NovelToon NovelToon
Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Wanita Karir / Time Travel
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.

Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.

Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INVESTASI PERTAMA DAN DRAMA ELISE

Tiga hari setelah percakapan dengan ayahnya, Catharina duduk di kereta mewah bersama Lucian, menuju wilayah utara untuk melihat langsung lokasi yang akan mereka investasikan. Di pangkuannya terbuka peta wilayah dan beberapa dokumen penting.

Lucian duduk di seberangnya, sesekali tersenyum melihat Catharina yang begitu serius membaca dokumen.

"Kamu tahu, kebanyakan wanita bangsawan akan pingsan kalau harus melakukan perjalanan jauh seperti ini," ujar Lucian sambil menyesap teh dari termos.

Catharina mengangkat pandangan dari dokumennya. "Heh! maaf ya, aku bukan kebanyakan wanita bangsawan." sambil menarik sudut bibirnya.

"Itu yang membuatmu menarik."

Mendengar nya, membuat pipi Catharina sedikit merona, tapi ia segera menyembunyikannya dengan kembali fokus ke dokumen. "Jangan menggodaku, Lucian. Kita di sini untuk bisnis."

"Siapa bilang aku menggoda? Aku hanya menyatakan fakta." Lucian meletakkan cangkir tehnya. "Ngomong-ngomong, apa ayahmu sudah setuju dengan pembatalan pertunangan?"

"Sudah. Meski awalnya dia marah, tapi akhirnya dia mengerti."

"Dan Duke Raphael?"

Catharina terdiam sejenak. "Belum ada kabar resmi. Tapi aku yakin dia akan setuju. Lagipula, dia sudah punya Elise."

"Ah ya, pelayan yang cantik itu." Lucian terlihat mengingat-ingat. "Aku pernah dengar gosip tentang mereka. Katanya Duke sering menghabiskan waktu di taman mansion-nya, dan Elise selalu kebetulan ada di sana."

Catharina mendengus. "Tentu saja bukan kebetulan. Di novel... eh, maksudku, menurutku Elise pasti sengaja menempatkan dirinya di tempat-tempat yang sering dikunjungi Duke. Classic move dari wanita yang berpura-pura polos."

Lucian tertawa. "Kamu terdengar seperti punya pengalaman pribadi soal ini."

"Tidak. Aku hanya... pernah melihat banyak wanita dengan tipe seperti itu."

Di kehidupan lamanya sebagai Sania, ia sering melihat rekan kerja wanita yang berpura-pura lemah lembut di depan bos laki-laki untuk mendapat promosi. Menjijikkan.

Kereta berhenti di sebuah desa kecil bernama Northvale. Tempat ini masih sangat sederhana, dengan rumah-rumah kayu dan jalan berbatu. Tapi di balik kesederhanaan itu, Catharina tahu ada harta karun tersembunyi.

"Kita akan menginap di penginapan desa dulu," ujar Lucian sambil membantu Catharina turun dari kereta. "Besok pagi kita akan survey langsung ke lokasi tambang."

Catharina mengangguk. Tangannya menerima uluran tangan Lucian, dan saat kulit mereka bersentuhan, ada sensasi hangat yang menjalar. Bukan yang menggebu-gebu seperti di novel roman picisan, tapi hangat yang nyaman.

Lucian sepertinya merasakan hal yang sama karena ia sedikit tersenyum sambil menatap tangan mereka yang masih bertautan.

"Eh, kamu bisa melepaskan tanganku sekarang," ujar Catharina dengan pipi bersemu seperti tomat.

"Oh, maaf." Lucian melepaskan dengan senyum jahil. "Tanganmu lembut sekali."

"Lucian!"

"Oke, oke. Aku berhenti."

Mereka berjalan menuju penginapan yang meski sederhana, terlihat cukup bersih dan nyaman. Pemilik penginapan, seorang wanita tua bernama Nana, menyambut mereka dengan ramah.

"Selamat datang, Yang Mulia! Kamar sudah kami siapkan. Dua kamar terpisah seperti yang diminta."

"Terima kasih," ujar Catharina sambil melihat sekeliling. Penginapan ini sederhana tapi memiliki daya tarik tersendiri. Sangat berbeda dengan mansion mewah yang biasa ia tinggali.

Setelah membereskan barang di kamar masing-masing, Catharina dan Lucian bertemu lagi di ruang makan untuk makan malam.

"Jadi, besok kita akan bertemu dengan kepala desa dan beberapa petani yang memiliki tanah di sekitar lokasi tambang," jelas Lucian sambil membuka peta. "Kita perlu membeli tanah mereka dengan harga yang wajar sebelum orang lain tahu ada emas di sana."

