Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam menggantung pekat di langit kontrakan kecil itu. Lampu bohlam redup yang menggantung di tengah ruang tamu berpendar lemah, memantulkan bayangan-bayangan samar di dinding yang mulai mengelupas. Angin malam menyusup lewat celah-celah jendela kayu, membawa aroma tanah basah yang baru diguyur hujan.
Kayla terbaring miring di atas kasur tipisnya. Selimut lusuh menutupi tubuhnya sampai ke dada, tetapi matanya tetap terbuka lebar, menatap langit-langit yang retak-retak.
Detik jam dinding terdengar begitu jelas. Setiap detak seperti palu kecil yang memukul kepalanya. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya ribut seperti badai yang saling bertabrakan tanpa jeda.
Di sampingnya, Nayla tertidur pulas, memeluk boneka kain yang sudah usang. Di ruang tengah, Fattah dan Fattan juga terlelap berpelukan di atas kasur busa tipis. Setiap kali Kayla memikirkan mereka, dadanya sesak.
“Apa aku harus berhenti?” batinnya bergejolak.
Jika Kayla berhenti dari rumah Pak Ramlan, belum tentu ada pekerjaan lain yang mau menerimanya. Ijazah SMP saja nyaris tidak berarti apa-apa di dunia kerja. Akan tetapi, jika dia bertahan ... jika dia tetap bekerja di sana, maka dia akan terus bertemu dengan Dalfa.
Nama itu saja sudah membuat dadanya nyeri. Kayla memejamkan mata, berharap ingatan itu pergi. Namun, justru sebaliknya malam membawa dirinya kembali, menyeretnya ke masa lalu yang ingin dia kubur selamanya.
***
Enam tahun lalu....
Malam itu hujan turun tipis, membasahi aspal di depan restoran tempat Kayla bekerja. Lampu-lampu kota berpendar kuning, memantul di genangan air. Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam, jauh lebih larut dari biasanya jadwal pulang.
Kayla melangkah keluar restoran dengan tubuh lelah. Rambutnya diikat sederhana, celemeknya sudah dilepas, tetapi aroma dapur masih melekat di bajunya.
Reuni besar di restoran itu membuat semua karyawan lembur. Piring bertumpuk, gelas berjejer, tawa riuh para tamu bergema sepanjang malam.
Awalnya Kayla senang. “Lumayan… uang lembur bisa buat beli susu Nayla dan beras lebih banyak,” pikirnya saat itu.
Namun, kebahagiaan itu menguap begitu dia melangkah ke trotoar gelap di samping restoran. Jalanan sepi. Hanya lampu jalan yang berkedip-kedip, seolah hampir mati.
Tiba-tiba—
“Aaaa! Tolong, lepaskan aku!”
Sebuah tangan kuat menarik lengannya dengan kasar, menyeretnya ke gang sempit yang gelap dan lembap. Bau alkohol dan rokok menyergap indra penciumannya.
Kayla terhuyung, hampir terjatuh. “Mas, apa yang kamu lakukan?! Lepaskan aku!” teriaknya panik, mencoba melepaskan diri.
Wajah pria itu mendekat. Mata merah, napas berbau minuman keras, langkahnya tidak stabil, tetapi tenaganya menakutkan.
Kayla mengenali wajah itu. Dalfa adalah salah satu tamu reuni yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan yang membuatnya tidak nyaman.
“Diam!” bentak Dalfa, suaranya berat dan serak.
Kayla meronta, memukul dadanya, mencakar tangannya, tetapi tubuh mungilnya kalah jauh dari kekuatan pria itu.
“Tolong …! Tolong …! hmp—”
Bibir Kayla tiba-tiba dibungkam oleh ciuman kasar. Bukan ciuman, itu lebih mirip serangan. Ciuman itu liar, memaksa, menyakiti.
Kayla terbelalak. Tubuhnya membeku, pikirannya kosong. Dunia seolah berhenti berputar. Ia menjerit dalam hati.
Dalfa semakin brutal. Tangannya menjelajah tanpa izin, menarik pakaiannya, menghempaskannya ke dinding dingin gang itu.
Kayla menangis, menjerit, memohon. Namun, setiap kali ia berteriak, Dalfa membungkam mulutnya dengan ciuman yang semakin kasar. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya.
Malam itu berubah menjadi mimpi terburuk dalam hidup Kayla. Kesuciannya direnggut paksa di usia enam belas tahun.
Seharusnya masa remaja diisi tawa, mimpi, dan harapan. Akan tetapi bagi Kayla, malam itu hanya menghadirkan kesedihan, kehinaan, dan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
“Rupanya kamu masih perawan,” bisik Dalfa di dekat wajahnya, suaranya sarat kepuasan.
Kayla menjerit dalam diam. Raganya hancur. Jiwanya terkoyak. Ia merasa dunia runtuh di atas kepalanya.
Entah berapa lama semua itu berlangsung. Bagi Kayla, rasanya seperti sangat lama. Dia merasa dunia begitu kejam, tanpa belas kasihan.
