Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI BERKUMPUL
Raungan mesin motor sport milik Vhirel akhirnya mereda, berganti hening saat standar motor diturunkan apik di pelataran rumah. Begitu mesin mati, Dea langsung melompat turun, bahkan sebelum Vhirel sempat melepas helmnya dengan sempurna.
"MAMAAAAAA! PAPAAAAAA!"
Suara melengking Dea memecah kesunyian malam itu. Di ambang pintu, Surya dan Maudi sudah berdiri tegak dengan senyum lebar, seolah memang sudah menanti kedatangan dua buah hati mereka. Tanpa aba-aba, Dea menghambur, menubruk kedua orang tuanya dengan pelukan erat yang penuh kerinduan.
Sementara itu, Vhirel mengekor di belakang. Ia berjalan santai sambil menenteng helm, memperhatikan adegan drama rindu di depannya dengan dahi yang berkerut jenaka.
"Udah kali pelukannya, lama amat," Celetuk Vhirel, memecah suasana haru. "Kakak aja tadi nggak dipeluk selama itu."
Surya tertawa renyah mendengar gerutu putra sulungnya. Ia melepaskan pelukan Dea lalu menepuk bahu Vhirel. "Gimana di jalan tadi? Aman semua?"
"Aman, Pa. Cuma ya gitu, tadi sempat kena hujan gerimis dikit," Jawab Vhirel santai.
Maudi menyenggol pelan lengan suaminya, menatap Vhirel dengan sisa kekhawatiran seorang ibu. "Tuh kan, Papa sih. Padahal Mama sudah bilang, suruh Vhirel pakai mobil aja biar nggak kehujanan."
"Yah, biar sat-set sat-set dong, Ma..." Sahut Surya sambil memperagakan gerakan membelokkan setang motor dengan jenaka. "... Biar Papa cepat ketemu sama anak gadis kesayangan Papa ini."
Surya mengakhiri kalimatnya dengan cubitan gemas di pipi Dea.
"Ih, Papa sama saja kayak Kak Vhirel!" Protes Dea sambil merengek manja. Ia mengusap pipinya yang memerah. "Kenapa sih hobi banget nyubit Dea?"
Vhirel yang sedang asyik memutar-mutar kunci motor di jarinya tiba-tiba berhenti. Ia lalu menatap adiknya lekat-lekat dengan tatapan menyelidik yang menyebalkan.
"Itu karena..." Vhirel menggantung kalimatnya, membuat Dea menoleh penasaran. "Kamu sadar nggak sih? Pipi kamu sekarang udah kayak bapau. Gendut!"
Bibir Dea spontan membulat membentuk huruf 'O' sempurna. Matanya membelalak tak percaya.
"Vhireeeeeel, jangan mulai deh," Tegur Maudi sambil menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.
"Lah, emang kenyataan kan, Ma? Gendut!" Seru Vhirel tanpa dosa. "Makan apa aja si di Amerika? Kebanyakan junk food, yaaaa? Bleeee!" Ia menjulurkan lidah mengejek sebelum akhirnya melesat masuk ke dalam rumah.
"Iiiih! Aku nggak gendut!" Teriak Dea kesal. Ia sempat melayangkan pukulan keras ke bahu kakaknya sebelum cowok itu menjauh. "Enggak juga sering makan junk food, kok!"
"Oh iya? Tapi kok gendut, ya?!"
"Vhireeeeel...." Tegur Maudi lagi, kali ini dengan suara setengah meninggi.
Namun Vhirel tak menggubris. Ia kemudian mencubit pipi Dea lalu berlari, melangkah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Merasa kesal oleh tingkah sang kakak, Dea tak diam. Ia mengejar sang kakak menerobos tuang tamu menuju ke meja makan.
Surya dan Maudi hanya bisa berdiri di teras, saling melempar pandang lalu tersenyum simpul melihat kelakuan kakak-beradik itu.
"Nggak berubah ya mereka," Gumam Surya pendek, merasa hangat melihat rumahnya kembali ramai oleh keributan kecil yang selalu ia rindukan setelah lima tahun terlewat tanpa anak bungsunya itu.
Maudi melangkah lebih dulu masuk ke dalam, menyusul kedua anaknya. Surya mengikutinya dari belakang. Begitu kaki mereka melewati ambang pintu, aroma masakan langsung menyergap—hangat dan akrab.
Di sana, keramaian tercipta dari Bik Minah yang mondar-mandir sibuk menata hidangan di atas meja makan, uap masakan mengepul tebal membawa aroma yang menggoda selera. Di sela kesibukannya, sesekali wanita paruh baya itu mengomel kecil, namun senyumnya tak pernah pudar.
Sementara itu, Vhirel dan Dea tak kalah riuh. Dea berceloteh tanpa henti, sesekali menggoda sang kakak, tertawa lepas seolah tak pernah ada jarak lima tahun yang memisahkan. Sedangkan, Vhirel sendiri tak mau kalah, ia semakin menjadi.
"Sudah," Kata Maudi sambil mengatur piring, sesekali menegur Vhirel yang masih bersikap dingin, sementara anak bungsu itu hanya menjawab seperlunya.
"Vhirel... suruh adikmu duduk dan makan." Tambah Surya duduk di ujung meja, matanya bergantian menatap kedua anaknya. "Dea... maafkan Kakakmu."
