Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Krisis Panti dan Dilema Moral
Sinar matahari pagi di bulan Ramadan ini terasa lebih menyengat bagi Bayu. Ia terbangun di kamar kecilnya yang pengap, menatap langit-langit kayu yang dipenuhi sarang laba-laba. Perutnya perih luar biasa karena saat sahur tadi, ia hanya memaksakan diri menelan sisa kolak pemberian ibunya Fahmi dan segelas air putih. Tidak ada nasi, tidak ada kemewahan. Hanya rasa hambar yang mengendap di kerongkongan.
Bayu melangkah keluar kamar, mendapati ibunya sudah tidak ada di rumah. Selembar catatan kecil di atas meja makan memberitahunya bahwa sang ibu sudah pergi ke rumah Pak Haji untuk mencuci pakaian. Di samping catatan itu, terselip uang sepuluh ribu rupiah yang sudah sangat lusuh.
"Bay, ini buat beli takjil nanti sore. Maaf ibu nggak bisa kasih banyak," tulis ibunya dengan huruf-huruf yang gemetar.
Bayu meremas kertas itu. Air matanya hampir jatuh. Uang sepuluh ribu itu mungkin adalah hasil memeras tenaga sang ibu sejak subuh, dan ia, seorang mantan direktur yang pernah menghamburkan jutaan rupiah untuk sekali makan malam, kini menggenggamnya sebagai harapan hidup terakhir. Rasa malu itu kembali membakar dadanya, lebih panas dari sinar matahari di luar sana.
Siang harinya, Bayu berjalan tanpa tujuan menuju arah panti asuhan, tempat yang kemarin membuatnya merasa begitu kerdil. Namun, suasana di sana hari ini sangat berbeda. Tidak ada tawa riang anak-anak atau candaan Fahmi yang luwes. Yang terdengar justru suara isak tangis yang tertahan dan nada bicara yang penuh kepanikan.
Di teras panti, ia melihat Fahmi sedang duduk tertunduk, sementara Nayla berdiri di sampingnya dengan wajah yang pucat pasi. Beberapa pengurus panti tampak sibuk berlalu-lalang dengan raut wajah tegang.
"Nggak bisa ditunda lagi, Mi. Dokter bilang operasinya harus dilakukan besok pagi. Kalau nggak, infeksi di ginjalnya bakal menyebar," suara Nayla terdengar gemetar, nyaris pecah.
Bayu berhenti di balik tembok pagar, telinganya menajam. Ia merasa bersalah karena menguping, namun kakinya seolah terpaku di sana.
Fahmi mengacak rambutnya dengan frustrasi. Wajahnya yang biasanya tenang dan bercahaya kini tampak kuyu dan penuh beban. "Aku tau, Nay. Aku bener-bener tau. Tapi kamu liat sendiri laporan keuangan kantorku bulan ini. Proyek pengadaan logistik dari pemda itu pembayarannya baru cair bulan depan. Semua asetku lagi ketahan di situ. Aku udah coba cairin deposito, tapi butuh waktu seminggu."
"Kita butuh delapan puluh juta, Mi. Sekarang juga. Uang kas panti cuma ada lima juta," balas Nayla, air matanya mulai menetes. "Siapa lagi yang bisa kita mintai tolong secepat ini? Anak itu yatim piatu, dia nggak punya siapa-siapa selain kita."
Fahmi terdiam lama. Keheningan yang tercipta di antara mereka terasa sangat berat. "Aku bakal usahain pinjem ke bank atau kolega lain, tapi di hari libur begini ... semuanya susah, Nay. Astaghfirullah, kenapa jalannya sesulit ini?"
Bayu yang mendengarkan dari balik tembok merasa jantungnya berdegup kencang. Ia mengenal anak yang dimaksud. Haikal, bocah kecil yang kemarin digendong Fahmi dengan penuh tawa. Kini, nyawa bocah itu terancam karena masalah angka. Sesuatu yang dulu dianggap Bayu sebagai hal sepele, kini menjelma menjadi tembok raksasa yang tak tertembus bahkan oleh orang sebaik Fahmi.
Bayu melangkah menjauh dengan pikiran kalut. Ia ingin sekali masuk ke sana, menepuk bahu Fahmi, dan berkata, "Biar gue yang urus semuanya." Namun, ia sadar posisinya. Jangankan delapan puluh juta, uang sepuluh ribu di sakunya saja adalah pemberian ibunya yang sudah bungkuk karena mencuci baju.
Ia duduk di bawah pohon beringin besar di pinggir lapangan desa, meratapi ketidakberdayaannya. Di saat itulah, ponselnya yang layarnya sudah retak bergetar di saku celana. Sebuah nomor Jakarta yang sangat ia kenal muncul di layar.
"Halo?" Bayu menjawab dengan suara serak.
"Woi, Bay! Apa kabar lo? Masih hidup di kampung?" suara di seberang sana terdengar sangat santai, kontras dengan suasana hati Bayu. Itu adalah tawa khas Rian, mantan orang kepercayaannya di Jakarta yang dulu sering membantunya melakukan 'permainan' administratif di bawah meja.
