NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA

## BAB 19: Konsekuensi yang Tak Terhindarkan

Cahaya merah-biru dari lampu rotator mobil patroli polisi memantul di dinding putih Pesantren Al-Hikmah, menciptakan bayangan yang bergoyang tidak teratur seperti hantu-hantu yang menari di atas tembok suci itu. Malam yang tadinya penuh dengan suara ceramah dan doa kini digantikan oleh suara radio polisi yang berdesis, langkah sepatu boot yang berat di lantai koridor, dan isak tangis pelan dari para santriwati yang menyaksikan dari kejauhan.

Alek duduk di tangga depan pesantren, masih dalam kondisi penuh darah. Darah di dahinya sudah mengering, meninggalkan garis-garis hitam kemerahan yang menyeramkan. Bahu dan lengannya yang terluka dibalut sementara dengan kain sobek oleh salah satu pengurus pesantren—lebih untuk menghentikan pendarahan daripada untuk pengobatan sebenarnya. Tangannya diborgol di belakang punggung. Besi dingin borgol itu menggigit kulitnya, tapi Alek bahkan tidak merasakannya. Semua inderanya telah mati rasa sejak dia melihat mata Bagas yang kosong tadi.

Dua polisi berdiri di sisinya, wajah mereka datar dan profesional. Salah satunya—seorang brigadir muda dengan kumis tipis—terus berbicara lewat HT, melaporkan situasi kepada atasannya.

"Korban sudah dievakuasi. Satu orang tewas. Pelaku diamankan. Menunggu instruksi," katanya dengan nada monoton yang terlatih.

Pelaku.

Kata itu menghantam Alek seperti palu godam. Dia bukan pelaku. Dia hanya... membela diri. Tapi apakah polisi akan percaya? Apakah pengadilan akan percaya? Di mata hukum, seseorang sudah mati. Dan tangan Alek yang melakukannya.

***

Di dalam ruang operator yang kini sudah dipasangi garis polisi, tim forensik mulai bekerja. Mereka mengambil foto dari berbagai sudut—posisi tubuh Bagas yang sudah ditutupi kain putih, genangan darah, belati yang masih tergeletak di lantai, serpihan monitor yang pecah, dan rak server besi yang sudah ternoda darah di sudutnya.

Seorang detektif senior—Inspektur Haryanto, pria paruh baya dengan rambut beruban dan wajah yang sudah terlalu banyak melihat kematian—berdiri di tengah ruangan, mengamati setiap detail dengan mata yang tajam.

"Pisau ada di sini. Tidak ada sidik jari lain selain dua orang—kemungkinan korban dan tersangka," lapor salah satu anggota forensik sambil memegang belati yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik bukti.

"Bagaimana dengan posisi tubuh korban?" tanya Inspektur Haryanto.

"Kepala terbentur sudut rak besi ini," forensik menunjuk ke sudut yang tajam dan kini berwarna merah tua. "Trauma tumpul berat. Kemungkinan besar penyebab kematian adalah perdarahan otak akibat benturan ini. Kami akan tahu pasti setelah otopsi."

Inspektur Haryanto mengangguk pelan. Dia berjalan mengelilingi ruangan, merekonstruksi kejadian di dalam kepalanya. Lantai yang licin oleh darah dan serpihan kaca. Kabel-kabel yang kusut dan malang melintang. Posisi belati yang terjatuh beberapa meter dari tubuh korban.

"Ini bukan pembunuhan sederhana," gumamnya. "Ada perjuangan di sini. Tapi siapa yang menyerang siapa duluan?"

***

Alek dibawa ke mobil patroli. Saat dia berdiri, kakinya hampir tidak bisa menopang tubuhnya. Salah satu polisi harus menopang bahunya untuk mencegahnya jatuh. Alek berjalan melewati kerumunan santri dan pengurus pesantren yang memandangnya dengan tatapan campuran—ada yang takut, ada yang kasihan, ada juga yang marah.

Dan di antara kerumunan itu, Alek melihat Khansa.

Dia berdiri sedikit terpisah dari yang lain, kedua tangannya terkepal di depan dada, tubuhnya gemetar. Cadar hitamnya basah di bagian pipi—tanda bahwa dia menangis. Mata Khansa—satu-satunya bagian wajahnya yang terlihat—menatap Alek dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Bukan benci. Bukan takut. Tapi... rasa bersalah yang sangat mendalam.