"Berapa budget yang kita punya?"

"Aku sudah menyiapkan lima ribu gold coins. Kamu?"

"Aku bawa tiga ribu. Jadi total delapan ribu. Harusnya cukup untuk membeli beberapa hektar tanah."

Lucian tersenyum kagum. "Kamu benar-benar serius dengan ini."

"Tentu saja. Ini investasi pertamaku. Aku tidak mau gagal."

Mereka menghabiskan malam itu merencanakan strategi negosiasi dengan para pemilik tanah. Catharina yang punya pengalaman kerja di dunia korporat di kehidupan lamanya, sangat membantu dalam menyusun strategi.

"Kita harus buat mereka merasa ini deal yang menguntungkan bagi mereka juga," ujar Catharina sambil mencatat. "Jangan sampai mereka merasa ditipu."

"Setuju. Aku tidak suka cara bisnis yang kotor."

Catharina menatap Lucian dengan senyum tulus. "Itu yang membuatku suka bekerja denganmu. Kamu punya prinsip."

Lucian terdiam, menatap Catharina dengan tatapan yang... entah, berbeda. Lebih lembut. Lebih dalam.

"Catharina..."

"Ya?"

"Ahh... tidak apa-apa. Sudah malam. Kita istirahat saja. Besok akan jadi hari yang panjang."

Catharina merasa ada yang ingin Lucian katakan, tapi pria itu memilih diam. Tapi tidak apa-apa. Mereka masih punya banyak waktu.

***

Sementara itu, di mansion Nightshade, Duke Raphael duduk sendirian di ruang kerjanya dengan segelas wine di tangan. Pikirannya kacau. Sejak percakapan terakhir dengan Catharina, ia tidak bisa fokus pada apapun.

Tok tok.

"Masuk," ujarnya dengan suara lelah.

Elise masuk dengan nampan berisi teh dan kue. Gadis itu tersenyum lembut sambil meletakkan nampan di meja.

"Hamba membawakan teh untuk Yang Mulia. Sudah larut, Yang Mulia perlu istirahat."

Raphael menatap Elise. Gadis ini memang cantik. Lembut. Perhatian. Semua yang seharusnya ia cari dari seorang wanita.

Tapi kenapa setiap kali ia melihat Elise, yang terbayang adalah wajah Catharina? Catharina yang sekarang berbeda. Yang berani. Yang mandiri. Yang tidak lagi memandangnya dengan mata penuh cinta.

"Terima kasih, Elise."

Elise tidak langsung pergi. Gadis itu berdiri di sana dengan tangan terkepal, seperti ada sesuatu yang ingin dikatakannya.

"Ada apa?" tanya Raphael.

"Yang Mulia... hamba dengar... Lady Catharina akan membatalkan pertunangan dengan Anda?"

Raphael mengangguk pelan. "Berita memang cepat menyebar."

"Apa... apa Yang Mulia sedih?"

Pertanyaan itu membuat Raphael terdiam. Apa ia sedih? Atau malah... menyesal?

"Aku tidak tahu, Elise. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan."

Elise melangkah lebih dekat. Terlalu dekat. Hingga Raphael bisa mencium aroma lavender dari tubuhnya.

"Hamba... hamba bisa menemani Yang Mulia. Kalau Yang Mulia kesepian. " sedikit terbata gadis itu mengatakan nya, mungkin karena gugup? atau apa, Raphael tidak mau tahu.

Dan juga, ada sesuatu di nada bicara Elise yang membuat Raphael tidak nyaman. Ini bukan lagi pelayan yang sopan. Ini adalah wanita yang sepertinya... punya rencana.

Raphael berdiri, menciptakan jarak.

"Elise, kamu pelayan yang baik. Tapi kamu harus tahu batasmu."

Wajah Elise berubah. Ada kilatan sesuatu di matanya. Kekecewaan? Atau... kemarahan?

"Tapi... hamba pikir... Yang Mulia juga..."

"Kamu pikir apa? Bahwa aku tertarik padamu?" Raphael menatap Elise dengan tajam. "Elise, aku tidak pernah memberikanmu harapan."

"Tapi Yang Mulia selalu baik pada hamba! Selalu tersenyum saat hamba melayani!"

"Karena itu tugasmu! Aku bersikap sopan pada semua pelayan!"

Elise mulai menangis. Air matanya jatuh dengan dramatis. "Hamba... hamba mencintai Yang Mulia..."

