Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Berhenti?
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra, menyentuh wajah Karina yang masih terlelap dalam buaian mimpi indah. Saat ia perlahan membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangnya.
Karina menoleh sedikit dan mendapati Faisal sedang menopang kepala dengan satu tangan, menatapnya dengan binar mata yang begitu memuja. Pria itu tampaknya sudah terjaga sejak lama, hanya untuk menikmati pemandangan wajah istrinya di bawah cahaya fajar.
"Selamat pagi, Nyonya Faisal," suara Faisal terdengar berat dan seksi, khas orang baru bangun tidur.
Karina tersipu dan mencoba menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang polos tanpa riasan, "Mas... jangan lihat ku kayak gitu, aku pasti jelek banget dan kelihatan berantakan," ucap Karina.
Faisal tertawa kecil, suara tawa yang rendah dan maskulin, ia justru menarik selimut itu dan mengecup hidung Karina. "Jelek? Berantakan? Kamu adalah pemandangan terindah yang pernah kulihat dalam hidupku, aku merasa seperti orang gila karena tidak bisa berhenti menatapmu," ucap Faisal.
Faisal kemudian mengecup kening, kedua pipi dan berakhir di sudut bibir Karina. C**m*n-c**m*n kecil itu mulai berpindah ke leher dan membuat Karina kegelian sekaligus merasakan desiran yang sama seperti semalam.
"Mas, sudah... anak-anak pasti sudah bangun. Aku harus menyiapkan sarapan," ucap Karina sambil mencoba bangkit.
Namun, Faisal justru mempererat pelukannya da membenamkan wajahnya di ceruk leher Karina yang harum aroma lili. "Bi Sumi bisa mengurus sarapan, sayang. Aku tidak ingin melepaskanmu, aku merasa... candu. Kenapa baru sekarang aku menyadari kalau memelukmu senyata ini jauh lebih indah daripada membayangkanmu," ucap Faisal.
Karina mengusap rambut Faisal dengan lembut, "Mas, kita punya seluruh sisa hidup kita. Kamu nggak akan kehilangan aku lagi," ucap Karina.
"Justru itu, karena aku tahu rasanya kehilanganmu selama dua puluh tahun, sekarang aku ingin membayar setiap detik yang terbuang. Aku ingin bangun dan melihatmu, bekerja dan memikirkanmu lalu pulang untuk memelukmu lagi, ku benar-benar terobsesi padamu, Karina," ucap Faisal mendongak dan menatap mata Karina dengan intensitas yang dalam.
Faisal kembali mencium Karina, kali ini lebih menuntut dan penuh gairah, seolah ingin memastikan bahwa wanita di pelukannya ini benar-benar miliknya secara sah. Karina hanya bisa pasrah dan membalasnya, menyadari bahwa suaminya yang biasanya kaku dan dingin di pengadilan itu kini telah berubah menjadi pria yang sangat manja dan penuh gairah di hadapannya.
Beberapa jam kemudian, dengan sedikit usaha, Karina akhirnya berhasil keluar dari kamar setelah negosiasi panjang dengan Faisal yang enggan beranjak. Saat mereka turun ke meja makan, Ella dan Aisha sudah duduk manis di sana sambil menikmati nasi goreng buatan Bi Sumi.
Aisha melirik jam tangannya lalu melirik ke arah tangga dengan senyum jahil, "Wah, pengantin baru baru muncul jam sepuluh pagi ya? Papa hebat juga bisa membuat Mama bangun siang," ucap Aisha yang langsung dihadiahi pelototan gemas dari Karina.
Faisal hanya terkekeh santai, ia menarik kursi untuk Karina sebelum duduk di sampingnya. "Papa hanya ingin memastikan Mama kalian beristirahat dengan cukup. Benar kan, sayang?" ucap Faisal sambil mengedipkan sebelah mata pada Karina.
Wajah Karina memerah padam, ia segera menyibukkan diri dengan mengambil nasi goreng. Namun, di bawah meja, ia merasakan tangan Faisal menggenggam jemarinya erat dan tidak ingin melepaskannya meski hanya untuk sesaat.
Setelah sarapan yang penuh dengan godaan kecil dari Faisal berakhir, Ella dan Aisha berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Keheningan yang elegan kembali menyelimuti ruang makan, namun tidak bertahan lama karena Faisal segera menarik kursi Karina agar lebih dekat dengannya, mencuri satu kecupan singkat di pipi istrinya sebelum mereka benar-benar bersiap.
"Kamu yakin ingin datang, Karina?" tanya Faisal, suaranya berubah menjadi bariton yang protektif saat mereka melangkah menuju kamar untuk berganti pakaian formal.
Karina mengangguk mantap sambil merapikan kerah kemeja sutranya, "Aku harus melihatnya, Mas. Bukan karena aku ingin memupuk dendam, tapi aku ingin menutup bab ini dengan mataku sendiri. Aku ingin Sabrina tahu bahwa kejahatan yang dia lakukan tidak pernah menang melawan kebenaran," ucap Karina.
