NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir / CEO / Ruang Ajaib
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Ancaman dari Sepupu

Selasa pagi, Suyin bangun dengan perasaan segar meski tidur hanya lima jam. Efek minum air ajaib setiap hari membuat tubuhnya selalu berenergi.

Setelah rutinitas pagi—sholat, mandi, sarapan—Suyin masuk ke ruang dimensi untuk panen beberapa sayuran yang sudah siap. Hari ini dia harus penuhi pesanan teman-teman kantor.

WUSH!

Di dalam ruang dimensi, beberapa bedengan tomat cherry sudah mulai berbuah. Buah-buah kecil berwarna merah cerah menggantung manis di setiap batang. Suyin memetik sekitar tiga kilogram untuk pesanan hari ini.

Selain itu, ada kangkung dan bayam yang sudah bisa dipanen lagi. Total dia bawa keluar sekitar sepuluh kilogram sayuran berbagai jenis.

Sebelum keluar, Suyin menyempatkan diri menyentuh Pohon Kehidupan.

"Selamat pagi," sapanya—merasa sedikit aneh bicara sama pohon, tapi sudah mulai terbiasa.

Suara lembut menjawab di kepalanya. "Selamat pagi, Pemilik Ruang. Tanaman tumbuh dengan baik. Kamu merawatnya dengan penuh kasih sayang."

Suyin tersenyum. "Terima kasih. Aku akan terus berusaha."

"Oh ya, ada yang perlu kusampaikan. Aku merasakan ada energi asing yang mencoba melacak gelang giokmu."

Senyum Suyin langsung hilang. "Energi asing? Dari siapa?"

"Tidak jelas. Tapi seseorang sedang mencoba mencari tahu lebih banyak tentang gelang ini. Kemungkinan menggunakan metode spiritual atau kultivator. Hati-hati."

Jantung Suyin berdebar. Meifeng? Atau Xiao Zhen?

"Aku akan lebih waspada. Terima kasih sudah kasih tahu."

Suyin keluar dari ruang dimensi dengan perasaan was-was. Dia harus lebih hati-hati mulai sekarang.

Di kantor, Suyin membawa totebag besar berisi paket-paket sayuran untuk teman-temannya. Saat istirahat siang, dia bagikan satu per satu.

Mira, Dina, Rika, bahkan beberapa orang dari divisi lain—semua antusias menerima pesanan mereka.

"Suyin, tomat cherry-nya lucu banget! Anak-anak pasti suka!" seru Mira sambil memeriksa paketnya.

"Iya, sengaja aku tanam yang mini biar lebih menarik," jawab Suyin sambil tersenyum.

"Omong-omong, kamu benar-benar serius ya dengan bisnis sayuran ini?" tanya Dina penasaran. "Sepertinya laku keras."

Suyin mengangguk. "Lumayan. Sudah ada beberapa pelanggan tetap."

"Keren! Jangan lupa kita kalau kamu sudah terkenal ya!" goda Rika.

Mereka tertawa bersama. Suyin senang punya teman-teman yang mendukung bisnisnya.

Sore hari setelah pulang kantor, Suyin baru sampai di apartemen ketika dia melihat seseorang berdiri di depan pintunya.

Meifeng.

Sepupunya itu mengenakan dress mahal, tas bermerek di lengan, makeup sempurna—seperti biasa. Tapi ekspresi wajahnya... dingin.

"Kak Meifeng? Kenapa ke sini?" tanya Suyin waspada.

"Kita perlu bicara. Sekarang." Nada suara Meifeng datar, tidak ada keramahan palsu seperti biasanya.

Suyin membuka pintu apartemen dengan perasaan tidak enak. Mereka masuk, dan Meifeng langsung duduk di sofa tanpa dipersilakan.

"Ada apa, Kak?" Suyin berdiri di dekat pintu, tidak mau terlalu dekat.

Meifeng menatapnya tajam. "Aku sudah cari tahu lebih banyak tentang gelang giok itu. Dan kamu tahu apa yang aku temukan?"

Suyin diam, jantung berdebar keras.

"Gelang itu bukan cuma giok antik biasa. Itu adalah artefak pusaka keluarga Lin yang hilang ratusan tahun lalu. Menurut catatan keluarga—yang aku gali dari arsip lama Paman Lin—gelang itu punya kekuatan khusus." Meifeng berdiri, melangkah mendekat. "Dan nenek memberikannya pada KAMU. Kenapa? Kenapa bukan pada aku yang cucu kandungnya?"

