Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kangen..
Beberapa jam sebelum Arka Tiba di Apartemen
Pintu apartemen tertutup pelan di belakang Lara.
Langkahnya tidak benar-benar stabil. Setiap pijakan terasa sedikit melayang, seolah lantai di bawah kakinya tidak sepenuhnya nyata. Kepalanya masih berdenyut samar—bukan sakit yang menyiksa, tapi cukup untuk membuat pandangannya kadang buram dan pikirannya lambat merespons.
Begitu masuk, Lara melepas sepatunya tanpa peduli arahnya. Sepatu itu mendarat entah di mana. Tas selempangnya pun menyusul, dilempar asal ke atas sofa sebelum akhirnya melorot jatuh ke lantai. Ia tidak menoleh,dan tidak berniat merapikannya.
Kamarnya menyambut dalam kondisi yang jauh dari kata rapi.
Bungkus camilan dari semalam masih berserakan di meja kecil. Kotak es krim kosong—atau setengah kosong—tergeletak malas di atas meja. Lara melirik sekilas, lalu menghela napas pendek. Kepalanya terasa semakin berat saat mengingat berapa banyak es krim yang ia habiskan semalam. Hampir selusin, kalau dihitung-hitung.
Pantas saja tubuhnya terasa aneh.
Namun Lara tidak punya energi untuk menyesali apa pun.
Ia melangkah ke kamar mandi, mengganti bajunya dengan gerakan seadanya. Kaos yang dipakainya dilempar begitu saja ke lantai, celana menyusul tanpa pikir panjang. Biasanya ia akan merapikan kekacauan yang ia buat, tapi kali ini bahkan niat itu pun tidak muncul.
Biarlah berantakan, toh saat ini dia hanya sendirian. Dan tidak ada Arka yang akan mengomel halus soal kamar berantakannya. .
“Aku beresin nanti…” gumam Lara lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada janji sungguhan.
Saat ini, tubuhnya butuh diselamatkan lebih dulu.
Ia berjalan ke arah kasur, membiarkan dirinya jatuh ke atasnya tanpa banyak gaya. Kasur itu empuk, menyambut seperti pelukan yang lama ditunda. Lara menarik selimut, menutup tubuhnya hingga sebatas dada, lalu memejamkan mata.
Napasnya sedikit berat. Kepalanya masih nyeri. Badannya lemas. Pikirannya kacau.
Mungkin ini efek begadang semalaman. Mungkin karena perutnya kosong pagi tadi.
Atau mungkin… karena terlalu banyak hal yang menumpuk dalam waktu bersamaan.
Lara tidak tahu. Yang ia tahu, saat ini ia sedang tidak baik-baik saja.
Dua jam kemudian.
Pintu apartemen terbuka dari luar, disusul langkah tergesa yang terdengar jauh dari biasanya. Arka masuk denga agak tergesa—tidak ada jeda untuk melepas sepatunya dengan benar, kali ini bahkan ia tidak menggantung jas di tempat semestinya.
Pandangan Arka langsung berkeliling,mencari keberadaan Lara.Namun tidak ada tanda gadis itu berada di sana.
Yang pertama kali ia lihat justru sepatu Lara yang tergeletak sembarangan, satu menghadap sofa, satu lagi hampir menyentuh meja kecil. Tas Lara tergeletak di lantai, terbuka sedikit, isinya tampak berantakan.
Biasanya, pemandangan seperti ini akan membuat Arka menghela napas panjang dan mengomel pelan.
Tapi kali ini tidak.
Koper yang masih dibawanya diletakkan asal di dekat pintu, nyaris tergeletak. Arka sama sekali tidak peduli dan langkahnya langsung mengarah ke kamar.
“Lara?” panggilnya pelan sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Arka mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih kuat, namun tetap tertahan. Hening. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari yang ia akui. Tanpa menunggu lebih lama, ia membuka pintu kamar itu perlahan.
Dan di sanalah Lara.
Terlelap di atas kasur, tubuhnya meringkuk ringan di balik selimut. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak pucat dengan bayangan lelah yang jelas meski matanya tertutup.
Kamar itu—benar-benar berantakan.
Pakaian tergeletak di lantai, bungkus camilan berserakan, meja kecil dipenuhi sisa semalam yang belum dirapikan. Kamar itu seperti kapal pecah.
Biasanya Arka akan langsung bereaksi.
Biasanya....
Namun kali ini, matanya hanya tertuju pada satu hal—yaitu wajah Lara.
Ia melangkah masuk perlahan, seakan takut suara langkahnya sendiri bisa membangunkan Lara. Arka duduk di sisi kasur, mencondongkan tubuh sedikit untuk memastikan napas Lara teratur.
Arka mengamati wajah itu lebih lama dari yang seharusnya. Kulitnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Alisnya sedikit berkerut, seolah bahkan dalam tidur pun Lara masih menyimpan lelah.
Hati Arka terasa diremas pelan.
“Bodoh…” gumamnya lirih, entah untuk siapa.
