Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Keesokan Harinya Yuki Sadar
Ibu Kai duduk di kursi empuk dekat ranjang, menggendong Ai Chikara di pelukannya dengan hati-hati. Bayi itu masih tertidur lelap, kepala mungilnya bersandar di bahu hangat Ibu Kai. Sesekali tangan kecilnya bergerak-gerak ringan, seolah mencari kenyamanan. Ibu Kai menatap Yuki yang terbaring di kasur dengan ekspresi lembut dan penuh perhatian.
“Tenang saja, Nak. Kamu dan bayi ini sekarang aman,” ucapnya perlahan sambil mengelus punggung bayi itu. Matanya tetap tertuju pada Yuki, menunggu tanda-tanda kesadaran.
Tak lama kemudian, kelopak mata Yuki bergerak perlahan, membuka sedikit demi sedikit. Ia mengedip, menatap ruangan dengan tatapan samar-samar, kepalanya terasa pusing dan lemah. Tubuhnya masih hangat setelah dibersihkan, namun rasa sakit dari benturan semalam membuatnya menahan nafas.
Ibu Kai menunduk, tersenyum lembut. “Ah, akhirnya kamu bangun, Nak. Bagus. Kamu aman di sini bersama anakmu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Yuki menoleh perlahan, pandangannya masih belum fokus. Suara Ibu Kai terdengar seperti gema yang menenangkan di telinganya. Dengan suara yang gemetar, ia bertanya, “Bu… aku… aku di mana ini?”
“Ini rumah ibu, Nak. Aman di sini. Kamu tidak sendiri. Ibu akan menjagamu,” jawab Ibu Kai dengan lembut, menahan senyum agar tidak menakut-nakuti Yuki. “Semalam… aku ingin memberitahumu apa yang terjadi. Kamu harus tenang dan mendengar, agar semuanya jelas.”
“Bu… aku ingin bertanya… apa yang sebenarnya terjadi semalam? Bagaimana aku sampai di sini?” tanya Yuki, masih dengan suara lemah.
Ibu Kai menarik napas dalam, lalu mulai menjelaskan dengan tenang. “Semalam, Nak, mungkin berlari sambil memeluk anakmu setelah itu tertabrak mobil anak Ibu, Lalu Tanpa ragu anak Ibu dan pengawalnya membawamu ke sini. Aku tahu kamu sangat ketakutan, Nak, dan bayi itu juga. Itu sebabnya anak Ibu membawanya ke sini untuk memastikan kalian aman. Tidak ada yang akan menyakiti kalian di rumah ini.”
Yuki menarik napas pendek, mencoba menenangkan dirinya sambil menatap bayi di pangkuan Ibu Kai. Air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku… aku tidak tahu harus bagaimana. Semalam… semuanya begitu cepat… aku takut…” suaranya gemetar sambil menjelaskan yang terjadi semalam pada dia dan putri semata wayahnya, lalu menahan kepanikan dan rasa bersalah.
Ibu Kai mengangguk, tetap menatapnya dengan penuh pengertian. “Ibu mengerti, Nak. Semua itu bukan kesalahanmu. Kamu berusaha melindungi anakmu, dan itulah yang paling penting. Itu juga sebabnya Tuhan mengirim kan anak ibu membawamu ke sini, agar kalian berdua aman. Semuanya sudah diatur percayalah.
Yuki menunduk, menatap bayi yang kini bergerak sedikit di pelukan Ibu Kai. Tangisnya pecah perlahan. “Terima kasih… Bu. Terima kasih telah menyelamatkan kami. Aku… aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kalau tidak ada Ibu.” Suara itu penuh emosi, gemetar dan rapuh.
Ibu Kai meraih tangan Yuki, menggenggamnya erat namun lembut. “Tenang, Nak. Sekarang kamu aman di sini. Aku dan keluarga akan menjagamu. Kamu tidak perlu takut. Biarkan semua beban itu perlahan pergi. Kamu boleh menangis, Nak, tidak apa-apa. Itu wajar setelah apa yang kalian alami.”
Yuki mengangguk, tetap menangis sambil perlahan mengambil Ai Chikara dari pelukan Ibu Kai. Bayi itu membuka mata sejenak, menatap ibunya, lalu tersenyum kecil. Yuki memeluknya erat, merasakan kehangatan tubuhnya yang kecil, dan air mata mengalir di pipi. “Ai… ibu minta maaf… ibu akan selalu melindungimu. Aku janji…”
Ibu Kai menepuk punggung Yuki dengan lembut. “Iya, Nak. Aku tahu. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Sekarang sarapan sedikit. Biarkan bayi itu tidur kembali, Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu.”
