Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Mobil Elvan melambat… lalu berhenti.
Lampu-lampu di dashboard menyala kayak lagi protes.
“Eh?” Dira nengok ke depan. “Kok kita parkir mendadak? Ini bukan spot jajan kan?”
Kenzo langsung tegang. “Jangan-jangan mogok.”
Albian mencondongkan badan. “Kak, mobilnya kenapa?”
Kenzo menepikan mobil dengan tenang. “Indikator mesin menyala. Sepertinya ada masalah kecil.”
“Kecil versi CEO atau kecil versi dompet siswa?” tanya Albian polos.
Dira langsung turun duluan. “Wah, ini seru! Aku belum pernah kejebak mogok bareng bos dingin.”
Kenzo buru-buru ikut turun. “Jangan sembarangan turun, Dir. Ini pinggir jalan.”
Dira berdiri di trotoar, ngeliatin mobil hitam itu. “Om , mobil Om kenapa? Masuk angin?”
Elvan membuka kap mesin. “Mobil tidak masuk angin.”
“Ya ampun, bercanda, Om ,” Dira cengar-cengir. “Tapi kap mesin kebuka gini vibes-nya kayak sinetron. Nanti ada adegan hujan.”
Albian ikut turun. “Kurang hujan aja ini biar dramatis.”
Elvan mengeluarkan ponsel. “Saya hubungi teknisi.”
Dira mendekat, kepo. “Teknisinya dateng berapa lama?”
“Sekitar dua puluh menit.”
“Dua puluh menit?! Kak Kenzo, kita bisa mati kebosanan!”
Kenzo menghela napas. “Kamu bisa diem dua menit aja nggak?”
“Bisa,” jawab Dira cepat.
***
Sepuluh detik kemudian.
“Eh Om Elvan, kalau nunggu gini Bapak biasanya ngapain? Meditasi? Ngelamun? Ngecek saham?”
Elvan melirik. “Menunggu.”
Dira manggut-manggut. “Oh. Simple. Tapi nunggu sambil bengong itu berat, Om . Nih, aku hibur ya.”
Tanpa aba-aba, Dira berdiri di pinggir trotoar, bikin pose sok serius.
“Perhatian, hadirin sekalian. Saya akan menampilkan stand-up comedy dadakan edisi mobil mogok.”
Kenzo langsung menutup muka. “Aku pura-pura nggak kenal.”
Albian ketawa. “Gas, Dir.”
“Jadi gini,” kata Dira, “kenapa AC mobil Om Elvan dingin banget? Karena hatinya… eh, salah. Karena beliau hemat senyum.”
Kenzo: “DIRA!”
Elvan: “…lanjut.”
Dira kaget. “Eh? Om dengerin?”
“Ya. Saya menunggu,” jawab Elvan datar.
Dira makin semangat. “Oke, joke kedua. Kenapa bos dingin nggak pernah telat? Karena jamnya takut sama dia.”
Albian tepuk tangan kecil. “Lumayan!”
Kenzo geleng-geleng sambil senyum tipis. “Kamu tuh…”
Elvan berdiri diam. Lalu berkata pelan, “Kamu berisik.”
Dira langsung kaku. “Maaf, Om . Kelewatan?”
“…tapi,” lanjut Elvan, “menunggu jadi tidak terasa lama.”
Dira melongo. “Itu pujian versi dingin ya, Om?”
“Versi jujur.”
Tak lama, mobil teknisi datang. Elvan berterima kasih singkat.
Sebelum naik lagi ke mobil, Dira nyeletuk, “Om , kalau nanti mobil mogok lagi, saya siap jadi hiburan darurat.”
Elvan membuka pintu. “Saya harap mobil saya sehat. Tapi… terima kasih.”
***
Mobil berhenti di depan rumah tua peninggalan kakek. Cat pagarnya sudah dicat ulang agar terlihat tak pudar, memiliki halamannya bersih. Kenzo turun duluan, lalu Dira menyusul sambil menguap lebar.
“Makasih, Bos ,” ucap Kenzo ke Elvan.
Elvan mengangguk singkat. “ iya sama-sama ”
Mobilnya melaju pergi, meninggalkan dua bersaudara itu di depan rumah yang sepi tapi familiar.
Begitu pintu rumah dibuka, Dira langsung melempar sepatu ke rak. “Akhirnya rumah. Capek jadi manusia ribut seharian.”
Kenzo tersenyum kecil. “Mandi dulu. Kamu lengket.”
Dira baru mau menjawab ketika pintu pagar depan terdengar terbuka pelan.
Keduanya menoleh bersamaan.
