NovelToon NovelToon
Script Of Love: The Secret Identity

Script Of Love: The Secret Identity

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:691
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"

Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.

Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Seperti ini Lebih Baik Xia

[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 20.30 PM]

[Lokasi: Cafe Moonlight Script, Distrik Bao'an, Shenzhen]

Layar ponsel Lin Xia masih tetap gelap. Pesan yang ia kirim sejak siang tadi seolah menguap begitu saja. Kegelisahan yang sedari tadi ia tahan akhirnya meluap. Ia tidak bisa hanya duduk diam dan menebak-nebak. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia mencari kontak Ah Cheng dan menekannya.

"Halo, Ah Cheng? Maaf mengganggu malam-malam. Apakah... apakah Tuan Gu jingshen masih di kantor?" tanya Lin Xia saat telepon diangkat.

"Ah, Nona Lin. Benar, Tuan Gu jingshen memutuskan untuk menginap di perusahaan malam ini. Beliau sedang sangat sibuk dengan beberapa berkas mendesak," jawab Ah Cheng dengan nada sopan namun terdengar lelah.

"Apakah dia sudah makan?"

"Sepertinya belum, Nona. Saya baru saja hendak keluar mencari makan untuk kami berdua."

Mendengar itu, Lin Xia menarik napas panjang. Rasa khawatir mengalahkan rasa kesalnya karena diabaikan. Ia bangkit dari kursi pojoknya, merapikan tas, dan menghampiri Xiao Li.

"Li, aku pulang duluan ya. Ada urusan mendadak," pamit Lin Xia.

"Eh? Kau tidak menunggu balasan 'Pangeran Es' itu lagi?" goda Xiao Li.

"Tidak, aku akan mencarinya," jawab Lin Xia tegas.

Namun, Lin Xia tidak langsung pulang. Ia mampir ke sebuah restoran bubur abalon yang terkenal di dekat sana—makanan yang lembut untuk perut seseorang yang baru saja mabuk berat dan sedang stres. Setelah pesanan siap, ia segera memesan taksi menuju gedung pusat Gu Corp.

[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 21.15 PM]

[Lokasi: Gedung Gu Corp, Pusat Kota Shenzhen]

Gedung pencakar langit itu tampak sunyi. Sebagian besar lampu ruangan sudah dipadamkan, menyisakan keremangan di lobi. Lin Xia melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. Di depan lift, ia berpapasan dengan Ah Cheng yang baru saja kembali membawa beberapa kantong plastik makanan.

"Nona Lin? Anda benar-benar datang?" Ah Cheng terkejut melihat Lin Xia berdiri di sana dengan termos makanan.

"Aku membawakan ini untuk Tuan Gu. Apakah... aku boleh mengantarnya ke atas?" tanya Lin Xia ragu.

Ah Cheng tersenyum tipis, seolah melihat secercah harapan untuk suasana hati bosnya yang sedang buruk. "Tentu saja. Mari, saya antar sampai depan ruangan. Saya sendiri akan makan di ruangan staf di sebelah."

Mereka naik ke lantai paling atas. Suasana koridor sangat sepi, hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang menggema. Sampai di depan pintu kayu jati besar bertuliskan "CEO", Ah Cheng berhenti.

"Beliau ada di dalam. Masuklah, Nona Lin. Saya permisi dulu," ucap Ah Cheng sebelum menghilang ke ruangannya.

Lin Xia berdiri mematung sejenak. Ia mengetuk pintu pelan. Tok! Tok! Tok!

"Masuk," terdengar suara bariton yang berat dan dingin dari dalam.

Lin Xia mendorong pintu. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu meja yang redup. Gu Jingshen duduk di balik mejanya, kacamata bertengger di hidungnya, dan jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. Ia bahkan tidak mendongak saat Lin Xia masuk.

Lin Xia berdehem pelan untuk menarik perhatian. Ehem.

Gu Jingshen berhenti mengetik. Ia perlahan mengangkat kepalanya. Begitu melihat Lin Xia, tidak ada binar kebahagiaan atau senyum seperti biasanya. Tatapannya datar, sedingin es di kutub utara.

