NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IJAZAH WANGI, DOMPET MATI

Siang itu, matahari Jakarta rasanya sedang tidak ingin berkompromi. Panasnya seolah mampu menembus pori-pori kulit dan langsung membakar semangat siapa pun yang nekat berdiri di bawahnya. Bagas, seorang pemuda yang baru tiga bulan menggenggam ijazah SMK, berdiri mematung di depan pagar besi sebuah gedung perkantoran tinggi di kawasan Sudirman.

Kemeja putihnya yang dulu dibeli dengan sisa uang tabungan bapaknya, kini sudah mulai kehilangan warna aslinya. Ada noda kuning samar di bagian ketiak karena keringat yang terus mengucur, dan kerah bajunya pun sudah layu, persis seperti harapan Bagas yang perlahan mulai mengempis.

Di tangan kanannya, Bagas memeluk sebuah map cokelat dengan sangat erat. Di dalamnya tersimpan "harta karun" yang ia harap bisa mengubah nasib keluarganya fotokopi ijazah yang masih wangi tinta, SKCK yang baru dibuat di kantor polisi dengan antrean mengular, dan surat lamaran kerja yang sudah ia revisi berkali-kali di warnet langganannya.

Bagas menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdebar kencang. "Ayo Gas, jangan memalukan. Malu sama ijazah, malu sama Ibu di rumah," gumamnya pelan sambil mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan.

Bagas teringat momen kelulusannya tiga bulan lalu. Saat itu, ia merasa dunia ada di telapak tangannya. Dengan nilai ujian yang lumayan dan predikat siswa teladan, ia membayangkan perusahaan-perusahaan besar akan berebut memanggilnya.

Ia membayangkan dirinya berangkat pagi dengan jas rapi, tas laptop di bahu, dan pulang membawa gaji yang cukup untuk membeli mesin cuci baru buat ibunya supaya ibunya tidak perlu lagi mengucek baju tetangga sampai tangannya lecet. Tapi, realitas ternyata adalah guru yang paling kejam. Tiga bulan mencari kerja, puluhan lamaran dikirim, hasilnya? Nol besar.

Ia melangkah masuk ke dalam gedung yang megah itu. Lantainya begitu mengkilap sampai Bagas bisa melihat wajahnya yang kuyu di sana. Aroma pengharum ruangan yang mahal menyeruak, sangat kontras dengan bau asap knalpot ojek pangkalan yang tadi ia tumpangi. Bagas berjalan menuju meja resepsionis.

 Di sana duduk seorang wanita dengan pakaian sangat modis, matanya tidak lepas dari layar ponsel mahal, sementara jemarinya yang lentik asyik mengunyah permen karet.

"Selamat siang, Mbak. Saya mau menyerahkan lamaran kerja untuk posisi admin operasional yang diiklankan di internet kemarin," kata Bagas sesopan mungkin. Ia memberikan senyum terbaiknya, tapi di sini, senyum itu tidak laku.

Mbak resepsionis itu hanya melirik sekilas, lalu menunjuk ke sebuah kotak kardus besar di pojok ruangan dengan dagunya. "Taruh di situ saja, Mas. Nanti kalau lolos seleksi berkas, kami hubungi lewat WhatsApp."

Bagas menoleh ke arah kotak itu. Jantungnya serasa merosot ke lantai. Kotak itu penuh sesak. Ratusan, bahkan mungkin ribuan map cokelat serupa miliknya tumpah-ruah di sana. Beberapa map bahkan sudah lecek dan terkena tetesan air minum. Bagas membatin pahit, Ini lamaran kerja atau tumpukan sampah memori? Bagaimana mungkin profilnya yang sederhana bisa terbaca di tengah ribuan saingan yang mungkin lebih hebat darinya?

"Nggak ada tes tulis atau wawancara langsung, Mbak?" tanya Bagas, mencoba peruntungannya.

"Nggak ada. Kan saya sudah bilang, tunggu saja kabarnya. Masih banyak yang antre, Mas," jawab si Mbak tanpa nada ramah sedikit pun.

Bagas meletakkan mapnya dengan hati-hati di tumpukan paling atas, seolah-olah ia sedang meletakkan bayi di tempat tidur. Ia berdoa dalam hati, semoga malaikat penjaga berkas melihat lamarannya dan menaruhnya di meja bos besar.

Setelah keluar dari gedung, Bagas berjalan menuju halte busway. Di saku celananya, ia meraba uangnya. Hanya ada satu lembar sepuluh ribu yang sudah lecek parah dan dua koin lima ratus perak. Total sebelas ribu rupiah.

Ia lapar, perutnya sudah bernyanyi sejak tadi pagi karena hanya diisi segelas air putih dan sepotong biskuit sisa kemarin. Namun, ia harus berhemat. Uang sepuluh ribu ini harus cukup untuk naik angkot pulang dan mungkin membeli satu bungkus mi instan di warung depan gang.

