Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.
Qiara meneguk air mata yang menumpuk di lehernya, lalu bertanya dengan suara yang tercekat, "Lalu bagaimana jika gue tidak hamil?"
Nolan menatapnya lurus, dengan ketulusan dan keyakinan di dalam matanya, "gue tetap berjanji akan bertanggung jawab, Qiara. Tapi, jika nantinya lo itu tidak hamil, gue akan menepati janji itu setelah kita lulus sekolah. Karena gue ingin kita fokus menyelesaikan pendidikan kita dulu."
Qiara masih terisak, hatinya bercampur aduk antara marah, sedih, dan takut.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, Angga ternyata sudah menguping pembicaraan mereka sejak tadi, dan ia merasa gelisah seiring dengan terbongkarnya rahasia yang semestinya tidak ia dengar.
***
*
*
Di kantin rumah sakit Ken Saras.
"Eh lo ngerasa aneh dengan sikap kak Nolan bebarapa waktu ini?" tanya Noah.
"Lo itu bodoh apa gimana sih! Jawabannya pasti karena Kinara yang sudah lebih dari 6 bulan menjauh dari Nolan. Bahkan Kinara meminta putus sepihak dan menolak mentah mentah ajakan balikan yang Nolan tawarkan," sahut Natan sembari menjitak kepala adik kembarnya yang bodoh.
Karena baik dia maupun adik kembarnya harusnya tahu, kalau Kinara itu adalah gadis pertama yang mampu merobohkan tembok tinggi yang menjulang di dalam hati Nolan.
Kinara adalah cinta pertama sekaligus pacar pertama Nolan.
"Astaga ... Sakit," ucap Noah.
"Biarin ... Soalnya Lo itu bodoh sih!" Ejek Natan di sertai suara tawa mengejek.
"Tapi, udah sebulan lebih gue gak lihat Kinara di sekolah. Apa dia sudah pindah sekolah sekarang? Sebenarnya alasan Kinara tiba tiba menjauh dan memutuskan Nolan itu apa sih? Bukankah hubungan mereka selama ini baik baik saja?" Natan malah balik bertanya pada adiknya.
Noah malah tiba tiba diam mematung.
"Ya elah. Di ajak bicara malah diam seperti patung!" tegur Natan, lagi lagi ia menjitak kepala adik kembarnya.
"Astaga sakit! Kok lo jitakin kepala gue terus sih!" keluh Noah.
"Abisnya lo itu cuekin gue sih!" ujar Natan dengan nada tidak terima.
"Coba lo lihat!" pinta Noah sembari menunjuk ke suatu arah.
"Apaan sih?" kata Natan kesal. Kala Noah memutar kepalanya paksa untuk melihat ke arah lain.
"Itu lihat. Bukankah itu Kinara?" tanya Noah.
"Iya itu Kinara," sahut Natan.
"Ngapain dia di situ?" Reflek Noah pun bertanya.
"Baca itu papan nama. Area perawatan pasien dengan penyakit kanker," sahut Natan enteng. Lalu dengan wajah cuek, ia terlihat kembali memakan makanannya.
"Jadi selama ini Kinara sakit kangker." gumam Noah.
Akhirnya rasa penasaran yang selama ini mengganjal di dalam hatinya terjawab sudah.
Mengingat perjuangan Kinara untuk mendapatkan hati Nolan dulunya tidak main-main. Namun, setelah setahun lebih berpacaran dengan Nolan. Tiba tiba Kinara menjauh dan memutuskan Nolan.
**
Di sebuah ruangan inap, seorang gadis tampak terduduk dengan tatapan sayu menatap sang pengasuh yang sedang menyiapkan makanan untuknya.
"Nona Kinara, ayo buka mulutnya," ujar pengasuh itu lembut. Kinara, si gadis belia itu, menggelengkan kepalanya pelan.
"Nona... demi kesembuhan Anda," rayu pengasuh tersebut dengan nada memohon. Sambil mengusap air mata yang mulai mengalir di pipinya, Kinara merenung dalam kesedihan.
"Apa gunanya makan setiap hari jika tidak ada perubahan? Aku sudah berbulan-bulan bersabar, tapi penyakit kanker lambung yang ku derita malah semakin parah, bahkan merambat ke bagian tubuh lain," gumam Kinara dengan ekspresi wajah menyedihkan.
