Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Resign
Aditi mendengar gema atas suaranya sendiri. Mengundurkan diri... Sebagai guru...
Aditi terdiam setelah berkata lantang. Perasaannya campur aduk. Lega sekaligus takut. Lega karena berhasil tegas terhadap keadaan toksik yang hampir dua tahun mencekik dirinya itu.
Namun ia tak memungkiri, ia juga takut. Ia kini menjadi pengangguran. Menambah beban keluarga dan negara.
Pasti presiden pusing melihat warga negaranya bertambah lagi yang menambah jeblok angka statistik BPS. Belum lagi ayah Aditi, Januar Arifin, pasti pening melihat anak bungsunya kembali menjadi parasit.
Tapi harga diri di atas segalanya. Aditi tidak terima dianggap bertanggung jawab sepenuhnya atas insiden kepala bocor murid kelas 5. Lebih baik ia yang berinisiatif memutus diri dari institusi yang kurang bijak itu.
"Bu Diti, saya belum selesai lho, membacakan keputusan rapat." Ibnu tersenyum. Aditi mengerutkan alis.
"Saya baru mau bilang, kalau ada pertimbangan Bu Diti akan kami tarik ke yayasan saja. Tidak jadi tenaga pengajar lagi, tetapi jadi pengurus yayasan."
Senyum Ibnu semakin terkembang. Aditi mencebikkan bibir.
Dasar kadal buntung! Bisa banget manfaatin keadaan. Dikira gue mau!
Aditi berdeham, berusaha membuat tenggorokannya lebih lega.
"Terima kasih atas penawarannya, Pak Ibnu. Tapi keputusan saya sudah bulat. Saya memilih tidak melanjutkan kerja sama dalam bentuk apa pun dengan Bina Ananda.
Saya berterima kasih atas segala kesempatan, ilmu dan pengembangan diri yang telah diberikan kepada saya. Saya meminta maaf jika ada kesalahan dalam proses tersebut."
Alhamdulillah, keren juga gue, huhuhu...
Aditi menghembuskan napas setelah berujar panjang. Ibnu memundurkan duduknya.
"Ibu Diti ini sangat potensial sekali lho. Masih muda, pintar, energik, bertanggung jawab. Coba dipertimbangkan sekali lagi, keputusannya." Ibnu kembali menyunggingkan senyumnya.
Rini tersenyum sinis. Ambar juga tersenyum, tak kalah mencemooh. Hampir semua orang tahu reputasi Ibnu.
Ambar sebagai sepupu, tahu saudaranya itu sedang menebar jala pukat harimau pada Aditi. Aditinya saja yang sok jual mahal. Dipertontonkan dalam rapat sekolah. Ibnu memang keterlaluan kalau sudah penasaran.
Tapi Ambar lega, bukan ia yang harus bertanggung jawab atas insiden kepala bocor. Posisinya aman walaupun sama-sama sebagai guru piket dengan Aditi.
Rini bernapas lega, ia tidak dijadikan sebagai terdakwa dalam insiden yang menghebohkan itu. Kalau sampai Ibnu membuat keputusan yang salah, akan ia tekan ibunya Ibnu. Berani sekali menzalimi dirinya sebagai salah satu orang yang membidani lahirnya sekolah Bina Ananda.
Setelah mempertimbangkan segala masukan dari peserta rapat, pengunduran diri Aditi diterima. Rapat ditutup.
Wajah-wajah bahagia dari Rini dan Ambar tidak dapat disembunyikan. Tidak ada rasa prihatin atas nasib mantan rekan kerja mereka, Aditi.
Aditi menghembuskan napas panjang. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus yang ia minta dari ibu kantin.
Rekan-rekannya, sesama anak bawang hanya lebih semi senior, Yuti dan Melly, menatap iba pada Aditi. Mereka menyayangkan insiden ini terjadi dan merugikan teman mereka. Mereka membantu Aditi membereskan barangnya yang tidak seberapa itu.
Aditi adalah pribadi yang hangat. Menjadi penyegar di antara penduduk usia veteran di sekolah Bina Ananda. Yuti dan Melly jadi berpikir ingin mengikuti jejak Aditi. Tapi mereka tidak mau gegabah. Mencari kerja sekarang tidaklah mudah.
Ibnu menghampiri Aditi. Yuti dan Melly langsung menghambur keluar. Tahu kalau bos mereka akan beraksi.
