Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boleh Nggak?
“Ini, Pak, silakan diminum.”
Amira meletakkan cangkir teh lemon di atas meja kecil di depan sofa. Uapnya masih mengepul tipis.
Dirga menatapnya sesaat, lalu meraih cangkir itu tanpa banyak kata. Dia menyesap perlahan.
Rasa asam hangat lemon menyentuh lidahnya, sedikit membantu mengusir pahit alkohol yang masih tersisa.
Dia menarik napas panjang. Setidaknya hangatnya teh itu membuat kepalanya sedikit lebih ringan.
Amira berdiri kikuk di depannya. Jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Kalau begitu, saya masuk kamar dulu ya, Pak,” ucap Amira pelan.
Dia berbalik hendak melangkah pergi. Namun suara Dirga menghentikannya.
“Amira.”
Langkahnya terhenti.
“Iya, Pak?”
Dirga menurunkan cangkirnya perlahan ke meja. Tatapannya kali ini tidak kosong seperti tadi.
“Temani saya dulu.”
“Bapak, memangnya ada yang perlu dibantu lagi?”
Dirga bangkit perlahan dari sofa. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa langkah.
“Apa aku terlihat begitu tidak penting sampai semua orang bisa pergi begitu saja?”
Suaranya rendah, bukan marah, lebih seperti seseorang yang benar-benar terluka. Amira terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa.
Dirga tertawa pelan, hambar.
“Maaf. Kamu pasti nggak ngerti.”
Amira berdiri dengan jemari saling menggenggam di depan tubuhnya. Dirga menatapnya lekat, seolah mencoba membaca isi kepalanya.
“Kamu udah ngantuk?” tanyanya pelan.
Nada suaranya lebih tenang sekarang. Tidak setajam sebelumnya. Amira menggeleng cepat, meski jantungnya berdebar tak karuan.
“Belum, Pak.”
Dirga menghela napas panjang, lalu kembali duduk di sofa. Kali ini, dia bersandar lebih santai, meski sorot matanya masih menyimpan lelah.
“Kalau begitu, temani saya ngobrol.”
Perkataan Dirga, bukanlah sebuah perintah, bukan juga permintaan yang memaksa. Namun cukup untuk membuat Amira ragu beberapa detik sebelum akhirnya duduk di ujung sofa yang berbeda, seolah sedang menjaga jarak.
Sunyi sempat menggantung. Hanya suara hujan yang setia mengisi ruang. Dirga menatap cangkir tehnya, memutar-mutarnya pelan di atas meja.
“Kamu betah kerja di sini?” tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan sederhana, tapi nadanya serius. Amira sedikit terkejut.
“Betah, Pak. Bu Celine baik, pekerjaannya juga ngga berat.”
Dirga tersenyum tipis.
“Menurut kamu, orang yang sibuk terus itu benar-benar bahagia nggak sih?”
Amira terdiam. Dia tak menyangka pertanyaan itu keluar dari Dirga.
“Bahagia itu, bukan cuma soal sibuk atau nggak, Pak. Bahagia itu kalau kita bisa berbuat mengikuti kata hati. Mungkin, cara bahagia Bu Celine memang dengan kesibukan seperti itu.”
Dirga menoleh pada Amira, tatapan mereka bertemu.
"Jadi, menurut kamu, kebahagiaan Celine adalah kesibukannya? Bukan suami, atau keluarganya?"
Amira langsung menunduk. Dia baru menyadari kalimatnya sendiri, justru seperti menelanjangi keadaan Dirga tanpa sengaja.
“Maaf, Pak, saya nggak bermaksud begitu. Saya ....”
“Shh.”
Dirga menggeleng pelan.
“Nggak ada yang salah dari perkataan kamu.”
Dia tersenyum tipis, tapi senyum itu terlihat cukup menyedihkan di wajahnya.
“Kamu benar.”
Dirga menatap kosong ke arah hujan di balik jendela.
“Kebahagiaan Celine memang bukan aku.”
Kalimat itu keluar pelan, tapi terasa berat, dan menyakitkan.
“Pekerjaan yang jadi dunianya, dan itulah kebahagiaan Celine.”
Dirga tertawa kecut.
“Aku cuma bagian dari status kehidupan yang dijalani. Ada, tapi nggak lagi jadi prioritas. Ada, tapi nggak dianggap.”
Amira merasakan dadanya ikut sesak. Dia tak pernah melihat Dirga selemah ini. Biasanya pria itu tegas, penuh kontrol, dan jarang menunjukkan emosi. Namun malam ini, dia hanya seorang suami yang merasa tak pernah dipedulikan.
“Pak, mungkin Bu Celine cuma lagi banyak tekanan. Bukan berarti beliau nggak peduli.”
Dirga menoleh perlahan.
“Kalau seseorang peduli, dia pasti cari waktu, biarpun sedikit. Bukannya cari alasan nggak jelas, atau justru memilih pergi.”
Kalimat itu menggantung, tak ada nada amarah. Hanya kenyataan yang terdengar pahit, dan menyedihkan.
Amira tak sanggup membalas tatapan itu terlalu lama. Dia kembali menunduk.
Di dalam dirinya, ada perasaan yang berbahaya mulai tumbuh, empati yang terlalu dalam.
