Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Suara gemuruh baling-baling helikopter membelah kesunyian Desa Sunyi yang basah oleh sisa hujan. Cahaya lampu sorot dari angkasa menyapu pepohonan pinus dan atap-atap rumah kayu, menciptakan suasana yang mencekam sekaligus melegakan. Di darat, iring-iringan mobil taktis hitam melaju kencang, memecah genangan air di jalanan setapak yang sempit.
Di dalam rumah kayu kecil milik warga, Freya duduk meringkuk di sudut balai-balai bambu. Ia dibalut selimut lurik tebal pemberian ibu pemilik rumah, namun tubuhnya masih gemetar hebat. Setiap suara dahan yang patah di luar sana membuatnya tersentak, mengira para penculik itu telah menemukannya.
"Neng, tenang Neng... itu suara helikopter tentara, kayaknya mau jemput Neng," hibur sang ibu pemilik rumah sambil mengusap pundak Freya dengan lembut.
Freya tidak menjawab. Matanya terus tertuju pada pintu kayu yang tertutup rapat. Tangannya menggenggam ponsel curian itu begitu erat hingga buku jarinya memutih.
Tiba-tiba, suara derit ban mobil yang mengerem mendadak terdengar tepat di depan rumah. Suasana di luar menjadi riuh dengan suara langkah sepatu bot yang berat dan teriakan perintah yang tegas.
BRAK!
Pintu depan terbuka dengan satu hentakan kuat. Freya memekik kecil dan menutup matanya, menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Namun, alih-alih suara kasar para penculik, ia mendengar suara langkah kaki yang sangat cepat dan... napas yang terengah-engah penuh kecemasan.
"Freya!"
Suara itu. Freya mengenalinya bahkan dalam mimpi buruk sekalipun. Ia perlahan mengangkat kepalanya.
Di ambang pintu, Kaisar berdiri. Penampilannya benar-benar kacau—jauh dari citra pangeran yang biasanya sempurna. Kemejanya kotor, rambutnya basah oleh hujan, dan wajahnya pucat pasi. Begitu matanya menangkap sosok Freya di sudut ruangan, seluruh ketegangan di wajah Kaisar runtuh.
"Kai..." bisik Freya dengan suara yang hampir habis.
Kaisar melintasi ruangan hanya dalam tiga langkah besar. Ia berlutut di depan Freya dan langsung merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk Freya begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Freya akan menghilang lagi seperti asap.
"Terima kasih Tuhan... Terima kasih..." gumam Kaisar berulang kali di dekat telinga Freya. Suaranya bergetar hebat, sesuatu yang belum pernah Freya dengar sebelumnya. Pangeran Robot itu kini benar-benar hancur oleh rasa syukur.
Freya menangis terisak di dada Kaisar. Bau kayu cendana yang bercampur dengan bau hujan pada kemeja Kaisar membuatnya merasa benar-benar pulang. Tangannya yang gemetar meremas punggung kemeja Kaisar, menyalurkan segala rasa takut, sakit, dan rindu yang membuncah.
"Aku takut, Kai... aku takut banget..." isak Freya di sela tangisnya.
Kaisar melepaskan pelukannya sejenak, namun kedua tangannya tetap menangkup wajah Freya dengan sangat lembut. Ia mengusap air mata dan noda debu di pipi Freya dengan ibu jarinya. Matanya yang merah menatap setiap luka di wajah Freya dengan tatapan yang penuh kepedihan, seolah ia merasakan sakit yang sama.
"Maafkan aku," ucap Kaisar dengan suara serak. "Aku gagal menjagamu. Aku membiarkanmu terluka."
Freya menggeleng lemah, ia meraih tangan Kaisar yang ada di pipinya. "Ethan, Kai... Ethan gimana? Dia ditusuk karena aku..."
Kaisar menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya sendiri. "Ethan sudah stabil. Dia sudah melewati masa kritisnya. Dia kuat, Freya. Dia akan baik-baik saja."
Mendengar itu, tangis Freya kembali pecah, namun kali ini adalah tangis lega. Ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Kaisar. Kaisar mencium puncak kepala Freya berkali-kali, memberikan rasa aman yang paling hakiki.
"Ayo kita pulang," bisik Kaisar. Ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Freya, mengangkat gadis itu dengan sangat hati-hati, seolah Freya adalah porselen yang paling berharga dan rapuh di dunia.
Kaisar membawa Freya keluar dari rumah itu. Di luar, puluhan pasukan khusus berdiri tegak dengan posisi hormat saat sang Pangeran Mahkota lewat membawa tunangannya. Kaisar tidak mempedulikan mereka. Fokusnya hanya pada gadis di pelukannya yang mulai memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa.
Sebelum masuk ke dalam mobil medis yang sudah disiapkan, Kaisar berhenti sejenak dan menoleh ke arah Kepala Keamanan.
"Pastikan Kholid tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi tanpa seizinku," perintah Kaisar dengan nada yang sangat dingin, kontras dengan kelembutan yang ia berikan pada Freya tadi.
Mobil mulai melaju kembali menuju istana. Di dalam mobil yang tenang, Freya menggenggam jari-jari Kaisar.
"Kai," panggil Freya pelan.
"Ya, Sayang?"
"Ini hari ke-31 kan?"
Kaisar tersenyum tipis, mengecup punggung tangan Freya yang penuh luka lecet. "Tidak ada lagi hari ke-31, 32, atau seterusnya yang akan memisahkan kita. Perjanjian itu sudah selesai, dan yang tersisa sekarang hanya kita."
Freya tersenyum di tengah rasa kantuknya. Di hari yang seharusnya menjadi akhir, ia justru menemukan sebuah awal yang tidak akan pernah berakhir.