Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Beban Anak Tunggal
Berbeda terbalik dengan kehangatan di rumah keluarga Laurent, suasana di kediaman Raendra malam itu terasa sedingin es. Rumah mewah bergaya Eropa modern itu terasa hampa, hanya ada denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen di ruang makan yang terlalu luas untuk dua orang pria.
Arslan duduk tegak, mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku, sementara di hadapannya, Tuan Yuda Raendra menatapnya dengan pandangan yang mampu mengintimidasi direksi perusahaan manapun.
"Papa sudah melihat laporan perkembangan AR-Tech bulan ini. Kamu melakukannya dengan cukup baik untuk anak seumuran mu," ujar Tuan Yuda, suaranya berat dan berwibawa. "Tapi Papa tidak suka melihat buku-buku tebal tentang anatomi anak dan jurnal pediatri masih ada di meja kerjamu. Bukankah kita sudah sepakat? Kamu sudah lulus dokter umum, itu sudah cukup sebagai titel pelengkap."
Arslan meletakkan garpunya. Matanya yang tajam menatap sang Papa tanpa ragu. "Itu bukan titel pelengkap, Pa. Aku sudah diterima untuk ambil spesialis anak. Itu cita-citaku, bukan sekadar hobi."
"Cita-cita aneh!" Tuan Yuda menggebrak meja, membuat air di dalam gelas berguncang. "Kamu itu anak tunggal, Arslan! Kamu adalah satu-satunya ahli waris Brata Yuda Group. Siapa yang akan mengurus bisnis keluarga ini kalau kamu sibuk mengurusi bayi menangis dan menulis resep obat di rumah sakit?"
"Bisnis ini sudah punya sistem yang stabil, Pa. AR-Tech bahkan berkembang pesat di tanganku sambil aku menyelesaikan koas kemarin," balas Arslan, suaranya tetap tenang namun sarat akan pemberontakan. "Aku menjadi dokter bukan karena ingin melawan Papa, tapi karena aku ingin melakukan sesuatu yang nyata. Menyelamatkan nyawa anak-anak jauh lebih berarti bagiku daripada sekadar melihat angka di bursa saham."
Tuan Yuda berdiri, berjalan perlahan mengitari meja makan, lalu berhenti tepat di belakang kursi Arslan. "Kamu tahu kenapa Papa memaksamu menjadi serigala di dunia bisnis? Karena dunia ini kejam. Kamu butuh kekuasaan untuk melindungi apa yang kamu miliki. Menjadi dokter spesialis anak hanya akan membuatmu menjadi pria yang terlalu lembut."
Arslan menyeringai pahit. Lembut? Jika ayahnya tahu apa yang sudah ia lakukan di masa SMA—bagaimana ia memanipulasi perasaan seorang gadis jenius demi sebuah taruhan dan harga diri—mungkin ayahnya tidak akan pernah menyebutnya lembut.
"Justru karena dunia ini kejam, aku butuh sisi lain yang membuatku merasa tetap menjadi manusia, Pa," ucap Arslan dingin.
"Cukup!" bentak Tuan Yuda. "Papa beri kamu waktu. Jalankan operasional AR-Tech sepenuhnya tahun ini. Jika dalam setahun kamu gagal melipatgandakan keuntungan cabang Jakarta, kamu harus berhenti dari mimpimu menjadi dokter spesialis dan fokus di sini. Tapi jika kamu berhasil, Papa tidak akan melarang mu lagi."
Setelah Papanya meninggalkan ruang makan, Arslan terdiam. Ia memijat pangkal hidungnya. Ambisinya menjadi dokter spesialis anak sebenarnya memiliki akar yang dalam, sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapapun, bahkan pada Abel dulu. Ada rasa bersalah yang terpendam di masa lalunya yang membuatnya ingin menebus dosa dengan menyelamatkan nyawa anak-anak.
...****************...
Arslan butuh ketenangan dari semua beban yang ia tanggung sendiri. Ia butuh hiburan, setidaknya dapat mencairkan suasana hati dan pikirannya. Arslan pergi menemui teman lamanya di sebuah bar, tempat biasa mereka nongkrong.
Malam semakin larut, namun kebisingan di rooftop bar itu seolah tidak mereda. Bau asap rokok dan aroma kopi espresso yang tajam bercampur dengan tawa keras khas laki-laki. Di meja pojok, Arslan duduk menyandarkan punggungnya yang pegal, melepaskan kancing teratas kemejanya setelah seharian bertempur dengan ego Papanya dan tumpukan data rumah sakit.