Karena saat seseorang terlihat rapuh seperti itu, naluri pertama yang muncul bukan menjauh. Melainkan ingin menguatkan.
Dirga menundukkan kepala, spontan Amira pun mendekat, membuat jarak di antara mereka kian menyempit.
Amira reflek melakukan itu, tatkala melihat Dirga yang terlihat rapuh, dan membuat hatinya tergerak untuk sekedar menguatkan.
“Pak …!” panggil Amira lembut. Dirga yang semula menunduk, perlahan mengangkat wajah, dan dalam satu detik tatapan mereka bertemu.
Jaraknya begitu dekat. Bahkan, Amira bisa melihat jelas garis rahang Dirga yang menegang, aroma samar alkohol bercampur lemon dari napasnya.
Sementara Dirga, dia tak tahu apa yang berubah dalam perasaannya. Melihat sorot mata Amira, ada sesuatu yang dia rasakan. Tatapan itu membuatnya merasa nyaman.
Mata Dirga kemudian turun sesaat. Tanpa sadar, dia memperhatikan bibir Amira yang sedikit terbuka karena gugup. Seolah ada daya tarik yang tiba-tiba hadir tanpa diundang.
Amira menyadari arah tatapan itu. Tatapan Dirga kini berbeda, bukan lagi tatapan penuh kesedihan.
Jantung Amira berdetak semakin cepat. Udara terasa menipis.
“Pak, mungkin semua ini cuma fase,” ucapnya pelan, berusaha tetap rasional meski suaranya bergetar. Dirga tak langsung menjawab.
“Mungkin Pak Dirga dan Bu Celine perlu bicara dengan kepala dingin,” ucapnya lembut, mencoba memberi solusi.
Dia tak sadar bahwa setiap kata yang keluar dari bibirnya justru membuat perhatian Dirga terpecah.
Dirga mendengar suaranya. Namun fokusnya goyah. Gerakan bibir Amira yang perlahan membentuk tiap kalimat, cara napasnya naik turun karena gugup, dan gaun tidur satin yang membungkus tubuhnya, memantulkan cahaya lampu temaram ruang tengah, cukup untuk menegaskan siluet lembut tubuhnya.
Dirga menelan ludah. Dia tahu pikirannya mulai melenceng. Ini bukan tentang pembicaraan dari hati ke hati lagi, bukan juga tentang keluh kesah. Melainkan tentang jarak yang terlalu dekat, dan suasana yang mendukung.
“Amira!”
Suara Dirga berubah lebih dalam. Amira pun berhenti bicara.
“Iya, Pak?”
Dirga memalingkan wajah sejenak, berusaha mengendalikan diri.
“Jangan terlalu baik sama saya malam ini.”
Dirga tahu dia seharusnya mundur, dan mencoba menahan diri. Namun malam itu, pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit.
Dalam satu gerakan impulsif, Dirga meraih lengan Amira, menariknya sedikit lebih dekat, dan sebelum akal sehatnya sempat kembali bekerja, bibirnya telah menyentuh bibir Amira.
Amira membeku, matanya melebar. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia bisa merasakan napas Dirga yang masih bercampur aroma lemon dan sisa alkohol.
Untuk beberapa saat, Amira masih terdiam, mencoba mencerna semua yang terjadi. Otaknya seperti berhenti bekerja, sementara jantungnya berdetak begitu keras.
Amira tahu ini salah, dia tahu ini seharusnya dihentikan. Amira ingin menolak, dan mendorong tubuh Dirga. Namun, hati, dan tubuhnya berkata lain.
Jujur saja, rasanya sungguh enggan melepaskan ciuman dari laki-laki yang dia inginkan. Logika, dan perasaan Amira berperang.
Detik berikutnya, ciuman itu kian dalam dan mendesak, Amira merasakan dadanya menghangat, napasnya tercekat. Kesepian yang tadi dia lihat di mata Dirga, kini seolah melebur. Lalu, entah karena iba, atau karena perasaan yang sejak awal sudah tumbuh diam-diam, pertahanan Amira runtuh.
Tangannya yang semula kaku perlahan terangkat, menyentuh dada Dirga. Bibir yang semula, diam, kini bergerak. Lalu, tanpa sepenuhnya dia sadari, Amira membalas ciuman itu.
Dirga terdiam sesaat, terkejut oleh respons tersebut. Awalnya dia pikir, Amira akan marah, tapi ternyata tidak.
Dirga pun memberanikan diri. Tangannya yang semula menahan diri kini menekan tengkuk Amira, seolah tak ingin melepaskan.
Ciuman itu berubah, tak lagi ragu, tak lagi sekadar pelarian sesaat. Panasnya perlahan meningkat, dipenuhi emosi yang selama ini terpendam.
Dirga menarik Amira sedikit lebih dekat, seolah takut dia akan pergi jika dilepaskan.
Amira merasakan punggungnya menyentuh sandaran sofa. Napas mereka saling bertabrakan. Degup jantung mereka seakan berlomba.
Dirga melepaskan ciuman itu, lalu menempelkan bibirnya di ceruk leher Amira, menciumnya hingga membuat Amira memejamkan mata, lalu berkata, "Amira, boleh nggak?"
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..