Bagas duduk di halte, menatap kemacetan Jakarta yang gila. Orang-orang di dalam mobil mewah terlihat tenang dengan AC yang sejuk, sementara ia di sini, bertarung dengan debu dan nasib yang belum jelas ujungnya.

Pikirannya melayang ke rumah. Rumah petakan di gang sempit yang kalau hujan bocornya minta ampun. Ia teringat bapaknya yang sekarang sering batuk-batuk karena terlalu lama bekerja di bengkel las, dan ibunya yang tetap tersenyum meski pinggangnya encok setelah mencuci baju seharian.

 Bagas merasa bersalah. Ia ingin segera bekerja bukan cuma untuk cari uang, tapi untuk menghentikan bapak dan ibunya bekerja keras. Ia ingin melihat mereka istirahat, menikmati hari tua dengan tenang.

"Sabar, Gas. Orang sabar disayang Tuhan, tapi kalau sabarnya kelamaan, bisa-bisa dompet yang hilang," candanya pada diri sendiri, mencoba menghibur hatinya yang sedang mendung.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi lowongan kerja baru muncul di grup WhatsApp alumni SMK-nya. 'Lowongan Admin Gudang, Syarat: Pria, Max 22 tahun, Pengalaman 2 2 tahun, menguasai SAP dan Excel tingkat dewa.' Bagas menghela napas panjang. Persyaratan kerja zaman sekarang memang lucu. Mau cari admin gudang tapi syaratnya harus sehebat programmer NASA. Mau cari lulusan baru tapi minta pengalaman dua tahun. Lha, kalau belum ada yang nerima kerja, dapet pengalamannya dari mana? Dari mimpi? pikir Bagas kesal.

Malam harinya, saat makan malam dengan menu tempe goreng dan sambal, suasana rumah terasa hangat meski sederhana. Ibu menyodorkan piring nasi ke Bagas.

"Gimana tadi, Gas? Gedungnya bagus?" tanya Ibu lembut.

"Bagus banget, Bu. AC-nya dingin, lantai saking kinclongnya bisa buat ngaca," jawab Bagas sambil nyengir. "Tadi sudah Bagas taruh lamarannya. Orangnya bilang sih saya sangat potensial." Bohong sedikit demi ketenangan orang tua nggak apa-apa lah ya, batin Bagas meringis.

Bapak yang duduk di kursi kayu tua hanya mengangguk-angguk. "Ya disyukuri, Gas. Yang penting sudah usaha. Jangan sampai putus asa. Rezeki itu kayak kucing, makin dikejar kadang makin lari, tapi kalau kita tenang sambil bawa umpan, dia datang sendiri."

Bagas tersenyum pahit. Iya Pak, masalahnya umpannya ini yang belum punya.

Malam itu, di kamar kecilnya yang hanya muat satu kasur tipis, Bagas membuka laptop pinjaman temannya. Ia mulai berselancar lagi di dunia maya. Mencari pekerjaan bukan lagi tugas sampingan, melainkan pekerjaan utuh baginya sekarang.

Ia melamar ke mana saja admin, sales, kurir, sampai staf pembersih kolam renang (padahal dia sendiri nggak bisa berenang). Bagas tidak malu. Yang ia malu adalah jika ia hanya diam dan menjadi beban orang tua di usia produktifnya.

Ia pun tertidur dengan ponsel di tangan, bermimpi sedang berdiri di puncak menara Eiffel bersama kedua orang tuanya. Di mimpi itu, ia memakai jas hitam mewah, memegang tiket pesawat kelas bisnis, dan ibunya tertawa sangat lepas tanpa ada gurat kelelahan di wajahnya.

 Mimpi itu begitu nyata, sampai-sampai Bagas tidak sadar kalau air liurnya sedikit menetes ke bantal yang sudah tipis itu. Keesokan paginya, sebuah keajaiban kecil terjadi. Ponselnya berbunyi kencang.

 Sebuah pesan dari nomor asing masuk: "Selamat pagi, saudara Bagas. Kami dari HRD PT. Sumber Makmur Sejahtera. Kami mengundang saudara untuk melakukan interview besok pukul 09.00 pagi. Harap membawa dokumen asli."

Bagas melonjak dari kasur sampai kepalanya terbentur langit-langit kamar yang rendah. "ADUH! SAKIT! TAPI YESSS!" teriaknya kegirangan.

Ia berlari keluar kamar, menemui ibunya yang sedang menjemur pakaian. "Bu! Panggilan, Bu! Bagas dipanggil interview besok!"

Ibu langsung menjatuhkan jemurannya, matanya berbinar haru. "Alhamdulillah, Gas! Akhirnya doa Ibu dijawab. Besok Ibu setrikakan baju kamu yang paling bagus ya."

Bagas merasa hatinya dipenuhi bunga-bunga. Ia merasa satu langkah lebih dekat dengan Menara Eiffel di mimpinya. Namun, ia belum tahu, bahwa dunia interview kerja adalah rimba yang penuh dengan jebakan. Ia belum tahu kalau besok ia akan berhadapan dengan sebuah sistem yang disebut "Orang Dalam".

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!