Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Menyusun Rencana.
"Aku akan melaporkan semua perbuatanmu ini, Rangga." Rania mencengkram erat ponselnya, seolah itu adalah satu-satunya harta yang dia punya.
Setelah itu Rania keluar dari kamar mandi dan bergegas menyimpan ponsel tadi di tempat yang tidak akan diketahui Rangga, kemudian dia duduk di sofa yang ada di dekat jendela sembari melihat ke arah luar.
"Sayang!"
Rania melirik ke arah ranjang saat mendengar panggilan Rangga, terlihat laki-laki itu sudah mendudukkan tubuhnya seraya merenggangkan otot-otot yang terasa kaku.
"Kamu mau makan apa hari ini? Biar aku pesan," ujar Rangga, perlahan dia turun dari ranjang dan mendekati Rania.
"Aku gak lapar," jawab Rania datar.
Rangga menghela napas berat, lalu duduk di samping Rania dan memeluk tubuh istrinya itu dengan erat. "Gimana kalau kita sarapan pake bubur ayam kesukaanmu, hem?" katanya pelan, dia menyandarkan kepalanya di bahu Rania, menghirup aroma sang istri yang sangat menenangkan.
Rania diam, sedikitpun tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Rangga membuat laki-laki itu mendessah kesal.
"Sayang, jangan-"
"Terserah mau makan apa," potong Rania, dia tahu jika laki-laki itu akan kembali membual, untuk itulah dia segera menjawab agar cepat selesai.
Rangga tersenyum, lalu mengecup leher Rania. "Aku mandi sebentar." ucapnya seraya beranjak bangun menuju kamar mandi.
Rania berdecak kesal, tetapi memilih untuk tetap diam dan kembali memperhatikan ke sekitar rumah. Dia harus menyusun rencana yang akan dilakukan untuk segera lepas dari Rangga, dia juga harus mengumpulkan bukti atas semua perbuatan buruk yang telah laki-laki itu lakukan.
"Aku harus mengecek CCTV yang ada di ruang tamu dan halaman depan, tapi di kamar dan dapur gak ada CCTVnya." Rania mendessah kesal. Namun, tiba-tiba sebuah ide melintas dalam pikirannya membuat Rania beranjak bangun dan kembali mengambil ponsel yang tadi sudah dia sembunyikan.
"Kalau di sini gak ada CCTV yang bisa dijadikan bukti, maka aku akan membuat sendiri buktinya," gumam Rania, dia tersenyum senang karena mendapat ide yang sangat bagus.
Rania kemudian mengotak-atik ponselnya sembari memastikan kalau Rangga masih berada di dalam kamar mandi. Setelah selesai, dia melihat ke sekeliling kamar, memperhatikan satu persatu tempat yang pas untuk meletakkan ponselnya.
"Ah, aku letakkan di sana saja," gumam Rania, dia segera mendekati rak buku yang berada tidak jauh dari ranjang, lalu menyelipkan ponselnya di tempat yang tidak bisa dilihat oleh Rangga.
Selesai mengatur ponselnya, Rania berjalan sedikit menjauh sambil memperhatikan ponsel itu. Dia tersenyum lega karena benda pipih itu tidak akan terlihat dan bisa merekam semua yang terjadi di dalam kamar.
"Apa yang sedang kau lakukan, Sayang?"
Rania tersentak kaget saat mendengar suara Rangga, spontan dia memalingkan wajah dan melihat laki-laki itu sudah berdiri di belakangnya.
"Aku hanya menatap ranjang," jawab Rania gugup.
Rangga mengernyitkan kening, handuk yang sedang dia pegang dilemparnya asal ke sofa. "Kenapa dengan ranjang?" tanyanya bingung.
Rania diam sejenak, memikirkan jawaban yang bisa membuat Rangga diam dan tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Ah, tidak. Aku hanya teringat percintaanmu dengan jal*ang itu saja."
Deg.
Rangga tersentak, tubuhnya menegang kaku, wajahnya berubah pias. Sementara Rania, dia merasa senang atas jawaban yang dia katakan barusan.
"A-aku salah, Rania. Maafkan aku," ucap Rangga pelan, hampir berbisik.
Rania mendengus, lalu berjalan ke arah pintu untuk keluar. Namun, seperti dugaannya, pintu itu dikunci oleh Rangga.
"Kita makan di sini saja, Rania," sambung Rangga saat melihat istrinya hendak keluar.
Rania berbalik, menatap Rangga dengan sayu. "Aku merasa sesak di kamar, aku mau keluar." katanya tajam.
Rangga terdiam, merasa ragu untuk membukakan pintu untuk Rania. Padahal dia juga sudah mengunci semua pintu yang ada di rumah ini, tapi dia tetap khawatir jika wanita itu akan kembali membuat masalah.
