Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Hal Kecil Yang Tak Lagi Diabaikan
Pagi berikutnya datang tanpa perbedaan yang mencolok.
Tidak ada langit yang lebih cerah. Tidak ada perasaan baru yang tiba-tiba muncul. Tidak ada tanda bahwa hidup Senja akan berubah drastis hanya karena ia jujur semalam.
Ia tetap bangun dengan mata berat.
Tetap menatap langit-langit kamar cukup lama sebelum akhirnya duduk.
Tetap merasa tubuhnya seperti ditarik ke bawah oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Namun ada satu hal kecil yang berbeda.
Ia tidak lagi langsung mengambil ponsel untuk menghindari pikirannya sendiri.
Ia hanya duduk. Diam. Mendengarkan napasnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu kabur dari kepalanya sendiri.
Di meja makan, ibunya sudah menyiapkan sarapan. Nasi goreng sederhana, telur ceplok, dan teh hangat yang masih mengepul pelan.
Biasanya Senja akan makan cepat. Hampir seperti sedang dikejar sesuatu.
Hari ini, ia duduk lebih lama.
“Kamu ada kelas hari ini?” tanya ibunya sambil menuang teh.
“Ada. Jam sepuluh,” jawab Senja.
Ibunya mengangguk, lalu ragu sejenak sebelum bicara lagi.
“Kalau kamu capek, kamu boleh istirahat. Tapi jangan sampai kamu menghilang lagi.”
Senja terdiam. Ia tahu ibunya tidak sedang memarahinya.
Nada itu bukan marah. Lebih seperti takut.
“Aku nggak mau kabur lagi,” kata Senja akhirnya. Pelan.
Bahkan ia sendiri tidak yakin pada kalimat itu. Tapi ia tetap mengucapkannya.
Ibunya tersenyum tipis. “Nggak apa-apa kalau kamu jalan pelan. Yang penting kamu masih jalan.”
Di kampus, dunia tetap berjalan seperti biasa.
Mahasiswa tertawa, mengeluh soal tugas, sibuk dengan hidup masing-masing.
Senja berjalan melewati lorong fakultas dengan perasaan aneh.
Tidak sepenuhnya sedih. Tidak juga ringan.
Lebih seperti… hadir.
Nara melambai dari jauh. “Eh, kamu hidup.”
“Sayangnya iya,” jawab Senja refleks sambil setengah tertawa.
Tapi Nara tidak ikut tertawa.
Ia menatap Senja beberapa detik terlalu lama.
“Jangan ngomong gitu.”
Senja terkejut sendiri. “Maksudku bercanda.”
“Iya, aku tau. Tapi akhir-akhir ini kamu sering ngomong gitu. Kayak… kamu sendiri nggak yakin kamu pengen ada.”
Kalimat itu membuat Senja terdiam.
Biasanya orang-orang tidak menangkap nada di balik candanya. Nara menangkap.
Mereka duduk di tangga gedung fakultas. Angin sore berhembus pelan.
“Aku lagi belajar jujur sama diri sendiri,” kata Senja akhirnya.
“Dan ternyata… aku lebih sering bohong dari yang aku kira.”
Nara tersenyum kecil. “Itu fase yang nyebelin.”
“Kenapa?”
“Karena sebelum jujur, kita bisa pura-pura baik-baik aja. Setelah jujur, kita sadar kita berantakan.”
Senja tertawa pelan. “Berarti aku lagi di fase berantakan.”
“Selamat datang. Kita banyak di sini.”
Untuk pertama kalinya, Senja tidak merasa sendirian di dalam perasaan itu.
Sore hari, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Kay.
“Kamu oke hari ini?”
Senja menatap layar beberapa detik sebelum membalas.
“Capek. Tapi sadar.”
Balasan Kay datang cepat.
“Itu kemajuan.”
Senja mengetik lagi.
“Aku masih kosong.”
“Kosong tapi sadar itu kosong, atau kosong tapi pura-pura penuh?”
Jarinya berhenti di layar.
Ia membaca ulang pertanyaan itu beberapa kali.
“Yang pertama.”
Kay membalas:
“Berarti kamu lagi bangun. Bukan mati.”
Kalimat itu tidak terdengar indah.
Tidak terdengar romantis.
Tapi entah kenapa, Senja merasa kalimat itu lebih jujur dari semua kata motivasi yang pernah ia dengar.
Malamnya, Senja duduk di kamarnya dengan lampu redup.
Hujan turun tipis di luar jendela. Tidak deras. Tidak dramatis.
Ia membuka catatan di ponselnya, menambahkan satu kalimat baru:
“Aku belum sembuh.
Aku belum bahagia.
Tapi aku mulai memperhatikan diriku sendiri.
Dan mungkin itu langkah pertama yang selama ini aku hindari.”
Ia membaca ulang tulisannya.
Tidak ada janji besar. Tidak ada target muluk.
Hanya pengakuan kecil.
Dan untuk pertama kalinya, pengakuan itu tidak membuatnya takut.
Senja menyadari sesuatu yang sederhana tapi penting:
Ia tidak perlu langsung menjadi versi terbaik dari dirinya.
Ia hanya perlu berhenti meninggalkan dirinya sendiri.
Besok mungkin ia masih capek.
Minggu depan mungkin ia masih kosong.
Bulan depan mungkin ia masih bingung.
Tapi malam ini, setidaknya,
ia masih mau duduk dengan pikirannya sendiri.
Masih mau mendengar isi kepalanya.
Masih mau mengakui bahwa perasaannya ada — meskipun tidak rapi, tidak jelas, tidak indah.
Dan untuk Senja,
yang selama ini hidup dengan cara menghindar,
itu bukan hal kecil.
Itu mungkin awal dari sesuatu
yang selama ini ia takuti:
hidup dengan sadar.