahuku masih cedera.
Tidak ada waktu yang terbuang. Setiap momen untuk kemajuan.
Karena tingkat penerimaan sepuluh persen berarti sembilan puluh persen ditolak.
Dan aku sama sekali tidak akan menjadi bagian dari sembilan puluh persen itu.
[HARI KE-3 - DI JALAN]
Kereta bergerak dengan ritme yang stabil, pemandangan berangsur-angsur berubah dari lahan pertanian menjadi bukit-bukit bergelombang dengan tambal sulam hutan di sana-sini. Cuaca tetap cerah—beruntung, mengingat alternatifnya adalah bepergian dalam hujan atau lumpur.
Aku memanfaatkan waktu berhenti untuk berlatih. Ketika kereta berhenti untuk makan siang atau mengistirahatkan kuda, aku mencari tempat yang tenang sedikit menjauh dari rombongan dan menjalankan bentuk-bentuk pedang yang Kakek ajarkan.
Kuda-kuda dasar, serangan, tangkisan, kerja kaki.
Pemeliharaan memori otot. Bahkan dengan cedera bahu, aku bisa berlatih dengan intensitas yang dikurangi, fokus pada presisi daripada kekuatan.
Azure Codex berdenyut selama latihan—ritmenya selaras dengan gerakanku. Sesekali, penglihatanku bergeser, menunjukkan penyesuaian kecil untuk memperbaiki teknik—miringkan bilah lebih, pindahkan berat lebih awal, berputar lebih cepat.
Koreksi-koreksi halus yang secara bertahap meningkatkan teknikku.
Elara mengamati dari kejauhan selama satu sesi, ekspresinya penuh pikiran. Ketika aku selesai, ia mendekat.
"Kamu berlatih setiap hari?" tanyanya.
"Ya. Konsistensi itu penting."
"Wow." Ia ragu. "Boleh aku mengamati? Aku berusaha memahami tempur lebih baik untuk ujian masuk. Teori sihir aku sudah yakin, tapi tempur praktis..." Ia meringis. "Bukan kekuatanku."
Aku mempertimbangkan. Punya pengamat sedikit tidak nyaman, tapi tidak berbahaya. "Boleh. Tapi aku bukan guru yang ahli."
"Pengamatan sudah cukup."
Maka untuk beberapa hari berikutnya, sebuah pola berkembang: perjalanan kereta, waktu berhenti, aku berlatih sementara Elara mengamati dan sesekali mengajukan pertanyaan, kereta melanjutkan perjalanan.
Roland, tentara bayaran itu, juga kadang menonton. Suatu sore, ia mendekat setelah sesi latihan.
"Fondasimu bagus," ia berkomentar, suara kasar. "Tapi bentuk-bentukmu campur aduk. Bukan gaya aliran tunggal yang murni. Eklektik."
"Kakekku mengajar dari pengalaman, bukan aliran formal," aku menjelaskan.
Ia mengangguk. "Pendekatan praktis. Tidak buruk. Tapi kalau mau, aku bisa menunjukkan beberapa teknik untuk memperbaiki pertahananmu. Gratis, anggap saja... kesopanan profesional dari sesama petarung."
Tidak terduga. Tapi dihargai.
"Aku suka itu. Terima kasih."
Jadi selama satu jam berikutnya, Roland menuntunku melalui teknik-teknik bertahan—sudut memblokir yang tepat, mengalihkan kekuatan, menggunakan momentum lawan melawan mereka. Praktis, efisien, sudah teruji dalam pertempuran dari bertahun-tahun sebagai tentara bayaran.
Azure Codex menyerap segalanya—aku bisa merasakan batu itu mengkatalogkan teknik-teknik, menganalisis, mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang sudah ada.
Elara mengamati dengan ekspresi yang terpesona. "Peningkatan magis bisa memperkuat tempur fisik secara signifikan. Kalau kamu menggabungkan fondasi yang bagus dengan mantra peningkatan dasar..."
"Bisakah kamu mengajariku?" tanyaku.
"Yang dasar, bisa. Academy akan mengajarkan teknik lanjutan, tapi mengetahui fundamentalnya membantu untuk ujian."
Jadi sesi latihan dadakan itu berkembang: Roland mengajarkan teknik tempur, Elara menjelaskan teori peningkatan magis dasar, dan aku berlatih menggabungkan keduanya.
Di penghujung hari kelima, aku pasti lebih kuat dari saat memulai perjalanan.
Tidak secara dramatis—masih berminggu-minggu dari pemulihan penuh dari cedera Shadow Stalker. Tapi peningkatannya terasa nyata.
Azure Codex berdenyut dengan puas.
Kemajuan. Kemajuan yang bertahap dan stabil.
Persis yang kubutuhkan.