Ketika akhirnya Dalfa puas, ia berdiri, merapikan pakaiannya seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara, Kayla jatuh terduduk di aspal kotor, tubuhnya gemetar, rambutnya acak-acakan, air mata mengalir tanpa henti.
Dalfa mengeluarkan dompetnya. Uang kertas berhamburan jatuh di kaki Kayla.
“Beli obat pencegah kehamilan!” ucapnya dingin.
“Kamu tidak ingin hamil, kan?”
Tidak ada maaf. Tidak ada penyesalan. Tidak ada belas kasihan. Dalfa pergi begitu saja, langkahnya mantap, meninggalkan Kayla seorang diri di gang gelap itu.
Kayla terisak, menangis tergugu. Ia merasa kotor. Jijik pada dirinya sendiri.
Dengan tubuh terhuyung dan langkah terseok-seok, ia berjalan pulang. Setiap langkah terasa seperti pisau yang menusuk kakinya.
Saat melewati sebuah jembatan, Kayla berhenti. Air sungai di bawah mengalir gelap dan deras.
Kayla menatapnya lama. Ada dorongan kuat untuk melompat, mengakhiri semuanya.
Tangannya gemetar saat Kayla memanjat pagar pembatas. Namun, tepat sebelum tubuhnya condong ke depan, wajah Fattah, Fattan, dan Nayla terbayang jelas. Tawa ketiga adiknya. Tangisan mereka saat lapar. Pelukan kecil mereka saat ketakutan.
Kayla tersentak. Tubuhnya melemas. Ia turun kembali, jatuh berlutut di trotoar, menangis tanpa suara. Akhirnya, ia pulang ke kontrakan kecil yang kumuh itu.
Adik-adiknya tidak ada di rumah, mereka dititipkan di rumah pemilik kontrakan, seperti biasa saat Kayla bekerja.
Malam itu, Kayla duduk sendirian di lantai, memeluk lututnya, menatap dinding kosong. Tidak ada tempat mengadu. Tidak ada yang memeluknya. Tidak ada yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dunianya hancur, dan ia sendirian di tengah puing-puingnya.
Beberapa hari kemudian, takdir membawanya bertemu Mami Rose. Wanita paruh baya itu datang ke restoran bersama beberapa PSK yang bekerja untuknya. Mereka tertawa, berdandan mencolok, dan berbicara lantang.
Mata Mami Rose tertuju pada Kayla. Kecantikannya. Postur tubuhnya yang tinggi sekitar 165 cm dengan berat sekitar 49 kg. Tutur katanya yang halus. Cara Kayla berjalan yang anggun meski pakaiannya sederhana.
Setelah makan, Mami Rose memanggil Kayla secara pribadi. “Aku bisa bantu hidupmu lebih baik,” katanya dengan senyum tipis. “Bekerjalah di tempatku, maka kamu akan mendapatkan banyak uang.
Setelah tahu pekerjaan yang ditawarkan, Kayla menolak mentah-mentah. Kejadian malam itu membuatnya membenci pria dewasa yang mata keranjang. Membenci dunia prostitusi. Membenci segala hal yang mengingatkannya pada kehinaan itu.
Namun, hidup tidak memberinya pilihan yang mudah. Suatu malam, Nayla yang baru berusia satu setengah tahun, jatuh sakit parah. Demamnya tinggi, napasnya tersengal, tubuh mungilnya lemas. Dokter mengatakan Nayla harus dirawat di rumah sakit.
Kayla tidak punya uang. Di saat yang sama, Fattah dan Fattan terlihat semakin kurus. Tulang pipi mereka menonjol, rambut mereka kusam tanda gizi buruk dan kekurangan protein.
Kayla berdiri di lorong rumah sakit, menatap Nayla yang terbaring pucat di ranjang. Air matanya jatuh tanpa henti.
Di titik itu, ia merasa masa depannya sudah hancur. Tidak ada lagi yang bisa ia jaga selain nyawa adik-adiknya.
Dengan hati remuk, Kayla akhirnya menemui Mami Rose. Ia menerima uang dalam jumlah yang sangat besar baginya saat itu. Uang yang bisa menyelamatkan Nayla.
Uang yang bisa membayar rumah sakit. Uang yang bisa membuat mereka pindah ke kontrakan yang lebih layak. Namun, harga yang harus ia bayar adalah dirinya sendiri.
***
Kayla terbangun dari lamunan ketika Nayla bergeser dalam tidurnya, bergumam pelan. Air mata kembali mengalir di pipi Kayla. Ia menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar.
Malam itu, di bawah cahaya lampu redup, Kayla kembali merasa kecil, rapuh, dan ketakutan seperti gadis enam belas tahun di gang gelap itu.
Bayangan Dalfa kembali berdiri di depan matanya. Menghantui. Tak termaafkan. Tak akan pernah terlupakan.
up LG Thor