Suyin mundur selangkah. "Aku tidak tahu, Kak. Nenek yang memutuskan."

"BOHONG!" bentak Meifeng, suaranya meninggi. "Kamu pasti tahu sesuatu! Kamu pasti pakai gelang itu untuk sesuatu! Bagaimana bisa kamu tiba-tiba punya bisnis sayuran yang sukses? Bagaimana bisa sayuranmu semua sempurna tanpa cacat? Itu karena gelang itu, kan?!"

Suyin berusaha tetap tenang meski tubuhnya gemetar. "Kak Meifeng, aku tidak tahu apa yang Kakak bicarakan. Ini cuma gelang biasa—"

"JANGAN BOHONG PADAKU!" Meifeng tiba-tiba meraih tangan Suyin, mencoba melepas gelang giok dengan paksa.

"LEPAS!" Suyin memberontak, menarik tangannya kuat-kuat.

Tapi Meifeng lebih kuat—atau mungkin lebih putus asa. Dia menarik gelang dengan kasar, sampai kulit pergelangan tangan Suyin lecet.

"AKU YANG HARUSNYA DAPAT INI! AKU CUCU KANDUNG NENEK! BUKAN KAMU!" teriak Meifeng frustasi.

Tiba-tiba, gelang giok bersinar terang—cahaya hijau menyilaukan memenuhi ruangan.

Meifeng terlempar mundur, terjatuh ke lantai dengan keras.

"AAHHH!" jeritnya kesakitan.

Suyin berdiri terpaku, menatap gelang di tangannya yang masih bersinar. Perlahan cahaya meredup.

Meifeng duduk di lantai, menatap Suyin dengan mata penuh ketakutan... dan kebencian.

"Kamu... kamu benar-benar terhubung dengan gelang itu," bisiknya, suara gemetar. "Nenek memang memilihmu. Tapi kenapa? APA YANG KAMU PUNYA YANG AKU TIDAK PUNYA?!"

Suyin merasa kasihan melihat sepupunya—tapi juga marah. "Kak, aku tidak minta gelang ini. Nenek yang memberikannya. Dan aku akan hormati keputusan nenek. Kakak harus terima itu."

"Terima?!" Meifeng tertawa pahit sambil berdiri. "Kamu tahu berapa banyak waktu yang aku habiskan untuk membuat nenek senang? Berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk belikan hadiah? Dan nenek tetap lebih sayang kamu—anak angkat yang bahkan bukan darah Lin!"

Kata-kata itu menusuk. Tapi Suyin tetap berdiri tegak.

"Mungkin karena aku menemani nenek dengan tulus, bukan karena mengharapkan warisan," ucap Suyin pelan tapi tegas.

Wajah Meifeng memerah. Dia meraih tasnya, berdiri dengan gemetar—entah karena marah atau sakit setelah terlempar tadi.

"Baiklah. Kalau kamu tidak mau baik-baik, aku akan pakai cara lain." Meifeng berjalan ke pintu, lalu berbalik. "Aku punya koneksi, Suyin. Orang-orang yang tertarik dengan artefak seperti itu. Mereka tidak akan seramah aku."

"Itu ancaman?" tanya Suyin, berusaha terdengar berani meski sebenarnya takut.

"Itu peringatan." Meifeng membuka pintu. "Berikan gelang itu padaku secara sukarela, atau kamu akan menyesal."

Pintu dibanting keras.

Suyin berdiri sendirian di apartemen yang sekarang terasa dingin dan menakutkan. Tangannya gemetar, napasnya pendek-pendek.

Dia merosot ke lantai, memeluk lutut.

"Nenek... kenapa ini jadi rumit?" bisiknya dengan suara serak.

Gelang giok di tangannya terasa hangat—seperti mencoba menenangkannya.

Suyin mengusap air mata yang mulai jatuh. Dia tidak akan menyerah. Tidak akan membiarkan Meifeng atau siapapun merebut gelang ini.

Tapi ancaman sepupunya tadi... terdengar serius.

Malam itu, Suyin tidak bisa tidur. Dia masuk ke ruang dimensi untuk menenangkan pikiran.

WUSH!

Udara segar ruang dimensi langsung menenangkan. Suyin berjalan ke Pohon Kehidupan dan menyentuh batangnya.