Yuki menatap Ibu Kai dengan mata sembab. “Sarapan… ya… baik, Bu. Aku… aku akan mencobanya.” Ia perlahan menaruh Ai Chikara di samping kasur, memastikan bayi itu tetap nyaman dan hangat. Bayi itu sedikit bergerak, lalu menutup mata kembali, kembali tertidur.
Ibu Kai tersenyum, menyingkirkan kursi sedikit agar Yuki bisa duduk dengan nyaman di kasur. “Itu bagus, Nak. Sekarang kamu duduk dulu, jangan terlalu memaksakan diri. Kamu hanya perlu makan sedikit, menguatkan tubuhmu.”
Yuki menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur emosinya. Tubuhnya masih lelah dan kepalanya terasa berat. Ia menatap hidangan sarapan yang dihidangkan oleh Ibu Kai: roti hangat, teh hangat, dan beberapa potong buah. “Terima kasih, Bu… semuanya terlihat… sangat baik,” ucapnya sambil tersenyum lemah.
“Tidak apa-apa, Nak. Aku senang bisa membantumu. Sekarang, makan sedikit saja. Bayi itu juga aman. Lihatlah dia tidur nyenyak. Itu artinya kalian berdua benar-benar aman sekarang.”
Yuki mengambil sendok pertama, rasa hangat dari teh dan aroma roti membuatnya sedikit lega. Ia menatap Ai Chikara sesekali, memastikan bayi itu tetap nyaman. “Aku… aku masih tidak percaya… semuanya bisa berakhir begitu cepat… tapi Ibu menyelamatkan kami. Aku tidak tahu bagaimana membalas budi ini.”
Ibu Kai menggenggam tangan Yuki lagi, menatap matanya. “Aku tahu kamu bisa. Kamu ibu yang hebat, Nak. Jangan meragukan dirimu sendiri. Semua yang kamu lakukan semalam adalah bukti keberanianmu. Sekarang, beri dirimu waktu untuk pulih. Bayi itu aman, kamu juga aman. Itu yang paling penting.”
Yuki menunduk, menahan tangisnya, tapi sedikit senyum muncul di wajahnya. “Terima kasih… Bu… benar-benar… terima kasih.”
Ibu Kai tersenyum hangat. “Sekarang, makan dulu. Aku akan duduk di sini menunggumu. Bayi itu tidur di sampingmu. Jangan khawatir, aku akan memastikan dia tetap hangat. Fokuslah pada dirimu dan makananmu. Itu penting.”
Yuki perlahan menyendok makanannya, sementara Ibu Kai tetap duduk di dekat kasur, sesekali menatap Ai Chikara yang masih tertidur pulas. Ada rasa damai yang mengisi ruangan, meski malam sebelumnya penuh ketegangan. Yuki merasa lega, merasakan keamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Yuki menatap Ibu Kai, matanya basah kembali. “Aku… aku tidak tahu harus bagaimana. Terima kasih… aku merasa sangat… sangat bersalah… karena membuat Ai Chikara ikut bahaya.”
Ibu Kai menggeleng, menepuk bahu Yuki. “Tidak apa-apa, Nak. Semua itu bukan kesalahanmu. Kamu berusaha melindungi bayi itu, dan itu yang paling penting. Sekarang kamu harus fokus pada pemulihan, bukan rasa bersalah.”
Yuki menghela napas panjang, menatap Ai Chikara yang tertidur damai. Rasa lega mulai merayapi hatinya. “Aku… aku akan mencoba, Bu… aku akan berusaha kuat untuk bayi ini.”
Ibu Kai tersenyum, menepuk tangan Yuki lembut. “Itu yang aku ingin dengar. Kamu sudah melakukan yang terbaik, Nak. Sekarang, makan sarapanmu perlahan. Aku akan tetap di sini menunggumu dan menjaga bayi itu.”
Yuki menunduk, menahan air mata, lalu mulai menyendok roti dan minum teh hangat. Setiap suapan terasa menenangkan, seolah perlahan melepaskan ketegangan semalam. Ibu Kai sesekali menatapnya, memastikan semuanya berjalan lancar. Ruangan itu dipenuhi rasa hangat, perlindungan, dan kasih sayang—sebuah rasa aman yang selama ini Yuki rindukan.