NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjahit Kembali Persaudaraan

Mentari sore yang mulai meredup memberikan bayangan panjang di selasar The Dendra Foundation. Ketegangan yang sebelumnya memuncak perlahan-lahan mendingin di bawah tatapan Isaac yang berwibawa dan kehadiran Luna yang menenangkan.

Luna melangkah maju, mengambil boneka matahari yang rusak itu dari tangan Isaac, lalu berlutut di antara Aira dan Ratih yang masih berdiri dengan jarak yang kaku.

"Aira, Ratih, mari ikut Kak Luna sebentar," ujar Luna dengan nada suara yang rendah namun memiliki ketegasan yang tidak dapat dibantah.

Ia membimbing kedua anak perempuan itu menuju meja kayu di teras belakang, menjauh dari kerumunan anak-anak lain yang masih mengamati dengan penuh rasa ingin tahu.

Luna mengeluarkan sebuah kotak jahitan kecil dari laci meja. Di dalamnya terdapat berbagai warna benang dan jarum yang tertata rapi.

Ia meletakkan boneka matahari itu di tengah meja. Lengan boneka itu memang terlepas, namun jahitannya tidak rusak parah—hanya membutuhkan sedikit ketelatenan untuk menyatukannya kembali.

"Lihatlah boneka ini," Luna memulai sembari memasukkan benang kuning ke lubang jarum dengan gerakan yang sangat tenang.

"Ia adalah simbol cahaya. Cahaya tidak akan berguna jika ia hanya disimpan untuk diri sendiri, Aira. Dan Ratih, cahaya tidak boleh direbut paksa, karena ia akan padam dalam genggaman yang kasar."

Aira menundukkan kepala, jemarinya memainkan ujung gaunnya yang sedikit kotor.

"Maafkan aku, Kak Luna. Aku hanya takut ia hilang seperti barang-barangku yang dulu."

Ratih pun turut melunakkan suaranya, matanya yang tadi menantang kini tampak berkaca-kaca.

"Aku juga minta maaf. Aku hanya merasa boneka ini sangat cantik, tidak ada yang seperti ini di pasar desa. Aku tidak bermaksud merusaknya."

Luna tersenyum tipis, lalu ia memberikan jarum dan benang itu kepada Ibu Sari yang baru saja mendekat untuk membantu.

Namun, sebelum Ibu Sari mulai menjahit, Luna memegang tangan Aira dan Ratih, menyatukan telapak tangan mereka di atas boneka tersebut.

"Kesalahan adalah bagian dari belajar menjadi manusia yang lebih baik," tegas Luna dengan bahasa yang tetap formal dan bermartabat.

"Sekarang, Kak Luna ingin kalian berdua membantu Ibu Sari. Aira, pegang bagian lengannya. Ratih, pegang badan bonekanya. Kalian harus bekerja sama agar boneka ini bisa utuh kembali."

Dengan pengawasan Ibu Sari, kedua anak itu mulai bekerja sama. Rasa canggung perlahan mencair saat mereka harus berkoordinasi agar jahitan Ibu Sari presisi.

Keheningan yang tadinya menyesakkan kini digantikan oleh bisikan-bisikan instruksi kecil di antara mereka.

"Pegang lebih kuat di sebelah sini, Ratih," bisik Aira pelan.

"Baiklah, Aira. Maafkan aku ya," jawab Ratih tulus.

Hanya butuh waktu sepuluh menit hingga boneka matahari itu kembali utuh, bahkan tampak lebih kokoh dari sebelumnya.

Ibu Sari memotong sisa benang dengan gunting kecil, lalu menyerahkan kembali boneka itu kepada Aira.

Namun, di luar dugaan, Aira tidak langsung memeluknya sendiri. Ia menyodorkan boneka itu kepada Ratih.

"Kau boleh memegangnya sebentar, Ratih. Tapi jangan ditarik lagi, ya?" ujar Aira dengan senyum malu-malu.

Ratih menerima boneka itu dengan rasa hormat yang baru.

"Terima kasih, Aira. Nanti kalau kau main ke rumahku, aku akan meminjamkan kalung manik-manik milikku padamu."

Isaac, yang mengamati dari kejauhan bersama Galih, mengangguk puas. Ia melihat bagaimana konflik tersebut justru menjadi katalis bagi hubungan yang lebih dewasa di antara anak-anak.

Isaac kemudian memberikan isyarat kepada anak-anak lain bahwa perselisihan telah usai.

"Permainan belum berakhir!" seru Isaac, memecah kesunyian di halaman.

"Siapa yang bisa membantu Pak Isaac merapikan alat-alat kebun sebelum gelap, akan mendapatkan kue bolu tambahan dari Ibu Sari!"

Seketika, tawa kembali pecah.

Aira dan Ratih, yang kini berjalan beriringan sembari bergantian memegang boneka matahari, kembali bergabung dengan teman-teman mereka.

Mereka berlari menuju lapangan, mengejar sisa-sisa cahaya matahari yang masih membekas di perbukitan.

Luna berdiri di samping Isaac, menatap punggung anak-anak yang kini bermain bersama tanpa ada lagi garis pemisah antara "panti" dan "desa".