"Aku butuh bicara," ucapnya pelan.

Suara lembut menjawab. "Aku tahu. Aku merasakan ketakutanmu. Apa yang terjadi?"

Suyin menceritakan semuanya—Meifeng yang datang, usaha merebut gelang, ancaman di akhir.

"Dia berbahaya," suara pohon terdengar serius. "Dia sudah dibutakan oleh keserakahan. Orang seperti itu bisa melakukan apapun."

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Pertama, jangan pernah lepaskan gelang—bahkan saat tidur atau mandi. Kedua, tingkatkan kewaspadaanmu. Pasang keamanan tambahan di apartemen jika perlu. Ketiga..." Pohon berhenti sejenak. "...bersiaplah untuk kemungkinan terburuk. Mungkin kamu harus pindah jika situasi semakin berbahaya."

Pindah? Meninggalkan apartemen yang sudah jadi rumah selama lima tahun?

"Aku tidak mau lari," ucap Suyin keras kepala.

"Bukan lari. Tapi strategi bertahan hidup. Tidak ada gunanya bertahan jika kamu terluka atau lebih buruk lagi."

Suyin menghela napas panjang. Pohon Kehidupan benar.

"Baiklah. Aku akan lebih hati-hati."

"Bagus. Dan satu lagi—tentang orang bernama Xiao Zhen yang akan kamu temui besok..."

"Ya?"

"Aku sarankan kamu jujur padanya. Sebagian, setidaknya. Dia mungkin bisa membantumu."

"Jujur?! Tapi kamu bilang dia kultivator! Bagaimana kalau dia juga mau merebut gelang?"

"Intuisiku mengatakan dia berbeda. Energinya... tidak berbahaya. Malah terasa... protektif."

Suyin bingung. Protektif? Terhadap siapa? Dia bahkan baru ketemu Xiao Zhen sekali!

"Aku akan pikirkan," ucapnya akhirnya.

Suyin menghabiskan beberapa jam—waktu dimensi—untuk menyiram tanaman, memetik beberapa sayuran yang sudah siap, dan hanya duduk menikmati kedamaian di sini.

Di ruang dimensi, tidak ada Meifeng, tidak ada ancaman, tidak ada ketakutan.

Hanya dia, tanaman-tanamannya, dan ketenangan.

Sebelum keluar, Suyin berbicara lagi pada Pohon Kehidupan.

"Terima kasih sudah selalu ada untukku."

"Aku adalah bagian darimu, Pemilik Ruang. Selama kamu hidup, aku akan selalu di sini."

Kata-kata itu entah kenapa sangat melegakan.

Suyin keluar dari ruang dimensi dengan perasaan sedikit lebih tenang.

Kembali di apartemen, dia langsung periksa pintu dan jendela—memastikan semua terkunci rapat. Bahkan dia dorong lemari kecil untuk menghalangi pintu depan—berjaga-jaga kalau Meifeng balik lagi.

Sebelum tidur, Suyin menatap gelang giok di tangannya.

"Nenek, aku janji akan jaga gelang ini. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan mengecewakan kepercayaanmu."

Gelang bersinar lembut—seperti nenek sedang tersenyum dari surga.

Dan Suyin tertidur dengan gelang digenggam erat—siap menghadapi apapun yang akan datang besok.

Rabu pagi tiba lebih cepat dari yang diharapkan.

Suyin bangun dengan mata sedikit bengkak—efek menangis semalam. Tapi dia cuci muka dengan air dingin, makeup sedikit untuk samarkan mata merah, lalu siapkan diri untuk hari yang panjang.

Hari ini dia harus ke kantor pagi, lalu siang meeting dengan Xiao Zhen di gedung perusahaannya.

Meeting dengan pria misterius yang—menurut Pohon Kehidupan—mungkin bisa membantunya.

Atau mungkin juga jadi ancaman baru.

Suyin menarik napas dalam.

"Apapun yang terjadi, aku harus tetap kuat."

Dia menatap pantulannya di cermin—wanita dua puluh delapan tahun dengan gelang giok di tangan, mata penuh tekad, dan hati yang masih rapuh tapi berusaha tegar.

"Ayo, Suyin. Kamu bisa."

Dan dia keluar dari apartemen—menuju hari yang mungkin akan mengubah segalanya.

1
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi Oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!