NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KCM#14

“Yunda, kenalkan. Ini temenku, namanya Alex.”

“Hai.” Ayunda melambaikan tangan pada Alex saat mereka makan malam di sebuah restoran steak.

“Alex akan tinggal sama kita nanti, terus mulai besok akan ada pembantu yang datang ke rumah.”

“Pembatun? Buat apa? Aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Ngapain pakai pembantu?”

“Kita ini bukan muhrim, tinggal satu atap aja tuh udah salah. Berdua? Ckckck. Kita aja orang buat tinggal biar gak ada setan di antara kita.”

“Owhhhh.” Ayunda membuka mulutnya bulat.

Gadis itu sesekali melirik Alex yang tampak cuek. Dia diam seribu bahasa dan hanya fokus makan.

“Kak Alex laper banget ya? Dari tadi gak ngomong apa-apa, cuma makan aja.”

Alex yang sedang mengiri steak pun berhenti.

“Sssttttt, biarin. Dia memang kelaparan katanya habis kerja rodi.”

“Kerja rodi? Jaman sekarang masih ada kerja rodi? Bukan nya menyalahi HAM ya? Di mana kak Alex kerja? Kenapa gak laporan aja.”

Alex menghela nafas berat.

“Yunda, itu kentang nya mau nambah gak? Di sini bisa refil kentang goreng.” Elang mengalihkan pembicaraan.

“Iya, boleh.”

Makan malam berjalan dengan lancar. Ayunda tidak lagi menghiraukan Alex yang seperti patung. Diam seribu bahasa. Sesekali dia melihat ponselnya, menelpon, lalu kembali diam dan sibuk dengan dunianya sendiri, memperhatikan sekeliling, lalu memperhatikan Elang dan Ayunda.

“Alex itu tidak banyak bicara. Jadi, kamu jangan ngomong apa-apa kalau bukan dia yang duluan ya. Takut sakit hati diabaikan,” ujar Elang saat mereka dalam perjalanan pulang.

“Mas kok bisa sih punya temen kayak dia. Mas betah pergi sama orang yang gak bisa diajak ngobrol?”

“Kalau sama temen yang udah akrab. Dia juga ngobrol kok. Mungkin kalau kalian udah kenal lama, dia pasti ngobrol juga.”

“Ada ya orang kayak gitu.”

“Ada, ya itu, si Alex.”

Ayunda tertawa.

“Gimana tadi steak nya? Masuk gak di lidah kamu?”

“Lumayan. Ya, sama aja kayak daging sapi pada umumnya. Kayak sate yang gak pake kecap.”

“Buset, sate. Itu wagyu, ayunda.”

“Apa itu wagyu? Bukan nya itu sama aja daging sapi.”

“Beda lah. Pokoknya kamu searching aja nanti perbedaan nya apa.”

“Oke.”

Mereka mengobrol sepanjang jalan, sambil sesekali ayunda berdecak kagum pada gedung-gedung tinggi di kota. Lampu jalan yang terang di sepanjang jalan sangatlah kontras dengan keadaan jalan di desanya.

“Sepinya jam berapa ini ya, Mas?”

“Sepi tapi tetap ada kehidupan. Mungkin sekitar jam dua malem.”

“Ada kehidupan? Maksudnya masih ada orang yang belum tidur jam segitu?”

“Banyak.”

“Hah? Ngapain?”

“Kerja.”

“Kerja? Kerja sampai jam segitu? Tidurnya kapan mereka?”

“Di kota itu ada manusia nokturnal alias kehidupan terbalik yaitu tidur siang hari dan bangun malam hari.”

“Ya ampun, segitunya ya, Mas?”

“Hidup di kota itu keras. Gak kerja gak makan. Oke, di desa gak kerja masih bisa makan dengan belas kasihan tetangg. Kayak Mak irah misalnya. Tapi di kota enggak. Bukan gak mau tapi gak bisa. Bagaimana mereka mau berbagi kalau mereka sendiri susah. Ya, gak semua. Ada juga yang masih tetap berbuat baik meski dalam keadaan sulit.”

“Aku pikir di kota itu enak semua. Makan dengan menu yang beragam di meja. Sarapan roti dan susu. Pakaian bagus. Uangnya pada banyak.”

Elang tertawa kecil. “Jangan menilai sesuatu dari cover -nya. Kota besar tidak seindah pemandangan malam harinya.”