"Kau tidak akan pergi lagi, 'kan?" tanya Rangga, kedua matanya menatap tajam.
Rania mengangguk. "Aku cuma mau duduk di luar." jawabnya.
Rangga menghela napas, kemudian berjalan mendekati lemari pakaian dan mengambil kunci dari sana. "Baiklah, kita akan makan di luar. Tapi kalau sampai kau melakukan hal seperti semalam, maka aku tidak akan pernah lagi membukakan pintu ini untukmu, Rania. Aku akan mengurungmu di kamar ini, bahkan aku bisa membuatmu tetap diam di atas ranjang tanpa bisa bergerak sama sekali." ancamnya dengan tidak main-main.
Tubuh Rania seketika merinding saat mendengar ancaman Rangga. Apa laki-laki itu akan mengikatnya di ranjang kalau dia pergi lagi? Sungguh dia merasa sangat ngeri dan terpukul.
"Aku sudah memesan makanan. Ayo, kita tunggu sambil nonton film!" ajak Rangga saat sudah membuka pintu.
Rania mengangguk dan mengikuti langkah Rangga menuju ruang keluarga. Namun, sebelum pergi, dia melirik ke arah ponsel yang tadi dia simpan, memastikan ponsel itu merekam semua ancaman yang Rangga katakan barusan.
"Bagus, ini bisa menjadi bukti kegilaanmu, Rangga." Rania tersenyum tipis, lalu bergegas menyusul Rangga yang sudah menuruni tangga.
Mereka berdua lalu duduk di depan televisi. Rangga mencoba untuk mencairkan suasana dan mengajak Rania bercerita, tentu saja Rania harus menyambutnya dengan baik walau harus setengah mati menahan amarahnya.
"Tapi, apa kau tidak kerja, Mas?" tanya Rania, dia menggigit bibirnya sendiri karena dihantam rasa jijik dengan panggilan yang disematkan untuk Rangga.
"Tidak." Rangga menggeleng. "Aku cuti sampai seminggu ke depan."
Deg.
Rania tersentak mendengar ucapan Rangga, dadanya kembali bergemuruh dengan tangan mengepal erat.
"S*ial! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tubuh Rania bergetar membayangkan jika akan dikurung di rumah ini bersama dengan Rangga sampai seminggu ke depan.
Rania mencoba memutar otak, memikirkan apapun yang bisa dia lakukan untuk membuat Rangga keluar dari rumah. Jika tidak, maka dia akan terus berada dalam neraka itu dan tidak bisa bertemu dengan putranya.
"Kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Rangga, kedua matanya menyipit penuh curiga.
"Ti-tidak, aku hanya sedang tidak enak badan," jawab Rania asal, pikirannya benar-benar kosong.
"Apa ada yang sakit?" Rangga langsung menyentuh dahi Rania.
Rania terdiam, memikirkan apa yang baru saja terjadi. "Benar, aku bisa berpura-pura."
Rania memegang perutnya, menekan perut itu sampai benar-benar terasa sakit. "Perutku sakit, aku mau muntah. Hoek!" Dia langsung berlari ke kamar mandi sambil menutup mulut membuat Rangga panik dan segera mengikutinya.
"Hoek... Hoek... " Rania memaksa semua makanan yang masuk ke perutnya untuk keluar, dia bahkan memasukkan jari-jari tangannya sampai ke tenggorokan agar bisa memuntahkan semuanya.
"Sayang!" Rangga mendekati Rania dengan panik., tangannya memijat panggung wanita itu berharap keadaan Rania membaik.
"Sa-sakit, perutku sakit sekali—hoek!" Rania terus seperti itu sampai wajahnya memucat dan tubuhnya benar-benar lemas, tentu saja hal itu membuat Rangga semakin panik dan cemas.
"Aku akan memanggil Dokter," seru Rangga panik. "A-atau kita ke rumah sakit saja." katanya panik.
Rania menggeleng. "Ti-tidak, kau belikan saja obat untukku, di apotek Matahari, abis itu aku pasti akan membaik." pintanya.
Rangga menolak, dia memaksa Rania untuk pergi ke rumah sakit. Namun, Rania juga menolaknya dan bersikeras meminta obat dari apotek langganannya.
"Ba-baiklah, Aku akan membelinya. Kau tunggu saja di sini," ucap Rangga akhirnya, dia bergegas ke kamar untuk mengambil dompet dan kunci mobil.
Rania tersenyum, semua rencananya berhasil. Setelah ini dia harus bergegas memeriksa CCTV, apalagi butuh waktu lebih dari satu jam untuk pulang pergi ke apotek Matahari.
"Semoga kau terjebak macet atau kecelakaan sekalian di jalan sana, Rangga."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda