NovelToon NovelToon
Bakti Suami Derita Istri

Bakti Suami Derita Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Identitas Tersembunyi / Nikahmuda / Keluarga / Romansa
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."

Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.

​Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.

​Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakti Suami Derita Istri

Malam hari 18.00 WIB.

​SUV putih itu perlahan memasuki halaman kontrakan sempit di Jakarta. Suasana gang yang biasanya terasa akrab, kini tampak begitu asing di mata Disa. Ia menghela napas panjang sembari mematikan mesin mobil. Rasanya sangat berat meninggalkan Fikri di kampung bersama Bapak dan Ibu, namun ia tahu itu adalah satu-satunya jalan agar ia bisa bertarung habis-habisan di Jakarta tanpa harus mengkhawatirkan keselamatan batin anaknya.

​Begitu pintu mobil tertutup dengan bunyi bum yang solid, pintu rumah kontrakan langsung terbuka lebar. Seolah sudah menunggu di balik pintu sejak tadi, Abdi keluar dengan wajah yang dipaksakan ceria. Ada pemandangan yang tak biasa saat melihat Abdi mengenakan celemek dapur bermotif kotak-kotak yang biasanya hanya menjadi pajangan berdebu di belakang pintu dapur.

​"Sudah sampai, Sayang? Kok lama sekali, Mas sudah tunggu dari jam lima tadi," sapa Abdi dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, mencoba meniru nada bicara suami-suami idaman di televisi. Ia mencoba mendekat untuk mengambil alih tas jinjing Disa, namun Disa dengan cekatan memindahkan tasnya ke bahu yang lain, menghindari sentuhan suaminya.

​Abdi celingukan menatap kursi belakang mobil yang kosong melompong. "Lho, Fikri mana? Kok kamu sendirian, Dis? Anak kita mana?"

​Disa menoleh perlahan menatap Abdi dengan tatapan yang sangat datar, seolah ia sedang menatap orang asing yang bertanya alamat. "Fikri tetap di kampung Mas, Dia lebih bahagia di sana, jauh dari aura beracun rumah ini. Dia butuh melihat kakek-neneknya yang jujur, bukan ayahnya yang penuh topeng."

​Abdi tertegun dengan ucapan pedas Disa, bahkan senyum palsunya goyah sesaat. Kehadiran Fikri sebenarnya adalah "senjata" yang ia harapkan bisa melunakkan hati Disa, namun kini senjata itu tidak ada. "Tapi kan Mas kangen, Dis. Masa kamu tinggal begitu saja? Ya sudah, mungkin Fikri memang butuh udara desa. Ayo masuk Mas sudah siapkan kejutan buat kamu. Mas masak spesial, lho."

​Begitu melangkah masuk, aroma bumbu dapur yang tajam langsung menusuk indra penciuman. Di atas meja makan kayu yang biasanya hanya berisi tudung saji kosong, kini tersaji berbagai macam hidangan: ayam goreng bumbu kuning, sambal terasi yang menggoda, sayur asem yang masih mengepulkan uap, hingga tahu tempe goreng. Sebuah pemandangan yang sangat mewah untuk ukuran rumah tangga mereka selama ini.

​"Ayo makan dulu, Mas tarikkan kursinya," ujar Abdi dengan nada melayani yang berlebihan. Ia berdiri di samping meja, menanti reaksi Disa setidaknya sebuah pujian atau ucapan terima kasih karena ia sudah bersusah payah di dapur.

​Disa tidak duduk dan justru berdiri di depan meja, menatap deretan piring itu satu per satu dengan tatapan meremehkan, seolah ia sedang mengaudit barang bukti kriminal. "Pakai uang siapa kamu belanja semua ini, Mas?"

​Abdi langsung berdehem mencoba mengatur nada bicaranya. "Ya... pakai sisa uang bensin yang kamu kasih kemarin. Mas irit-irit, Mas rela nggak makan siang di luar biar bisa belanja ini semua. Mas cuma mau sambut kamu pulang dengan layak."

​Disa tertawa sinis, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat menyakitkan. "Irit? Mas, aku ini auditor senior. Kamu lupa profesiku? Aku tahu persis harga ayam di pasar, harga cabai yang lagi naik dan bumbu-bumbu ini. Uang lima puluh ribu yang aku kasih kemarin itu hanya cukup untuk bensin motor kamu dan mungkin dua potong tahu. Jadi, jujur sama aku... kamu pakai uang simpanan yang kamu sembunyikan selama ini? Atau kamu pinjam uang lagi ke orang lain demi sandiwara ini?"