[HARI KE-7 - KOTA IRONSPIRE]
Kami tiba di Ironspire saat matahari terbenam—timing yang sempurna untuk kesan pertama yang dramatis.
Kotanya LUAR BIASA BESAR. Tembok setinggi dua puluh meter terbuat dari batu gelap, dengan menara-menara di berbagai interval yang dilengkapi ballista dan meriam magis. Gerbang utamanya mudah cukup lebar untuk tiga kereta berdampingan, dijaga oleh prajurit-prajurit yang mengenakan baju zirah lengkap dengan perlengkapan yang jelas sudah di-enchant.
Di dalam tembok, bangunan-bangunan membentang sejauh mata memandang—struktur bertingkat dalam berbagai gaya arsitektur, jalan-jalan yang lebar dan dipaving dengan batu sungguhan bukan tanah, ribuan orang dari berbagai ras bergerak dengan arah yang bertujuan.
Ini... ini skala yang sama sekali berbeda dari Millhaven atau bahkan Ashfall.
Ini kota sungguhan. Pusat peradaban.
"Mengesankan, bukan?" Elara berkomentar dengan senyum, memperhatikan ekspresiku. "Ironspire adalah gerbang menuju Kerajaan Tengah. Pusat perdagangan, benteng militer, pusat budaya. Populasinya lebih dari dua ratus ribu jiwa."
Dua ratus ribu. Lebih dari yang bisa kubayangkan.
Kereta meluncur melalui jalan-jalan menuju kawasan pedagang, tempat konvoi akan berpisah. Pasangan pedagang tua melanjutkan ke distrik gudang, Roland ke guild tentara bayaran untuk melaporkan penyelesaian kontraknya.
Elara dan aku turun di sebuah alun-alun dekat distrik utara—area di mana rupanya banyak musafir yang menuju Academy berkumpul.
"Ada penginapan di sini khusus untuk kandidat," Elara menjelaskan, menunjuk ke sebuah bangunan yang jauh lebih bagus dari penginapan-penginapan pinggir jalan selama perjalanan. "Silver Quill Inn. Dimiliki alumnus Academy, jadi mereka sudah familiar dengan kebutuhan pelamar. Tarifnya wajar, dan ada ruang belajar untuk persiapan menit-menit terakhir."
"Terdengar sempurna," kataku, menggendong ransel.
Kami check in—kamar terpisah, syukurlah, karena aku butuh privasi untuk latihan Azure Codex dan meditasi. Resepsionis, seorang perempuan paruh baya dengan mata yang ramah, memberikan kunci dan menyebutkan bahwa makan malam disajikan di ruang umum mulai jam enam sore.
Kamarku di lantai dua, menghadap alun-alun. Sederhana tapi nyaman—kasur yang sungguhan layak, meja dengan kursi, lemari, bahkan kamar mandi kecil yang terhubung.
Kemewahan dibandingkan akomodasi-akomodasi belakangan ini.
Aku membereskan barang-barang penting, membersihkan pedang yang berdebu akibat perjalanan, dan menghabiskan satu jam meditasi dengan Azure Codex.
Batu itu berdenyut stabil, merespons perhatian yang terfokus. Dalam kondisi meditatif, aku bisa merasakan... lapisan-lapisan. Berlapis-lapis informasi, kenangan, pengetahuan—semuanya menunggu aku untuk mengaksesnya.
Tapi belum jelas bagaimana cara membukanya secara sengaja. Sejauh ini, Azure Codex lebih banyak membantu secara reaktif—saat tempur, saat terancam, saat dibutuhkan.
Aku perlu belajar kendali yang sadar. Aktivasi yang disengaja.
Terutama untuk ujian masuk.
Lima hari lagi untuk mencari tahu cara itu.
Tantangan diterima.
Di atap gedung di seberang Silver Quill Inn, sesosok berjubah gelap berdiri dengan kristal komunikasi yang bersinar redup.
"Target tiba di Ironspire," sosok itu melapor. "Bepergian bersama seorang magang penyihir—Elara Moonwhisper dari Crystalbrook Tower. Tidak ada kontak bermusuhan selama perjalanan."
Suara Cassius menjawab, dingin dan analitis. "Moonwhisper... aku kenal nama itu. Cucu perempuan Archimedes Moonwhisper, mantan Kepala Sekolah Academy sebelum Eldrin. Teman perjalanan yang menarik."
"Kebetulan atau diatur?"
"Dengan Eldrin? Kemungkinan diatur. Ia mungkin menempatkan agen-agen untuk secara halus mengarahkan target." Jeda sebentar. "Tidak masalah. Lanjutkan pengawasan. Lima hari sampai ujian masuk—saat itulah ujian yang sesungguhnya dimulai."
"Dipahami."
Kristal itu meredup.