Ayunda menghela nafas.

“Jika melihat lebih dalam, maka kamu akan tahu bahwa hidup kamu di desa jauh lebih indah dan bahagia.”

“Nanti boleh dong ajak aku ke ‘pelosok’ kota.”

“Kalau mau lihat dan mau tahu gimana kehidupan pinggiran Ibu kota, ikut aja nanti di acara sosialnya Alex.”

“Kak Alex?”

“Nanti ikut aja kalau dia lagi ngadain acara. Kamu tahu? Ada loh pemukiman yang tidak pernah kena sinar matahari.”

“Maksdunya? Sebenta, aku gak bisa mencerna ucapan Mas.”

“Saling berdesakan rumahnya. Atapnya menyatu satu sama lain hingga tidak ada celah untuk sinar matahari masuk.”

“Hah? Kok bisa? Apa nggak engap? Bukannya matahari itu penting banget ya untuk kesehatan. Sanitasi nya gimana itu?”

Elang tersenyum melihat kebingungan Ayunda.

Mobil pun berhenti di halaman rumah. Ayunda dan Elang turun dari mobil, lalu masuk ke dalam.

“Selamat malam, Mas.”

“Ya. Kunci kamar rapat-rapat.”

“Kenapa?”

“Kata Bapak takut aku hilang kendali dan ada setan menggoda iman.”

Ayunda mengernyitkan dahi karena tidak mengerti apa maksud ucapan Elang.”

“Pokoknya kunci kamar.”

“I-iya,” ujarnya sambil mengangguk kebingungan.

“Dasar gadis oon,” gumam Elang.

...***...

Sesuai kebiasaan di rumahnya, ayunda bangun tengah malam untuk solat tahajud. Dia akan berhenti beribadah saat usai solat subuh.

Dengan perlahan ayunda menuruni anak tangga satu persatu. Dia pergi menuju dapur untuk membuat sarapan. Memasak air untuk menyeduh kopi.

“Masak apa?” Tanya Elang. Dia menghampiri ayunda dan duduk di kursi mini bar. Dengan memakai sarung dan kaos polos putih, Elang memperhatikan ayunda yang sedang menyeduh kopi.

“Gulanya satu sendok teh kan?”

“Hmmm.”

Ayunda membuat pisang goreng dan roti bakar.

“Makanan nya sama, tapi suasananya berbeda ya, Mas?”

“Kenapa memangnya?”

“Di desa jam segini masih ada yang solawatan. Ada suara kodok juga. Terus udaranya juga dinginnya tuh seger. Semalam aku sudah tidur. Pake ac hidung kering, gak pake ac kepanasan. Jendela dibuka ada nyamuk masuk.”

“Biasakan.”

“Gak tau deh, aku bisa gak hidup di kota. Mau nyaman tuh kayaknya susah banget. Mahal pula.”

“Di mana-mana juga kalau mau hidup nyaman itu ya ada bayarannya. Di desa juga gak semua hidup nyaman. Itu mah karena kamu rumahnya bagus, mau apa-apa mudah mendapatkannya. Yang lain belum tentu.”

“Tapi untuk mendapatkan udara yang bagus itu semuanya juga dapat. Kebayang sih tinggal di kota tapi gak pake ac.”

“Kalaupun jadi kuliah dan tinggal di sini, kayaknya kamu sulit banget beradaptasi ya.”

“Kayaknya sih gitu.”

Elang menatap lekat pada gadis yang mulutnya penuh dengan makanan.

Waktu terus berjalan. Matahari kini mulai menunjukkan sinarnya. Ayunda masih di kamar setelah mandi, dia berpakaian dan bercermin sedang memakai riasan tipis.

“Yunda, aku kerja dulu ya. Kalau ada apa-apa telpon aja. Pembantu nya nanti datang sore hari.”

“Iya, Mas,” teriak ayunda menjawab Elang yang ada di bawah.

Elang menyalakan mobil, mendengar hal itu Ayunda berlari kecil menuju balkon kamar untuk melihat Elang pergi bekerja.

“Mas, hati-hati.” Ayunda kembali berteriak.

Mendengar teriakan Ayunda, elang membuka kaca mobil, lalu melambaikan tangan tanpa memperlihatkan wajahnya.

“Hmmm, kayak gini kali ya kalau punya suami.”

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!