Dea mengulum bibir sambil menarik kursi makannya ke belakang. Kursi yang kembali ia duduki. Kini terasa asing, kaku, seolah menyimpan jarak yang tak pernah benar-benar hilang.
"Mama sudah buatkan makanan kesukaan kamu." Kata Maudi sambil menuangkan sambal goreng kentang dan rendang ayam ke piring Dea.
"Aku rindu masakan Mama." Sahut Dea, dan saat itu juga ia meraih sendok dan garpu dari rak kecil di samping mangkuk berisi potongan buah, lalu menyuapkan suapan pertamanya.
Vhirel yang usil, kini duduk di samping sang adik lalu menoleh. Ia tersenyum singkat, sebelum akhirnya melahap makanannya juga. "Makanan Mama dan Bik Minah gak ada tandingannya! Di Amerika... kelaparan, gak?"
Dea menggeleng sambil melahap makanannya dengan lahap. "Aku usahakan tetap jaga makanan disana,” Lanjut Dea pelan. “Biar badan tetap fit.”
"Kamu sekarang sudah terlihat dewasa dan mandiri,” ucap Maudi sambil meneguk minumannya. Ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya ketika matanya menatap Dea—campuran bangga dan rindu yang lama ia simpan, tak terucap. " Mama bangga sama kamu."
Surya tersenyum sambil mengusap bahu sang istri yang duduk di sampingnya. Tak lama, matanya berpaling memandang Vhirel. "Apa agenda kamu besok?"
Vhirel melempar senyum sambil menoleh lagi ke arah Dea. "Mau ajak Dea jalan, dong...!"
Dea langsung menoleh. "Serius, Kak?"
"Ada film baru, lho! Seru katanya!" Angguk Vhirel. "Kakak ajak kamu ke bioskop mall baru di Bandung!"
"Lho, bukannya kamu ada pertemuan meeting dengan klien besok?" Timpal Maudi.
"Kata siapa?"
"Bik Minah." Balas Maudi. "Mama tadi sore lihat Bik Minah nyetrika pakaian kamu lengkap dengan jas."
Surya menggeleng bijak. "Vhirel, ayolaaaah. Pekerjaan menjadi direktur perusahaan itu tidak hanya soal mengawasi karyawannya bekerja. Jangan sia-siakan salah satu aset yang Papa kasih ke kamu."
"Iya. Iya!" Angguk Vhirel sambil melahap makanannya lagi. Di saat itu juga, ia menatap Dea dengan wajah setengah kecewa. "Lain kali, ya!"
Dea hanya mendengus pelan, tanpa mengangkat wajahnya dari piring. Sendok di tangannya berhenti sejenak sebelum akhirnya kembali bergerak.
"Minggu ini, kebetulan Papa gak ada jadwal ke kantor..." Sambung Surya. "... nanti kita liburan saja ke Bogor. Sudah lama Papa tidak meninjau perkembangan panen di perkebunan teh kita."
"Kalian bisa berkuda!" Sahut Maudi.
Surya mengangguk mantap, ikut membujuk kedua anaknya. "Kalian bisa menikmati suasana alam daripada kebisingan kota yang membosankan, bukan?"
Mata Surya menoleh ke arah Vhirel. "Bereskan dulu semua pekerjaanmu. Setelah itu, kamu bisa refreshing tanpa harus memikirkan apapun di suasana yang terbuka."
Vhirel mengangguk. "Ide bagus!" Ucapnya mantap, senyum tipis terbit di wajahnya sambil memandang Dea, seolah ia benar-benar mulai membayangkan jeda yang ditawarkan ayahnya itu.
“Minum teh di pagi hari sambil menikmati embun segar itu hal yang menyenangkan,” Kata Maudi, suaranya lembut, seakan sudah lebih dulu membayangkan suasana yang akan mereka jalani bersama.
"Iya juga, si." Angguk Dea akhirnya.
"Kamu ingat gak, sayang..." Kata Maudi menatap lurus ke arah anak gadisnya itu. ".... waktu kamu main keluar sama Kak Vhirel, tahu-tahu... kalian pulang basah dan kotor."
Dea mengangguk mantap. "Ingat, Ma!" Sahutnya. "Itu karena... kita udah main air di sungai sambil berusaha nangkap ikan, alhasil.... ikannya gak dapet, malah kita yang kecebur."
"Seru, kan?"
Dea mengangguk lagi, menoleh ke arah sang Kakak. "Boleh juga, si... Kita bisa mengulang hal yang sama kan, Kak?"
"Yap!" Sambut Vhirel. "Kita taruhan! Siapa yang bisa dapat banyak ikan... masakin masakan yang lezat!"
Surya dan Maudi saling berpandangan, lalu sama-sama menggeleng pelan dengan Senyum bijak—maklum melihat semangat kekanak-kanakan Vhirel yang tak pernah benar-benar berubah.
Semenjak Dea mendapat beasiswa kuliah S2 ke Amerika, rumah itu sempat terasa sepi dan Vhirel pun terlihat menjalani perannya sebagai pria dewasa—tenang, seperlunya. Namun begitu Dea kembali, sikap hangat dan sisi kekanak-kanakan Vhirel perlahan muncul lagi, seolah jarak dan waktu tak pernah benar-benar memisahkan mereka.
"Siapa takut! Emang Kak Vhirel bisa masak?!" Balas Dea.
"Jhiaaaa....! nantangin." Tandas Vhirel. "Kita lihat aja, siapa yang menang dan masakan siapa yang enak!"
"Oke!"
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,