​Wajah Abdi mendadak kaku. Urat lehernya mulai menegang. "Kenapa sih, Dis? Apa-apa harus dihitung, apa-apa harus dicurigai? Aku ini suamimu, aku lagi coba berbuat baik! Kenapa kamu nggak bisa sedikit saja menghargai usaha orang lain? Kamu pulang-pulang bukannya senang, malah cari kesalahan!"

​"Menghargai?" Disa membanting tasnya ke atas meja hingga piring sambal sedikit bergeser. "Bagaimana aku bisa menghargai ayam goreng ini, saat aku tahu setiap potongnya dibeli dari uang yang seharusnya jadi hak asuransi pendidikan Fikri? Bagaimana aku bisa makan dengan tenang, kalau aku tahu kamu lebih memilih bersandiwara jadi suami baik sekarang, setelah bertahun-tahun kamu membiarkan aku makan nasi garam demi 'bakti' palsu ke keluargamu?"

​Kesabaran Abdi yang ia bangun sejak sore tadi akhirnya meledak. Ia merasa harga dirinya sebagai lelaki diinjak-injak di rumahnya sendiri. Ia menggebrak meja dengan sangat keras hingga air di dalam gelas tumpah.

​"CUKUP, DISA! CUKUP!" teriak Abdi, suaranya menggelegar memenuhi ruangan yang sempit itu. "Aku sudah coba sabar! Aku sudah coba rendah hati, jadi babu di dapur buat kamu! Tapi kamu makin lama makin keterlaluan! Baru kerja beberapa hari, baru pegang setir mobil mewah dari kantor, sombongnya sudah selangit! Kamu merendahkan aku seolah aku ini bukan suamimu, seolah aku ini sampah yang nggak ada harganya!"

​Abdi melangkah maju, telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah Disa. "Ingat ya, Dis! Jangan karena kamu sekarang punya fasilitas kantor terus kamu merasa sudah punya segalanya! Kamu sombong karena mobil SUV itu, kan? Kamu merasa sudah hebat sampai berani injak-injak kepala suamimu sendiri? Kamu itu cuma istri, Dis! Di mana-mana, istri itu nurut sama suami bukan malah bar-bar dan menghakimi begini! Murahan sekali mentalmu kalau cuma karena jabatan kamu jadi lupa siapa yang ngasih kamu makan selama ini!"

​Disa tidak bergeming sedikit pun. Ia bahkan tidak berkedip saat teriakan Abdi memekakkan telinganya. Ia justru menatap Abdi dengan tatapan yang sangat dingin dan tajam, sebuah tatapan yang perlahan justru membuat nyali Abdi menciut.

​"Sombong?" tanya Disa dengan suara yang sangat rendah namun penuh penekanan. "Mas bilang aku merendahkanmu? Mas, kamu sendiri yang merendahkan dirimu saat kamu membohongi aku soal nafkah selama tiga tahun. Kamu sendiri yang menjatuhkan harga dirimu saat kamu membiarkan ibumu memeras darah istrimu sendiri demi gaya hidup mereka yang rakus."

​Disa maju satu langkah, memaksa Abdi untuk mundur. "Jangan sok jadi korban di sini, Mas. Jangan bersikap seolah aku ini penjahatnya. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Kamu bilang aku berubah karena mobil dan pekerjaan? Tidak. Pekerjaan ini hanya memberiku keberanian untuk berhenti menjadi bodoh. Aku tidak merendahkanmu, aku hanya sedang menempatkanmu di posisi yang pantas untuk seorang laki-laki yang tega mencuri uang anaknya sendiri."

​Abdi terdiam, napasnya memburu, namun ia tak mampu membalas kata-kata Disa yang sangat logis.

​"Kamu merasa aku bar-bar?" sambung Disa. "Itu karena kamu belum pernah melihat sisi jahatku, Mas. Kamu yang sudah membangunkan sisi ini. Kamu yang sudah merobek rasa hormatku sampai tak bersisa. Jadi jangan harap ada lagi Disa yang mengalah, jangan harap ada lagi Disa yang menelan nasi sisa. Mulai sekarang, aku adalah cermin bagi semua kejahatanmu."

