Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur di Kamar yang Sama
#14
Dua orang itu tidur saling membelakangi, Rayyan tidur diatas dipan, sedangkan Lilis tidur di lantai beralas tikar. Sejujurnya tak ada yang benar-benar tidur, karena kedua mata mereka tak mau terpejam seolah baru saja meminum energi drink untuk penambah stamina.
Udara di dalam kamar juga terasa lebih pengap karena yang bertugas menjadi penyejuk ruangan hanyalah kipas angin kecil yang duduk manis di atas meja.
Rayyan mulai gelisah, kaos yang kembali ia pakai mulai basah karena badannya berkeringat. Harap maklum, biasanya ia tidur sendiri di ranjang empuk yang luas, udara di kamarnya juga dingin dan sejuk, tapi di kamar Lilis terasa seperti di panggang di dalam oven.
Tak terbayang bagaimana bila salah satu dari mereka buang gas sembarangan, pasti kamar itu terasa seperti bunker yang dilempari gas beracun.
Semua serba salah, terpejam salah, tak bisa tidur juga salah, Rayyan bahkan tak berani berbalik badan padahal salah satu sisi tubuhnya mulai kesemutan. Derita Rayyan makin lengkap karena ia pun lupa tidak membawa ponsel, maka saat ini suasana saat ini, sudah layak disebut penyiksaan sejati.
‘Malam pertama macam apa ini?’
Meski Rayyan tak mengharapkan pernikahan ini, ia sudah mengucap ijab qobulnya sepenuh hati. Biarpun gaya masih seperti anak muda labil, tapi Rayyan masih takut dengan dosa. Terutama jika berani mempermainkan sucinya janji pernikahan.
Karena dalam Al-Qur'an, janji suci pernikahan disebutkan sebagai salah satu dari tiga perjanjian paling kokoh di muka bumi.
Yang Rayyan pertanyakan hanyalah, haruskah istrinya seorang janda? Kenapa Tuhan memberikannya jodoh seorang janda? Sementara dirinya masih perjaka? Ingin menyesal, tapi sudah terlanjur masuk ke kubangan. Biar gimana juga, wajar, kan, kalau Rayyan juga ingin merasakan gadis perawan.
Rayyan terus tenggelam dalam angan-angan gilanya. Lalu bagaimana dengan Lilis?
Tak jauh beda dengan Rayyan, selain masih tidur dengan posisi meringkuk, wanita itu bahkan masih tidur dengan mengenakan kebaya lengkap, untung saja sore tadi ia sudah mandi, jadi bau keringat di tubuhnya pun sudah hilang.
Tapi, masalah lainnya sekarang, bagaimana ia akan menjalankan perannya selama beberapa hari atau beberapa bulan ke depan?
Apakah berperan sebagai istri yang sebenarnya? Ataukah bersikap seperti biasa? Jika ia bersikap acuh seperti biasa pada orang yang telah menolongnya, rasanya pasti sangat keterlaluan.
Dengan jantung yang terus berdebar kencang, angan Lilis terus menerawang, di dalam hati wanita itu berdoa agar pagi segera datang, minimal jam 3 dini hari, deh. Dengan begitu ia punya alasan logis untuk keluar dari kamar. Padahal tak akan ada yang bertanya untuk apa ia keluar.
“Dua puluh menit lagi, Lis. Sabar,” ucapnya pada diri sendiri, setelah melirik jam di ponsel bututnya.
Tapi Lilis salah, duapuluh menit yang ia pikir hanya sekejap mata, terasa seperti 20 tahun lamanya. Bahkan ketika pertama kali satu kamar dengan mantan suami terdahulunya, rasanya tidak se mendebarkan ini, apakah ia masuk dalam perangkapnya sendiri?
Lilis terus beristighfar, memohon ampunan, karena malam tadi ia sudah melakukan sebuah kesalahan besar, yaitu merubah janji suci pernikahan, menjadi janji sebuah kontrak pernikahan.
Dua puluh menit kemudian.
Alarm di ponsel Lilis berbunyi, wanita itu bergegas bangkit dari baringnya, tubuhnya pegal-pegal, karena tak bisa berganti posisi tidur, tapi ia lega karena sebentar lagi ia bisa meninggalkan kamar untuk menyibukkan diri.
Lilis memberanikan diri menoleh ke belakang, ia bernafas lega kala melihat Rayyan berbaring tengkurap dengan kepala membelakanginya. Tak menunggu lama, wanita itu pun berdiri dengan gerakan perlahan, takut membangunkan suaminya. Padahal Rayyan sama sekali tak bisa memejamkan mata.
