Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
"Zara!" teriak Rizal sambil mengangkat tangan kanannya. Di terminal yang ramai itu, ia butuh sedikit efforts untuk menemukan Zara. Naka memberikan kontak Zara, untuk memudahkan ia bertemu wanita itu.
Zara bernafas lega melihat sosok Rizal. Sepanjang perjalanan tadi, ia terus kepikiran, takut Naka membohonginya, tak menyuruh orang menjemput di terminal. Meski pernah 2 tahun tinggal di Jakarta, ia jarang keluar. Keluar pun selalu bersama Naka dan supir, tak pernah sendiri. Jadi meski sudah pernah tinggal di Jakarta, rasa takut itu tatap ada saat kakinya kembali menginjak kota besar tersebut.
Ia berangkat dari Jombang malam tadi, dan pagi ini baru sampai di Jakarta. Nisa menyuruhnya pergi bersama Gufron, namun ia menolak, tak mau merepotkan. Andi juga menawarkan diri untuk mengantar, itu pun juga ia tolak. Ia tak mau orang lain ikut terseret dalam masalah, biar dia saja yang menyelesaikan semua ini.
"Mana Arka?" pertanyaan itu langsung keluar dari bibir Zara begitu berhadapan langsung dengan Rizal.
"Arka baik-baik, jangan khawatir." Ia bisa melihat dengan jelas wajah Zara yang tampak kuyu, tak sesegar saat mereka bertemu dulu. Lingkaran di sekitar matanya juga terlihat hitam, pasti karena kurang tidur. "Ayo," ajaknya. Zara hanya membawa tas ransel berukuran sedang di punggungnya, Tak menawarkan diri membantu, kelihatannya tidak berat.
"Kita langsung ke tempat Arka kan?" Zara menoleh pada Rizal yang jalan beriringan dengannya.
"Em... nanti kita obrolin di mobil."
Zea memperhatikan jalan yang di lewati mobil Rizal. 8 tahun lalu, Jakarta sudah terlihat megah di matanya, namun sekarang, kota itu jauh lebih megah lagi, lebih indah, lebih bersih.
"Arka tinggal bersama siapa 5 hari ini?" Zea menoleh pada Rizal yang ada di bangku kemudi.
"Dia baik-baik saja."
"Bersama Naka?" ia tak puas dengan jawaban Rizal.
Rizal menoleh sambil tersenyum. "Dia dalam kondisi baik. Dia tidur di tempat yang layak, dia makan makanan yang layak, dan tidak ada yang menyakitinya."
Zea tersenyum sekaligus ingin menangis. "Bagaimana kamu bisa bilang tidak ada yang menyakitinya, apa kamu fikir, memisahkan dia dari ibunya, itu tidak menyakitinya?" menyeka sudut matanya yang basah.
Rizal seketika terdiam, yang dikatakan Zara seratus persen benar. Arka memang mendapatkan semua yang layak, tapi ia tahu betul, anak itu tak bahagia, hanya ibunya yang ia inginkan, bukan lainnya.
"Bawa aku ke tempat Arka, aku ingin bertemu dengannya," menatap Rizal, mengiba dengan mengatupkan kedua telapak tangan di dada.
"Urusan itu, kamu bicarakan dengan Pak Naka. Maaf, aku gak bisa bantu," menoleh pada Zara sekilas, lalu kembali menatap jalanan.
Zara menyandarkan punggung di kursi, memejamkan mata sambil menyeka air mata. Kalau ditanya apakah ia tidak lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari Jombang ke Jakarta, jawabannya sudah pasti lelah. Tapi lelah itu tak ia hiraukan, karena yang terpenting baginya saat ini, hanyalah bertemu Arka. Meski Rizal mengatakan jika Arka baik-baik saja, ia belum bisa tenang sebelum melihat sendiri.
Rizal mengajak Zara masuk ke dalam apartemen Naka. Apartemen kosong yang hanya sesekali saja ditempati pemiliknya.
"Kamu tunggu Pak Naka disini." Rizal berjalan lebih dulu, sementara Zara mengekor di belakangnya. "Kamarnya ada dua, kata Pak Naka, terserah kamu mau istirahat dimana," membuka satu persatu pintu kamar. Ia lanjut ke pantry, mengecek isi kulkas yang ternyata kosong melompong. Masih ada air di galon, tapi entah itu air kapan, takut sudah terlalu lama. "Jangan minum ini, aku belikan. Sekaligus pesankan kamu makanan."
"Aku kesini untuk menjemput putraku, bukan mau tinggal disini atau minta makan. Aku gak gak butuh makan, aku butuh bertemu Arka."
Rizal membuang nafas kasar. "Aku tahu, tapi kamu butuh tenaga. Kamu gak pengen mati sebelum ketemu Arka kan?" Mengambil ponsel di saku celana, memesankan makanan untuk Zara.
"Zal, tolong bawa aku bertemu Arka."
"Sekali lagi aku minta maaf Ra, soal itu, bukan kewenangan aku, tapi Pak Naka."
"Arka itu anak aku," Zea menepuk dadanya sendiri. "Aku ingin bertemu dengan anak aku, kenapa dipersulit. Sekali lagi, anak aku, anak aku sendiri," ulangnya berkali-kali penuh penekanan, mulai emosional.