 Dan di situlah. Pengakuan yang tidak Raphael inginkan. Sebenernya dia bisa melihat nya dari tingkah laku Elise, tapi tidak menyangka gadis itu akan langsung menyatakan nya segamblang ini.

Raphael mengusap wajahnya dengan frustasi. "Elise, dengarkan aku. Aku tidak mencintaimu. Aku bahkan tidak mengenalmu dengan baik. Kamu hanya... kamu hanya pelayan yang kebetulan sering aku lihat."

"Tapi Lady Catharina bilang hamba bisa mengejar Yang Mulia kalau hamba mau!"

Raphael tersentak. "Catharina bilang begitu?"

"Ya! Dia bilang kalau hamba suka pada Yang Mulia, hamba harus mengejarnya! Tapi sekarang Yang Mulia menolak hamba!"

Raphael tiba-tiba tertawa. Tawa pahit yang penuh ironi.

Jadi begitu. Catharina bahkan sudah merestui hubungannya dengan Elise, seolah-olah dia menyukai Elise,padahal itu hanya gosip murahan. Wanita itu benar-benar sudah tidak peduli padanya.

Dan anehnya, itu yang membuat dadanya sesak.

"Elise, pulanglah. Dan jangan pernah mengatakan hal seperti ini lagi. Aku tidak mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah mencintaimu."

Elise masih berdiri di sana dengan air mata mengalir. Tapi kali ini, Raphael melihat sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan kesedihan tulus. Tapi... kekecewaan karena rencananya gagal?

Entahlah.

"Keluar, Elise. Sebelum aku memecatmu."

Dengan wajah pucat, Elise akhirnya keluar dari ruangan.

Raphael jatuh duduk di kursinya dengan lelah. Ia meraih wine-nya dan meminumnya habis dalam satu teguk.

"Catharina... apa aku sudah terlambat?" bisiknya, yang hanya menggantung di udara.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya, Catharina dan Lucian memulai survey mereka. Mereka bertemu dengan kepala desa, seorang pria tua bernama Elder Thomas yang ramah dan bijaksana.

"Jadi Yang Mulia ingin membeli tanah di sebelah utara desa?" tanya Elder Thomas sambil mengusap- usap jenggot putihnya.

"Ya. Kami berencana mengembangkan wilayah itu," jawab Lucian diplomatik, tidak menyebut soal tambang emas.

"Tanah itu memang tidak produktif. Tanahnya berbatu dan sulit ditanami. Tapi kalau Yang Mulia berminat, kami bisa membicarakan harganya dengan para pemilik."

Catharina dan Lucian saling berpandangan. Perfect. Tanah yang dianggap tidak berguna itu sebenarnya adalah lokasi tambang emas terbesar di kerajaan.

Setelah negosiasi yang panjang tapi fair, mereka berhasil membeli lima hektar tanah dengan harga total tujuh ribu gold coins. Masih ada sisa seribu untuk biaya operasional awal.

"Deal berhasil," ujar Lucian sambil berjabat tangan dengan Elder Thomas.

Catharina tersenyum lebar. Ini adalah langkah pertamanya menuju kebebasan finansial. Dan rasanya... luar biasa.

"Kita harus merayakan ini," ujar Lucian sambil merangkul bahu Catharina secara spontan.

Catharina tersentak dengan sentuhan itu, tapi anehnya... ia tidak merasa tidak nyaman. Malah terasa pas, apa ya... mungkin nyaman.

Eh, tidak tidak! dia kesini untuk bisnis, dan tidak mungkin kan dia jatuh cinta secepat ini?

"Merayakan bagaimana? Kita di desa kecil, Lucian."

"Aku tahu tempat yang bagus. Ada danau cantik di sebelah timur desa. Kita bisa piknik di sana."

"Piknik?" Catharina tertawa. "Serius?"

"Kenapa tidak? Kamu terlalu serius terus. Sesekali santai juga tidak apa."

Akhirnya Catharina setuju. Mereka menyiapkan bekal sederhana dan pergi ke danau yang Lucian maksud.

Dan benar saja, danau itu indah. Air birunya jernih, dikelilingi pepohonan hijau dan bunga-bunga liar. Sangat berbeda dengan taman mansion yang mewah tapi terkesan kaku.

Mereka duduk di atas selimut yang dibentangkan di tepi danau, menikmati sandwich sederhana dan jus buah.

"Kamu tahu, ini pertama kalinya aku merasa benar-benar bebas," ujar Catharina sambil menatap danau.

"Bebas dari apa?"

