NovelToon NovelToon
Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
​Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
​Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
​Ketika Reina akhirnya mengu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Runtuhnya Istana Pasir

Lampu gantung kristal di ruang rapat utama Alvaro Holdings memantulkan cahaya dingin yang menusuk. Dimas duduk di kursi kebesaran yang selama ini ia tinggalkan kosong. Di depannya, tumpukan dokumen penyitaan aset dan bukti penggelapan dana sudah ditandatangani. Adrian berdiri di sampingnya, memberikan laporan terakhir dengan nada yang tidak lagi santai.

​"Semua rekening atas nama Reina sudah dibekukan. Rumah di Menteng dan cafe itu resmi disegel sore ini. Pengacaranya yang baru pun langsung mengundurkan diri begitu melihat namamu di berkas lawan," ujar Adrian.

​Dimas hanya mengangguk pelan. Pikirannya tidak di sini. Matanya terus melirik ke arah ponselnya, menunggu kabar dari Paul tentang Kathryn. Namun, sebelum ia bisa beranjak, pintu ruang rapat terbuka kasar.

​Reina masuk dengan langkah terhuyung-huyung, namun kali ini ia tidak sendiri. Ia membawa kedua orang tuanya mantan mertua Dimas yang dulu selalu memandang Dimas sebelah mata. Ayah Reina, yang selama ini sombong dengan gelar komisarisnya, kini tampak pucat pasi namun tetap berusaha memasang wajah angkuh.

​"Dimas! Apa-apaan ini?! Kenapa ada orang-orang berseragam menyegel rumah kami?!" teriak Ayah Reina sambil menggebrak meja jati di depan Dimas.

​Ibu Reina ikut menimpali dengan suara melengking. "Kamu benar-benar keterlaluan, Dimas! Kami sudah memberimu tumpangan hidup selama tiga tahun, memberikan anak kami padamu, dan sekarang kamu membalas dengan merampok harta kami?!"

​Dimas perlahan mendongak. Sorot matanya begitu dingin, hingga Ayah Reina tanpa sadar mundur satu langkah. Tidak ada lagi Dimas yang penurut. Yang ada hanyalah sang penguasa yang selama ini mereka injak-injak.

​"Memberiku tumpangan hidup?" Dimas mengulang kalimat itu dengan nada sarkasme yang tajam. "Selama tiga tahun, gaji dokternya aku gunakan untuk menutupi hutang judi Reina yang tidak kalian ketahui. Selama tiga tahun, aku diam saat kalian menghinaku di depan teman-teman sosialita kalian. Dan soal rumah itu..."

​Dimas melemparkan sebuah sertifikat asli ke atas meja. "Rumah itu dibeli atas nama perusahaan kakekku sepuluh tahun lalu. Aku hanya meminjamkannya pada Reina karena aku pikir dia bisa belajar menjadi istri yang baik. Ternyata, dia justru menggunakan fasilitas itu untuk membawa pria lain masuk ke dalamnya."

​Reina gemetar hebat. Ibunya ternganga, menatap anaknya dengan tidak percaya. "Reina... apa itu benar?"

​"Ma, dia bohong! Dimas memfitnahku agar dia bisa mengambil semua hartanya untuk diberikan pada mahasiswi gatal itu!" teriak Reina histeris.

​Dimas berdiri, auranya begitu mengintimidasi hingga ruangan itu terasa menyempit. "Cukup. Aku tidak punya waktu untuk drama kalian lagi. Pengosongan aset adalah mutlak. Jika kalian keberatan, silakan bicara dengan tim hukumku. Dan untuk Anda, Tuan..." Dimas menatap mantan mertuanya, "Utang perusahaan Anda pada bank adalah tanggung jawab pribadi Anda sekarang, karena aku baru saja menarik seluruh jaminan atas nama keluargaku."

​Ayah Reina terduduk lemas di kursi. Ia menyadari bahwa selama ini ia berdiri di atas pondasi yang dibangun oleh pria yang ia remehkan. Seluruh kemewahan mereka ternyata hanyalah "sedekah" dari Dimas yang mereka panggil sampah.

​"Dimas... tolong... jangan lakukan ini," tangis Ibu Reina pecah. "Kita masih keluarga, kan?"

​"Keluarga tidak saling menginjak, Nyonya," jawab Dimas datar. ia melirik jam tangannya. "Keamanan, tolong antar mereka keluar. Aku ada urusan yang jauh lebih penting."

​Begitu mereka diseret keluar oleh petugas keamanan, ponsel Dimas bergetar hebat. Nama 'Paul Danola' muncul di layar. Jantung Dimas seolah berhenti berdetak.

​"Paul? Ada apa?"

​"Dimas! Kathryn... dia pingsan!" suara Paul terdengar panik dan terengah-engah. "Aku terpaksa mendobrak pintu kamarnya karena dia tidak menjawab sejak sore. Badannya panas sekali, Dim. Dia menggigil hebat dan tidak sadarkan diri!"