Seorang perempuan berdiri di depan pagar. Wajahnya terlihat ragu, tangannya menggenggam tas kecil. Tatapannya mengarah ke rumah—ke mereka. Dia adalah Annisa ibu kandung kenzo dan dira
Dada Dira langsung terasa aneh.
“Ibu…” suaranya nyaris berbisik.
Kenzo membeku. Beberapa detik, dunia terasa diam.
Annisa melangkah pelan mendekat. “Kalian… sehat?”
Dira nggak tahu harus jawab apa. Selama ini, rumah ini cuma diisi tawa ributnya sendiri dan sikap dewasa Kenzo yang kepaksa. Mereka tinggal berdua di rumah peninggalan kakek, belajar masak seadanya, belajar kuat tanpa banyak bertanya kenapa orang dewasa di hidup mereka memilih pergi satu per satu.
“Ibu datang… buat apa?” tanya Dira akhirnya. Nada suaranya datar, tapi matanya bingung.
Kenzo berdiri sedikit di depan Dira, refleks melindungi. “Ada perlu apa, Bu?”
Annisa menunduk sebentar. “Ibu cuma mau lihat kalian. Dengar kabar dari tetangga.”
Sunyi. Angin sore masuk lewat pintu.
Dira menggenggam ujung kausnya. Ada rindu yang nggak mau ngaku rindu, ada marah yang capek jadi marah.
“Kami baik,” kata Kenzo pelan tapi tegas. “Kami bisa jaga diri.”
Annisa mengangguk kecil. “Ibu… senang dengarnya.”
Dira menarik napas. Biasanya dia bar-bar, ribut, nggak bisa diam. Tapi kali ini, kata-katanya tertahan.
“Bu,” ucapnya akhirnya, “kalau mau datang… bilang dulu. Kami kaget.”
Annisa kembali mengangkat pandangannya. “Maaf.”
Kenzo membuka pintu lebih lebar. Bukan undangan, bukan penolakan. Cuma ruang di antaranya.
“Masuk sebentar. Minum air dulu.”
Annisa kemudian melangkah masuk dengan ragu. Rumah itu terasa asing baginya, padahal dulu pernah jadi tempat pulang. Dira berjalan ke dapur, mengambilkan air. Tangannya sedikit gemetar, tapi langkahnya tetap maju.
Untuk pertama kalinya setelah lama, rumah tua itu terasa penuh lagi—bukan karena ramai suara, tapi karena perasaan yang akhirnya pulang, meski pelan dan canggung.
***
Ruang tamu rumah itu terasa berbeda sore itu. Biasanya cuma ada suara TV atau Dira yang ribut sendiri. Sekarang, ada seseorang yang duduk di sofa lama—ibunya.
Dira meletakkan segelas air di meja dengan hati-hati. Tangannya nggak gemetar lagi, tapi dadanya masih terasa aneh.
“Ibu nggak lama,” ucap Annisa pelan seakan itu masalah yang sepele.
Kenzo duduk di kursi seberang, sikapnya tenang tapi jelas menjaga jarak. “Kenapa baru sekarang datang?”
Pertanyaan itu nggak tajam, tapi cukup berat.
Annisa terdiam beberapa detik. “Ibu pikir… kalian lebih baik tanpa ibu. Waktu itu keadaan kacau. Ibu nggak siap.”
Dira menunduk. Biasanya dia bakal nyeletuk sesuatu buat mencairkan suasana. Tapi kali ini, nggak ada bahan bercanda.
“Kami memang bisa sendiri,” kata Dira pelan. “Tapi bukan berarti nggak butuh.”
Sunyi.
Annisa hanya bisa mengangguk kecil, matanya berkaca-kaca. “Maaf.”
Kenzo menarik napas panjang. “Kami nggak marah terus-terusan, Bu. Cuma… jangan datang lalu hilang lagi.”
Kalimat itu jujur. Nggak menyalahkan, tapi juga nggak pura-pura baik-baik saja.
Kemudian annisa berdiri perlahan. “Ibu akan coba lebih sering datang. Kalau kalian izinkan.”
Dira saling pandang dengan Kenzo. Nggak ada jawaban pasti. Tapi juga nggak ada pintu yang ditutup.
“Iya,” jawab Kenzo akhirnya. “Pelan-pelan aja.”
Ibunya tersenyum kecil. Sebelum pulang, dia sempat menyentuh pundak Dira sebentar. Sentuhan yang terasa asing, tapi juga familiar.
Dan ketika pintu tertutup lagi, rumah itu kembali sunyi.
Bersambung........