"Dari ekspektasi. Dari aturan. Dari semua hal yang membuatku merasa terkurung." Catharina tersenyum. "Di kehidupan... eh, maksudku, sebelum aku berubah, aku selalu merasa harus jadi Catharina yang sempurna. Catharina yang elegan, yang sopan, yang selalu menurut. Tapi sekarang, aku bisa jadi diriku sendiri."

Lucian menatap Catharina dengan senyum lembut. "Aku suka Catharina yang sekarang. Yang jujur. Yang berani. Yang tidak takut mengambil risiko."

Catharina menoleh, menatap Lucian. Jarak mereka sangat dekat. Terlalu dekat.

"Lucian..."

"Catharina, aku harus jujur padamu." Lucian mengambil tangan Catharina, menggenggamnya dengan lembut. "Aku tidak hanya tertarik padamu sebagai partner bisnis. Aku... aku tertarik padamu sebagai wanita."

Jantung Catharina berdegup kencang. Ini bukan seperti di novel-novel murahan dengan confess yang dramatic. Ini real. Tulus. Dan itu membuatnya semakin gugup.

"Tapi aku baru saja akan membatalkan pertunangan. Bukankah terlalu cepat kalau..."

"Aku tidak minta kamu jadi kekasihku sekarang," potong Lucian dengan senyum. "Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku. Dan aku akan menunggu sampai kamu siap. Entah itu sebulan, setahun, atau bahkan lebih lama."

Catharina merasakan air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata. Sial. Kenapa dia jadi emosional begini?

"Kamu... " Catharina berhenti. "kamu terlalu baik, Lucian."

"Tidak. Aku hanya... aku hanya mencintaimu dengan cara yang benar."

Dan kata-kata itu membuat hati Catharina meleleh.

Inikah rasanya dicintai dengan tulus? bahkan di kehidupannya sebagai Sania pun ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini.

"Terima kasih, Lucian," bisiknya pelan.

"Untuk apa?"

"Untuk membuatku percaya lagi bahwa ada cinta yang tidak toxic di dunia ini."

Lucian tersenyum lalu mencium kening Catharina dengan lembut.

Catharina sontak syok, tapi membiarkan kecupan itu mendarat cukup lama di keningnya.

Dan di bawah langit biru yang cerah, di tepi danau yang indah, Catharina merasa ia sudah menemukan sesuatu yang lebih berharga dari emas.

Ia menemukan harapan.

***

BERSAMBUNG

1
Dedi Dahlia
lihat saja kemenangan kebaikkan yang menang apa kejahatan yang menang semangat 💪💪
Dedi Dahlia
seandainya lucian tidak bisa percaya yang kamu katakan,tinggalkan dia masih banyak lelaki di dunia ini yang lebih baik dari lucian,up semangat 😁😁💪💪
Dedi Dahlia
jangan biarkan kejahatan menang thorr,buat Lucian ingat bukti kejahatan Elise dan Alexander kejahatan selama ini lanjut semangat./Smile//Smile//Pray//Pray/
Murni Dewita
👣
falea sezi
kapok salah sendiri tergoda ma pembokat gatel
CaH KangKung,
👣👣
Wega Luna
belajar beladiri berpedang,otak boleh maju kalo GK diimbangi bela diri sama saja nyetor nyawa,aku punya feeling kalo nanti si Elise di bebaskan Alexander😌 jangan sampai yh thor
putmelyana
next Thor ceritanya
Ayu Padi
yaaah Thor gimn bisa begitu...mereka minum racun ...GK rela laah Thor masa pelayan menang...
Nabil Az Zahra
baru bab 1 mudah"n seterusnya mnarik,
Ayu Padi
sama Thor ...GK sabar ...hrs putus sama Duke ...payah terkenal kejam dingin tp luluh sama pelayan yg penuh drama...
Wega Luna
boleh kah nonjok Alexander,,,,😒😒😒😒💀💀
partini
mati dua kali weh
Wega Luna
jangan sampai Thor ada korban ,
partini
lah pake cara lama dasar Kunti
Fatur Fatur
bikin eliese yang terkena racunnya sendiri thor
Rina Yuli
mampir thor ✋✋✋✋
Wega Luna
si Elise ini bener bener pick me🤣🤣🤣🤣🤣🤣,entah di novel atau di dunia nyata yg namanya Elise itu bikin naik darah
Wega Luna: bener🤣🤣🤣🤣, karena dari dunia nyata sekitar mangkanya aku berani bilang gitu
total 2 replies
partini
kalau terpuruk dan lari ke pelayanan fixx Duk Duk emang rendahan
partini
good story
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!