Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Pukul 06.20 WIB
Jalur Turun, Kilometer Empat
Di kilometer empat, tanah yang kemarin sudah licin jadi semakin licin.
Embun yang mengendap semalaman di atas lapisan tanah lembab dari hujan dua hari lalu menciptakan permukaan yang sulit diprediksi. Kelihatan padat, tapi satu injakan salah dan semuanya bisa meluncur ke bawah tanpa bisa dihentikan, meski pakai trekking pole.
Mereka berjalan lebih lambat dari yang diinginkan. Lebih lambat dari yang direncanakan.
Dan di belakang mereka, dari arah yang sudah mereka tinggalkan, sesuatu mulai terdengar.
Yazid yang pertama mendengarnya.
Dia tidak langsung berhenti. Tidak langsung menoleh. Tapi jari-jarinya mengencang di trekking pole, dan langkahnya yang tadi teratur jadi sedikit lebih hati-hati. Perubahan kecil yang tak kelihatan dari luar, tapi terasa jelas di dalam.
Suara langkah.
Dari atas. Dari arah camp yang sudah mereka tinggalkan.
Yazid akhirnya menoleh.
Di tikungan tiga puluh meter ke atas, di mana kabut tipis masih menggantung, muncul sebuah siluet dari balik tikungan.
Tegak. Kepala sedikit miring. Bergerak turun.
Tidak ada suara carrier. Tidak ada trekking pole. Tidak ada embusan napas yang terlihat di udara dingin, meski langkahnya cukup cepat untuk itu.
Hanya suara langkah yang teratur. Konsisten. Intervalnya tidak berubah meski medan di bawahnya tidak rata. Tidak ada kompensasi, tidak ada penyesuaian.
“Jalan terus,” kata Yazid pelan tapi tegas.
Satu kata, tapi cara dia mengucapkannya sudah cukup jadi penjelasan.
Mereka langsung mempercepat langkah.
Bukan lari tidak mungkin lari dengan carrier dua belas kilo di jalur selicin ini. Tapi langkah mereka jadi lebih panjang, lebih cepat, dengan risiko yang sudah mereka terima bahwa kecepatan ini tidak sepenuhnya aman.
Dari belakang, suara langkah itu tidak berubah kecepatannya.
Tidak ngegas.
Tapi juga tidak melambat.
Dan justru itu yang membuat bulu kuduk Salsabilla berdiri. Karena sesuatu yang mengejar seharusnya mempercepat. Sesuatu yang tidak berniat mengejar seharusnya berhenti. Tapi ini terus bergerak, konsisten, dengan kecepatan yang seolah sudah dihitung untuk menjaga jarak tertentu.
Tiga puluh meter. Dua puluh delapan. Dua puluh lima.
Jarak semakin dekat bukan karena siluet itu lari, tapi karena langkahnya tidak pernah berhenti dan tidak terganggu oleh medan yang membuat mereka harus sangat berhati-hati.
Salsabilla menoleh sekali.
Siluet itu sudah lebih jelas. Tinggi badan manusia. Postur terlalu tegak. Tangan menggantung di sisi tubuh, bergerak sedikit tapi dengan cara yang salah seperti sesuatu yang sedang meniru gerakan manusia dari referensi yang kurang tepat.
Dan di wajahnya, di jarak yang masih terlalu jauh untuk detail, ada sesuatu yang berbeda dari wajah manusia biasa.
Salsabilla langsung menghadap ke depan lagi.
Tidak menoleh lagi setelah itu.
“Rehan, gas!” kata Yazid dari belakang. “Kita hampir sampai percabangan.”
Rehan yang berada di paling depan langsung mempercepat, mengorbankan sedikit kehati-hatian demi kecepatan. Kakinya menginjak di mana ia rasa bisa diinjak, mempercayai insting yang sudah terbentuk selama dua hari di jalur ini.
Dua kali kakinya hampir selip.
Dua kali trekking pole-nya menahan.
Runa berjalan dengan efisiensi yang sudah melewati batas perhitungan. Kakinya bergerak hampir otomatis, tubuh merespons medan sebelum otak selesai memproses.