Faisal menghela napas lalu tersenyum tipis, ia melangkah mendekat dan membantu Karina mengenakan blazer hitamnya.
"Baiklah, tapi berjanjilah satu hal, jangan biarkan kata-kata atau tangisannya nanti menyentuh hatimu, dia sedang menuai apa yang dia tanam," ucap Faisal.
"Aku tahu, Mas," ucap Karina.
"Sumpah sayang, aku nggak mau pergi. Aku mau di kamar dan menghabiskan waktu berdua denganmu," ucap Faisal.
Karina pun tersenyum lalu menc**m bibir Faisal, kali ini Karina yang memimpin dengan intens dan beberapa saat kemudian, ia melepaskan c**m*n panasnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Faisal.
"Di lanjut nanti setelah pulang dari pengadilan," jawab Karina dan pergi mengambil tasnya.
"Sayang, kalau kayak gini aku makin nggak tenang," ucap Faisal dan Karina hanya tersenyum, ia pergi meninggalkan Faisal yang tengah gelisah.
Faisal terperangah sejenak, menatap pintu kamar yang baru saja tertutup dengan perasaan campur aduk antara gemas dan frustrasi yang manis, ia mengusap bibirnya, masih merasakan sisa kehangatan c**m*n Karina yang menantang.
"Permainan yang bagus, Nyonya Faisal. Kamu benar-benar tahu cara membuat suamimu bertekuk lutut," gumam Faisal sambil tersenyum lebar, sebelum akhirnya menyambar kunci mobil dan menyusul istrinya dengan langkah lebar.
Suasana di depan gedung pengadilan tampak riuh oleh kilatan lampu kamera para pemburu berita, kasus Sabrina yang melibatkan penggelapan aset skala besar dan skandal rumah tangga tokoh publik, telah menjadi santapan empuk media selama berbulan-bulan.
Saat mobil milik Faisal berhenti, para wartawan segera merangsek maju. Faisal turun terlebih dahulu lalu ia mengulurkan tangan untuk membantu Karina keluar.
Karina kekuar dan menggandeng lengan Faisal dengan erat, menunjukkan pada dunia bahwa ia bukan lagi wanita yang bisa diinjak-injak.
"Tetap di dekatku," bisik Faisal saat mereka memasuki ruang sidang yang dingin.
Di dalam ruangan, Sabrina sudah duduk di kursi pesakitan. Penampilannya sangat kontras dengan Karina, rambutnya yang dulu selalu tertata rapi kini tampak kusam, wajahnya tirus dan rompi tahanan berwarna oranye itu seolah menenggelamkan sisa-sisa harga dirinya.
Saat Karina masuk, mata Sabrina langsung tertuju padanya. Ada kilatan kebencian, namun lebih banyak ketakutan di sana. Sabrina mencoba berdiri, namun petugas segera menahannya.
"Sidang dinyatakan dibuka," ketuk hakim ketua.
Sepanjang persidangan, Faisal tidak sedetik pun melepaskan genggaman tangannya dari Karina di bawah meja penonton, ia memantau jalannya sidang dengan mata elang seorang pengacara senior dan sesekali membisikkan penjelasan hukum kepada Karina.
Jaksa penuntut umum membacakan rentetan bukti digital dan kesaksian para vendor yang ditipu oleh Sabrina, puncaknya adalah ketika bukti aliran dana dari rekening perusahaan Agus yang dialirkan ke rekening pribadi Sabrina di Singapura dibeberkan di layar besar.
"Terdakwa Sabrina secara sadar dan terencana telah melakukan penggelapan aset senilai puluhan miliar, menyebabkan kebangkrutan pada vendor-vendor kecil dan kerugian negara atas pajak yang tidak terbayar," ucap Jaksa dengan tegas.
Sabrina mulai terisak histeris, "Itu bukan salahku! Agus yang memberikan uang itu! Aku hanya menerimanya! Karina, tolong aku! Kamu kan sudah mendapatkan segalanya, jangan hancurkan aku seperti ini!" teriak Sabrina sambil menoleh ke arah bangku penonton.
Karina tetap bergeming. Wajahnya sedingin marmer, namun genggamannya pada tangan Faisal menguat.
"Majelis Hakim yang mulia," Faisal tiba-tiba berdiri dan suaranya menggelegar tenang namun mematikan.
"Sebagai kuasa hukum dari pihak yang dirugikan secara tidak langsung, kami telah menyerahkan bukti tambahan berupa dokumen pencucian uang yang dilakukan terdakwa melalui yayasan fiktif, kami meminta hukuman maksimal tanpa remisi," ucap Faisal.
Mendengar hal itu, Sabrina lunglai di kursinya, harapan terakhirnya untuk bebas langsung pupus begitu saja.
.
.
.
Bersambung.....
dibandingkan ditemukan agus dan Agus mengarang cerita utk balas dendam
emang dasar agus sudah gila