Alek ingin berhenti. Ingin mengatakan sesuatu. Ingin bilang bahwa ini bukan salah Khansa. Bahwa Khansa tidak perlu merasa bersalah. Tapi borgol di tangannya dan cengkeraman polisi di bahunya tidak membiarkannya.

Yang bisa dia lakukan hanya menatap Khansa sekilas, lalu menundukkan kepalanya sambil berbisik—begitu pelan sehingga mungkin hanya angin malam yang mendengarnya.

"Maaf."

Khansa mendengarnya. Dan kata itu membuat lututnya hampir lemas. Maryam yang berdiri di sebelahnya segera menopang tubuh Khansa sebelum dia jatuh.

"Khansa, kamu harus masuk. Jangan lihat ini," bisik Maryam sambil mencoba menarik Khansa menjauh.

Tapi Khansa tidak bergerak. Matanya tetap terpaku pada punggung Alek yang digiring masuk ke dalam mobil patroli. Pintu mobil ditutup dengan bunyi berdebam yang keras. Mesin dinyalakan. Lampu merah-biru masih berputar.

Dan kemudian mobil itu pergi, membawa Alek menjauh dari pesantren, menjauh dari Khansa, menjauh dari segalanya yang pernah memberinya harapan untuk berubah.

***

**Kantor Polisi Sektor Bandung Timur - Pukul 23.47 WIB**

Ruang interogasi itu dingin dan steril. Dinding berwarna hijau pucat yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Satu meja besi di tengah. Dua kursi di satu sisi, satu kursi di sisi lain. Lampu neon yang terlalu terang menggantung di langit-langit, membuat mata Alek yang sudah lelah semakin perih.

Alek duduk di kursi tersangka, masih dengan borgol di tangan meski kini tangannya sudah di depan, bukan di belakang. Luka-lukanya sudah dibersihkan dan diperban oleh petugas medis—tapi hanya sekadarnya. Wajahnya masih pucat, bibir kering pecah-pecah.

Inspektur Haryanto masuk bersama seorang polisi muda yang membawa map tebal. Mereka duduk di seberang Alek. Inspektur Haryanto menatap Alek lama sebelum mulai bicara.

"Alexander Panjaitan. 17 tahun. Siswa SMA Kristen Immanuel kelas XII. Anak dari Pendeta Daniel Panjaitan." Inspektur Haryanto membaca data dari berkas di tangannya. "Kamu tahu kenapa kamu ada di sini?"

Alek mengangguk pelan. Suaranya serak saat dia menjawab. "Karena... Bagas mati."

"Bukan hanya itu. Kamu ditahan atas dugaan pembunuhan berencana," kata Inspektur Haryanto dengan nada datar.

Alek tersentak. "Pembunuhan berencana? Gue nggak—"

"Kamu datang ke pesantren malam-malam, naik ke ruang operator yang tidak sembarang orang bisa akses, lalu terlibat perkelahian yang mengakibatkan kematian Bagas Pratama. Itu fakta," potong Inspektur Haryanto. "Sekarang, kamu akan cerita versi kamu. Dari awal."

Alek menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering seperti amplas. "Gue... gue datang karena Bagas mau nyebarin foto yang bisa merusak nama baik santriwati di sana. Foto yang diambil tanpa seizin dia. Foto yang—"

"Foto apa?"

"Foto... foto Khansa. Santriwati yang... yang sering ikut kegiatan sosial bareng sekolah gue. Bagas ambil foto dia tanpa cadar, terus mau disebarkan ke media sosial. Gue cuma mau nyegah itu."

Inspektur Haryanto mencatat. "Jadi kamu mengaku datang untuk menghentikan penyebaran foto?"

"Iya."

"Dengan cara apa?"

"Gue... gue mau ambil laptop Bagas. Gue mau hapus foto-foto itu sebelum dia sebarkan."

"Dan kemudian?"

Alek terdiam. Dia menutup matanya, mengingat kembali detik-detik mengerikan itu. "Bagas... dia panik waktu gue cabut kabel proyektor. Dia keluar pisau. Belati. Dia... dia nyerang gue duluan."

"Kamu punya bukti?"

