Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Dekapan yang Menenangkan dan Sebuah Keraguan
Mobil SUV hitam itu berhenti dengan halus di lobi depan rumah mewah Ardiansyah. Alisha turun dengan langkah gontai, kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan mata yang bengkak di balik rambutnya yang terurai.
Alisha tidak memedulikan sekelilingnya, bahkan ketika Clarissa yang sedang asyik dengan ponselnya di sofa ruang tengah menatapnya sekilas dengan tatapan acuh tak acuh dia tidak peduli.
Alisha hanya ingin satu hal, masuk ke kamarnya. Ia ingin mengunci diri dan menenggelamkan rasa sakitnya dalam kegelapan.
Tak lama setelah Alisha naik ke lantai atas, Gathan keluar dari ruang kerjanya. Ia terkejut melihat Pak Maman sudah berdiri di dekat pintu dapur.
"Loh, kamu tidak jadi mengantar Aruna, Pak Maman?" tanya Gathan heran, karena setahunya "Aruna" ingin menghirup udara segar cukup lama.
"Jadi, Tuan. Namun tiba-tiba Nona merasa pusing sekali dan minta pulang saja," jawab Pak Maman sopan.
Rasa khawatir langsung menyergap Gathan. Ia tahu kondisi "Aruna" belum sepenuhnya stabil setelah kecelakaan itu. Tanpa membuang waktu, Gathan melangkah lebar menuju lantai atas. Di depan kamar adiknya, ia berhenti sejenak, mengatur napasnya agar tidak terdengar panik, lalu membuka pintu dengan sangat hati-hati.
Suasana kamar itu redup. Gathan melihat sosok adiknya sedang meringkuk di atas kasur, membelakanginya. Bahu sosok itu tampak bergetar kecil.
"Na... kamu baik-baik saja?" bisik Gathan lembut. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya terulur membelai rambut adiknya dengan penuh kasih sayang.
Namun, saat Alisha sedikit menoleh, jantung Gathan seolah berhenti berdetak. Wajah itu sembab, hidungnya memerah, dan air mata masih terus mengalir membasahi bantal.
Pemandangan itu menghantam ulu hati Gathan. Sudah sangat lama ia tidak melihat Aruna menangis seperti ini, mungkin terakhir kali adalah saat pemakaman papa mereka. Aruna yang ia kenal adalah wanita baja yang selalu menyembunyikan lukanya.
Melihat kehancuran itu, Gathan tidak tahan. Ia merebahkan tubuhnya di samping Alisha, memeluk adiknya itu dari belakang, melingkarkan lengannya dengan protektif.
"Ada apa, Sayang? Apa yang sakit? Katakan pada Kakak..."
Tangisan Alisha justru semakin pecah. Pelukan hangat Gathan terasa seperti satu-satunya tempat aman di dunia yang saat ini terasa begitu kejam baginya. Alisha membalikkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gathan, dan memeluk pria itu dengan sangat erat.
Setiap isakan Alisha adalah teriakan rasa sakit yang tertahan. Mengingat momen ciuman tulus Rendy kepada Aruna tadi terasa seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya. Ia merasa dikhianati oleh situasi, merasa kehilangan cintanya karena wajahnya sendiri. Ia ingin berteriak bahwa ia adalah Alisha yang sedang patah hati, bukan Aruna sang harimau bisnis. Namun, ia hanya bisa menangis dalam dekapan pria yang ia pikir adalah kakaknya.
Gathan hanya diam, memberikan kehangatan. Ia mengusap punggung Alisha, membiarkan kemejanya basah oleh air mata adiknya. Gathan berjanji dalam hati, siapa pun yang membuat adiknya sesakit ini, akan ia buat membayar harganya.
Cukup lama mereka dalam posisi itu sampai akhirnya tangis Alisha mereda karena kelelahan, dan ia tertidur dalam pelukan Gathan. Dengan perlahan, Gathan bangkit agar tidak membangunkan Alisha. Ia menyelimuti tubuh mungil itu dan membelai rambutnya sekali lagi.
"Apa yang terjadi padamu, Na? Kenapa kamu terlihat begitu terluka?" gumam Gathan lirih.
Ia menatap wajah adiknya yang tengah terlelap itu cukup lama. Sinar lampu nakas yang temaram menyoroti wajah Alisha. Gathan mendekatkan wajahnya, menatap pelipis kanan adiknya.
Ingatannya kembali ke masa remaja mereka, saat Aruna pernah terkena pisau dan meninggalkan bekas luka permanen di sana. Meski pudar, teksturnya seharusnya terasa tidak rata jika diraba.
Gathan mengulurkan jarinya, menyentuh pelipis Alisha dengan sangat lembut. Jemarinya bergerak perlahan.