Jembatan persaudaraan yang sempat retak itu kini telah direkatkan kembali dengan benang kasih sayang dan pengertian yang lebih kuat.

---

Malam mulai merayap naik, menyelimuti perbukitan dengan jubah hitam yang ditaburi kerlip bintang.

Cahaya lampu temaram dari selasar The Dendra Foundation memberikan rona keemasan pada halaman yang kini mulai tenang.

Sebagai penutup hari yang penuh dengan dinamika emosional tersebut, Luna dan Isaac memutuskan untuk mengadakan jamuan makan malam bersama di halaman terbuka, menyatukan seluruh penghuni panti dan warga desa dalam satu meja panjang yang melambangkan kesetaraan.

Ibu Sari, dibantu oleh beberapa ibu warga desa, telah menyulap hasil kebun panti asuhan menjadi hidangan yang menggugah selera.

Di atas meja kayu panjang yang disusun berderet, tersaji nasi hangat, sayur lodeh segar dari hasil panen perdana, dan ikan bakar yang aromanya memenuhi udara malam.

"Malam ini, kita tidak hanya makan untuk mengenyangkan perut," ujar Isaac sembari berdiri di ujung meja, memberikan sambutan pembukaan dengan nada suara yang penuh wibawa namun merangkul.

"Kita makan untuk merayakan sebuah ikatan baru. Di bawah naungan langit yang sama, kita semua adalah satu keluarga besar."

Luna duduk di sisi lain meja, diapit oleh Aira dan Ratih.

Ia melihat kedua anak perempuan itu kini berbagi piring kecil berisi camilan, seolah perselisihan hebat beberapa jam yang lalu hanyalah mimpi buruk yang telah sirna.

Pemandangan itu memberikan ketenangan batin bagi Luna; ia menyadari bahwa kejujuran dalam meminta maaf adalah fondasi terkuat dalam sebuah hubungan manusiawi.

"Cobalah apem ini, Ratih. Kak Luna yang memilihkan warnanya," bisik Aira sembari menyodorkan potongan kue kepada teman barunya itu.

Ratih menerimanya dengan binar mata yang ceria.

"Terima kasih, Aira. Ini sangat enak, hampir seenak buatan ibuku."

Di sudut meja yang lain, anak-anak laki-laki seperti Bumi, Dito, dan Jaka tampak asyik berdiskusi tentang rencana mereka untuk membangun rumah pohon di salah satu dahan besar pohon beringin tua.

Isaac sesekali menimpali pembicaraan mereka dengan saran-saran teknis, membuat anak-anak itu merasa bahwa ide-ide mereka dihargai dan dianggap serius.

Galih, mewakili warga desa, berdiri untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.

"Nyonya Luna, Tuan Isaac, hari ini kami belajar banyak hal. Kami datang untuk memberi, namun sepertinya kami pulang dengan membawa lebih banyak pelajaran tentang arti kerendahan hati dan kedamaian. Desa ini akan selalu menjadi pelindung bagi panti asuhan ini."

Acara makan malam itu diakhiri dengan sebuah tradisi kecil yang diusulkan oleh Kakek Arka.

Setiap orang diminta untuk memegang sebuah lentera kecil yang terbuat dari kertas.

Satu per satu, lentera-lentera itu dinyalakan, menciptakan barisan cahaya yang indah di tengah kegelapan malam perbukitan.

"Cahaya ini adalah harapan kita," ucap Luna dengan suara yang jernih namun lembut.

"Biarlah ia terus menyala di hati kalian masing-masing, sebagai pengingat bahwa tidak ada kegelapan yang terlalu pekat jika kita saling menggenggam tangan."

Saat rombongan warga desa akhirnya berpamitan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing, suasana perpisahan itu terasa jauh lebih hangat dibandingkan saat kedatangan mereka di pagi hari.

Ada pelukan singkat di antara para ibu, jabat tangan erat di antara para pria, dan lambaian tangan yang tak kunjung berhenti dari anak-anak.

Luna dan Isaac berdiri di depan gerbang utama, menatap cahaya obor warga yang perlahan menjauh menuruni bukit.

Keheningan kembali menyelimuti The Dendra Foundation, namun kali ini keheningan itu terasa begitu bermakna—sebuah kesunyian yang membawa kedamaian setelah badai kecil yang berhasil dilewati.

"Hari yang luar biasa, bukan?" bisik Isaac sembari merangkul pundak Luna.

"Sangat luar biasa, Isaac. Aku merasa Ayah sedang tersenyum sekarang. Kita tidak hanya membangun rumah untuk anak yatim, kita membangun sebuah rumah untuk kemanusiaan," jawab Luna tulus.

Malam itu, seluruh penghuni panti tidur dengan hati yang ringan.

Aira memeluk boneka mataharinya yang telah utuh kembali, memimpikan permainan baru esok hari.

Sementara Luna dan Isaac bersiap menghadapi babak baru dalam perjalanan panjang mereka membangun masa depan bagi jiwa-jiwa yang mereka cintai.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!