"Aku ngerti Ra, tapi... " Rizal garuk-garuk kepala, mulai bimbang, mau menolong atau tidak.
"Tolong aku, Zal," Zara mengatupkan kedua tangan di dada. "Tolong bawa aku bertemu Arka," ia kembali terisak. "Aku ingin melihat anakku."
Rizal membuang nafas kasar sambil mengusap wajah dengan telapak tangan. Enggak, ia tak boleh luluh.
"Rizal, aku mohon."
"Aku pergi dulu ya, Ra. Aku harus kembali ke kantor," sepertinya menghindar adalah pilihan yang tepat daripada nantinya ia goyah, lalu menimbulkan masalah. "Makanan akan segera datang." Ia memberikan kartu akses pintu apartemen. "Kamu bebas mau kemana saja. Pak Naka tidak sedang mengurungmu."
Zara berdecak pelan. Naka bukan orang bodoh, memberi dia keleluasaan keluar masuk karena tahu, ia tak mungkin pergi dari sini tanpa Arka.
Setelah Rizal pergi, ia sendirian di apartemen, menunggu kedatangan Naka dengan cemas.
Sementara malam itu, di tempat lain, Naka sedang makan malam di rumah Pak Edi. Pertemuan dua keluarga untuk membahas perjodohan antara ia dan Anggi.
"Emang kamu gak punya pacar? Kok mau dijodohin?" tanya Anggi saat berduaan dengan Naka di halaman belakang, setelah makan malam. Mereka meminta waktu berdua, mengobrol untuk saling mengenal satu sama lain.
"Gak ada," Naka menoleh pada Anggi yang berdiri di sebelahnya.
"Masa sih? Kayak yang gak mungkin gitu," Anggi terkekeh pelan.
"Tapi emang gitu."
"Kamu terlalu pilih-pilih kali."
Naka hanya tersenyum dibilang seperti itu. "Kamu sendiri gimana? Gak punya pacar?"
Anggi menggeleng, "Setelah putus kurang lebih setahun yang lalu, belum dapat gantinya," membuang nafas kasar. "Udah males sih pacar-pacaran, pengen yang langsung serius aja."
Anggi bicara panjang lebar, menceritakan soal visi misinya ke depan. Ia dengan gamblang mengatakan jika tak ingin berhenti bekerja meski sudah berumah tangga.
Sayangnya, semua yang dikatakan Anggi, hanya masuk kuping kiri lalu keluar kuping kanan, Naka tidak benar-benar fokus mendengarkannya. Ia malah sibuk melihat jam, ingin pertemuan keluarga ini segera usai.
"Kamu sendiri gimana Ka, lebih suka wanita karier atau Ibu rumah tangga?"
"Hah?" Naka yang kurang fokus, gelagapan ditanya seperti itu. "Aku... " Ia tak konsen sama sekali dengan apa yang sejak tadi Anggi katakan. "Aku lebih suka wanita karier."
Jawaban Naka membuat senyum Anggi langsung mengembang. "Apa itu artinya, kamu setuju dengan perjodohan ini?"
Naka gugup. Sepertinya ia telah salah menjawab. Ia fikir Anggi yang lemah lembut, lebih suka mejadi IRT. Jawaban itu ia pilih agar Anggi merasa jika mereka tidak cocok, tapi ternyata salah. Harusnya tadi ia fokus mendengar apa yang diucapkan Anggi. "Kita jalani dulu aja, saling mengenal."
Keduanya kembali masuk ke dalam rumah, dimana para orang tua terlihat begitu asyik membahas sesuatu.
"Gimana Nggi?" Meri menyentuh bahu putrinya yang baru saja bergabung duduk di sebelahnya.
"Pastinya cocok dong, iya gak?" goda Very yang melihat Anggi senyum-senyum sejak tadi. "Kalau begitu, mending kita langsung tetapkan harinya saja."
"Setuju," sahut Edi cepat.
"Pah," Naka memegang lengan Papanya. "Kami masih ingin saling mengenal."
"Kalau masalah itu gampang Naka," ujar Edi. "Pacaran setelah menikah itu lebih enak loh. Urusan cinta gampang, cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Om lihat kalian berdua sangat cocok, pasti tidak susah untuk jatuh cinta."
"Jelas cocoklah," Very menimpali. "Mereka itu setara, sama-sama berpendidikan tinggi, dari keluarga terpandang, dan sama-sama punya jiwa bisnis. Cocoklah pokoknya."
Tak lagi meminta persetujuan Naka atau pun Anggi, Very dan Edi langsung menentukan tanggal pertunangan mereka. Obrolan jadi makin panjang lebar, hingga pukul 11 malam, semuanya baru selesai.
Di apartemen, Zea terus melihat jam, mondar-mandir di dalam kamar yang terbuka, menunggu Naka. Ia diminta menunggu, tapi hingga tengah malam, Naka tak kunjung datang. Bukan rasa kantuk atau lelah yang ia permasalahankan, namun ia ingin segera bisa bertemu Arka. Sampai akhirnya, terdengar suara pintu dibuka, disusul dengan derap langkah yang terdengar semakin dekat.
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