Ia menghela napas panjang—lega. Setidaknya Lara sedang istirahat. Setidaknya ia sampai sebelum terjadi hal yang lebih buruk. Arka mengangkat tangan, hampir saja menyentuh rambut Lara, namun urung. Ia tidak ingin membangunkannya.
Pelan-pelan, Arka berdiri.
Matanya kembali menyapu kondisi kamar yang berantakan itu. Kali ini bukan dengan rasa kesal, melainkan dengan perasaan yang jauh lebih rumit.
Tanpa suara, Arka mulai merapikan kamar itu.
Ia mengangkat pakaian dari lantai, melipat seadanya lalu meletakkannya di kursi. Bungkus camilan dikumpulkan perlahan. Meja kecil dirapikan, semuanya dilakukan dengan gerakan hati-hati, seolah setiap bunyi kecil bisa mengganggu tidur Lara.
Arka bahkan merapikan selimut Lara sedikit, memastikan tubuh itu tertutup dengan nyaman.
Saat akhirnya ia melangkah keluar kamar, Arka menoleh sekali lagi. Dan Lara masih tertidur.
Malam semakin larut.
Arka berbaring di atas ranjang kamarnya, lampu tidur menyala redup. Matanya terasa berat, tubuhnya lelah setelah perjalanan panjang dan hari yang kacau, tapi anehnya rasa kantuk tak juga datang. Pikirannya tidak benar-benar tenang.
Pandangan Arka melirik jam dinding.
Pukul sepuluh malam.
Biasanya, di jam-jam seperti ini, akan terdengar langkah kaki kecil keluar dari kamar Lara. Entah hanya untuk minum, mengambil cemilan, atau sekadar mondar-mandir dengan wajah mengantuk. Tapi malam ini… sunyi. Terlalu sunyi.
Tidak ada suara apapun di luar sana.
Arka menghela napas pelan. Perasaan tidak nyaman itu kembali muncul—rasa khawatir yang datang tanpa diundang. Ia bangkit dari ranjang, melangkah keluar kamar dengan langkah ringan, lalu berhenti di depan pintu kamar Lara.
Tok.
Tok.
“Lara?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Dada Arka mengencang. Ia membuka pintu perlahan.
Lara masih tertidur di atas kasur, namun kali ini Arka langsung menyadari ada yang berbeda. Alis Lara berkerut, napasnya tidak teratur, tubuhnya terlihat gelisah seolah sedang melawan sesuatu dalam tidurnya.
Arka mendekat dengan langkah cepat, lalu duduk di sisi kasur.
Tanpa berpikir panjang, punggung tangannya menyentuh jidat Lara.
Panas Jauh lebih panas dari yang seharusnya.
“Lara…” Arka berucap pelan, nada suaranya berubah tegang.
Panik langsung merayap naik. Ia bangkit berdiri, hampir berlari ke dapur. Arka mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air dingin, lalu kembali lagi. Setelah itu, ia mengacak-acak kotak obat dengan tangan sedikit gemetar sampai menemukan obat penurun panas.
Arka kembali ke sisi Lara.
Ia mengguncang bahu Lara perlahan, berusaha membangunkannya. “Lara… bangun sebentar.”
Kelopak mata Lara bergerak pelan. Matanya terbuka setengah, pandangannya kosong, jelas belum sepenuhnya sadar. Bibirnya bergerak, namun tidak membentuk kata.
Arka merangkul bahu Lara, menarik tubuh itu perlahan hingga bersandar di dadanya. Dengan satu tangan ia menyodorkan obat ke bibir Lara, dengan tangan lain menopang kepalanya.
“Minum dulu. Sedikit saja.”
Lara menurut. Seperti terhipnotis, ia menelan obat itu tanpa protes, kepalanya tetap bersandar di dada Arka. Tubuhnya hangat—terlalu hangat—dan itu membuat Arka semakin gelisah.
Setelahnya, Arka membaringkan Lara kembali dengan hati-hati. Ia meletakkan kompres di jidat Lara, memastikan handuk itu menempel dengan baik.
Namun demam itu belum juga turun.
Lara mulai mengigau.
Tubuhnya bergerak gelisah, napasnya naik turun tidak teratur. Tangannya bergerak mencari sesuatu—dan tanpa sadar, jemarinya menangkap tangan Arka yang berada di dekatnya.
Genggamannya lemah, tapi jelas.
“Paman…” gumam Lara lirih, suaranya serak dan rapuh.
“Paman… Lara kangen…”
Arka membeku. Waktu seolah berhenti di detik itu.
Ia menatap wajah Lara yang terlelap, jemari kecil itu masih menggenggam tangannya seolah takut ditinggalkan. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Arka tidak menarik tangannya.
Ia membiarkan genggaman itu ada, tetap di sana, seakan kehadirannya adalah satu-satunya hal yang bisa menenangkan Lara saat ini. Arka duduk di sisi kasur, tidak bergerak, tidak berani berpikir terlalu jauh.
Hingga napas Lara perlahan kembali teratur. Hingga tubuh itu kembali tenang.
Dan Arka tetap di sana—terjaga—menjaga seseorang yang tanpa ia sadari telah menjadi pusat dari seluruh kegelisahannya.