Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA DIBALIK KEMEJA PUTIH.
Haris menggelengkan kepala melihat asisten kepercayaannya itu hanya berdiri mematung menatap punggung Ratih yang kian menjauh. Ia mendengus kasar, merasa gemas dengan kekakuan bawahannya yang satu ini.
"Dasar pria kaku bodoh! Memangnya kamu ini robot yang tidak punya perasaan, hah? Cepat kejar dia! Jam segini taksi sangat sulit didapat di area ini. Antar dia sampai ke depan pintu rumahnya, itu perintah!" seru Haris dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan.
Farel tersentak, ia segera berpamitan singkat lalu berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit. Benar saja, sesampainya di lobi utama, ia melihat Ratih sedang berdiri gelisah di pinggir jalan sambil terus memperhatikan layar ponselnya, mencoba memesan transportasi daring yang tak kunjung datang. Farel segera mengambil jipnya di parkiran dan melaju perlahan hingga berhenti tepat di depan wanita itu. Ia menurunkan kaca jendela.
"Masuklah. Saya antar," ujar Farel datar.
Ratih yang masih menyimpan kekesalan hanya melengos, membuang muka ke arah lain dengan gengsi yang setinggi langit. "Tidak usah repot-repot, Pak Farel. Saya bisa pulang sendiri."
"Mau sampai kapan berdiri di sana? Taksi tidak akan ada karena ini sudah terlalu larut. Masuk sekarang atau saya tinggal?" tanya Farel, suaranya tetap tanpa ekspresi namun mengandung penekanan.
Ratih tetap bergeming, membuat kesabaran Farel mulai menipis. "Mau naik sendiri atau mau saya naikkan secara paksa?"
Mendengar ancaman itu, Ratih akhirnya mendengus kesal dan membuka pintu mobil dengan kasar. Suasana di dalam jip begitu hening. Ratih hanya diam membisu, melempar pandangannya ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalan yang berkelebat. Farel merasa ada yang aneh. Biasanya wanita di sampingnya ini akan terus berkicau seperti burung gereja, namun kini kesunyiannya terasa menyesakkan.
Mobil mulai memasuki area perumahan Ratih yang asri namun cukup sepi di jam segini. Dari kejauhan, lampu sorot jip menangkap siluet tiga orang pria yang sedang mengendap-endap di depan pintu gerbang rumah Ratih. Farel segera mematikan lampu depan agar kehadiran mereka tidak segera disadari.
"Apakah Anda mengenal mereka?" tanya Farel dengan nada waspada.
Ratih menyipitkan mata, mencoba mengenali sosok-sosok itu. Tiba-tiba wajahnya menegang. "Itu Gilbert! Dia mantan suami klienku yang kalah di pengadilan bulan lalu. Dia tidak terima karena istrinya mendapatkan hak asuh anak dan seluruh harta gono-gini. Sepertinya dia datang untuk balas dendam padaku."
Farel mengangguk paham. Ia mengunci pintu mobil dari dalam. "Tetaplah di sini. Jangan keluar apa pun yang terjadi."
"Farel, hati-hati! Mereka membawa senjata tajam di pinggangnya!" seru Ratih penuh kecemasan.
Farel tidak menjawab, ia hanya memberikan anggukan kecil dan turun dari mobil dengan gerakan yang sangat tenang. Ia berjalan mendekati ketiga pria itu dengan langkah yang mantap.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Farel dingin, memecah kesunyian malam.
Gilbert menoleh dengan wajah garang. "Jangan ikut campur, Anak Muda! Pergi dari sini kalau kamu tidak mau menjadi sasaran kemarahan kami. Kami punya urusan dengan pengacara sialan yang tinggal di rumah ini. Siapa pun yang membelanya akan ikut mati!"
Farel tersenyum sinis, sebuah ekspresi langka yang tampak sangat mematikan di bawah temaram lampu jalan. "Benarkah? Sayangnya saya tidak punya rasa takut. Sebaliknya, jika kalian tidak segera pergi dari sini, saya yang akan menghabisi kalian semua."
Gilbert tertawa mengejek, matanya menatap Farel dengan penuh selidik. "Siapa kau sebenarnya? Apakah kau calon suaminya?"
"Bisa jadi. Maka sebaiknya kalian pergi dan jangan pernah muncul lagi di sini," jawab Farel mantap.
Salah satu teman Gilbert yang bertubuh besar kehilangan kesabaran. Tanpa aba-aba, ia menerjang Farel dengan pukulan mentah. Namun, Farel yang sudah terlatih menghadapi berbagai situasi berbahaya dengan mudah menangkis serangan tersebut. Dengan satu gerakan taktis, ia memutar lengan lawan dan memberikan tendangan kuat yang membuat pria itu tersungkur ke aspal.