"Kenapa kau di sini? Ini sudah malam," ucap Jingshen dengan nada tanpa emosi.

Lin Xia meletakkan termosnya di meja kerja. "Aku menelepon Ah Cheng. Katanya Anda tidak pulang dan belum makan. Aku membawakan bubur hangat agar perut Anda lebih nyaman."

Jingshen melirik termos itu sebentar, lalu kembali menatap layarnya. "Aku tidak lapar. Kau tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini lagi, Lin Xia. Aku punya asisten untuk mengurus makanku. Pulanglah, taksi sudah susah dicari jam segini."

Kalimat itu bagaikan tamparan bagi Lin Xia. Kesabarannya yang sudah ia pupuk sejak siang tadi akhirnya habis. Rasa peduli yang dibalas dengan pengabaian membuat hatinya terasa sesak.

"Tuan Gu," suara Lin Xia mulai bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi. "Aku datang ke sini bukan sebagai bawahan yang mencari perhatian. Aku datang sebagai seseorang yang menganggap Anda teman. Tapi lihatlah Anda sekarang."

Jingshen tetap diam, wajahnya tetap kaku bagai patung.

"Tahukah Anda?" lanjut Lin Xia dengan suara lebih tegas. "Orang yang paling kesepian di dunia ini bukanlah mereka yang tidak punya siapa-siapa, tapi mereka yang menutup pintu hatinya rapat-rapat saat orang lain mencoba masuk dengan tulus. Anda boleh membenci dunia, Anda boleh punya dendam, tapi jangan membuang orang yang benar-benar peduli. Karena saat Anda nanti berhasil berdiri di puncak kekuasaan yang Anda cari, Anda mungkin akan sadar bahwa Anda berdiri di sana sendirian."

Lin Xia menatap Jingshen untuk terakhir kalinya malam itu. "Makanlah bubur itu sebelum dingin. Bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri yang malang."

Tanpa menunggu jawaban, Lin Xia berbalik dan melangkah keluar dengan cepat. Ia tidak menoleh lagi. Ia terus berjalan menuju lobi, keluar gedung, dan langsung naik bus terakhir yang lewat di depan gedung. Di dalam bus yang sepi, Lin Xia menatap jendela, membiarkan air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh membasahi pipinya.

[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 22.00 PM]

[Lokasi: Ruang Kerja CEO Gu Corp, Shenzhen]

Di dalam ruangan yang sunyi, Gu Jingshen masih duduk di posisinya. Namun, tangannya berhenti bergerak. Kata-kata bijak Lin Xia tadi terus terngiang di telinganya, menghantam dinding pertahanan yang ia bangun sepanjang hari.

“...Anda mungkin akan sadar bahwa Anda berdiri di sana sendirian.”

Jingshen menatap termos yang ditinggalkan Lin Xia. Ia perlahan membukanya. Aroma jahe dan kaldu yang harum segera memenuhi ruangan. Aroma yang mengingatkannya pada kehangatan rumah, sesuatu yang sangat asing baginya di gedung yang megah ini.

Ia mengambil sendok, menyuapkan bubur itu ke mulutnya. Masih hangat. Sangat hangat.

Saat rasa gurih dan hangat itu menyentuh lidahnya, pertahanan Jingshen runtuh. Setetes air mata jatuh ke dalam mangkuk bubur itu. Ia menundukkan kepala, menyantap bubur itu dengan bahu yang sedikit bergetar.

Ia ingin mengejar Lin Xia, ia ingin meminta maaf, ia ingin mengatakan bahwa ia menjauh karena takut membahayakannya. Namun, kenyataan pahit bahwa ia sedang berada di tengah medan perang melawan ayah tirinya memaksanya untuk tetap diam dalam kegelapan.

Malam itu, di bawah temaram lampu meja, sang CEO yang ditakuti seluruh kota menangis dalam diam, ditemani semangkuk bubur hangat yang penuh dengan doa seorang wanita yang baru saja ia sakiti hatinya.

1
Celine
Keren Author
Ika Anggriani
serem juga😭
Agry
/Hey/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!