“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: IKATAN JIWA DAN TANDA KELUARGA
Udara sejuk di dalam rumah mewah Dimensi Independen menyambut kepulangan Rimba dengan kehangatan yang kontras dengan kekejaman gudang tua yang baru saja ia tinggalkan. Raungan knalpot motor besarnya memudar, digantikan oleh keheningan yang menenangkan. Rimba melangkah masuk ke ruang tamu, meletakkan ranselnya yang lusuh di atas meja kayu jati yang mengkilap.
Di sana, Lara sudah menunggu. Ia duduk dengan anggun, matanya yang jernih menatap Rimba yang nampak sedikit kuyu. "Dapat apa yang kamu cari di kota kabupaten?" tanya Lara lembut.
Rimba menghempaskan tubuhnya ke sofa, menghela napas panjang. "Ada yang dapat, ada yang tidak, Ra," jawabnya dengan nada suara yang agak lesu.
Lara sedikit memiringkan kepalanya. "Yang sudah dapat apa saja?"
"Kartu seluler untuk komunikasi, dan akun bank untuk urusan transaksi nanti," jawab Rimba. Ia kemudian menegakkan duduknya, sebuah kilat eksperimen muncul di matanya. "Oh ya, ada satu hal yang ingin aku uji."
Rimba mengeluarkan salah satu ponsel titanium futuristik pemberian Lara. Ia memejamkan mata sejenak, menggali ingatannya. Di antara semua orang di dunia luar, hanya nomor Emir—sahabat karibnya sejak kecil—yang ia hafal luar kepala. Dengan jemari lincah, ia menekan digit nomor tersebut.
Tut... tut...
"Halo, siapa ini?" terdengar suara berat dari seberang sana.
"Mir, ini aku, Rimba," ucap Rimba dengan senyum kecil.
"Hah? Rimba? Kamu ganti nomor? Kenapa nomor lamamu tidak bisa dihubungi?" cecar Emir di seberang sana.
"Iya, yang kemarin nomornya hangus. Jadi aku pakai nomor baru ini," jawab Rimba malas menerangkan kejadian perampokan dan kehancuran ponsel lamanya.
"Oh, syukurlah kalau kau baik-baik saja," jawab Emir singkat namun terdengar lega.
"Iya, aku telepon cuma mau kasih tahu kalau nomorku ganti. Simpan ya, Mir. Nanti aku hubungi lagi kalau sudah sampai di kota provinsi."
"Oke," jawab Emir sebelum memutuskan sambungan.
Rimba meletakkan ponselnya, dan sebuah senyum bahagia mengambang di wajahnya. Ia merasa sangat puas mengetahui bahwa teknologi dimensi ini mampu menembus batas ruang dan waktu, menghubungkannya dengan dunia nyata tanpa hambatan.
Melihat senyum itu, Lara menjadi waspada. "Kenapa senyum-senyum begitu? Ada yang lucu?"
Rimba tidak langsung menjawab. Ia merogoh tasnya lagi, mengeluarkan satu ponsel titanium serupa, lalu menyerahkannya kepada Lara. "Ini untukmu. Dengan ini, kita bisa berkomunikasi meskipun aku sedang berada di luar dimensi. Aku tidak ingin merasa sendirian lagi di luar sana."
Lara menerima benda logam itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menelitinya, mengotak-atik layarnya yang jernih dengan kecepatan yang menakjubkan bagi seseorang yang dianggap "kuno". "Ya, sistem energinya kompatibel. Aku bisa menggunakannya," jawab Lara singkat, meski ada secercah kebahagiaan yang tersirat di matanya.
"Tadi kamu belum meneruskan ceritamu," lanjut Lara sambil menyimpan ponsel itu. "Apa yang tidak bisa kau dapatkan di kota?"
Rimba terdiam sejenak. Ia mengeluarkan selembar kertas desain dari tasnya—gambar yang ia buat di superkomputer Aether sebelumnya. Lara tertegun saat melihat gambar tersebut. Di sana, terpampang wajahnya yang sedang tersenyum lembut bersanding dengan Cesar yang nampak gagah sebagai serigala dewasa.
"Untuk apa gambar ini?" tanya Lara dengan suara yang sedikit bergetar.
Rimba menatap gambar itu dengan pandangan sentimental. "Aku ini sebatang kara, Ra. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kakek sudah tiada. Hanya kalian berdua keluargaku sekarang. Aku ingin menjadikan gambar ini menghias lenganku, agar aku selalu ingat bahwa aku punya tempat untuk pulang, sampai akhir hayatku."
Lara terenyuh mendengar pengakuan jujur itu. Keheningan menyelimuti mereka sesaat. "Lantas, kenapa tidak jadi dibuat di studio tato tadi?"