"Gila, Lan! Lo makin kaku aja sejak jadi Pak Bos sekaligus Pak Dokter," celetuk Bimo, sambil menepuk bahu Arslan keras-keras. "Dulu lo gak kayak gini. Gue masih inget banget waktu kita final basket lawan SMA sebelah. Lo masukin tiga poin di detik terakhir, itu momen paling epik sepanjang sejarah sekolah kita!"
Dion ikut tertawa, menyesap minumannya. "Iya, Lan! Dan lo selalu punya 'penonton VIP' di perpustakaan lantai dua. Inget nggak si kutu buku yang selalu ngintip dari balik kaca?"
Tawa pecah mereka pecah, namun senyum Arslan tersirat akan penyesalan. Mereka bernostalgia tentang kejayaan masa muda, tentang jersey nomor 07 yang legendaris, dan tentang betapa sombongnya mereka dulu sebagai penguasa lapangan. Namun, tiba-tiba Raka yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, mendongak dan melontarkan pertanyaan yang seketika membekukan tawa Arslan.
"Eh, ngomong-ngomong... ada yang tahu kabar si Abel nggak? Arabella Bellvania."
Suasana di meja itu mendadak sunyi. Bunyi denting es batu dalam gelas terasa begitu nyaring di telinga Arslan.
"Dia bener-bener hilang tanpa jejak ya setelah kelulusan?" lanjut Raka tanpa menyadari perubahan ekspresi Arslan. "Gue denger Reno, kakaknya yang galak itu, langsung 'ngamanin' dia. Nggak ada media sosial, nggak ada jejak di grup alumni. Padahal jujur aja, makin ke sini gue makin mikir... sketsa yang dia bikin dulu tentang lo, Lan, itu karya seni paling gila yang pernah gue liat."
Arslan tidak menjawab. Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, namun pikirannya terseret mundur ke lima tahun lalu.
Ia mengingat bagaimana rasanya pelukan Abel dan ciuman manis di gudang tua—pelukan yang penuh dengan kepercayaan tulus, serta sebuah ciuman yang baru di rasakan bagi Abel, sementara ia sendiri saat itu sedang bermain peran demi taruhan 30 juta dan rasa dendam pada Reno. Ia teringat binar mata Abel saat ia memberikan gombalan tentang rasi bintang, dan bagaimana gadis itu gemetar saat pertama kali ia genggam tangannya.
"Arslan?" Bimo menyenggol lengannya. "Lo masih dapet kabar dari dia? Secara... lo kan dulu yang paling deket, meski katanya backstreet."
Arslan menyesap kopinya yang sudah dingin, berusaha menelan rasa pahit yang bukan berasal dari kafein. "Nggak. Gue nggak tahu dia di mana."
Andai Arslan tahu keberadaan Abel, mungkin ia tidak merasakan resah di hatinya. Selama lima tahun ini Arslan hidup dalam sebuah penyesalan. Ia tak bisa membuka hati untuk orang lain lagi, seolah pintu hatinya telah terkunci rapat oleh satu nama.
"Sayang banget ya," gumam Dion. "Gue jadi ngerasa bersalah kalau inget taruhan kita dulu. Kita semua masih bocah ingusan yang nggak tahu apa-apa soal perasaan orang. Si Abel itu terlalu baik buat jadi bahan taruhan."
Kalimat Dion menghantam ulu hati Arslan. Terlalu baik.
Arslan mengingat hari terakhir mereka di gudang. Ia ingat tangisan Abel yang memelas agar hubungan mereka jangan berakhir. Saat itu, ia merasa menang karena berhasil memanipulasi Abel agar membenci Reno. Namun sekarang, setelah ia dewasa, setelah ia melihat ratusan pasien anak yang menatapnya dengan ketulusan yang sama, Arslan baru menyadari satu hal:
Ia tidak memenangkan taruhan itu. Ia justru kehilangan satu-satunya orang yang melihat dirinya bukan sebagai kapten basket yang populer atau ahli waris Dirgantara, melainkan sebagai pria biasa yang butuh dipahami.
"Gue cabut duluan," ucap Arslan tiba-tiba sambil berdiri dan menyambar kunci mobilnya.
"Lho, Lan? Buru-buru amat!" teriak teman-temannya.
"Ada pasien darurat," bohongnya lagi.
Saat berjalan menuju parkiran, Arslan mengepalkan tangannya di saku. Wajah Abel saat di pertemuan malam itu kembali terbesit dalam benak Arslan. Rambut hitam panjang yang terurai indah dengan balutan gaun yang menawan membuat Abel cantik malam itu. Kecantikan yang hanya bisa Arslan lihat sekali seumur hidupnya. Setelah itu, Abel pergi dengan dendam dalam dirinya, menyisakan Arslan yang terdiam penuh penyesalan.