Melihat kawannya tumbang, teman Gilbert yang satu lagi mencabut pisau lipat dari pinggangnya. Gilbert pun ikut menyerang. Farel terkepung, namun kegesitannya luar biasa. Ia menghindar ke kiri dan ke kanan, memberikan balasan yang telak. Namun, saat ia sedang fokus menangkis serangan Gilbert, pria yang membawa pisau berhasil menyambar lengan kiri Farel.
Sret!
Kemeja putih Farel robek, dan darah segar mulai merembes keluar. Gilbert tertawa penuh kemenangan. "Itu baru permulaan! Pergi sekarang sebelum nyawamu melayang!"
Bukannya mundur, aura mematikan Farel justru semakin menguat. Ia memberikan tendangan beruntun yang sangat cepat ke arah pria bersenjata itu hingga pisaunya terlepas dan tubuhnya terpental jauh. Gilbert yang kini tinggal sendirian mulai tampak ragu, namun ia tetap mencoba menyerang. Farrel mengeluarkan kemampuan bela diri tingkat tingginya, menjatuhkan Gilbert dengan kuncian leher yang membuat pria itu tak berkutik.
Tak lama kemudian, sirene polisi terdengar mendekat. Ternyata Ratih diam-diam sudah menghubungi pihak berwajib dari dalam mobil. Setelah Gilbert dan teman-temannya diringkus, Ratih segera keluar dan menghampiri Farel dengan wajah pucat.
"Lenganmu berdarah, Farel! Ayo masuk, aku harus mengobatinya," pinta Ratih sambil memegang lengan Farel yang sehat.
"Ini hanya luka kecil, Nona. Tidak perlu khawatir," tolak Farel keras kepala.
"Jangan membantah! Luka ini harus segera dibersihkan agar tidak infeksi!" Ratih menarik tangan Farel dengan paksa, membawanya masuk ke dalam rumahnya yang terlihat rapi namun sepi.
Ratih menyuruh Farel duduk di sofa ruang tamu. Ia segera kembali dengan kotak P3K. "Buka jaket kulitmu sekarang."
Farel menurut. Begitu jaket dilepas, terlihatlah sayatan yang cukup panjang di lengan kemeja putihnya yang kini berubah warna menjadi merah. Ratih menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca karena merasa bersalah.
"Luka sedalam ini kau bilang kecil? Apa kau tidak merasakan sakit sedikit pun?" tanya Ratih dengan suara bergetar.
"Tidak," jawab Farel singkat.
"Huh, dasar pria es! Bisakah menjawab lebih dari satu kata? Sudahlah, diam di situ," omel Ratih sambil mulai membersihkan luka itu dengan alkohol.
Saat kapas yang basah itu menyentuh luka, Farel tanpa sadar meringis dan menarik napas pendek. Ratih mendongak dan tersenyum jahil. "Katanya tidak sakit? Dasar sok jagoan."
Ratih dengan telaten mengoleskan obat dan membalut luka itu dengan kain kasa. Setelah selesai, Farel bermaksud untuk segera pamit pulang, namun Ratih langsung mencegahnya.
"Jangan pergi dulu. Lukanya cukup dalam, aku takut kalau dipaksakan menyetir lukanya akan terbuka lagi. Menginaplah di sini, ada kamar tamu di sebelah sana," tawar Ratih.
Farel tampak ragu. "Saya tidur di sofa saja. Saya tidak nyaman tidur di kamar orang lain."
Ratih menghela napas, mengalah pada keras kepala pria itu. Ia masuk ke dalam dan kembali membawa selimut, bantal, serta sebuah kemeja putih yang tampak masih sangat baru. Farel menatap kemeja itu dengan penuh kecurigaan.
"Bagaimana bisa Anda menyimpan baju pria di rumah ini?" tanya Farel penuh selidik.
"Ini baju almarhum ayahku. Aku menyimpannya karena sering merindukannya. Pakailah, bajumu sudah hancur terkena darah," jelas Ratih dengan nada yang mendadak melunak.
Farel terdiam, ia merasa sedikit tidak enak karena telah berpikiran buruk. "Terima kasih. Anda bisa masuk ke kamar sekarang, saya ingin mengganti baju."
Setelah Ratih masuk ke kamarnya, Farel mengganti kemejanya yang berdarah dengan kemeja milik mendiang ayah Ratih. Ia merebahkan tubuhnya di sofa, menatap langit-langit ruangan yang sunyi itu. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di hatinya, sesuatu yang lebih perih namun lebih manis daripada luka di lengannya. Sebelum matanya terpejam, ia menyadari satu hal: rumah ini terasa sepi, namun kehadiran Ratih membuatnya terasa seperti sebuah pelabuhan yang tenang.
lanjut kak semangat 💪💪
🤣🤣
lanjut kak tetap semangat 💪💪