Hatinya meronta. Melihat tangisan sang gadis, pengasuh wanita itu yang bernama Asih turut menitikkan air mata.
Kinara semakin larut dalam kenangan pahit. "Bahkan orang tuaku sendiri tidak peduli kepadaku, Bi Asih," sesalnya. Sudah berbulan-bulan ia sakit, namun ke dua orang tuanya jarang sekali menemani dan merawatnya.
"Aku tak merasa ada gunanya hidup seperti ini," desahnya. Sembari berkeluh, dia mencoba menemukan kekuatan dan kebahagiaan yang hilang dalam dirinya, meskipun semakin lama semakin sulit untuk ia temukan.
"Nona Kinara ... Bibi mohon, jangan berkata seperti ini! Pasti Tuan dan juga Nyonya kalau mendengar nya akan sedih." Asih mencoba untuk menangkan hati Kinara, bagaimana pun ia merawat Kinara sejak masih bayi. Tentu saja asih sangat menyayangi Kinara, bahkan lebih seperti anak kandungnya sendiri.
Asih mencoba untuk mendekat kan sendok ke arah mulut Kinara. Namun yang terjadi, Kinara masih saja menolak untuk membuka mulutnya.
"Ayo Nona Qiara ... Buka mulutnya, nona tetap harus makan. Karena setelah ini ada jadwal kemoterapi."
Suara benda jatuh membuat Asih terkejut, ia benar benar di buat kaget kala gadis manis nan lembut yang ia rawat sedari kecil nampak membanting makanan yang ada di atas nampan.
Piring dan juga gelas yang sebelumnya berada di atas nampan nampak pecah berkeping keping.
"Hiks ... Hiks ... Kemoterapi lagi, kemoterapi lagi. Lebih baik aku mati," ujar Kinara dengan nada putus asa sembari mengambil pisau buah yang ada di atas meja.
Kinara adalah gadis ceria, manis dan memiliki watak lembut. Bahkan sebelum menderita kanker lambung, Kinara belum pernah membentak Asih atau pun berbicara kasar terhadap nya. Walaupun Asih seorang pengasuh yang bekerja di rumah keluarga Wongso.
Kinara menganggap Asih seperti ibu kandungnya sendiri, bahkan ia sangat menyayangi Asih. Hubungan ke duanya begitu dekat, bahkan lebih dekat jika di bandingkan dengan Kinara dan ibu kandungnya.
Pisau itu sudah menempel di pergelangan tangan Kinara, bahkan ia sudah bersiap siap untuk mengiris pergelangan nadinya itu.
"Nona Kinara, bibi mohon jangan lakukan itu!" Asih ingin menghentikan aksi yang di lakukan oleh Kinara. Namun, langkahnya nampak terhenti kala kakinya menginjak pecahan kaca dari tempat makanan Kinara yang sebelumnya jatuh.
"Kinara ... Gue mohon jangan lakukan kebodohan ini! Bukankah Tuhan sangat membenci umatnya yang melakukan bunuh diri." Seorang laki laki tiba tiba datang, bahkan dengan sigap ia mengambil pisau yang sebelum nya hampir mengiris pergelangan tangan Kinara.
"Nolan," ucap Kinara, ia nampak memanggil nama laki laki yang sebelumnya ia cintai dengan sebuah perasaan yang sulit untuk di deskripsikan.
Nolan nampak membuang pisau itu di lantai.
"Apa yang lo lakukan? Nyawa lo itu sangat berharga Kinara, kenapa lo itu berniat bunuh diri?" ucap Nolan sembari memeluk tubuh mantan pacarnya yang mengurus.
Setelah Kinara mengucapkan kata putus, Nolan merasa seolah dunia runtuh. Dia berjuang keras meminta balikan, namun yang dia dapatkan hanyalah penolakan demi penolakan dari Kinara.
Sebulan berlalu, dan Nolan tidak pernah melihat Kinara di sekolah lagi. Hatinya selalu bertanya-tanya, "Kenapa Kinara menghilang? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Akhirnya, Nolan mengetahui alasan di balik keputusan Kinara yang tiba-tiba memutuskan hubungan dengan dirinya tanpa alasan yang jelas.
Dia menemukan Kinara dalam keadaan yang buruk dan terpuruk, membuatnya merasa prihatin. Dalam situasi itu, Nolan mendekati Kinara dan memeluknya dengan erat.