"Dimas. Teman gue. Dia ada di sana. Dia lihat semuanya setelah... setelah kejadian. Dan pasti ada CCTV atau saksi yang bisa buktiin kalau Bagas yang—"

"Tidak ada CCTV di ruang operator," potong Inspektur Haryanto. "Dan semua yang kita punya sekarang adalah kamu, Bagas yang sudah mati, dan sebuah pisau dengan sidik jari kalian berdua."

Alek merasakan dunianya runtuh. Tidak ada CCTV. Tidak ada bukti. Hanya kata-katanya melawan kematian Bagas.

"Tapi gue nggak bunuh dia! Gue cuma... gue cuma bantingin dia supaya dia lepas pisaunya. Dia yang jatuh sendiri. Kepalanya kena rak besi itu karena... karena lantainya licin sama kabel-kabel!"

Inspektur Haryanto menatap Alek dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. "Kamu tahu, Alexander, dalam hukum Indonesia, ada yang namanya pembunuhan tidak sengaja. Pasal 359 KUHP. Maksimal hukumannya lima tahun penjara."

Lima tahun.

Angka itu bergema di kepala Alek. Lima tahun. Dia baru 17 tahun. Kalau dia masuk penjara sekarang, dia akan keluar saat umur 22 tahun. Semua mimpinya—kuliah, memperbaiki hubungan dengan keluarga, mungkin suatu hari bisa... menikahi Khansa—semuanya akan hancur.

"Tapi," lanjut Inspektur Haryanto, "kalau terbukti ada unsur kesengajaan atau dendam, ini bisa naik jadi pembunuhan. Pasal 338. Itu 15 tahun, Anak."

"Gue nggak sengaja!" Alek membentak, air matanya mulai keluar tanpa bisa ditahan lagi. "Gue nggak mau dia mati! Gue cuma mau lindungin Khansa! Gue cuma—"

Pintu ruang interogasi terbuka. Seorang polisi muda masuk, membisikkan sesuatu ke telinga Inspektur Haryanto. Inspektur itu mengangguk, lalu berdiri.

"Kita lanjutkan besok. Kamu akan ditempatkan di sel tahanan sementara sambil menunggu proses hukum," kata Inspektur Haryanto sambil mengemas berkasnya.

"Tunggu! Keluarga gue—ayah gue—apa dia udah dikabarin?"

Inspektur Haryanto berhenti di ambang pintu. "Sudah. Orang tuamu sedang dalam perjalanan ke sini."

***

**Sel Tahanan Sementara - Tengah Malam**

Sel tahanan itu sempit dan bau. Hanya ada satu kasur tipis di sudut, sebuah ember untuk MCK, dan jeruji besi yang dingin. Alek duduk di kasur itu, memeluk lututnya, menatap kosong ke dinding yang penuh coretan nama-nama tahanan sebelumnya.

Dia mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru di koridor. Lalu suara yang sangat dia kenal—suara ibunya yang menangis.

"ALEK! ALEK, ANAKKU!"

Alek berdiri, berlari ke jeruji. Di luar, dia melihat ibunya yang berusaha mendekat tapi ditahan oleh polisi. Ayahnya berdiri di belakang, wajahnya pucat dan tua seketika, seperti baru saja kehilangan sepuluh tahun dari hidupnya.

"Ma... Pak..." suara Alek bergetar.

Ibunya meraih tangan Alek melalui jeruji, menggenggamnya erat. Tangannya dingin dan gemetar. "Kenapa, Nak? Kenapa kamu bisa sampai di sini? Apa yang terjadi?!"

"Maafin Alek, Ma. Alek... Alek cuma mau nolongin orang. Alek nggak sengaja—"

"Kamu membunuh orang, Alexander," suara ayahnya memotong, dingin dan tajam seperti es. "Kamu membunuh anak orang."

Alek menatap ayahnya. Mata Pendeta Daniel tidak menunjukkan kasih sayang. Hanya kekecewaan yang sangat dalam.

"Pak, Alek nggak sengaja. Dia yang nyerang Alek duluan. Alek cuma—"

"Cukup," potong ayahnya lagi. "Apapun alasannya, seseorang sudah mati karena tanganmu. Kamu akan menghadapi konsekuensinya. Dan kali ini... aku tidak tahu apakah aku bisa membantumu."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dada Alek. Ayahnya—orang yang seharusnya berdiri di sampingnya—justru meninggalkannya saat dia paling membutuhkan.