"Kenapa nggak nunggu sebulan masa pengunduran diri sih? Kamu nanti nggak dapet uang kompensasinya lho." Ibnu memegang kardus di meja Aditi.
Aditi melirik ke arah Ibnu. Mengingat sekarang Ibnu bukan bosnya lagi, rasanya Aditi ingin melempar kardus yang belum penuh itu ke wajah manis tapi menyebalkan milik Ibnu.
Tapi Aditi masih ingat dirinya adalah guru. Perilakunya akan digugu dan ditiru. Namanya akan semakin buruk jika ia menuruti hawa nafsunya.
"Kalau saya tetep kerja, itu wali murid pasti bakal tetep meradang, Pak. Dia kan taunya saya yang salah. Belum wali murid yang laen.
Pasti mereka maunya saya nggak keliatan lagi. Jangan ngurusin anak-anak lagi." Aditi menipiskan bibirnya.
"Makanya ke yayasan aja. Jadi kamu aman. Sekolah kondusif, kamu aman." Mata Ibnu memandang dalam pada Aditi. Membuat Aditi tergoda, tergoda untuk mencoloknya.
"Psikologis saya kena, Pak. Saya merasa jadi tumbal demi nama baik sekolah. Kayaknya saya nggak sanggup deh kerja di seputaran Bina Ananda." Aditi terdiam sendu. Ia menggerak-gerakkan telunjuknya di atas meja.
Dih, napa gue jadi curhat ama si kadal buntung? Ya udahlah bonus buat dia, huh....
"Iya, saya salut banget, kamu kuat banget jadi cewek. Gini deh, saya emang nggak bisa bikin kompensasi kamu keluar karena kamu nggak mau nunggu sebulan. Urusan uang, saya nggak berani macem-macem.
Tapi saya bisa bantu paklaring kamu tetep keluar. Jadi kamu nanti tetep bisa ngelamar ke tempat laen, dengan nama bersih. Sama buat urusan BPJS juga kan, kalo kamu mau cairin." Ibnu menaik-turunkan alisnya.
Wkwkwk... Nggak sia-sia gue sok jinak ama si kadal buntung. Aman dah, paklaring gue. Itu yang jadi pikiran dari tadi, huf...
"Iya Pak, masalah kompensasi anggep aja saya sedekah. Bayarin si Rafa yang palanya bocor. Daripada saya tahan-tahan sebulan, mental saya kena. Belum nanti gaduh melulu wali murid." Aditi menundukkan wajahnya.
"Nanti paklaringnya saya anter ke rumah ya?" Ibnu terus menatap Aditi.
Aditi kontan mengangkat wajahnya mendengar ucapan Ibnu. "Hah? Emang nggak bisa keluar sekarang, Pak? Saya tungguin deh, biar ampe sore juga."
"Hhmm, kamu pulang aja sekarang. Biar tenang. Besok sore saya anter ke rumah."
Dasar kadal buntung, tukang manfaatin situasi!
"Ih Bapak, jangan repot-repot ah." Aditi meringis.
"Nggak repot, Diti. Nggak ada yang repot."
Ibnu melesatkan senyum manis pada Aditi yang sedang melihat ke arahnya. Berharap panah senyumnya menancap. Aditi malah mencebikkan bibir. Pertanda panahnya meleset.
Halah, susah mau menghindar juga. Dia tau data diri gue, ck...
"Apa saya ke sini aja Pak, besok?" tawar Aditi.
"No, biar saya silaturahmi ke rumah kamu." Ibnu kembali tersenyum. Stok panah senyumnya melimpah. Aditi menahan diri agar tidak bergidik.
"Ya udah, terserah Bapak aja lah kalo gitu." Aditi sudah kehabisan energi untuk berdebat.
"Mau saya anter?" Ibnu menjalankan aksi menebar jala pukat harimaunya.
"Lah, terus motor saya gimana, Pak?"
"Dianter saya besok, pas anter paklaring kamu."
Buset, kadal buntung cap belut! Licin banget!
"Ih, jangan dong Pak. Nanti saya malem mau ke ind*maret susah kalo nggak ada motor."
Ibnu tertawa kecil melihat ekspresi wajah Aditi. Ia merasa sedih akan kehilangan penyegar di tempat kerjanya.