​Dunia Dimas seolah runtuh. Rasa sesalnya memuncak. "Jangan pindahkan dia, Paul! Aku segera ke sana. Aku akan membawa tim medis dan peralatan lengkap. Tolong jangan biarkan dia kedinginan!"

​Dimas langsung berlari keluar ruangan, mengabaikan Adrian yang berteriak memanggilnya. Ia masuk ke mobil hitamnya dan memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi menuju Dharmawangsa, diikuti oleh dua mobil pengawal dan satu unit ambulans pribadi dari rumah sakitnya.

​Sesampainya di kediaman Danola, Dimas berlari menaiki tangga. Ia menemukan Paul sedang mengompres dahi Kathryn dengan wajah yang sangat cemas. Sean berdiri di pojok ruangan, menangis sesenggukan melihat tantenya tidak bangun-bangun.

​Dimas berlutut di samping tempat tidur. Ia melihat wajah Kathryn yang pucat, bibirnya pecah-pecah karena panas yang tinggi. Dimas meraih tangan Kathryn yang terasa membara.

​"Kathryn... maafkan aku. Aku di sini," bisik Dimas parau.

​Ia segera mengambil alih perawatan. Dengan cekatan, ia memeriksa denyut nadi dan memasangkan infus yang dibawa oleh asisten medisnya. Tangannya yang biasanya stabil saat membedah pasien, kini sedikit bergetar saat menyentuh kulit Kathryn.

​"Ini demam karena tekanan batin dan kelelahan, Paul," ujar Dimas tanpa menoleh. "Dia merasa sangat terkhianati."

​Dimas duduk di tepi tempat tidur, menggenggam tangan Kathryn erat-erat. Ia tidak peduli lagi pada urusan Reina yang baru saja ia hancurkan. Baginya, satu helai rambut Kathryn jauh lebih berharga daripada seluruh gedung rumah sakit yang ia miliki.

​Sepanjang malam, Dimas tidak beranjak. Ia mengganti kompres Kathryn setiap lima belas menit sekali, membisikkan kata-kata maaf di telinga gadis itu, dan memohon agar Kathryn mau membuka mata.

​Tengah malam, Kathryn mulai meracau dalam tidurnya. "Mas Dimas... jangan bohong... uang itu... tabunganku..."

​Hati Dimas seolah disayat sembilu. "Tidak, Sayang. Aku tidak membohongi perasaanmu. Uang itu masih kusimpan, itu adalah harta paling berharga yang aku punya karena itu diberikan dengan cinta."

​Paul yang melihat pemandangan itu dari ambang pintu hanya bisa menghela napas panjang. Ia melihat betapa tulusnya Dimas mencintai adiknya. Kekayaan Dimas mungkin besar, tapi cintanya pada Kathryn jauh lebih besar.

​Menjelang subuh, panas Kathryn mulai turun. Ia perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah lelah Dimas yang masih setia menggenggam tangannya dengan posisi terduduk di lantai.

​Kathryn mencoba menarik tangannya, namun ia terlalu lemas. "Kenapa... kenapa Mas masih di sini?" tanyanya dengan suara yang nyaris hilang.

​Dimas menatap Kathryn dengan mata merah karena kurang tidur. "Karena aku tidak akan pernah pergi lagi, Kathryn. Meskipun kamu mengusirku seribu kali, aku akan tetap di sini, di bawah kakimu, sampai kamu percaya bahwa pria di depanmu ini adalah Dimas yang sama yang kamu cintai kemarin."

​Kathryn memalingkan wajahnya, air mata kembali mengalir. Ia masih terluka, namun kehadiran Dimas yang begitu rapuh di hadapannya membuat dinding kemarahannya mulai terkikis.

1
Ira Janah Zaenal
kamu wanita tangguh kath😍
Anonymous
ayo up terus thor makin seru niii
Yensi Juniarti
lama2 saya GK suka sifat ketryin ini ...
terlalu berlebihan
Yensi Juniarti
maaf ya tor.. itu terlalu childrens..
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Dwi Winarni Wina
kayaknya dokter dimas sangat cocok sama khatrin, daripada istrinya itu selalu menghina dan rendahkan...
Dwi Winarni Wina
istri durhaka berani melawan suami, dosanya besar Sekali itu...
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ira Janah Zaenal
ayo Dimas tinggalkan berkasmu segera ke rumah kediaman Dharmawangsa ... kath sedang membutuhkanmu😍😍
Sri Khayatun
ceritanya bagus ..suami yg sabar dan istrinya durhaka..saya suka
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 🙏🏻
total 1 replies
Sri Khayatun
semoga dia jadikan kahtrin sebagai istrinya kelak...
Sri Khayatun
aku mampir thorr
Ira Janah Zaenal
up up up💪💪💪
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Ira Janah Zaenal
semangat dokter Dimas meraih hati ount kathryn😍😍💪💪
jajangmyeon
up
brawijaya Viloid
😎😎
brawijaya Viloid
keren nihh ceritanya
Anonymous
mulai tumbuh ni benih" cinta 🤭
Anonymous
krg ajar bgt, lgian dimas terlalu sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!