"Langsung aja, Yan. Ada apa lo telepon?"
Rian terkekeh. "Gue tau lo lagi susah, Bay. Berita lo bangkrut udah nyebar di kalangan broker. Tapi gue punya kabar gembira buat lo. Lo masih pegang password admin dan akses database digital perusahaan lama lo, kan? Yang lo pegang sebelum aset lo disita itu."
Bayu mengerutkan kening. "Masih. Kenapa?"
"Gini, bos baru lo yang sekarang lagi ngurusin pailit itu pengen hapus jejak beberapa transaksi lama. Kalau lo mau bantu 'merapikan' data digital itu, lo tau lah maksud gue, hapus beberapa entry dan ubah alur laporannya, dia berani bayar mahal. Seratus juta, tunai sore ini juga lewat transfer. Gimana? Gampang kan buat ahli kayak lo?"
Darah Bayu seolah berhenti mengalir. Seratus juta. Angka itu berputar-putar di kepalanya. Itu lebih dari cukup untuk membiayai operasi Haikal, membelikan obat untuk ibunya, dan bahkan memulai hidup baru tanpa harus merasa menjadi beban.
"Tapi itu ilegal, Yan. Itu pemalsuan data," bisik Bayu, matanya menatap nanar ke arah masjid di kejauhan.
"Yah, Bay ... di dunia ini mana ada yang bener-bener bersih? Lo lagi butuh duit, kan? Daripada lo mati kelaparan di desa jadi gembel, mending lo ambil ini. Cuma main jari dikit di laptop, kelar. Nggak ada yang bakal tau. Anggap aja ini kompensasi buat keringat lo selama ini."
Bayu terdiam. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. Tawaran ini adalah iblis yang menyamar sebagai malaikat penyelamat di tengah gurun pasir penderitaannya. Logikanya mulai berperang hebat.
‘Kalau gue ambil uang ini, Haikal selamat. Ibu nggak perlu jadi buruh cuci lagi. Gue bisa bantu panti dan kelihatan jadi pahlawan di depan Nayla,’ batinnya berbisik.
Namun, di sudut hatinya yang lain, sebuah suara kecil memprotes. ‘Tapi itu uang haram, Bay. Lo baru aja nangis-nangis di depan Tuhan minta ampunan, sekarang lo mau buat dosa besar lagi? Di bulan Ramadan pula?’
"Gimana, Bay? Deal? Gue tunggu kabarnya sejam lagi ya. Kalau lewat dari itu, bos cari orang lain," Rian menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Bayu menyandarkan kepalanya di batang pohon yang kasar. Dilema moral itu meremas-remas dadanya hingga sesak. Ia melihat ke arah jalanan desa yang mulai ramai oleh warga yang berburu takjil. Suasana Ramadan yang damai kini terasa seperti medan perang baginya.
Ia teringat wajah ibunya yang batuk-batuk saat mencuci. Ia teringat wajah Haikal yang pucat. Dan ia teringat wajah Fahmi yang meskipun gagal membantu saat ini, tetap memiliki integritas yang tak tergoyahkan.
"Kenapa ujiannya harus begini, Ya Allah?" rintihnya lirih.
Bayu berdiri, melangkah kembali menuju rumahnya. Di meja makan, laptop lamanya masih tersimpan di dalam tas ransel. Laptop yang berisi kunci menuju uang seratus juta itu. Ia duduk di depan perangkat tersebut, menatap layarnya yang hitam. Jarinya berada di atas tombol power, namun ia ragu untuk menekannya.
Ia teringat ceramah singkat yang ia dengar dari pengeras suara masjid tadi malam. "Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik."
"Tapi Haikal nggak punya waktu seminggu untuk nunggu ganti yang lebih baik, Ya Tuhan!" Bayu berteriak dalam hati, air mata frustrasi menetes di atas keyboard laptopnya.
Di satu sisi, ada harga diri dan keselamatan nyawa manusia. Di sisi lain, ada kejujuran dan sisa-sisa iman yang baru saja ingin ia bangun kembali. Bayu merasa berada di persimpangan jalan yang paling mengerikan dalam hidupnya.
Satu klik bisa mengubah segalanya, menjadikannya pahlawan semu yang membiayai kebaikan dengan cara yang busuk, atau tetap menjadi pecundang yang jujur namun harus menyaksikan penderitaan orang lain karena ketidakberdayaannya.
Sore itu, saat adzan Ashar berkumandang dari kejauhan, Bayu masih terpaku di depan laptopnya. Bayang-bayang Jakarta yang penuh tipu daya dan kedamaian desa yang jujur bertarung di dalam benaknya. Ia harus memilih, dan setiap pilihan yang ia ambil akan menentukan siapa dia sebenarnya di mata Tuhan, di mata ibunya, dan di mata hatinya sendiri yang kini sedang meronta hebat.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