​Abdi langsung diam seribu bahasa. Lidahnya kelu. Ia mencoba mencari celah untuk membela diri, namun ia sadar bahwa semua argumennya hanyalah pepesan kosong di depan fakta yang dipegang Disa.

​"Dis... bukan gitu maksud Mas... Mas cuma minta maaf... Mas sayang sama kamu," Abdi mencoba melembutkan suaranya, sebuah upaya terakhir untuk memanipulasi keadaan.

​Disa menarik tasnya kembali dan menatap makanan di meja dengan jijik. "Simpan maafmu, Mas. Aku capek dan masakan ini? Silakan kamu habiskan sendiri. Aku nggak sudi makan dari hasil manipulasi kamu lagi. Oh ya, nikmati malammu, karena mulai besok, hidupmu nggak akan pernah sama lagi."

​Brak!

​Disa masuk ke kamar dan mengunci pintu dengan sangat keras. Di dalam kamar yang sunyi tanpa Fikri, Disa duduk di pinggir tempat tidur. Ia memijat pelipisnya. Air matanya tidak jatuh, hatinya sudah terlalu keras untuk menangis.

​"Kamu pikir aku akan menceraikanmu sekarang, Mas?" gumam Disa pada kegelapan. "Tidak. Itu terlalu cepat. Aku mau kamu melihat bagaimana satu per satu kebohonganmu runtuh. Aku mau kamu merasakan rasanya nggak punya siapa-siapa, bahkan keluargamu sendiri akan meninggalkanmu saat uangmu habis. Setelah kalian semua menderita, baru aku akan pergi dengan kepala tegak."

​Malam itu, Disa mulai membuka laptopnya. Cahaya biru layar laptop menerangi wajahnya yang penuh ambisi. Ia mulai menyusun berkas-berkas audit internal yang akan menjadi "kejutan" besar di hari Senin untuk kantor Abdi. Perang besar baru saja ia nyatakan.

1
Andez Aryani
bukan'y nama adik ipar'y tu sinta sama rian yah thor
Ariany Sudjana
hahahaha dasar laki-laki mokondo kamu Abdi 😂😂🤣🤣 ga ada harga diri, tunduk sama kemauan Rini
-Thiea-
punya keluarga mertua kayak gini serem ya. 😑
Soraya
mampir thor
blcak areng: mksh Akak 😍
total 1 replies
aku
aku suka keributan begini 🤣🤣
aku
🌹🌹🌹 gassss lg toooorrr buar smgt 😁
Ariany Sudjana
dasar laki-laki bodoh kamu abdi 🤣🤣🤣 kamu membuang permata demi batu kerikil
Ariany Sudjana
bagus Disa, hancurkan abdi dan keluarga toxic itu
Ariany Sudjana
percuma abdi, mau kamu jungkir balik juga ga akan merubah tekad Disa untuk berpisah sama kamu
mom'snya devadhamian
iya semangat Disa..hancurkan aja lagi ga berguna kaya si abdi mah tuman😏
Ariany Sudjana
sebaiknya sih kamu bercerai dengan abdi, kalau sesudah itu abdi mau foya-foya, dan cari istri baru supaya bisa diinjak lagi, ya itu urusan si abdi, bukan urusan kamu lagi. kamu bodoh kalau masiih mau bertahan di rumah tangga yang toxic
Ayesha Almira
skrng abdi bru sadar..dh kelewatan...
mom'snya devadhamian
satu kata buat laki dan keluarga laki kaya gitu...mampus😈
Ayesha Almira
andi g sadar2 jd suami..
Ayesha Almira
aduh knp sih g kapok trs cari gara
Ayesha Almira
makanya jgn remehkn seorng istri...distap kbrhsiln suami da doa istri,..berbakti kpd ortuang sngt penting.stdknya mo pa2 berbicara dlu terhdp istrimu..br g slh phm..
blcak areng: betul kak 🙏
total 1 replies
Ayesha Almira
disa sprt itu krna kalian..seharusnya ibu menjdi panutan buat mantu...
Ayesha Almira
enakn d balikin omngnnya,g bs jwb kn
Ayesha Almira
skrng istriku berubh suami cr bantuan...slh kmu sndri mas g adil dlm rumah tangga..stdknya jujur k istri..
Ayesha Almira
disa bnr,memng surga suami da pada ibunya..knpa g berdikap adil pada disa..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!