Zidan berada di antara Rehan dan Runa. Carrier-nya sedikit goyang ke kiri saat melewati akar yang menjorok. Ia mengoreksinya cepat, tangan kanan memegang batang pohon, tangan kiri tetap di trekking pole.
Tapi di momen itu, saat tangannya menyentuh batang pohon, dunia berputar lagi.
Bukan dua detik seperti sebelumnya. Kali ini lebih lama. Empat detik. Lima.
Dan kali ini disertai sesuatu yang lain bukan hanya putaran, tapi seperti suara yang sangat jauh dan dalam, yang datang bukan dari luar telinga, melainkan dari dalam kepalanya sendiri.
Bukan kata-kata. Hanya frekuensi.
Zidan melepaskan batang pohon dan melanjutkan jalan.
Tak ada yang melihat wajahnya saat itu. Rehan sudah dua langkah di depan, Runa satu langkah di belakang. Tapi Yazid yang posisinya paling belakang melihat. Ia melihat cara Zidan memegang batang pohon itu satu detik lebih lama dari yang diperlukan. Ia juga melihat mata Zidan sesaat melirik ke sisi hutan di kiri jalur. Hanya sebentar. Tapi ke arah yang salah untuk seseorang yang sedang fokus turun.
Yazid mempersingkat jaraknya hingga kurang dari setengah meter.
Tangannya siap.
Pukul 06.47 WIB
Percabangan Jalur, Menuju Kilometer Tiga
Percabangan itu muncul dari balik tikungan terakhir kilometer empat. Dua jalur membelah kiri dan kanan, masing-masing ditandai dengan panah yang dicat di batang pohon. Panah kiri menunjuk angka 3, jalur resmi turun menuju pos pendaftaran. Panah kanan menunjuk area tanpa angka.
Rehan sampai di percabangan lebih dulu.
Ia membaca tanda tanpa berhenti.
Belok kiri.
Satu langkah. Dua. Sepuluh. Dua puluh. Tiga puluh.
Jalur di depannya lebih landai, tanah lebih padat, lebih terlindung dari embun.
Rehan terus ngegas.
Enam langkah lagi.
Delapan.
Dia berhenti mendadak.
Bukan karena memilih berhenti, tapi karena ada sesuatu di depan yang membuat kakinya berhenti sebelum otaknya sempat memerintah.
Dua puluh meter di depan, di antara dua pohon besar yang membentuk gerbang alami, berdiri seseorang.
Membelakangi mereka.
Diam.
Empat orang lainnya datang dari belakang, hampir menabrak Rehan yang tiba-tiba berhenti. Yazid yang paling belakang langsung memahami situasi dalam satu sapuan pandang: Rehan yang membeku, keempat temannya yang menumpuk di belakang, dan figur yang berdiri di jalur dua puluh meter di depan.
Lalu dari belakang mereka, dari arah percabangan yang baru saja mereka lewati, suara langkah yang mengikuti sejak tadi terdengar semakin dekat.
Sepuluh meter.
Tujuh.
Lima.
Mereka terjebak.
Di depan: seseorang yang berdiri membelakangi mereka, diam, dengan postur yang sudah Yazid kenali.
Di belakang: suara langkah yang kini sudah sangat dekat.
Di kiri dan kanan: hanya hutan lebat dan kabut tipis.
Tidak ada jalan keluar.
Rehan tidak bergerak.
Salsabilla tidak bergerak.
Runa tidak bergerak.
Zidan tidak bergerak.
Yazid yang berdiri paling belakang menoleh sekali ke depan, sekali ke belakang, lalu matanya jatuh ke tanah.
Di antara akar pohon yang jatuh, tergeletak sebuah ranting besar. Tebal, berat, masih kokoh.
Yazid menatap ranting itu selama setengah detik.
Lalu mengangkat matanya ke figur yang berdiri dua puluh meter di depan mereka.
Perlahan, sangat perlahan, dengan cara yang sulit dijelaskan, figur itu mulai berbalik.
Dan di belakang mereka, suara langkah itu berhenti.
Bukan karena sumbernya pergi.
Tapi karena apa pun yang mengendalikan langkah itu sudah tidak perlu bergerak lagi.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