"Daniel..." ibunya berbisik, menatap suaminya dengan tatapan mohon. "Dia anak kita—"

"Dia sudah membuat pilihan," kata Pendeta Daniel. "Dan Tuhan tidak akan memberkati jalan yang penuh darah."

Pendeta Daniel berbalik dan berjalan pergi. Langkah kakinya berat tapi tegas. Ibunya masih bertahan sebentar, menggenggam tangan Alek lebih erat, air matanya mengalir deras.

"Mama akan cari pengacara, Nak. Mama akan usahakan. Kamu... kamu jangan menyerah ya."

Tapi Alek melihat di mata ibunya—kepasrahan yang sama. Rasa putus asa yang sama.

Setelah ibunya akhirnya dipaksa pergi oleh polisi, Alek kembali duduk di kasur tipisnya. Dia menatap langit-langit sel yang retak. Dalam kepalanya, dia mengulang semua kejadian—dari pertama kali bertemu Khansa, keputusannya untuk berubah, keluar dari geng, semua kegiatan sosial, sampai malam ini.

Apakah semua usahanya untuk berubah akan berakhir di sini? Di dalam sel yang dingin dan bau ini?

Dia ingat doa yang pernah dia baca—doa perlindungan dalam Islam.

*"Bismillahillazi la yadurru ma'asmihi syai'un..."*

Bibir Alek bergerak pelan mengucapkan kalimat itu, meski tidak sempurna. Tapi kali ini, ketenangan yang biasa dia rasakan tidak datang. Yang ada hanya kekosongan.

"Ya Allah..." bisiknya dengan suara yang pecah. "Kalau Engkau ada... kenapa Engkau biarkan ini terjadi? Gue cuma mau lindungin dia. Gue cuma mau jadi orang yang lebih baik. Tapi sekarang... sekarang gue di sini. Dan Bagas... Bagas mati."

Tidak ada jawaban. Hanya suara tetesan air dari atap sel yang bocor.

Alek merebahkan tubuhnya di kasur, menatap jeruji yang memisahkan dia dari dunia luar. Dari Khansa. Dari kehidupan yang pernah dia impikan.

Dan untuk pertama kalinya sejak dia memutuskan untuk berubah, Alek merasakan sesuatu yang sangat asing baginya.

Putus asa yang total.

***

**Sementara itu, di Pesantren Al-Hikmah...**

Khansa duduk di sajadah di kamarnya yang gelap. Maryam sudah tidur di kasur sebelahnya, tapi Khansa tidak bisa tidur. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang menunjukkan langit malam Bandung yang kelam.

Di tangannya, dia menggenggam tasbih, tapi dia tidak menggerakkannya. Dia hanya diam.

"Ya Allah," bisiknya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Hamba tidak mengerti. Kenapa harus seperti ini? Kenapa Mas Alexander harus... kenapa harus ada yang mati?"

Dia teringat gumaman Alek tadi malam.

*"Ini semua demi kamu."*

Air mata kembali mengalir. Khansa menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Hamba tidak pernah minta ini, Ya Allah. Hamba tidak pernah minta ada yang berkorban untuk hamba. Kenapa... kenapa hamba yang jadi penyebab semua ini?"

Dia sujud panjang di atas sajadah, menangis dalam sujudnya. Isak tangisnya terdengar pelan, teredam oleh kain sajadah yang basah oleh air matanya.

Malam itu, dua orang—Alek di sel tahanan dan Khansa di kamar asramanya—menangis dalam kegelapan yang sama. Keduanya merasakan beban yang sangat berat. Beban yang mungkin tidak akan pernah bisa mereka lepaskan.

Dan di suatu tempat, roh Bagas mungkin melayang, menatap semua kekacauan yang dia tinggalkan, bertanya-tanya apakah dendamnya benar-benar sepadan dengan nyawanya sendiri.

***

**Bersambung ke Bab 20...**

*"Kadang, harga dari membela yang benar adalah kehilangan segalanya. Dan dalam kehilangan itu, kita baru benar-benar mengerti arti dari pengorbanan."*

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!