"Jarum tatonya hancur," jawab Rimba dengan tawa getir. "Semuanya bengkok dan patah saat menyentuh kulitku. Penatonya sampai ketakutan melihatku."
Lara mendengus pelan, hampir menyerupai tawa kecil. "Tentu saja. Jarum fana itu tidak akan pernah bisa menembus kulit Naga Asuramu. Itu adalah penghinaan bagi pertahanan fisikmu."
Suasana kembali hening. Lara memandangi gambar itu, lalu beralih menatap Rimba. "Aku... aku bisa membuatkannya untukmu jika kau mau," lirih Lara, hampir tidak terdengar.
Sinar mata Rimba yang tadinya redup seketika bersinar terang. "Benarkah? Kalau kamu bisa membuatnya, tentu kamu juga bisa memasang ini di telingaku, kan?" Rimba mengeluarkan empat buah anting ring hitam dengan diameter cukup tebal.
"Bisa," jawab Lara dengan senyum simpul. "Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya? Sebutkan saja!"
"Mandi dulu sana. Kamu bau matahari dan debu jalanan," goda Lara sambil menutup hidungnya.
Rimba tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Siap laksanakan, Sayangku!"
---
Setelah mandi air hangat yang menyegarkan, Rimba keluar hanya dengan mengenakan celana latihan hitam, memamerkan dada bidang dan otot-ototnya yang kini semakin terdefinisi. Ia menghampiri Lara yang sudah menunggu dengan peralatan khusus dimensi.
"Duduk di sini," perintah Lara.
Rimba duduk di samping kiri Lara. Gadis itu menempelkan kertas desain ke lengan kanan Rimba. Jemari Lara yang lentur mulai menekan beberapa titik saraf dan mengusap permukaan gambar dengan gerakan ritmis. Rimba merasakan sensasi panas yang menjalar, bukan sakit, melainkan rasa hangat yang nyaman seolah energi sedang meresap ke dalam pori-porinya.
Tak lama kemudian, Lara melepaskan tangannya dan perlahan mengelupas kertas itu.
"Selesai."
Rimba menatap lengannya dan terpana. Gambar itu tidak nampak seperti tato biasa; gambar itu menyatu dengan kulitnya, sangat realistis, detail, dan nampak seolah-olah hidup. Cesar yang tadi sedang tidur di lantai sampai terbangun. Serigala itu mendekat, menatap "dirinya" di lengan Rimba, lalu menggonggong riang. Cesar melompat ke pangkuan Rimba, menjilati wajah tuannya dengan penuh kasih sayang.
"Hei! Hei! Cukup, Cesar! Hahaha!" Rimba kewalahan menerima cinta dari serigala besar itu.
Setelah Cesar tenang, Rimba melirik jahil ke arah Lara. "Apa kamu tidak mau melakukan seperti yang dilakukan Cesar tadi? Menciumi wajahku?"
Lara melongo, wajahnya merona hebat. Namun, sebelum ia sempat memprotes, Rimba sudah merangkulnya dengan satu lengan, sementara lengan lainnya mendekap Cesar. Mereka bertiga kini berada dalam satu pelukan hangat. Rimba mencium puncak kepala Cesar, lalu dengan lembut mencium pipi Lara.
"Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari hidupku," bisik Rimba tulus.
"Udah, ah! Lepaskan!" Lara menggeliat geli, mencoba menyembunyikan rasa deg-degan yang menggila di dadanya. "Katanya antingnya mau dipasang?"
Lara kemudian mengambil keempat anting itu. Ia memegang telinga Rimba. Rimba sedikit menggelinjang karena merasa kegelian saat jari dingin Lara menyentuh daun telinganya. Dengan teknik khusus yang menggunakan Qi, Lara memasangkan masing-masing dua anting di telinga kiri dan kanan Rimba tanpa rasa sakit sedikit pun.
Rimba menggoyang-goyangkan kepalanya. Terdengar suara gemerincing kecil yang merdu saat anting-anting logam itu beradu. Penampilannya kini benar-benar berubah; dari pemuda desa biasa menjadi sosok yang nampak sangat liar, kuat, dan penuh gaya.
Rimba menatap Lara dengan pandangan yang dalam. Sekali lagi, ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, membenamkan wajah Lara di dadanya yang bidang. Kali ini, Lara tidak menolak. Ia diam pasrah, mendengarkan detak jantung Rimba yang kuat dan stabil.
Rimba mencium puncak kepala Lara yang harum dengan sangat lembut. "Terima kasih banyak ya, Ra."
Keduanya terdiam dalam kenyamanan itu, merasakan ikatan yang jauh lebih dalam dari sekadar pelayan dan tuan. Di pangkuan mereka, Cesar merebahkan kepalanya dengan tenang, merasa bahwa keluarga kecil ini telah lengkap dan siap menghadapi badai apa pun di dunia luar.