Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Untuk Nadira
Mardi langsung menyambar pergelangan tangan Nadira, dan menyeretnya keluar dari kamar.
Nadira meronta. "Lepas, Pa. Papa mau bawa aku ke mana?!"
"Mas! Mas Bima! Tolong aku!" teriaknya.
Bima bergeming, ia menatap dengan tatapan datar. "Itu hukuman yang tepat untuk kamu, Dira. Kamu harus memikirkan kesalahan kamu, dan minta maaf pada Nenek nanti!"
"Mas Bima!" Suara Nadira teredam pintu yang tertutup dengan kasar. Ia dikurung di sebuah gudang yang gelap dan kotor.
Duk-duk-duk.
"Buka pintunya. Mas Bima, kamu nggak bisa lakuin ini sama aku!" teriaknya.
"Sesulitnya hidupku dulu, Mas Arga nggak pernah memperlakukan aku semena-mena seperti ini," dumelnya lalu melayangkan kembali tendangan ke pintu.
Tubuh wanita itu merosot. Ia memeluk lutut, namun sorot matanya masih memancarkan kemarahan dan api dendam.
"Aku sudah sampai sejauh ini, bahkan meninggalkan anakku. Aku nggak mungkin pergi tanpa hasil!"
---
Pagi ini, Arga sudah berada di tempat kerjanya mengaduk semen dan pasir setelah mengantar Andini.
"Rumahnya udah hampir selesai sekarang. Tinggal pasang pintu dan jendela," kata Rini berdiri di belakang Arga dan menatap bangunan berlantai dua miliknya.
"Bidan Rini, kalo rumahnya udah jadi, terus rumah itu siapa yang isi?" tanya Ruslan yang tengah merapikan tembok. Ia berada di lantai atas.
"Mau saya kontrakin, Mas. Mas Ruslan mau ngontrak," tawar Rini bergurau.
"Meskipun rumah bidan Rini lebih bagus. Tapi rumah saya sudah yang paling nyaman. Selain itu, gratis," timpal Ruslan, ia menerima ember yang berisi adonan pasir dari Arga yang naik tangga.
"Hem... kalo ada yang nyari kontrakan, nanti suruh nemuin saya, Mas. Nanti saya kasih tips," ujar Rini sambil tertawa kecil.
"Mas Arga, setelah rumah ini selesai, udah dapat pekerjaan baru?" tanya Rini, dia duduk di sebuah kursi sambil memperhatikan dua pekerjanya.
"Belum ada," sahut Arga sambil mengusap keringat di kening.
"Kalo Mas Ruslan?"
"Udah ada. Disuruh bikin warung," jawab Ruslan.
Rini manggut-manggut. "Mas Arga kalo nggak ada kerja setelah ini, coba minta kerjaan ke Pak lurah. Katanya lagi nyari orang buat proyek pembangunan jalan di desa kita."
"Beneran, Rin?" tanya Arga, matanya langsung berbinar seolah menemukan berlian di tumpukan sampah.
"Coba aja. Saya juga tau dari grup puskesmas."
"Alhamdulilah. Kalo gitu, abis dari sini saya langsung temuin Pak kades. Semoga saja masih ada posisi buat saya," tutur Arga penuh antusiasme.
Rini hanya tersenyum tipis melihat semangat duda tampan beranak satu itu.
---
"Kita mau ke mana, Ayah?" tanya Andini yang berjalan mengekor di belakang ayahnya. Ia masih memakai seragam sekolah yang sudah berantakan.
"Ke rumah Pak kades. Tadi, Bu bidan bilang, lagi nyari pekerja buat bikin jalan," sahut Arga, ia menuntun putrinya.
"Oh. Jadi rumah Bu bidan udah mau selesai ya, Ayah? Nggak bisa sering ketemu Bu bidan lagi dong," celetuk Andini polos, bibirnya mengerucut kecewa.
Arga melirik putrinya sambil mengulum senyuman. "Seneng banget ketemu Bu bidan."
Andini mengangguk antusias. "Andini kangen Ibu, Ayah. Ketemu Bu bidan yang baik, Andini jadi ngerasa ibu masih sama Dini," jawabnya jujur.
Arga menghela napas panjang, lalu berjongkok di depan putrinya. "Dini, Bu bidan itu bukan Ibu kamu. Ayah bukan larang kamu deket dengan Bu bidan, Ayah cuma nggak mau nanti kamu kecewa. Dia bukan siapa-siapa kita, sayang." Ia berusaha memberi pengertian selembut mungkin.
Andini mengangguk dan langsung menunduk, merasa kecewa. "Dini ngerti, Ayah."
Arga pergi ke rumah kepala desa. Di sana, akhirnya dia mendapatkan pekerjaan baru, membangun jalan di desanya.
"Pembangunan dimulai bulan depan, ya. Kamu kalo ada temen yang butuh kerjaan, bisa diajak juga," pesan kepala desa.
Arga mengangguk mengerti. Ia juga merasa lega karena masih memiliki waktu menyelesaikan rumah Rini.
Mereka kembali ke rumah, dan melihat teman Andini, Sari duduk di teras rumah.
Andini segera berlari menghampiri. "Sari ada apa? Aku baru pulang dari rumah Bu bidan," sapanya.
Sari menyerahkan satu plastik bening berisi dua bungkusan. "Ini dari Ibu buat kamu dan ayah kamu, Dini."
"Apa itu?" tanya Andini melihat ke dalam.
"Ini Nasi. Nanti malam ada peringatan meninggalnya kakek aku, Din. Kasih tahu ayah kamu supaya datang, ya. Kamu juga ikut, biar dapat lagi," kekeh Sari sambil tersenyum lebar.
Andini tersenyum tak kalah lebar. "Kalo gitu, aku bakal ikut!" angguknya antusias.
Sari segera pamit pergi.
"Sari kasih apa?" tanya Arga, padahal dia sudah bisa menebak isi bungkusan itu.
Andini meriah tangan ayahnya. "Ayah, kata Sari nanti malam ada haolan di rumahnya. Kita datang biar dapet makanan, ya," ujar Andini dengan mata berbinar polos.
"Iya, kita akan pergi nanti malam," angguk Arga membuat Andini bersorak gembira.
Kembali ke dalam gudang yang terasa pengap. Nadira meremas perutnya yang keroncongan. Bukan hanya itu, sejak pagi dia bahkan tidak sempat buang air kecil dan cuci muka, apalagi makan.
"Mas. Mas Bima! Buka pintunya. Aku ingin ke kamar mandi. Aku juga lapar. Aku butuh makanan!"
Ia mengetuk-ngetuk pintu dengan keras, namun sama sekali tak ada tanda-tanda orang yang mendekat.
"Ih, masa aku buang air di sini, sih," dumelnya.
Namun, tak memiliki pilihan lain. Ia pergi ke pojok ruangan, di balik kardus-kardus yang berisi barang tak terpakai dia berjongkok dan buang air kecil.
Ia bisa bernafas lega untuk beberapa saat, sebelum rasa lapar kembali menyerang. "Kalo mereka nggak juga buka pintu. Biar aku rusak sekalian pintu gudang ini!"
Bersambung...