"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Kencan yang Bukan Kencan
## **Bab 24: Kencan yang Bukan Kencan**
Matahari bersinar terik di atas Jakarta, memantul di permukaan rel *roller coaster* yang meliuk tajam di taman hiburan "Fantasy World". Suara tawa anak-anak, musik parade yang ceria, dan aroma *popcorn* manis menciptakan atmosfer kegembiraan yang meluap. Namun, bagi Kenzi, tempat ini tak lebih dari sebuah labirin taktis dengan ribuan variabel ancaman yang bergerak secara acak.
Alana berjalan beberapa langkah di depan, mengenakan gaun musim panas putih sederhana dan topi lebar. Setelah malam yang mengerikan di rubanah, dia memaksa ayahnya memberikan izin untuk keluar rumah. "Aku butuh udara segar, atau aku akan gila di penjara mewah itu," katanya pagi tadi. Namun, Kenzi tahu, ini bukan sekadar mencari udara segar. Alana sedang mencoba melarikan diri dari kenyataan bahwa pelindungnya adalah seorang algojo.
Kenzi mengikuti di belakang, mengenakan kemeja kasual hitam yang menyamarkan bentuk pistol semi-otomatis di pinggang belakangnya dan perban di bahunya. Matanya, yang tersembunyi di balik kacamata hitam taktis, tidak pernah berhenti bergerak.
*Analisis Lingkungan: Kepadatan massa: 85%. Titik buta terdeteksi di balik stan suvenir. 12 personel keamanan taman hiburan teridentifikasi—semuanya amatir. Probabilitas serangan sniper dari bianglala: 12%.*
"Kenzi, lihat!" Alana menunjuk ke arah bianglala besar. "Berhenti memindai kerumunan seolah kau sedang berburu teroris. Bisakah kau berakting seperti manusia normal hanya untuk satu jam?"
Kenzi berhenti tepat di sampingnya. "Tugas saya adalah memastikan Anda kembali dalam keadaan bernapas, Nona. Normalitas adalah kemewahan yang tidak bisa kita beli hari ini."
---
Mereka bergerak menuju area dermaga buatan. Alana mencoba membeli es krim, namun Kenzi segera mengambil alih cup tersebut, memeriksa isinya dengan teliti sebelum memberikannya kembali. Alana menghela napas panjang, rasa frustrasinya mencapai puncak.
"Kau tahu, Kenzi? Ayah menawarkanku kontrak permanen untukmu," Alana bicara pelan sambil menatap danau buatan. "Dia bilang kau bisa melindungiku selamanya."
"Dan apa jawaban Anda?" tanya Kenzi datar.
Alana menatap Kenzi, matanya mencari sesuatu yang manusiawi di balik lensa hitam itu. "Aku bilang aku tidak ingin dilindungi oleh seseorang yang tidak memiliki jiwa. Tapi kemudian aku ingat malam di *ballroom*... dan bagaimana kau menjahit dirimu sendiri. Aku sadar, kau bukan tidak punya jiwa. Kau hanya menguncinya terlalu rapat karena kau takut pada sesuatu."
Kenzi terdiam. Kata-kata Alana menyerang sistem logikanya lebih efektif daripada peluru kaliber 7.62mm. *Bug* itu kembali berdenyut.
"Jangan menganalisis saya, Nona. Itu bukan bagian dari kontrak," jawab Kenzi dingin.
Tiba-tiba, telinga Kenzi menangkap transmisi radio pendek. Ia menoleh ke arah kerumunan di dekat pintu masuk zona *thrill ride*. Di sana, berdiri seorang pria dengan seragam sopir cadangan keluarga Wijaya—Vero. Pria itu sedang memakan permen karet, menatap langsung ke arah Kenzi dengan senyum tipis yang merendahkan.
Vero mengangkat tangan kanannya, membentuk gestur pistol dengan jemarinya, lalu "menembak" ke arah Alana sebelum menghilang di balik kerumunan.
---
*Status Bahaya: Level Merah. Pengawas terdeteksi di sektor 4. Eksekusi tahap 2 sedang berjalan.*
Kenzi segera mencengkeram pergelangan tangan Alana. "Kita pergi. Sekarang."
"Apa? Kita baru sampai di sini!" Alana memprotes, namun wajah Kenzi yang mendadak berubah menjadi sangat pucat dan tegang menghentikan kalimatnya.
"Ikuti instruksi saya tanpa bertanya jika Anda ingin hidup," desis Kenzi.
Ia menarik Alana masuk ke dalam wahana "Rumah Kaca" yang terletak di dekat mereka. Di dalam, ribuan cermin menciptakan pantulan yang membingungkan. Ini adalah medan tempur yang disukai Kenzi—penuh tipu daya visual.
"Kenzi, ada apa sebenarnya?" suara Alana mulai gemetar.
Kenzi tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya, melihat koordinat GPS yang dikirimkan oleh sistem audit internal organisasinya. *Vero tidak sendirian. Ada tiga unit pembersih di perimeter luar.*
"Dengarkan saya," Kenzi memojokkan Alana di antara dua cermin besar. "Di luar sana ada orang-orang yang jauh lebih berbahaya daripada preman yang pernah Anda temui. Mereka tidak ingin menculik Anda. Mereka ingin menghapus Anda dari sejarah."
"Termasuk kau?" tanya Alana, suaranya pecah.
Kenzi menatap pantulan Alana yang tak terhingga di sekelilingnya. "Saat ini, saya adalah satu-satunya alasan mengapa jantung Anda masih berdetak. Tetap di sini, jangan bergerak dari sudut ini sampai saya kembali."
Kenzi bergerak maju menuju pintu keluar belakang. Ia tahu Vero sedang menunggunya. Ini adalah kencan yang bukan kencan—ini adalah umpan yang disiapkan organisasi untuk menguji loyalitasnya. Jika Kenzi membiarkan Alana dalam bahaya, dia membuktikan dirinya masih mesin yang patuh. Jika dia melindunginya, dia secara resmi menjadi target eliminasi.
Di ujung lorong cermin, Vero berdiri bersandar pada dinding. "Kau terlambat, 097. Anomali emosionalmu benar-benar merusak jadwal."
"Pergi dari sini, Vero. Ini bukan zona eksekusimu," Kenzi menarik pistolnya dengan gerakan yang nyaris tak terlihat oleh mata manusia.
Vero tertawa. "Organisasi ingin tahu, siapa yang kau pilih? Masa lalumu yang penuh dendam, atau gadis kecil yang malang ini? Pilihlah dengan cepat, karena paket kiriman untuk kamar Alana sudah dalam perjalanan."
Kenzi membeku. *Paket di kamar.* Bom.
Mata Kenzi berkilat dengan intensitas mematikan. Logikanya akhirnya mengambil keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Ia tidak lagi peduli pada instruksi "Atas". Ia hanya peduli pada satu variabel yang kini berdiri ketakutan di balik cermin-cermin itu.
"Aku memilih pilihanku sendiri," ujar Kenzi dingin.
---