Klek!
Lilis pun berhasil keluar kamar, ia segera membuang nafas lega, begitu pula Rayyan yang langsung merubah posisi tidurnya.
Tujuan Lilis adalah kamar mandi, ia ingin awal hari dimulai dengan badan dan pikiran yang bersih. Setelah mandi, Lilis merendam pakaian kotornya, baru kemudian mulai mencari-cari bahan yang bisa diolah untuk makan hari ini.
•••
Beberapa jam kemudian, sarapan telah terhidang, teh hangat dan juga pisang goreng yang seharusnya ia olah untuk jualan di warung, kini dipersembahkan untuk pria yang semalam menolongnya. Pokoknya bagi Lilis Rayyan kini adalah pahlawannya, terlepas dari bagaimana kelak hubungan mereka kedepannya.
Seperti biasa, Bu Saodah dan Arimbi selalu bangun kesiangan. Jadi Lilis mengabaikannya, tapi suaminya?
“Bismillah, di coba saja, anggap saja ujian pertama untuk melihat, apakah dia pria baik atau bukan,” gumam Lilis membuang keraguan yang muncul ketika hendak membangunkan suaminya untuk sholat subuh.
Lilis membuka pintu kamarnya, Rayyan masih tidur pulas seperti bayi, terlihat polos, dan juga tampan.
Deg!
Lilis meraba dadanya, debaran itu kembali lagi, tapi Lilis buru-buru menepisnya, takut bila nanti akan semakin berat saat berpisah.
“Mas,” kata Lilis pelan, ini adalah kali pertama ia memanggil suaminya dengan sebutan ‘mas’. Bukankah panggilan itu terdengar mesra?
😅
Tak mendapat respon, padahal Lilis sudah memanggil beberapa kali. Lilis tak tinggal diam, ia pun memijat pelan betis Rayyan, “Mas, bangun. Sholat subuh dulu,” ulangnya.
Rayyan terkejut, seperti baru saja mendengar gelegar suara petir, padahal suara Lilis amatlah pelan. “Hah! Apa? Ada apa?!” tanya Rayyan persis seperti orang linglung.
Lilis jadi kikuk, “Tidak ada apa-apa, Mas. Sudah hampir jam 7, Mas tidak sholat subuh?”
Rayyan cukup terkejut, efek semalam tak bisa tidur, jadilah setelah Lilis meninggalkan kamar ia baru bisa tidur pulas. Rayyan meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak, kemudian duduk dan mengumpulkan nyawa. “Air putihnya, Mas.”
Lilis menunjuk segelas air putih yang ada di atas meja, ternyata begini rasanya punya istri. Kini dada Rayyan yang berdesir, apalagi ketika minum ia merasakan jernihnya air putih, seperti ada manis-manisnya.
“Ini, pakai saja sarung Almarhum Bapak,” kata Lilis seraya meletakkan sarung milik bapaknya yang masih ia simpan. Setelah Rayyan mengangguk, Lilis pun kembali meninggalkan kamar.
•••
Setelah Sholat, Rayyan pun keluar kamar, karena sepintas tadi, ia melihat meja makan sudah terhidang teh dan beberapa kudapan ringan.
“Lis, ini tehku?”
Lilis tersenyum mengangguk, kemudian mencuci tangan, meninggalkan ubi kupas yang sedang ia cuci agar nanti di warung ia bisa langsung mengolahnya.
Tak lama kemudian, suara julid Bu Saodah datang dan memecah keheningan. “Apa bagusnya punya suami kere, kalau kata ibu, sih, nggak ada bagus-bagusnya.”
Rayyan tersenyum saja, merasa tak seru bila buru-buru menanggapi ocehan ibu mertuanya. Lagi pula ia tak merasa perlu menunjukkan dan menjelaskan apa-apa pada Bu Saodah. Sekaligus Rayyan ingin melihat, seberapa jauh Bu Saodah akan mengejek dan menjelekkannya nanti.
“Assalamualaikum.”
Rayyan langsung mengenali suara Nanang, ia bergegas keluar rumah untuk menemui pria itu.
Bu Saodah menatap sinis ke arah Rayyan, “Kalo bergaulnya saja sama orang susah, bagaimana hidup suamimu bisa mapan, Lis?”
“Jangan khawatir, Bu. Kami tidak akan menyusahkan sapa-siapa, terutama Ibu dan Mmbi,” balas Lilis.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