Mulus. Halus.
Tidak ada bekas luka. Tidak ada tekstur tidak rata yang ia kenali selama bertahun-tahun. Gathan terpaku. Matanya yang tadi penuh kasih sayang, kini berubah menjadi tajam dan sangat serius. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Gathan segera keluar dari kamar itu, menutup pintu dengan rapat. Ia merogoh ponselnya dan mendial sebuah nomor dengan cepat.
"Bas, kita perlu ketemu sekarang," ucap Gathan pada Baskara di seberang telepon. Suaranya dingin dan tegas.
"Baik, Pak. Saya juga ingin melaporkan hasil penyelidikan saya tentang sosok yang Anda minta," jawab Baskara.
Gathan menutup teleponnya. Rahang bawahnya mengeras. Entah mengapa dia mulai ragu, apakah yang ada di kamar itu adalah Aruna, adiknya? Atau mungkin orang lain.
***
Malam semakin larut, menyisakan keheningan mencekam di kamar sederhana milik Alisha. Aruna duduk tegak di depan laptopnya, cahaya layar memantul di retinanya yang tampak lelah namun tajam. Jemarinya menari di atas keyboard, menembus lapisan enkripsi terakhir dari data yang ia curi dari laptop Elena.
Tiba-tiba, sebuah dokumen terbuka. Mata Aruna membelalak. Napasnya tertahan di tenggorokan saat membaca barisan catatan hitam yang selama ini terkubur rapi.
The Butterfly.
Kode nama itu melegenda di dunia bawah tanah, seorang eksekutor wanita yang dikenal karena kecantikannya yang mematikan dan cara kerjanya yang tanpa jejak. Dan di sana, di balik data-data digital itu, terpampang foto masa muda Elena dengan sorot mata sedingin es.
"Iblis..." desis Aruna, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Wajah ramah yang selama ini Elena tunjukkan di rumah Ardiansyah hanyalah topeng sempurna. Selama bertahun-tahun, Aruna berbagi atap dengan seorang pembunuh bayaran kejam yang mungkin, atau hampir pasti adalah dalang di balik kematian ibunya.
Aruna syok, tetapi otaknya yang dingin segera memetakan rencana balas dendam yang lebih besar jika dugaannya benar.
Namun, di tengah kemelut pikirannya, suara engsel pintu yang berderit memecah keheningan.
Kriet...
Aruna tersentak. Refleksnya sebagai peretas membuatnya segera menutup layar laptop dalam satu gerakan cepat. Di ambang pintu, Aliando berdiri diam. Pemuda itu tidak menyalakan lampu kamar, hanya cahaya rembulan dari jendela yang menyinari separuh wajahnya, menciptakan kesan misterius yang sulit diartikan.
Aruna segera memasang wajah Alisha yang lugu dan sedikit terkejut.
"Ali? Kamu mengagetkan Kakak saja. Kenapa belum tidur?" tanya Aruna, mencoba meniru nada lembut Alisha.
Aliando tidak langsung menjawab. Ia justru terkekeh kecil, sebuah tawa hambar yang terasa ganjil. Ia melangkah masuk, menarik kursi di hadapan Aruna, dan duduk dengan tenang.
Tatapannya sangat serius, tajam, dan penuh selidik. Untuk pertama kalinya, Aruna merasakan aura intimidasi yang begitu kuat dari pemuda yang usianya jauh di bawahnya itu.
"Siapa kamu?" tanya Aliando pelan, namun setiap katanya terasa seperti hantaman palu. "Kamu bukan kakakku, Alisha."
Aruna membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir. Selama hampir dua minggu, ia merasa telah memainkan perannya dengan sempurna. Ia sudah mempelajari gerakan Alisha, cara bicaranya, bahkan kegemarannya.
"Ali, kamu bicara apa?"
"Berhenti bersandiwara," potong Aliando dingin. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam mata Aruna.
"Kak Alisha sangat membenci kopi hitam, tapi pagi ini kamu meminumnya tanpa ragu. Kak Alisha tidak pernah bisa terjaga lewat tengah malam tanpa tertidur di depan laptop, tapi kamu? Kamu terlihat seperti predator yang sedang mengincar mangsa. Dan waktu itu, ketika makan pedas kamu seolah asing dengan rasa pedas yang menjadi favorit kak Alisha."
Aliando menyilangkan tangan di depan dada. "Jadi, aku tanya sekali lagi... di mana kakakku yang asli? Dan siapa kamu sebenarnya?"
Aruna terdiam. Ia meremehkan ikatan batin seorang adik. Di depan Aliando, topeng "Alisha" miliknya baru saja retak berkeping-keping.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