NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Konferensi Pers yang Meledak

Kebenaran mulai terungkap di bawah sorotan lampu kilat kamera dan tekanan publik.

​Dua hari yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Iklan jam tangan mewah tersebut selesai dengan hasil yang melampaui ekspektasi. Visualnya begitu magis—setiap frame seolah bernapas. Namun, kesuksesan itu belum lengkap tanpa menghadapi "pengadilan" publik yang sudah menunggu di lobi utama agensi.

​Pukul sepuluh pagi, ruangan konferensi pers sudah penuh sesak oleh wartawan. Arlan berdiri di balik pintu kayu besar, merapikan dasinya dengan tangan yang sedikit kaku. Adelia berdiri di sampingnya, mengenakan blazer formal yang membuatnya tampak dewasa dan berwibawa.

​"Kamu siap?" bisik Arlan.

​Adelia menggenggam tangan Arlan singkat. "Selama kita tidak berbohong, tidak ada yang perlu ditakutkan."

​Begitu mereka masuk, suara jepretan kamera menyambar seperti petir. Arlan duduk di tengah meja panjang, dengan Adelia di sisi kirinya. Di sudut ruangan, Adelia menangkap sosok Ayah Arlan, sedang berdiri bersedekap dengan senyum sinis yang tak kunjung hilang. Pria itu menanti kehancuran anaknya.

​"Pak Arlan, bagaimana Anda menanggapi foto-foto yang beredar?" tanya seorang wartawan dari barisan depan tanpa basa-basi. "Apakah benar Anda menyalahgunakan posisi untuk menjalin hubungan dengan bawahan Anda?"

​Arlan menatap lensa kamera di depannya dengan tajam. Suaranya tenang, namun berwibawa. "Foto-foto itu benar adanya. Saya dan Adelia memang memiliki hubungan spesial."

​Gumam terkejut memenuhi ruangan. Arlan tidak menghindar. Ia justru melanjutkan dengan lebih berani.

​"Namun, tuduhan bahwa hubungan ini mengganggu profesionalisme atau merupakan bentuk nepotisme adalah penghinaan terhadap kerja keras seluruh tim. Iklan yang Anda lihat di layar tadi adalah buktinya. Itu adalah hasil kerja Adelia yang menyelamatkan data dari sabotase, dan hasil arahan saya yang tidak terpengaruh oleh urusan pribadi."

​"Sabotase? Apa maksud Anda?" wartawan lain menyambar.

​Adelia mengambil alih mikrofon. "Kami memiliki bukti rekaman suara bahwa ada upaya sengaja untuk merusak produksi kami dari pihak internal yang bekerja sama dengan pihak luar yang ingin menjatuhkan karier Pak Arlan."

​Suasana semakin memanas. Di tengah kericuhan pertanyaan, Ayah Arlan tiba-tiba berdiri. "Jangan dengarkan omong kosong mereka! Arlan hanya mencoba melindungi asistennya yang licik ini!"

​Arlan berdiri, matanya bertemu langsung dengan mata ayahnya. "Cukup, Pa. Aku tahu Papa yang membayar Reihan Malik. Aku tahu Papa yang memasang kamera rahasia di studioku sendiri. Papa ingin aku gagal agar aku kembali merangkak ke perusahaan Papa."

​Hening seketika. Skandal romansa itu mendadak berubah menjadi drama keluarga kelas atas yang jauh lebih menarik.

​"Dan untuk membuktikannya," lanjut Arlan sambil mengeluarkan sebuah flash drive. "Ini adalah data transaksi keuangan dari rekening perusahaan Papa kepada agen rahasia dan Reihan Malik. Saya tidak akan ragu untuk melaporkan ini ke pihak berwajib atas tuduhan sabotase industri."

​Wajah Ayah Arlan berubah pucat pasi. Ia tidak menyangka Arlan akan senekat itu membongkar aib keluarga di depan kamera nasional. Tanpa sepatah kata pun, pria tua itu berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru, dikejar oleh kerumunan wartawan.

​Arlan kembali duduk, ia menghela napas panjang seolah beban seribu ton baru saja terangkat dari bahunya. Ia menoleh ke arah Adelia dan, di depan semua kamera yang masih menyala, ia meraih tangan Adelia dan mencium punggung tangannya dengan lembut.

​"Adelia bukan sekadar asisten saya," ujar Arlan ke arah mikrofon. "Dia adalah orang yang mengajari saya bahwa kesempurnaan sejati tidak ditemukan di layar monitor, melainkan pada keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Saya akan mundur sebagai sutradara di agensi ini untuk memulai studio independen saya sendiri. Dan Adelia adalah mitra pertama yang akan saya ajak."

​Sorak-sorai dan kilatan kamera kembali memenuhi ruangan, namun kali ini bukan dengan nada menghujat. Adelia merasakan matanya memanas. Di balik semua caci maki, kopi 80 derajat, dan ledakan amarah, mereka akhirnya sampai pada titik di mana layar itu tidak lagi menyembunyikan apa pun.

​Saat mereka keluar dari gedung agensi, matahari Jakarta menyambut mereka dengan hangat. Arlan melepaskan blazer hitamnya dan merangkul bahu Adelia.

​"Jadi," gumam Arlan sambil berjalan menuju parkiran. "Bagaimana rasanya menjadi mitra dari sutradara paling pemarah di Jakarta?"

​Adelia tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Melelahkan. Tapi saya rasa, saya bisa membiasakan diri... asalkan kopinya tetap saya yang buat."

​Arlan tersenyum, senyum tulus yang kini menjadi milik Adelia seutuhnya. Di balik layar kehidupan yang penuh kepalsuan, mereka akhirnya menemukan naskah mereka sendiri—sebuah cerita cinta yang tidak lagi perlu disembunyikan.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!